• Info Terkini

    Friday, September 21, 2012

    Merangkai Hikmah, Menuliskan Pengalaman

    Oleh Syamsuwal Qomar*)

    Jika ada istilah, “pengalaman ialah guru”, kenapa tidak menuliskannya?

    Sebagai pembelajar dalam dunia menulis, sudah semestinya saya memiliki rukun yang harus ditunaikan. Satu di antara rukun itu ialah, mengunjungi toko buku. Tempat yang bagus bagi saya untuk “bertapa”. Memancing lahirnya ide-ide menulis sesuatu.

    Nah, akhir pekan kemarin, saya mengunjungi Gramedia Duta Mall di Banjarmasin, dan menemui sebuah buku dengan kover unik yang menyita perhatian saya. Buku yang akhirnya saya beli. Buku Kicau Kacau yang ditulis Indra Herlambang, presenter Insert di Trans TV.
    Ini ialah buku yang membingkai pengalaman pribadi Indra. Berkisah tentang pengalamannya dalam bekerja, bergaul, sampai kisah kehidupan bersama keluarganya. Ada hal-hal yang menurut saya menarik. Tentu saja, saya membelinya bukan karena saya penggemarnya, apalagi acara gosip. (Atau diam-diam sebenarnya begitu… ha-ha-ha). Yang menarik saya pastinya, ialah isinya.

    Membacanya memberikan tanda tanya bagi saya. Andai diberikan pengalaman hidup yang serupa, mampukah saya melakukan hal sejenis? Menguntai rentetan-rentetan peristiwa, memaknainya, hingga menuangkannya dalam bentuk tulisan yang mengubek-ubek emosi. Membuat pembaca tertawa, terenyuh, sampai merasa geram akibatnya.

    Ya, itulah yang sempat saya rasakan. Sungguh buku yang menarik, ditulis dengan bahasa populer. Malah cenderung seenaknya. Namun, dalam tulisannya yang renyah. Dalam cerita tentang pengalamannya yang paling sederhana. Secara unik, mengajak saya menyelami diri. Menyadari akan banyaknya kesalahan dan keterbatasan saya sebagai manusia. Hingga memotivasi saya untuk menjadi makhluk yang lebih baik.

    Buku Kicau Kacau, ialah satu buku yang saya kira berhasil membawa misinya. Menyampaikan hikmah dari pengalaman yang dijalani penulis. Dalam pustaka pribadi, saya mempunyai buku-buku lain yang memiliki “sense” sama. Buku-buku itu “terserak” dari berbagai tema. Ada yang intinya mengusung motivasi. Ada pula yang dalam tataran pengembangan diri, perubahan, pendidikan, menulis, sampai bersifat jenaka.

    Buku Recode “Change Your DNA” Rhenald Kasali, menyisipkan pengalaman-pengalaman sang dosen. Menjadi contoh dalam manajemen perubahan. Buku “Room To Read” John Wood, mengisahkan bagaimana penulis meninggalkan Microsoft dan membangun 7.000 perpustakaan di dunia. Sangat inspiratif! Dan, siapa yang tidak tahu dengan buku “Ganti Hati” Dahlan Iskan? Buku yang berkisah tentang pengalamannya menjalani perawatan transplantasi hati. Buku yang menurut saya, “renyah” dan kaya akan rasa.

    Saya kira, kehadiran buku-buku itu sudah cukup menjadi bukti. Kalau pengalaman hidup jika dimaknai secara khusus, bisa menghadirkan hikmah tersendiri. Dan jika hikmah-hikmah itu bisa dirangkai dan dituliskan. Whew, Itu bisa menjadi pengetahuan, bahkan pembelajaran bagi banyak orang.

    Saya meyakini, setiap individu yang menyukai sebuah bidang, atau berprofesi dalam bidang tertentu, pasti mengalami banyak hal yang berkesan. Dari hal-hal yang menggembirakan sampai menyedihkan. Hal-hal yang kemudian yang menjadi guru. Modal dalam menjalani hidup selanjutnya untuk lebih mengembangkan diri.

    Misalnya, seorang sales yang seiring lamanya bekerja, memiliki banyak pengalaman kala menunaikan tugasnya. Bagaimana ia memutuskan menjadi sales? Bagaimana saat ia menghadapi pelanggan? Merayu pelanggan untuk membeli produk yang ia tawarkan. Sampai akhirnya, bagaimana gembiranya saat produk yang ia jual dibeli. Atau, betapa pahitnya saat produk yang ia jual ditolak. Lebih pahit lagi bila ia sampai dicaci maki pelanggannya. Oke, yang ini lebai…he-he-he.

    Semua itu pastinya menjadi pelajaran. Lewat pengalaman-pengalaman tersebut, si sales bisa menjadi lebih hebat. Bisa mempelajari psikologis pelanggan. Apa yang mereka suka, dan mana yang tidak. Otomatis, mestinya ia meningkatkan keterampilan marketingnya pula.

    Demikian pula di ranah menulis, khusus bagi mereka yang suka menulis, atau juga penulis.  Bagaimana perjalanan tulisan yang pertama Anda buat? Bagaimana rasanya –pengalaman menuliskan itu? Apa yang Anda lakukan sesudahnya? Menyimpannya di HD komputer saja, atau mengirimkannya ke media massa? Atau mungkin ke lomba penulisan?

    Nah, bila Anda mengirimkannya, apakah karya Anda diterima atau ditolak? Jika karya Anda diterima, bagaimana rasanya? Berapa honor yang Anda dapat? Apakah Anda cukup bangga dengan tulisan itu? Sebaliknya jika karya Anda ditolak, bagaimana rasanya? Apakah Anda sempat trauma, berhenti menulis beberapa waktu, karena karya itu ditolak. Atau Anda terus menulis?

    Whew. Saya bisa mengajukan banyak pertanyaan jika itu sudah tentang tulis menulis, he-he-he.

    Coba Anda bayangkan? (Selamat membayangkan, ha-ha-ha). Jika pengalaman-pengalaman itu Anda tuliskan. Ya, jika Anda memang menganggap pengalaman itu ialah guru. Bukankah ada hikmah-hikmah yang terangkai di dalamnya? Kenapa tidak menuliskannya? Membagikannya bersama orang-orang lain yang ingin belajar dari pengalaman Anda.

    Dan saya, jujur, tidak terlalu terpengaruh dalam anggapan –kecemasan, bagaimana kalau pengalaman-pengalaman kita terlalu biasa. Tidak terlalu hebat untuk ditulis atau dipaparkan?

    Saya yakin, setiap orang memiliki pertimbangan yang hebat dalam memilih jalur hidupnya. Apa yang ia geluti. Apa yang akhirnya membuat ia menyukai bidang itu dan mau memperjuangkannya? Bagi saya, itu sudah menjadi hal yang hebat.

    Di sini saya mencobanya. Di sini saya hadir dengan tulisan-tulisan saya tentang pengalaman menulis. Dan syukurnya, beberapa teman saya menganggap, pengalaman yang saya tulis tidak terlalu buruk. Ada yang senang membacanya. Mereka yang bahkan belum menyukai menulis. Atau, menyenangi menulis, tapi selalu beralasan hingga akhirnya selalu gagal menulis. Gagal menuliskan tulisan yang utuh. Untuk mereka pula tulisan-tulisan ini saya lahirkan. Halah, So’ so’an. Hi-hi-hi.

    Maaf bila apa yang saya paparkan terlalu vulgar. Saya hanya ingin menyampaikan, kalau seorang penulis wajib memotivasi dirinya sendiri. Bagaimana caranya? Cukup dengan menulis. Kita tak pernah tahu kan? Seberapa besar pengaruh hikmah-hikmah yang terangkai dalam pengalaman kita, sebelum itu dituliskan, dibaca, dan akhirnya menjadi pembelajaran bagi yang lain. Mari memangkas kecemasan menulis dengan menulis. Mari merangkai hikmah, menuliskan pengalaman.

    *) Penulis adalah anggota FAM Banjarbaru, Kalimantan Selatan, nomor ID FAM 1047 U.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Merangkai Hikmah, Menuliskan Pengalaman Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top