• Info Terkini

    Tuesday, September 4, 2012

    Motivasi Hebat dari Orang-Orang Hebat


    Oleh Aliya Nurlela*)

    Aku sudah menulis sejak kecil. Berawal dari suka membaca. Terutama membaca buku-buku dongeng dan fabel. Kisah putri-putri cantik jelita yang bersanding dengan pangeran tampan, itu termasuk kisah anak-anak yang paling disukai. Ketika membaca sebuah cerita yang diawali dengan kalimat, “Konon, pada suatu hari, alkisah….” Wah, sangat senang sekali membacanya. Sudah terbayang isi cerita itu akan seru. Pasti dengan serius membaca dan menyimaknya.

    Dari suka membaca dongeng-dongeng itulah, akhirnya jadi terdorong ingin menulis. Ingin membuat cerita hebat seperti dongeng itu. Atau terkadang ingin melanjutkan sebuah dongeng yang ketika dibaca rasanya belum tuntas. Maksud hati, sang putri cantik itu menikah dengan pemuda sederhana yang baik hati. Tidak melulu dengan pangeran tampan yang kaya raya, he-he-he.

    Akhirnya, aku pun menulis. Menulis yang mengasyikkan. Masa kecil waktu untuk menulis itu masih terbentang luas. Tak punya tanggung jawab seperti halnya orang dewasa. Tak ada tuntutan. Juga tak terbebani dengan isi tulisan. Saat yang paling bebas berekspresi, he-he. Sayang, terkadang masa longgar itu baru disadari ketika diri sudah dewasa.

    Aku suka menulis di mana saja. Maklum anak desa. Orangtua membuat rumah di sudut kampung, jauh dari rumah-rumah tetangga. Sekeliling rumah adalah kebun cengkeh milik keluarga. Ada pula tanaman jambu batu, salak, duku, manggis, dan tanaman sayur. Sebelah rumah terdapat kolam ikan air tawar yang didominasi ikan mujair dan gurami. Persawahan terbentang luas di depan rumah. Dua bukit yang ditumbuhi pepohonan lebat berdiri kokoh menghadap rumah. Tempat yang nyaman untuk berpikir. Hening tanpa deru kendaraan. Cocok sekali untuk menulis.

    Itulah masa yang indah untuk selalu dikenang. Saat kemana-mana aku membawa buku tulis tipis bermerk Letjes, dan sebuah ballpoint atau pencil. Lalu menulis di mana saja. Kadang menulis di atas batu sungai, di atas pohon jambu besar yang menjorok ke kolam, sambil bersandar di pohon cengkeh atau sambil tengkurap di pekarangan. Ah, pokoknya suka-suka sendiri, he-he-he.

    Apa yang ditulis? Oh, tentu saja dongeng atau fabel. Sesuai dengan usia waktu itu. Ketika sudah penuh satu buku, maka akan beralih pada buku kosong lainnya. Begitulah seterusnya. Aku sangat merawat buku-buku itu. Selalu disimpan di lemari buku bersama buku pelajaran lainnya. Sobek atau terkena air sedikit saja, sedihku bisa berhari-hari. Itulah sebabnya jarang kupinjamkan pada teman-teman sekelas. Takut sobek, kotor dan keriting, he-he-he. Maklum anak seusiaku waktu itu belum pandai merawat barang milik orang lain. Nah, tapi keteguhanku harus runtuh, ketika yang meminjam adalah saudara sepupu yang sudah kuliah. Langsung aku bolehkan. Apalagi, ia punya mesin ketik. Hi-hi-hi, bisa barter. Saling meminjam.

    Di luar dugaanku, sepupuku itu suka membaca ceritaku. Bahkan setengah ketagihan. Usai meminjam buku satu, sambil mengembalikan, pinjam lagi buku lainnya. Terus begitu. Sampai aku sebagai penulisnya kehabisan cerita. Karena buku yang dipinjam habis, maka sepupu itu selalu mendorongku untuk membuat lagi cerita berikutnya. Wah, anak kecil mana yang tidak ‘terbang’ saat karyanya disukai orang dewasa? Itu motivasi hebat. Itu suntikan semangat yang membuat hasrat menulisku ‘membabi buta.’

    Di sudut hati yang paling dalam sekali, he-he-he, aku juga sangsi. Jujurkah ia? Tapi ah, tak penting tampaknya membahas dan mengorek jujur tidaknya. Yang penting adalah tulisanku dibacanya dan membuatnya ketagihan. Lalu… dampaknya, mesin tik itu bebas ditenteng ke rumahku. Itu artinya, ada peningkatan dalam kegiatan menulisku. Tidak melulu pake buku tulis.

    Kondisi mesin ketik itu cukup parah sih. Untuk membuat gandarnya bergerak harus dipasang beberapa karet yang diikat dengan sendok. Lalu ditarik dan diikatkan di sudut meja. Mengenaskan. Itupun harus penuh pengawasan. Jika lengah, bisa meloncat sendiri dan hasil ketikan amburadul. Kondisi mesin tik yang parah itu, diperparah lagi dengan ketidakmampuanku dalam mengetik. Aku belum pernah belajar ngetik, hanya melihat orang dewasa saat mengetik. Sepupuku itu memberi pinjaman tanpa disertai menularkan ilmunya. Ia enteng saja meminjamkan mesin tiknya pada orang yang tak bisa ngetik, he-he-he. Luar biasa. Mungkin di matanya, aku dianggap makhluk kecil yang punya impian besar. Impian itu melebihi tubuhku yang masih kecil. Membawa mesin tik saja, aku kerepotan. Tidak kuat menenteng tapi kubopong, hi-hi-hi.

    Mungkin saja, dalam hati sepupuku bergumam, “Ah, nanti juga langsung dibalikin.” Itulah sebabnya, meminjamkan tanpa disertai ilmu. Eh, tapi belum tahu dia. Bahwa anak kecil yang ada di hadapannya itu adalah tipe yang pantang menyerah, he-he-he. Jika belajar sesuatu belum berhasil, akan terus, terus dan terus. Dan benar-benar dibuktikan. Mesin tik itu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk mengetik otodidak. Sudah pasti keringat mengucur akan mewarnai hari-hariku saat mengetik. Mesin tiknya parah, cara mengetiknya juga parah dan harus mikir jalan cerita pula.

    Hasilnya? Amburadul, hi-hi-hi. Jadi tergelak sendiri jika ingat masa itu. Hasil ketikan yang tak beraturan. Loncat sana sini. Kadang satu huruf di atas, huruf lainnya di bawah. Sangat tidak nyaman untuk dibaca. Hmm… tapi herannya, aku begitu percaya diri mengirimkan hasil ketikan itu ke sebuah koran daerah. Ck… ck! Tanpa minta pertimbangan orang dewasa dulu. Atau setidaknya meminta mereka mengetik ulang. Percaya diri tingkat tinggi, kali ya?

    Duh, redaktur koran itu baik sekali. Siapa dia? Aku tak kenal. Yang kutahu hasil ketikanku muncul di koran itu. Tentu saja sudah rapi. Wah, senang sekali. Kerja kerasku ada yang menghargai. Cucuran keringat yang mengalir deras saat mengetik, rasanya kering seketika oleh kabar bahagia itu. Aku sendiri tak habis pikir. Kenapa bisa dimuat? Padahal itu koran ternama di kabupatenku. Entahlah. Semoga bukan faktor kasihan, he-he-he. Sebagai anak yang baru menginjak remaja, doaku sederhana saja. “Semoga redakturnya masuk surga.”

    Dampaknya, aku makin bersemangat lagi menulis, mengetik dan mengirimnya ke koran daerah. Aku tetap bertahan dengan keterbatasanku. Mengetik semampunya. Aku merasa, toh dengan hasil ketikanku sendiri, tak satu pun tulisanku yang dikembalikan. Jadi, belum penting untuk meminta bantuan orang lain yang pandai mengetik. Ya, Alhamdulilah aku patut bersyukur karena tak ada tulisanku yang dikembalikan.

    Karena tulisan-tulisan pendekku sering nongol di koran, seorang guru sekolah dasar tertantang untuk mengajakku beradu karya. Setiap hari guru tersebut berjalan kaki menuju sekolahnya yang ada di desaku. Ia harus menempuh perjalanan 4 km mencapainya. Sementara aku, berjalan kaki dengan jarak tempuh yang sama menuju sekolahku yang ada di desa guru tersebut. Kami selalu berpapasan. Pagi hari, ia berangkat jalan kaki ‘naik gunung’ dan aku ‘turun gunung.’ Siang hari, ia pulang ‘turun gunung’ dan aku ‘naik gunung.’ Setiap hari berpapasan. Guru tersebut menantangku, “Ayo kita kirimkan karya kita ke koran itu, dan siapa kira-kira yang karyanya dimuat,” ujarnya. “Oke, siapa takut?” Aku menyambut senang. Sok gede nyali, hi-hi-hi. Bagiku, jika karyaku yang dimuat, maka luar biasa karena setidaknya bisa mengalahkan seorang guru SD yang usianya terpaut jauh denganku. Kalaupun aku yang kalah, tak mengapa. Tak jadi beban. Aku bisa berkilah, “Ah, aku kan masih kecil.” Menang kalah menguntungkan bagiku. Itulah sebabnya aku tidak menolak tantangannya.

    Diam-diam aku dan guru tersebut masing-masing mengirim tidak satu karya. Kalau tidak salah (semoga benar, he-he-he) ada dua belas tempat kosong setiap minggu di koran tersebut untuk tulisan pendek, seperti puisi dan humor. Masing-masing kami tidak saling mengetahui jika karya yang dikirim lebih dari satu. Yang terbetik dalam benak kedua belah pihak adalah mengirim tulisan sebanyak-banyaknya. Andai yang satu ditolak, tulisan lainnya ada harapan diterima. Aku mengirimkan delapan tulisan sekaligus. Masih dengan hasil ketikan yang parah. Sementara guru tersebut mengirim empat tulisan. Kami menunggu seminggu sampai koran tersebut terbit. Setiap bertemu, kami saling bertukar buku yang sudah dibaca masing-masing. Soal bacaan, alhamdulilah orangtuaku setiap bulan berlangganan enam majalah dan koran. Jadi selalu ada yang dipinjamkan.

    Kabar baik benar-benar berpihak padaku. Wah, aku setengah melonjak saat kulihat di koran tersebut, delapan tulisanku dimuat semua. Sementara empat kolom kosong lainnya, ditempati orang lain yang tidak kukenal. Salah satunya ada tulisan guru tersebut. Itu artinya, aku pemenang dalam persaingan sehat itu. “Anak kecil dilawan, he-he-he.” Tak ada iri atau marah. Ia ikut senang dan bangga, bahkan memberi hadiah hiasan dari kaca yang terukir namaku. Katanya, itu hadiah untuk anak kecil yang berhasil mengalahkan seorang guru. Lagi-lagi menjadi motivasi yang hebat dalam perjalanan menulisku.

    Tapi, anehnya tak ada semacam cita-cita bahwa besok aku akan jadi penulis atau penulis hebat. Padahal, beberapa kali aku juga mendapat penghargaan dari lomba menulis. Meski hanya tingkat sekolah atau komunitas pelajar saja. Cita-citaku waktu itu, seperti anak kecil lainnya yang masih suka berubah-ubah dan tidak fokus. Bahkan, jika kuingat cita-citaku itu sangat menggelikan. Aku pernah bercita-cita menjadi penjual pisang goreng. Tentu saja cita-citaku ini ditentang ibuku yang seorang guru. Katanya, “Jadi penjual pisang goreng itu, tanpa sekolah pun bisa.” Ya sudah, cita-citaku ganti lagi. Ingin jadi seorang polwan alias polisi wanita. Lagi-lagi dikomentari ibuku, katanya seorang polwan itu fisiknya harus kuat. Hmm… iya juga, aku tak memiliki fisik kuat. Aku paling lemah dalam berlari. Mana ada polwan larinya letoy? Hi-hi-hi. Baiklah, aku ganti cita-cita lagi. Ingin jadi seorang ahli arkeolog, yang meneliti fosil-fosil dan berbagai peninggalan sejarah. Eh, ibuku juga yang komentar. Katanya, dengan kegelapan saja aku takut. Apalagi harus berhadapan dengan fosil-fosil, dan tengkorak-tengkorak yang berada di tempat-tempat gelap. Hmm… ibuku benar juga. Mungkin orang dewasa itu cara berpikirnya selalu dirasionalkan terlebih dulu. Sementara anak kecil hanya melihat tampilan luar, lalu ingin meniru. Baiklah, cita-citaku berganti lagi yaitu ingin menjadi seorang guru. Nah, kalau ini tak ditentang dan tak dikomentari. Mungkin karena sesuai dengan jiwa ibuku yang seorang pendidik.

    Menulis dan menulis seperti sudah menjadi rutinitas harianku yang tidak boleh ditinggalkan. Aku selalu punya buku diary dalam perjalanan hidupku. Aku suka mencatat kegiatanku sehari-hari. Hari ini di mana, sedang apa dan bertemu siapa. Curhat yang paling nyaman memang pada buku diary. Masa remaja itu pula, aku merasa menjadi seorang redaktur sebuah majalah. Maklum banyak ‘naskah’ berdatangan yang minta diseleksi. Aku pun menyeleksi satu persatu. Yang tulisannya baik dan menarik, aku bundel jadi satu. Bundel sederhana. Menggunakan sampul buku tulis yang sudah tidak terpakai. Pada masa itu, belum musim handphone atau facebook. Banyak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi seorang pujangga, sebab ketika mereka menyatakan maksud kepada seorang perempuan harus berkirim surat. Menulis dengan bahasa surat. Tidak bisa to the point. Tapi harus diawali mukadimah dulu, lalu sedikit basa-basi dan barulah menuju ke pokok pembahasan. Kemudian diakhiri penutup yang manis. Itulah sebabnya, aku merasa sedang menilai naskah-naskah. Memilih yang terbaik untuk diterbitkan, he-he-he.

    Karena tulisan pula, aku berhasil mengalahkan seorang preman kampung. Cinta ditolak, anjing menyalak. Aku berhasil meloloskan diri dari kejaran anjing sang preman. Aku yang lambat dalam berlari, tiba-tiba berhasil menjadi seorang pelari hebat dalam kondisi yang ‘kepepet.’ Aku puas, meski tubuhku babak belur. Rasanya, aku telah menunjukkan pada dunia, bahwa gadis kecil yang terkenal lambat dalam berlari, hari itu sudah tampil jadi pelari hebat. Tanpa penonton, tanpa trophy. Tapi berbuah kepuasan. Ternyata, untuk meluluhkan hati si preman bukan dengan cara aku belajar beladiri, lalu tampil di hadapannya menjadi seorang pendekar. Aku seolah mendapat ilham. Allah menunjukkan jalan padaku, untuk menulis surat pada preman itu. Inti dari isi surat itu adalah, “Silakan kau aniaya aku sepuasmu. Hingga aku mati sekalipun. Aku hanya seorang gadis kecil yang lemah, tak memiliki kekuatan apapun. Aku hanya berharap agar Tuhanku mengerahkan para malaikat untuk menjagaku dan menjadi saksi atas perbuatanmu.”

    Tak kuduga, surat itu sangat ampuh. Aku melihat si preman datang meminta maaf dengan berlinang air mata. Aku bersyukur atas ilham yang diberikan padaku yaitu sebuah bahasa surat. Ketika lisan tak mampu lagi menjadi pembela, fisik pun tak kuat untuk melawan, maka dahsyatnya sebuah tulisan bisa menjadi senjata yang ampuh.

    Kepala sekolahku memberi kepercayaan, agar aku mengelola mading sekolah. Jika tak ada yang mengirim tulisan, maka akulah yang harus mengisi mading tersebut dengan beraneka tulisan. Hmm, bagiku lagi-lagi ini motivasi hebat. Tantangan yang paling kusukai dan aku langsung menyanggupinya. Benar saja, nyaris tak ada yang mengirim tulisan ke mading tersebut. Mungkin minat menulis siswa masih kurang atau para siswa tidak percaya diri mengirim tulisannya.

    Tak apalah, aku siap mengisinya. Itu janjiku pada bapak kepala sekolah. Kuisilah mading tersebut dengan beraneka macam tulisan sederhanaku. Suatu kepuasan tersendiri, apabila saat istirahat tiba para siswa dan guru membaca tulisanku. Aku duduk dan melihat dari kejauhan dengan menyungging senyum. Merekalah orang-orang yang telah menumbuhkan semangatku untuk terus menulis. Bukan hanya sekadar menulis, tetapi juga mencintainya. Menulis dengan rasa cinta!

    Sebuah motivasi dari guru bahasa Indonesia waktu SMA, belum juga mengubah cita-citaku. Tak ada sedikitpun cita-cita menjadi penulis. Saat guru bahasa Indonesia itu meminta semua murid menulis kilat dua alinea yang menceritakan kejadian tabrakan di jalan raya. Bukan bahasa berita tapi bahasa cerpen. Ketika semua tulisan sudah dikumpulkan dan dibacanya, tiba-tiba ia mengangkat kertasku dan mengatakan pada semua murid, “Ini contoh tulisan yang bernilai sastra tinggi.” Oh ya? Aku hanya bengong. Dari sudut mana guru itu menilai tulisanku bernilai sastra tinggi? Mungkin sebuah kebetulan. Ufh, tapi aku tidak percaya dengan konsep kebetulan. Baiklah, itu aku anggap motivasi hebat dari seorang guru. Agar muridnya makin semangat.

    Mungkin masa remaja, aku lebih tertarik dengan kesenian. Beberapa bidang seni aku geluti. Namun demikian, bukan berarti kegiatan menulis aku tinggalkan. Aku tetap rutin menulis diary, menulis cerpen dan puisi. Bahkan beberapa naskah drama dan lirik lagu. Satu lagu mars yang kuciptakan, terpilih menjadi mars sekolah. Itu pula yang membuat aku kebanjiran permintaan menulis lirik lagu dari teman-teman sekolahku.

    Ternyata, banyak sekali orang-orang hebat di sekitar kita yang bisa memompa semangat untuk terus menulis. Bagiku, bukan tulisan itulah yang hebat tetapi merekalah yang hebat. Mereka secara tidak langsung telah menempatkan diri sebagai motivator atas hasil karya oranglain. Hatinya ikhlas menilai positif dan memberikan dukungan melalui lisan. Mungkin mereka tak mengira, jika ucapan dan sikapnya itu akan dikenang oleh orang yang telah merasa termotivasi. Tetapi, memang seperti itulah ciri orang-orang hebat, yaitu berbuat kebaikan bukan untuk mendapat imbalan.

    Pasti Anda pun memiliki kenangan dalam hidup tentang dukungan, pengakuan, dan penilaian positif dari orang-orang terdekat. Itulah motivasi yang selayaknya mencuatkan semangat kita semakin ‘menggebu-gebu’ dalam berbuat yang lebih baik lagi. Tanpa dukungan, pengakuan dan penilaian positif, kadang membuat pertahanan diri melemah. Terpuruk dalam kesedihan dan kemurungan. Patutlah kiranya untuk selalu berterima kasih pada orang-orang yang bisa bersikap hebat tersebut.

    Tulisan di atas hanya sekelumit cerita saja, mengenang para motivator yang memberikan ‘virus’ semangat untuk terus menulis. Cerita itu pun belum berakhir sampai di situ, masih ada perjalanan panjang berikutnya hingga titik sekarang ini. Dalam setiap cerita perjalanan itu, banyak pula orang-orang hebat yang menorehkan kenangan dengan memberikan dukungan dan penilaian positif yang luar biasa. Insya Allah akan bercerita di lain waktu.

    Mari kita hargai, kita kenang, orang-orang yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan hidup kita. Terutama dalam bidang tulis menulis. Karena adanya ‘para motivator’ yang ikhlas, kita menjadi lebih semangat untuk berkarya. Serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

    *) Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Motivasi Hebat dari Orang-Orang Hebat Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top