• Info Terkini

    Friday, September 14, 2012

    Berkaryalah, Sebelum Kehilangan Semuanya

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk, tak memiliki kekuatan, tak juga semangat dan tak memiliki harapan akan hari esok yang cerah. Ketika vonis dari manusia telah menjatuhkan bahwa “kamu tidak akan tertolong”. Ketika tubuh hanya bisa meringkuk, bagai seonggok daging tak berguna. Ketika air mata tak henti mengalir dan menciptakan telaga baru. Ya, telaga air mata sendiri. Dalam kondisi terpuruk seperti itu, apa yang bisa dilakukan seseorang?

    Mungkin, hanya tangis dan kepedihan yang menjadi teman bicara. Akan selalu bertanya, di manakah letak pertolongan itu? Andai aku tahu, letak pertolongan itu, maka akan kuraih dan kugenggam erat. Aku ingin menolong diriku sendiri untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan. Aku ingin mendobrak semua kepedihan yang sangat menyayat hati. Aku ingin menunjukkan pada Sang Pencipta takdir ini bahwa aku menerima takdir-Nya dengan lapang. Tidak cengeng, tidak mengeluh dan uring-uringan. Namun, itu sulit kulakukan.

    Meskipun ilmu tentang sabar dan syukur sudah kupelajari dan kubaca berulang-ulang, namun ketika kenyataan mengharuskan kita berhadapan dengan kondisi yang menuntut kita bersabar dan bersyukur, ternyata itu sangat berat dilakukan. Menerima kenyataan tak semudah menerima teorinya. Praktik itu lebih sulit. Itulah yang kurasakan.

    Ujian itu datang tak pernah diundang. Mengejutkan. Sebuah penyakit yang bercokol di tubuh dan tidak terdeteksi medis. Semua dokter ahli yang menangani, sudah angkat tangan. Menurut mereka, tak ada penyakit dan tak ada obatnya. Hanya disarankan memohon pada Sang Pemberi sakit. Itulah solusi akhir. Seyogyanya, kepasrahan pada Allah memang menjadi kunci awal untuk bersandar diri. Bukan memposisikan di akhir ketika berada di ambang tipisnya harapan. Mendatangi dokter dan mengkonsumsi obat, hanyalah sebagai bentuk usaha untuk memfasilitasi menuju jalan kesembuhan. Bukan dokter atau obat yang menyembuhkan.

    Ketika para medis yang ahli dalam bidang kedokteran saja mengatakan tak ada obatnya dan kecil kemungkinan untuk sembuh. Hanya satu pilihan kita. Pengobatan komprehensif lahir bathin! Aku pasrahkan sepenuhnya kesembuhan ini pada Sang Pemberi sakit. Aku memohon padanya melalui cara-cara pengobatan yang telah diajarkan oleh utusan-Nya. Bersandar diri sepenuhnya, bersedekah untuk kesembuhan, berzikir dan membaca ayat-ayat-Nya. Lalu, back to nature. Mengambil obat-obatan dari alam untuk menguatkan fisikku yang lemah.

    Kakiku lumpuh. Tak bisa dipakai untuk berjalan. Sekadar menggeser atau membalikkan badan saja, aku tak mampu. Aku harus minta bantuan orang lain. Aku benar-benar berada dalam kondisi tak berdaya. Air mata tak henti meleleh dari pipiku, kala itu. Meskipun, aku menangis hanya pada saat lagi sendiri. Aku takut kejadian lebih buruk akan menimpaku. Betapa sedihnya jika aku harus tergolek selamanya dan meminta uluran tangan orang lain untuk membantu. Benar-benar aku was-was dan khawatir.

    Tak ada yang bisa kulakukan di tempat tidur dalam kondisi lumpuh. Aku hanya bisa menangis dan menghibur diri. Agar aku tegar dan menerima ujian darinya. Tapi berat, sungguh berat. Tak bisa kubohongi diri ini. Di hadapan keluarga dan orang-orang yang menjengukku, aku bisa tersenyum meskipun tak sempurna. Namun sesungguhnya, hatiku menangis. Ketika mereka tak ada, mukaku akan bersimbah air mata. Tidak bisa kubendung. Air mata itu seperti air bah yang terus menerjang, menjebol tanggul di mataku. Aku merasa berenang di telaga airmataku sendiri.

    Lumpuh tiga bulan! Waktu itu belum mengenal facebook, apalagi email, juga belum memiliki laptop. Jenuh, sangat jenuh. Ketika dalam waktu tiga bulan harus tergolek dan tidak memiliki apapun yang bisa dijadikan jalan untuk mengalihkan rasa sedih dan sakitku. Dalam kondisi lumpuh itu, berat badanku sudah turun 20 kg. Rambutku rontok. Hanya tersisa beberapa helai saja. Muka dan kulitku menghitam. Aku takut melihat mukaku di cermin. Aku menjauhkan cermin. Aku seperti benci cermin sejak aku sakit. Sementara di perutku ada benda yang selalu bergerak-gerak tetapi tidak terdeteksi alat-alat medis. Sudah berulangkali di USG dan rontgen, para medis tak menemukan apapun. Tapi anehnya saat dilihat dan dipegang, sangat jelas benda itu ada. Beberapa bagian tubuhku, seperti disayat-sayat silet dan mengeluarkan darah. Entah bagaimana terjadinya proses sayatan-sayatan itu, aku tak mengerti.

    Mengenaskan sekali kondisiku waktu itu. Aku sering terjaga di malam hari dan tidak bisa tidur hingga subuh tiba. Aku menangis, melamun dan merenung. Aku hanya diajarkan untuk selalu menyebut nama-Nya dalam setiap tarikan napasku agar ‘gangguan’ itu segera enyah dari tubuhku. Dan memang hanya menyebut nama-Nya yang bisa kulakukan sambil berbaring. Salat pun kulakukan sambil berbaring. Mengambil wudhu harus minta bantuan. Jika tak ada orang, aku tayamum. Dan hanya berbekal tasbih, usai salat aku zikir semampuku.

    Dalam kondisi seperti itu, aku membayangkan hal-hal yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benakku. Jika saja aku tidak tertolong, seperti pernyataan para medis itu. Lalu apa yang bisa kutinggalkan untuk keluargaku? Harta aku tak punya dan karya pun tak ada. Tak ada yang bisa diberikan dan tak ada yang pantas untuk dikenang.

    Kalaupun Allah masih memberikan pertolongan tetapi dalam kondisi aku tetap lumpuh, lalu apa pula yang bisa menjadi catatan karya dalam hidupku yang bisa kuceritakan pada anak-anak dan cucuku kelak? Tidak sekadar cerita, tetapi yang bisa kubagikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Jika saja aku mengatakan bahwa aku dulu seorang penulis. Lalu, bagaimana jika kelak cucuku bertanya, “Katanya dulu nenek penulis. Tapi mana buku karya nenek?” Wah, benar juga ya. Tak ada jejak sebagai seorang penulis. Hanya cerita dari mulut saja. Cerita itu pun perlahan akan menguap ke udara dan tak ada yang mengingatnya lagi. Kalaupun pernah punya tulisan di koran yang pernah dimuat, itu koran jadul, yang anak cucu tidak mengenalnya. Bahkan, mungkin redaksi koran tersebut sudah tidak menerima naskah lagi, alias sudah buyar.

    Jika aku memberikan buku tulis atau diari yang menjadi tempatku menulis setiap hari, apakah mereka tertarik? Jaman semakin maju. Tekhnologi semakin canggih. Anak-anak sekarang lebih suka membaca melalui layar komputer. Bukan buku tulis, apalagi dengan tulisan yang sulit dibaca. Membuat mereka ngantuk. Mungkin tidak akan berlaku pendapat bahwa tulisan yang menarik itu adalah tulisan yang membuat orang tidur menjadi terbangun, orang diam menjadi bergerak, orang berjalan menjadi berlari. Ini sebaliknya, orang bangun menjadi tertidur. Hmm… benar, tak ada jejak yang bisa dikenang dan bermanfaat bagi generasiku berikutnya.

    Aku seolah tersadar. Mataku seolah terbuka lebih lebar. Tiba-tiba semangatku mulai tumbuh, menyeruak dan mendorong-dorong agar aku berbuat lebih baik. Menumbuhkan tekad yang kuat agar aku menghentikan tangisku dan mulai berkarya. Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah! Aku telah kehilangan kekuatan kakiku untuk bergerak, tapi bukankah pikiran dan hatiku masih bisa diajak ‘bergerak?’ Aku tidak ingin meringkuk bermandikan tangis dan tak berguna hingga akhir hayatku. Banyak orang cacat sejak lahir, mereka semangat dan berbuat. Mengapa aku yang diberikan kesehatan sekian tahun dan baru diuji beberapa bulan saja, tak mampu menstabilkan semangatku? Aku harus bisa!

    Aku tidak mau seperti halnya pohon cemara. Saat hidup terlihat elok meliuk-liuk ditiup angin. Banyak orang mengagumi dan ingin memiliki. Pohonnya pun mahal harganya. Tapi ketika akar-akarnya tercerabut, layu dan mati, siapa yang tertarik padanya? Tak seorang pun peduli. Ia tak berguna sama sekali. Jangankan untuk hiasan, untuk kayu bakar pun tidak. Sungguh ironi. Saat masih sehat berdiri kokoh, disanjung dan diperebutkan banyak orang. Tetapi saat sakit dan mati tak seorang pun peduli.

    Tidak! Aku tidak ingin menyia-nyiakan sisa hidupku. Biarlah Allah berbuat sesuai kehendak-Nya atas titipan yang diberikan-Nya padaku. Tapi aku pun harus berbuat dan berusaha sesuai ilmu dan ilham yang dititipkan-Nya. Lumpuh kaki bukan berarti pikiran dan hatiku ikut lumpuh. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Yang bisa mengubah keadaan menjadi bahagia, hanya aku. Semua sumber kesedihan itu sebenarnya ada dalam diriku sendiri. Aku terlalu dibayang-bayangi ketakutan. Hingga membuat kesedihanku tak berujung. 

    Jika para wanita sahabatnya Zulaikha, bisa lupa akan sakitnya saat mereka melihat ketampanan Yusuf, berarti aku pun bisa. Para wanita sahabat Zulaikha itu tak sadar dan tak merasakan sakit saat jari jemari mereka terpotong pisau. Sebab, ingatan mereka hanyut dalam pesona ketampanan Yusuf. Dahsyat sekali. Itu artinya, aku harus mengalihkan ingatanku bukan pada penyakitku, tetapi pada sesuatu yang aku sukai. Agar lupa sakitnya dan lupa untuk bersedih. Benar, mulai saat itu aku menjadikan terapi untuk kesembuhanku salahsatunya dengan membaca dan menulis. Itulah hal yang aku sukai sejak kecil. Membaca dan menulis ternyata aktivitas yang cocok dilakukan oleh orang yang tidak bisa berjalan. Aku merasa terhibur. Aku bertambah wawasan meskipun aku tergolek di tempat tidur.

    Aku juga bisa menuangkan perasaanku dalam tulisan. Aku menghindari rangkaian kata-kata yang mengundang tangis, yang mengundangku untuk terpuruk lagi. Aku menguatkan diri. Tak seorang pun bisa mengubahnya, kecuali aku sendiri. Ya, aku harus berubah untuk kebaikanku sendiri. Akhirnya, aku enjoy sekali membaca dan menulis. Buku-buku berserakan di tempat tidur. Merekalah temanku berbagi, yang bisa dibuka kapan saja. Kutuliskan kisah sakitku dengan bahasa remaja. Agar ceria dan tak menyeretku pada jatuhnya airmata. Aku berbicara konsep sedekah menjelang fajar. Sedekah sebagai salah satu jalan pengobatan. Kuceritakan kisah sakitku yang menempuh pengobatan salah satunya berobat lewat sedekah.

    Aku ingat pesan seorang ustad yang membimbingku, “Apabila sakitnya parah, maka sedekah pun harus sebanding dengan sakitnya. Bukan seribu-dua ribu rupiah, tetapi harus ada niat dan pengorbanan  total untuk kesembuhan sakit itu.” Itu artinya, orang sakit harus benar-benar berniat menyedekahkan hartanya secara pantas untuk kesembuhannya. Seperti kisah-kisah orang saleh pada masa lalu. Saat ditimpa penyakit berat, mereka mengalirkan sumur untuk kepentingan orang banyak, menyedekahkan hasil panennya, memerdekakan budak, menghibahkan perhiasannya dan lain-lain. Dengan izin Allah, mereka mendapat kesembuhan tanpa bantuan medis.

    Aku yakin dengan kisah-kisah itu adalah bagian dari keajaiban sedekah. Kuikuti nasehat baik itu. Dalam kondisi kita divonis tak tertolong lagi, yang kita pikirkan adalah benar-benar ingin berbuat yang terbaik. Rasanya kesiapan diri total untuk berkorban harta itu memang munculnya saat kita berada di ambang kematian. Aku berusaha semampuku untuk kesembuhan dan hasilnya aku pasrahkan pada-Nya. Aku yakin pertolongan-Nya akan datang tak terduga.

    Allah menghiburku di suatu hari. Meskipun hingga kini aku belum percaya dengan kejadian itu. Tapi aku merasa bersyukur, ada seorang misterius yang datang menghiburku saat sakitku sedang pada titik di puncak kritis.

    Sore itu, rombongan ustad dan santrinya datang menjengukku. Aku mendengar suara kendaraan yang mereka bawa di parkir depan rumah. Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab putih, bergaun lebar dan berhidung mancung masuk ke kamarku. Lalu menyentuh kakiku dan membelainya lembut. Ia bertanya, “Sakit apa?” Aku bingung harus menjawab apa. Bukankah dokter saja tidak tahu jenis sakitnya. Aku jawab saja, kakiku lemas. Ia bilang, “Kasihan sekali.” Ia memijit-mijit kakiku. Wanita itu pun mengenalkan diri dan mengatakan rombongan ustad. Hanya beberapa menit ada di kamarku, ia pun pamit untuk ke ruang tamu.

    Namun, betapa kagetnya saat tak seorang pun dari anggota rombongan itu yang membawa istri atau keluarga perempuan. Rombongan itu semuanya laki-laki. Mereka hanya bengong mendengar penjelasanku. Meskipun bulu kudukku sedikit meriding, tapi aku berhusnudzan saja, semoga itu adalah makhluk baik yang dikirim untuk menghiburku. Bukankah seorang lelaki saleh yang bernama Imron bin Husein, pada saat sakitnya selalu dikunjungi malaikat yang menyapanya setiap hari. Meskipun keimananku tak sehebat keimanan Imron bin Husein, tapi tak ada salahnya aku berharap seperti yang terjadi pada lelaki saleh itu.

    Aku membaca dan menulis pada saat sakit itu. Aku tidak mau lagi mengikuti bayangan-bayangan buruk yang kuciptakan sendiri. Aku menghapus tentang vonis, prediksi dan ramalan-ramalan dari manusia. Aku siap mengikuti kehendak-Nya saja. Saat ada keinginan untuk memakai kursi roda, keluarga dan teman-teman menentangku. Sebab, aku tidak akan termotivasi untuk sehat. Selamanya akan tergantung pada alat bantu. Benar, aku tak boleh punya pikiran untuk memakai kursi roda.

    Setiap hari, aku selalu menepuk-nepuk kakiku. Membacakan doa dan mengurut sendiri dari atas ke bawah. Usai salat lima waktu aku mengusapnya dengan air putih yang telah kubacakan doa dari ayat-ayat Alquran. Aku menjadi tabib untuk sakitku sendiri. Berulang-ulang kali, aku berkata, “Aku bisa! Aku sembuh! Aku pasti bisa!” Kutepuk kakiku dan mengatakan, “Aku kuat!” “Sembuh dengan ijin Allah.” Aku terus mengatakan seperti itu untuk menguatkan keyakinanku. Aku harus yakin dan husnudzan bahwa Allah akan memberikan kesembuhan. Meskipun adakalanya saat mengatakan, “Aku bisa!” tiba-tiba airmataku menetes lagi.

    Pertolongan Allah memang indah dan benar adanya. Dia memberiku kesembuhan. Benda misterius yang ada di perutku hilang. Kulitku yang menghitam, akhirnya mengelupas. Aku berganti kulit. Rambutku tumbuh kembali layaknya rambut seorang bayi. Perlahan kakiku bisa digerakkan. Aku belajar merangkak, berpegangan pada dinding dan benda-benda yang ada di dalam rumah. Lalu belajar melepaskan pegangan tangan saat berjalan. Kebahagiaan pun datang, aku benar-benar bisa berjalan kembali bahkan berlari. Subhanallah, aku merasa terlahir kembali. Memiliki kulit baru, rambut baru, dan semangat hidup yang baru. Tangisku kali ini bercampur dengan senyuman. Alhamdulilah, atas pertolongan-Nya.

    Ternyata tulisan yang kubuat saat sakit sudah setebal satu buku tulis. Langsung kuketik. Aku ingat tekadku saat sakit, “Sebelum kehilangan semuanya, berkaryalah!” Ya, aku harus menghasilkan karya. Usiaku 30an tahun waktu itu. Tak  apa, tak ada kata terlambat untuk memulai. Jika sebelum itu aku hanya mengirim tulisan-tulisanku ke media, tapi setelah sakit ini, keinginanku semakin kuat untuk memiliki sebuah buku hasil karya sendiri. Sayang sekali, aku tak memiliki pengetahuan cara mengirim naskah ke penerbit. Aku gaptek sekali. Bahkan yang kudengar, untuk membuat buku kita diterbitkan harus melalui proses seleksi beberapa bulan. Jika naskah tidak diterima, maka penantian berbulan-bulan itu berbuah hampa. Rumit dan kecil harapan bisa diterima. Itu menurutku waktu itu.

    Langkah pertamaku, adalah menghubungi seorang penulis yang bukunya pernah kubeli. Kebetulan ia mencantumkan nomor handphone di bukunya. Kabarnya, ia sudah menerbitkan 46 buku nonfiksi. Baiklah, tak ada salahnya aku minta bantuannya menilai tulisanku sebelum mengirimkannya ke penerbit. Alhamdulilah, ia bersedia dan menyuruhku mengirimkan naskah yang sudah kutulis. Karena aku gaptek, belum bisa menggunakan email, maka naskah setebal itu kukirim via pos. Penulis itu berkomentar, “Ya ampun Mbak, kalo dalam bentuk print out kayak gini, bisa dua tahun saya membacanya. Kirim ulang lewat email!” Wah, aku benar-benar tidak paham email. Meskipun sudah dibuatkan kakakku tetapi tak mengerti cara menggunakannya.

    Akhirnya, kulupakan saja meminta bantuan penulis itu untuk menilai karyaku. Sebab belum bisa mengirimkan lewat email. Rupanya, penulis itu diam-diam membacanya meskipun naskahku dalam bentuk print out. Ia bilang naskahku layak untuk dikirim ke penerbit. Aku senang sekali seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku, menilai karyaku layak dikirim ke penerbit. Namun, lagi-lagi terbentuk masalah ke’gaptek’an. Aku tidak bisa mengirimnya lewat email. Ya sudah, lagi-lagi kulupakan saja.

    Tanpa diduga, suatu hari manager sebuah penerbitan meneleponku. Dengan santun, ia mengenalkan nama dan nama penerbit tempatnya bekerja. Lalu mengatakan tertarik dengan naskahku dan berniat untuk menerbitkan. Tentu saja aku kaget. Aku tidak pernah mengirimnya pada penerbit. Aku kira itu modus penipuan, seperti penipuan-penipuan yang pernah dialamatkan ke nomor handphoneku. Ada penipuan hadiah mobil, sepeda motor, hingga uang tunai.

    Namun, manager penerbit itu meyakinkanku bahwa ia benar-benar telah membaca naskahku yang dibawa penulis yang pernah kumintai bantuan menilai sebelumnya. Katanya, tertarik menerbitkannya. Tentu saja aku senang sekali. Benarkah? Rasanya tak percaya. Aku tidak perlu menawarkan naskah ke penerbit, tidak perlu ngantri berbulan-bulan, tidak perlu lobi-lobi. Justru penerbit itu sendiri yang menawarkan untuk menerbitkan karyaku, tanpa ngantri dan tanpa biaya. Bahkan, bukuku dipasarkan ke Toko Buku Gramedia seluruh Indonesia.

    Sudah pasti aku tidak menolak. Sebagai penulis pemula, senangnya bukan kepalang ada penerbit yang melamar karyaku. Aku sangat berterima kasih sekali. Bagiku, semua itu semata-mata atas kehendak-Nya. Bukan karena tulisanku yang bagus dan hebat, tetapi semua itu tak lepas dari andil-Nya yang telah tercatat dalam buku desain yang Maha Indah. Inilah salah satu dari berkah sakitku.

    Penerbit itu mewujudkan semuanya. Ia memintaku merevisi selama lima hari, agar tulisanku tidak bergenre remaja. Lalu memintaku mengirim lewat email. Kali ini, aku sanggupi. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Atas bantuan penjaga warnet, naskahku sukses terkirim lewat email. Penerbit itu benar-benar memenuhi janjinya. Surat kontrak royalty kutandatangani dan bukuku tersebar di 46 toko buku Gramedia se-Indonesia. Termasuk toko-toko buku besar lainnya.

    Aku masih belum percaya dengan semua kejadian itu. Allah seperti memudahkan jalan itu dan memberikan begitu saja apa yang kuinginkan. Disaat aku mulai bertekad untuk menghasilkan karya, dan ada kesungguhan mewujudkannya ternyata Allah telah menyiapkan jawaban yang sangat indah di hadapanku. Luar biasa. Aku bersyukur dan berterima kasih pada tim penerbit itu yang telah menghargai karya sederhana seorang pemula dan menorehkan kebahagiaan di hati seorang manusia yang baru saja terlepas dari keterpurukan.

    Ketika angka penjualan bukuku di Gramedia sudah mencapai angka 400 eksemplar lebih dan menerima royalty pertama kalinya, aku semakin yakin bahwa aku harus semangat menghasilkan karya yang bermanfaat, sebelum kehilangan semuanya. Jika karyaku dinilai tak memiliki manfaat bagi pembacanya, setidaknya aku telah berbagi menyebarkan kebaikan. Bukankah menyebar kebaikan sekecil apapun akan dicatat sebagai amal ibadah? Tak ada kebaikan yang sia-sia. Demikian pula, tak ada kata lelah dalam menyebar kebaikan. Itu artinya, harus terus menggelorakan semangat berdakwah bil qalam. Mari kita berkarya, sebelum kehilangan semuanya. Kehilangan waktu, kesempatan, kesehatan dan umur kita.

    *) Penulis adalah Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di Malang, Jawa Timur

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Berkaryalah, Sebelum Kehilangan Semuanya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top