• Info Terkini

    Saturday, September 15, 2012

    Memoar Pena Abu-Abu

    Oleh Ma’arifa Akasyah*)

    Ada sebuah rindu yang mengganjalku malam ini dengan segala pernak pernik sekolah. SMA 1 Pegandon, tempat yang aku pilih sebagai sekolah lanjutan tingkat atasku dengan berbagai alasan. Tapi, dampak yang ku dapat saat dan setelah berpijak di atas buminya, sungguh luar biasa. Tentang kebangkitan menulisku yang sempat ‘mati suri’, SMA ini memberikan banyak motivasi. Terutama Bu Santi Beni, guru bahasa Indonesiaku dua tahun berturut-turut. Bu Santi telah mengamanatkan suatu lomba kepada Husni Mubarok (bukan presiden Mesir), Linda Ayu Wardhani (adik kelasku), dan aku.

    Ya, lomba menulis artikel populer bertema Menulis Meningkatkan Daya Kreasi Generasi Cerdas dan Mandiri dengan ‘embel-embel’ tingkat Jawa Tengah. Wow dan keren sekali bagiku. Mendengar kata ‘Jawa Tengah’ saja sudah begitu terbayang jumlah dan kemampuan peserta yang akan mengikutinya. Saat itu terbesit bahwa aku tetap harus menyelesaikan kepercayaan yang satu ini, meski hanya untuk ‘menyenangkan Bu Santi’. Saat itu, komputer ‘jadul’ adalah teman paling setia yang ku temui malam hari seusai belajar untuk persiapan ulangan kenaikan kelas XI. Tak banyak kata yang bisa ku rangkai dalam semalam. Dengan ‘deadline’ yang cukup mendadak—sebab letak sekolah yang terlalu jauh dari informasi—membuatku merasa terlalu terbebani dengan hal ini. Tapi, bapak selalu menenekankan bahwa sesuatu yang diperjuangkan akan membuahkan hasil. Pedoman yang ku gunakan saat itu hanyalah sebuah buku berjudul “Pokoknya Menulis” (aku lupa penulisnya, yang pasti berjumlah dua orang) dan ‘download’an dari internet yang kebanyakan tak bersumber dengan pasti. Semua ku kerjakan hingga selesai sebelum Bu Santi mengejar-ngejarku untuk memebrikan naskah.

    Berdoa? Ya, aku memang seharusnya berdoa setelah naskah itu dikirim ke panitia. Tapi, itu tak ku lakukan. Pesimis begitu menggandrungiku hingga aku sama sekali tak bersemangat untuk mengharap keajaiban datang. Bagiku, menjadi partisipan tingkat Jawa Tengah saja sudah di luar dugaan. Tapi, Allah begitu menyayangiku yang lupa berdoa ini. Telepon berdering mengabarkan bahwa aku berhasil menjadi salah satu dari dua belas besar lomba itu. Seketika, petuah bapak ku yakini benar dan aku berjuang bukan hanya untuk menyenangkan Bu Santi.

    “Maaf, Pak. Lomba apa?” tanyaku terbata. Mungkin, akan terdengar bahwa aku mengikuti banyak lomba hingga tak tahu aku berhasil atas lomba apa. Namun, sebenarnya karena ‘saking’ aku tak percaya atas informasi itu.

    Menuju LPMP Jawa Tengah (kata LPMP baru kukenal saat membuka surat tugas dari pihak penyelenggara yang datang tiga jam sebelum keberangkatanku), aku bertemu sebelas peserta dari sekolah lain yang mampu ku baca kehebatannya lewat sesi presentasi. Nomor urut sepuluh dari dua belas peserta tentu saja kesempatan bagus untuk mendengarkan peserta di nomor urut sebelumnya. ‘Minder’, itulah yang menyelimutiku saat aku memperhatikan presentasi mereka. Ada yang membahas tentang ekstrakulikuler KIR, ada yang menyelipkan banyak kata mutiara dalam bahasa asing, ada yang memaparkan lewat sudut pandang musik, menyisipkan pidato Bung Karno di dalamnya, dan yang paling hebat adalah menggabungkan antara dunia tulis, jurnalistik, dan kebudayaan sintren. Sedang yang aku bawa saat itu hanyalah materi sederhana yang akan terlihat kerdil saat aku presentasikan.

    Benar saja, aku harus berpuas diri dengan peringkat tujuh yang berbeda dua poin dari peringkat enam. Sang juara harapan tiga itu pula adalah teman satu kabupaten (SMA Negeri 1 Kaliwungu) yang pulang dalam satu mobil denganku dengan membawa piala. Ya, aku memang tak bisa memberikan piala untuk sekolahku saat itu. Tapi, aku pulang dengan membawa pengalaman luar biasa mengenal mereka dan motivasi tinggi untuk menulis.

    Mulailah revolusi kepenulisanku dimulai. Aku menulis sebuah cerpen sederhana yang aku kirim ke majalah pendidikan kabupaten, Ganesha ’05. Super, cerpenku langsung dimuat di edisi selanjutnya. Tapi, sangat disayangkan saat aku sama sekali tak mendapatkan kabar atas dimuatnya cerpen itu. Aku mengetahuinya lewat ucapan selamat seorang teman. Di mana pihak majalah berada?

    Perjuangan selanjutnya ku mulai dengan mengikuti lomba-lomba online yang ku kirim lewat komputer perpustakaan. Begitu lekat di memoriku saat aku harus merayu teman-teman agar mengalah dan mengijinkanku untuk menggunakan satu dari dua komputer itu. Ada yang langsung memberikan kursi, tapi lebih banyak yang marah-marah dan mengusirku.

    Dari lomba online inilah aku menemukan FAM Indonesia lewat sebuah lomba cipta cerpen dan puisi. Tergerak hati ini untuk mengikuti lomba yang mengharuskan diri untuk mendaftar sebagai anggota. Akh, aku hampir putus asa saat melihat pesan Bunda Aliya tentang biaya regristrasi. Tapi, sungguh berbahagia saat Bunda Aliya mengabarkan tentang lomba dalam rangka milad beliau di Juni 2012. Kesempatan luar biasa yang mampu kugapai saat mendapat beasiswa registrasi FAM. Tereeeeet, jadilah aku seperti sekarang.

    Saat naskah cerpen Laring Pembela-ku dinyatakan layak masuk antologi FAM, aku bagikan kabar gembira itu di grup kelasku. Teman-teman menanggapi dengan berbahagia. Dan siapa sangka, malam ini aku dikagetkan dengan pesan temanku yang ingin membeli novelku?

    “Novel yang mana? Belum jadi, Saudara. Aku baru menjadi kontributor, belum punya buku sendiri. Tapi, terima kasih dan aku mengamininya,” jawabku dengan menahan tawa. Akh, begitu tinggi apresiasi mereka kepadaku hingga ber’husnudzon’ sebaik itu.

    Malam ini, aku sungguh dirundung tawa yang memecah kesepianku. Bersama beberapa tetes kerinduan yang membasahi pipi saat aku membuka kembali album kenangan sekolah, aku merasakan sebuah angin mengeringkan pipiku. Sungguh aku menginginkan bisa membuat mereka bahagia. ‘Ibuk’, bapak, Bu Santi, Pak Sis (kepala sekolah yang berjanji akan memberiku uang seribu rupiah jika aku mendapat juara 1 di LPMP), teman-teman XII IPA 2, dan SMA 1 Pegandon yang telah memberikan banyak hal padaku. Dan sungguh aku menyesalkan bahwa aku tak aktif menulis saat masih berpijak di SMA. Bukankah aku bisa mengirim secara gratis di komputer perpustakaan atau lab? Bukankah aku masih punya banyak referensi buku yang bisa ku baca semauku dan kapan pun? Sekarang aku telah terpaku di rumahku sendiri, hanya sesekali mendengar bel sekolah ala bandara yang samar-samar sampai belakang rumahku. Tapi, tak boleh hal ini menjadi pembatas semangatku.

    Malam ini, teriring lagi perjuangan panjang kehidupanku di SMA Pegandon termasuk dunia kepenulisanku yang masih sangat muda ini. Dan sebelum aku menutup lima belas September ini (bertepatan dengan ulang tahun salah satu temanku, Fitatul Islamiyah), aku hendak menyelipkan kata. SMA-ku, jika selama tiga tahun aku belum bisa memberikan satu piala pun di lemari tuamu, aku akan menebusnya dengan buku-bukuku. Aku janjikan bahwa aku pasti berbagi buku sebagai ucapan terima kasih yang mungkin terlalu kecil untuk digenggam.

    *) Ma’arifa Akasyah, ID FAM815U, anggota FAM Indonesia, berdomisili di Kendal
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Memoar Pena Abu-Abu Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top