• Info Terkini

    Sunday, September 23, 2012

    FAM is My Soul

    LINA SAPUTRI DAN SUAMI
    Oleh Lina Saputri*)

    Amazing. FAM forum mantap semantap cintaku kepada kekasihku. Forum yang benar-benar magic dan mempunyai kharismatik keajaiban yang bisa melahirkan cinta. Sungguh!!! Mungkin hati Anda bertanya-tanya apa hubungannya FAM dengan cerita cinta dan mengapa saya begitu membanggakan FAM? Seolah gelar super istimewa memang pantas disandang untuk para pendiri FAM Indonesia. Apakah Anda percaya, FAM bisa menyatukan dua hati yang bersiteru sekian lama hanya dalam sepuluh menit? Anda yakin ingin tahu? Baiklah, di bawah ini adalah cerita nyata tentang saya yang terkait "FAM" di dalamnya yang ingin saya bagi kepada teman-teman semua. Not a problem to share stories and this story may be a positive inspiration for those of you who love to write.

    Tahukah Anda, dulu sekali, ketika saya berambisi menjadi seorang penulis, saya bertekad ingin memperdalam ilmu menulis dengan bersikap keras akan melanjutkan sekolah di bidang sastra. Tetapi, keinginan itu terpaksa diurungkan ketika biaya pendidikan melilit langkah saya. Maklum saya bukanlah dari kalangan yang berada, alias kere. Awan mendung di wajah sudah tak dapat menahan butiran kristal bening di pelupuk mata hingga terjatuh membuat telaga kesedihan dengan pupusnya harapan begitu saja. Saya harus berhenti sekolah. Ya, cita-cita itu akhirnya terlantar di tengah jalan karena faktor biaya sekolah sastra ternyata bukanlah metode belajar yang bernilai gratis. Ingin mendapat pendidikan berkelas yang bermutu tinggi? Mustahil untuk saya raih. Bukan hal yang mudah untuk orang seperti saya, yang tumbuh dalam kehidupan ekonomi yang pas-pasan. Adanya pendidikan yang efektif dan efisien tentunya ada harga akurat yang akan menguras dompet dari setumpuk biaya mahal yang wajib ditanggung nantinya. Tak masalah buat orang berkantong tebal, tapi badai tsunami buat seorang anak petani desa seperti saya. "Menangis" hanya itu yang bisa saya lakukan di penghujung kata ketika harus melepas seragam SMA.

    Menikah muda adalah jalan satu-satunya untuk memperbaiki kualitas hidup seorang miskin seperti saya dengan menerima lamaran Mas Hendra, anak orang berada dari kampung sebelah yang usianya saat itu hanya terpaut lima tahun lebih tua dari saya. Tak ada alasan untuk menolak, walaupun saat itu saya masih berusia 17 tahun dan berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMA merupakan rintangan selanjutnya yang membentangi keinginan saya untuk menjadi penulis. Sebagai ibu rumah tangga muda yang berpikiran masih labil, cita-cita menjadi penulis sebenarnya tak pernah padam walaupun terkadang keinginan itu senantiasa berlandas pasang surut di hati saya. Saat itu, saya tak pernah berpikir untuk mengirimkan karya-karya saya ke media padahal ada penerbit yang mau menerima naskah dari pengirim yang berstatus umum. Tapi tetap saja harus dipahami membuat tulisan lalu berminat menembuskannya ke media bukanlah perkara yang mudah, karena tanpa pembelajaran dan pencermatan tak akan menghasilkan karya yang benar-benar baik. Jika begitu maka tulisan kita akan dipandang seperti sampah yang tak bermutu, tak layak dipajang apalagi dipublikasikan. Karena cara penulisan yang salah atau isi yang tak berbobot bagai memakan makanan lezat tapi tak ada gizinya. Tulisan yang salah = “sampah” yang sebaiknya diberikan saja kepada tikus di gudang untuk menelannya bulat-bulat, daripada menunggu diterbitkan sampai ubanan hanya akan mengikis harapan hampa, karena penerbit butuh karya yang berkualitas bukan yang asal jebolan asap. Ya, setidaknya begitulah pemikiran saya terhadap penerbit.

    Sampai pada akhirnya, saya mendapat kabar dari teman akan pendidikan sekarang yang semakin maju. Sekolah pun bisa dilanjutkan dengan mengikuti program paket C. Keinginan menjadi seorang penulis membuat saya kembali tersenyum bersemangat dengan adanya modal dan fasilitas yang kini mendukung hobi saya.

    Tapi sungguh kecewa, lagi-lagi saya harus merelakan keinginan itu hilang ditelan waktu dan semangat harus padam walaupun impian itu masih ada. Keinginan itu benar-benar kandas, ketika suami saya menentang untuk berpisah jika saya masih bersikap keras ingin melanjutkan sekolah sastra. Alasannya sepele, suami saya berpendapat yang menurut saya pemikirannya itu konyol dan kolot walaupun sedikit masuk akal. Menurutnya, sekolah itu akan menyita banyak waktu yang harusnya saya habiskan untuk menjaga anak (walaupun ada pembantu yang juga menjaga anak saya) dan katanya lagi, bukan tidak percaya kepada saya, tapi wajib waspada karena melanjutkan kursi pendidikan setelah menikah juga memicu adanya perselingkuhan di antara kami setelah nanti saya harus sibuk belajar di balik tumpukan buku setiap hari dan banyaknya kegiatan yang bla bla bla. Sungguh, pendapat itu bagaikan pukulan yang sakit buat saya terima. Demi Tuhan, tak pernah terlintas di pikiran saya untuk meduakan cinta apalagi mengingat sekarang saya sudah punya anak. Lha… Apa hubungan dengan FAM? Simak saja dulu cerita selanjutnya, oke?

    Akhirnya, saya putuskan untuk berhenti mengejar harapan menjadi penulis dengan berganti propesi sebagai wirausaha di bidang pemasaran kaos dan gaun remaja juga merangkap sebagai kepala agen beras di daerah Batola, karena pekerjaan itu lebih mendapat dukungan penuh dari suami dan keluarga. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hati saya, itu bukanlah dunia yang ingin saya geluti dalam bidang bisnis yang menguras otak dan pikiran dengan sistem hitungan ilmu matematik. Saya anak bahasa yang lebih tertarik dalam seni sastra yang telah lama terhipnotis oleh pujangga dunia, salah satunya Khalil Gibran. Dia tokoh idola saya. Sakit hati, ya itu pasti ada! Terlalu munafik jika saya tak mengakui kehilangan cita-cita dan hobi adalah rasa yang tak pernah bersahabat dengan pilihan saya.

    Ada air mata yang tak berujung, yang saya simpan dalam sepi setiap waktu yang saya jalani. Bahkan, saya harus merelakan impian menjadi seorang penulis ibarat bagai bangkai mati yang harus di kubur dalam perut bumi. Itulah alasan yang membuat hubungan kami menjadi renggang, walau pun pada hakikatnya karena cintalah yang membuat kami untuk bertahan. Saya hidup dibayangi di antara rasa cinta pada suami dan cita-cita dalam benak saya menjadi bagian yang tertahan merajut impian untuk meraih masa depan tanpa keikhlasan. Hingga suram di penghujung jalan berharap ada cahaya terang dan kisah indah lain yang akan datang menyapa harapan. Menyongsong mimpi indah menjadi kenyataan. Berharap indah di akhir cerita, itulah harapan saya selanjutnya.

    Empat tahun berlalu usia penikahan saya dengan Mas Hendra. FAM hadir bagai angin segar, bagai hujan yang membasuh kemarau panjang sekaligus mukjizat yang telah menembus waktu yang pernah hilang dan hampa dari hidup saya. Ketika Mas Hendra membuka blog-blog di internet, suami saya sendiri yang memberitahukan kepada saya ada forum yang begitu menarik dan wajib saya kunjungi yaitu http//www.famindonesia.blogspot.com tentang tulis menulis. Mulanya saya menolak, karena saya merasa malas jika harus berakrab-akrab ria dengan suami saya. Tapi Mas Hendra terus membujuk dan meminta saya menyita waktu sepuluh menit saja untuk mengenal FAM Indonesia. Tak saya kira di balik diamnya, ternyata suami saya begitu peduli dengan kesukaan yang masih terkubur di dalam hati saya. Hanya saja, ia menunggu tempat dan waktu yang tepat untuk mendukung saya ke tahap cita-cita yang pernah tertunda.

    Diam-diam, saya pun berkelanjutan meneruskan keingintahuan saya tentang forum tersebut yang ternyata didirikan oleh dua penulis; Mbak Aliya dan Mas Muhamad Subhan. Dan hebatnya forum ini dibuka secara internasional untuk seluruh warga Indonesia di manapun berada tanpa mempermasalahkan status alias juga tersedia untuk seorang ibu rumah tangga hingga ke mancanegara. Bola mata saya semakin semangat melaju mencermati setiap bagian-bagian info yang ternyata begitu bermanfaat. Sampai pada akhirnya dengan dukungan dari suami dan keinginan yang kuat, saya berminat dan memutuskan untuk bergabung sebagai anggota FAM dengan biaya registrasi yang super terjangkau. Hanya dengan Rp75 ribu saya bisa mengecap pendidikan online yang super bermanfaat dan mendidik. Sungguh ajaib bukan? Tentunya iya. Apalagi sekarang saya dan suami tak perlu bertengkar lagi untuk membahas cita-cita saya yang pernah hilang yang sering saya ungkit-ungkit tak jelas.

    Belajar menulis lewat FAM begitu mudah dan bebas dilakukan kapan saja. Tak perlu membuang-buang waktu, ongkos jalan atau biaya mahal atau wajib diikuti sekolah sastra pada umumnya. Karena lewat FAM, saya bisa menimba ilmu tentang masalah keingin tahuan saya dalam mengembangkan teknik tulis menulis. Alhasil berkat membaca info FAM sepuluh menit ternyata mampu menjadikan hubungan saya dan suami yang dulu sempat tak harmonis berubah bagaikan madu manis yang tak pernah habis dari sarangnya. Bahkan menjadi semakin erat dan indah tuk dijalani karena saya telah menemukan tempat yang tepat untuk menyalurkan hobi saya. Lewat FAM juga, akhirnya saya bisa menciptakan sebuah karya berupa novel yang berjudul “Sabda Cinta dari Tuhan”. Dan semoga untuk hari selanjutnya saya bisa membuat karya yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

    Semenjak saya mengecap pembelajaran dari FAM, saya lebih mengerti tentang menulis. Penulisan yang salah, dulu pernah saya anggap sebagai sampah, tapi setelah saya mencerna lebih dalam saya pun beranggapan lain. Bahkan sampah pun akan menjadi sesuatu yang cantik dan luar biasa jika didaur ulang dan belajar mendaurnya pada tempat yang benar. Begitu juga menulis, di forum FAM adanya sistem mengulas karya oleh tim FAM. Selain itu juga diajarkan mendaur ulang tulisan dengan metode menulis sesuai EYD dan diajarkan keluasan pengetahuan dalam berbahasa dan perlunya pemahaman kosa kata serta perbaikan kalimat akan mempercantik karya Anda sehingga layak diterbitkan. Sumpah!

    Terima kasih buat FAM Indonesia yang telah memberikan percikan kebahagiaan di antara dua hati yang dulunya tak berdamai. Dan tentunya FAM adalah Forum Aishiteru Menulis yang sangat berguna untuk mendidik generasi muda yang berperan dalam kemajuan bangsa Indonesia. Wadah yang sangat pas untuk berbagi ilmu dan pengembangan diri untuk kita semua.

    FAM is my soul. Start writing whatever you want to write, then create one outstanding work by joining FAM Indonesia.

    Finally, menjalani profesi sebagai wirausaha sekaligus penulis dan ibu rumah tangga? siapa takut!

    Salam santun, salam karya.

    *) Lina Saputri, ID FAM 1034U Banjarmasin, Kalimantan Selatan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: FAM is My Soul Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top