• Info Terkini

    Saturday, September 8, 2012

    Nama Pena


    Oleh Aliya Nurlela

    “Nama Pena” menurut Wikipedia adalah sebuah nama samaran yang diadopsi seorang penulis. Lebih mudahnya, nama pena adalah nama lain penulis yang dipakai dalam tulisannya. Sebuah nama pena dapat digunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk membuat nama penulis lebih khas; untuk menyamarkan gender-nya; untuk memberi “jarak” antara seorang penulis dengan beberapa atau semua karyanya; untuk melindungi penulis dari bahaya yang ditimbulkan oleh tulisan-tulisannya; atau untuk sejumlah alasan yang berkaitan dengan pemasaran atau presentasi estetika dari karya yang terkait. Nama penulis yang sebenarnya bisa saja hanya diketahui oleh penerbit buku dan dijaga kerahasiaannya, atau mungkin akan menjadi pengetahuan publik.

    Tidak sedikit penulis yang menggunakan nama pena dalam tulisannya. Tidak sedikit pula dari mereka yang menggunakan nama pena itu akhirnya lebih populer dengan nama penanya. Bahkan nama aslinya banyak yang tidak mengenal. Seperti sejumlah penulis yang sudah terkenal dengan nama penanya: Pipiet Senja, Gola Gong, Asma Nadia, Remy Silado, dan lain-lain.

    Menggunakan nama pena atau tidak, keputusan itu berada di tangan penulis. Silakan saja menggunakan nama pena atau nama asli dalam sebuah tulisan, itu hak penulis. Keputusan itu diambil, tentu sudah dengan alasan yang jelas. Ada yang merasa lebih nyaman menggunakan nama asli ketimbang nama pena. Namun, ada pula yang sebaliknya. Setiap pribadi pasti memiliki kenyamanan sendiri-sendiri tergantung cara pandang yang dipakai oleh masing-masing. Kita hargai pilihan itu.

    Namun, menggunakan nama pena adakalanya terbentur dengan urusan administrasi yang mengharuskan menggunakan nama asli. Harus menunjukkan identitas diri, sesuai nama yang tercantum di KTP. Lebih-lebih ketika berhadapan dengan orang yang ‘suka usil’ dalam arti kurang menghargai tulisan orang lain. Saat tulisan kita dimuat dengan nama pena yang belum populer, dengan entengnya berujar, “Di mana ciri yang menunjukkan bahwa ini memang karyamu? Jelas-jelas nama ini dan namamu jauhnya antara barat dan timur?” Glek! Gondok rasanya. ‘Cape-cape’ nulis, tak diakui. Begitulah kalau nama pena kita belum dikenal dan belum melekat dengan diri kita.

    Aku akan berbagi pengalaman saja, soal nama pena yang pernah kugunakan. Waktu kecil, di awal-awal mengirim karya ke koran daerah, nama pena yang  kupakai adalah Ella Flamboyan. Alasan memakai nama pena itu, karena Ella adalah nama panggilan sehari-hari di rumah. Flamboyan adalah tambahannya. Sebab, sejak kecil aku sangat menyukai bunga Flamboyan. Meskipun bunga itu langka, dan waktu itu hanya kulihat di majalah. Tapi aku menyukainya karena keunikannya. Flamboyan memiliki bunga yang indah. Ketika orang akan memandang keelokan bunganya, maka ia harus menengadahkan muka ke atas karena pohonnya yang tinggi. Jika ingin memetik bunganya, maka tidak bisa dipetik begitu saja seperti bunga-bunga lain yang bisa dipetik sambil lewat. Untuk memetik bunga Flamboyan memerlukan waktu khusus. Harus berjuang menaiki pohonnya. Barulah bisa meraih bunganya.

    Flamboyan memiliki pohon yang kuat dan tinggi. Sebagian besar bunga, pohonnya pendek dan mudah patah. Flamboyan berbeda, mirip pohon-pohon kayu yang kokoh. Itulah pesonanya. Bunganya elok dipandang tapi memiliki batang yang kuat. Nah, aku juga ingin menjadi seseorang yang elok dipandang, tetapi tidak mudah dipetik. Memiliki jiwa yang kuat, tangguh dan teguh memegang prinsip. Itulah alasanku mencomot nama bunga Flamboyan.

    Nah, suatu hari bapakku pulang dari kantor. Seperti biasa seminggu sekali koran daerah itu terbit, dan bapakkulah yang membawanya. Aku sudah menanti koran itu, karena aku rutin mengirim setiap minggu ke koran tersebut. Aku sudah yakin karyaku akan dimuat lagi. Aku berusaha meraih koran yang ada di tangan bapakku. Tapi tidak biasanya, beliau langsung menyembunyikan koran itu. Koran itu disembunyikan di balik bajunya. Aku merayu-rayu agar koran itu diberikan dan kukatakan bahwa ada karyaku di sana. Apa jawaban bapakku? “Rasanya di rumah ini tidak ada orang yang namanya Flamboyan. Tapi aneh di koran ini ada tulisan dari orang yang bernama Flamboyan dan memakai alamat rumah ini,” ujarnya sambil menatapku.

    Aku langsung teriak, “Itu aku!” Tapi bapakku langsung menyahut, “Rasanya tidak punya anak yang bernama Flamboyan. Aneh sekali.” Wah, bapakku benar-benar menyindir. Bahkan langsung komentar, “Kenapa tidak pakai nama bunga Jarong saja sekalian?” ucapnya mengagetkanku. Apa, bunga Jarong? Tahukah sahabat bunga Jarong? Di daerah Sunda, bunga Jarong sangat terkenal sebagai rumput liar yang daunnya bau menusuk dan selalu dikerubuti ulat-ulat belang. Hiii… Bapakku yang religius, disiplin tapi humoris secara tidak langsung mengingatkanku dengan cara menyindir. Artinya, ia tidak bangga aku memakai nama pena itu. Waktu itu aku  bilang, “Ah, Abah enggak gaul banget!” Maklum aku masih remaja, nama pena itu juga sebagai nama gaulku. Tapi, karya berikutnya aku ganti dengan nama A. Nurlaella Sukarya. Nah, kalo ini bapakku senang karena namanya tercantum di belakang nama asliku. Tak apa demi ayah tercinta, hi-hi-hi.

    Ada juga kejadian saat aku rutin mengirim karya ke majalah anak. Nama penaku kuganti lagi, menjadi Laila Faiq. Aku bertahan dengan nama pena ini selama dua tahun. Nah, waktu itu aku mengirimkan dua buah tulisan ke majalah anak tersebut. Hampir sebulan tulisanku tidak nongol di majalah yang baru terbit. Akhirnya, aku anggap tulisanku tidak akan dimuat. Aku lupakan soal naskah cerpen yang kukirim dan tidak berlangganan lagi majalah itu. Suatu hari,  ada pak pos ke rumah mengantar lembaran wesel yang  ditujukan untuk Laila Faiq. Anehnya, aku sendiri lupa dengan nama pena itu. “Laila Faiq? Salah alamat kali.” He-he-he aku lupa pernah memakai nama itu ke sebuah majalah. Tapi pak posnya yakin alamat yang tertera di lembaran wesel itu tidak salah. Barulah aku sadar, kalau itu ditujukan untukku setelah aku membaca pengirimnya.

    Masalah belum berakhir. Datanglah aku ke kantor pos terdekat untuk mengambil honor dimuatnya cerpenku, sebesar Rp25.000. Ternyata petugas pos tidak bersedia mencairkan uangnya, karena nama yang terdapat dalam lembaran wesel dan nama di KTP-ku sangat jauh berbeda. Aku disuruh menghubungi pihak majalah dan meminta surat keterangan. Wih, setelah kuhitung-hitung untuk mengurusinya saja membutuhkan biaya lebih dari Rp25.000. Ah, lebih baik honornya tidak diambil saja.

    Selanjutnya, sejak itu aku tidak lagi memakai nama pena. Kembali ke nama asli Aliyah Nurlaella. Buku pertama terbit dengan nama asli Aliyah Nurlaella. Tak ada kesalahan ketik. Penerbit itu sukses menulis nama asliku. Tapi pada buku berikutnya, dengan penerbit yang sama, namaku menjadi Alliyah Nurlaella. Double “l.” Disusul dengan kesalahan-kesalahan berikutnya. Kadang ditulis Nurlaella atau Nurlela. Kadang Aliyah atau Aliya. Apakah sulit mengingat namaku? Baiklah, aku sederhanakan saja menjadi Aliya Nurlela. Lebih simpel. Insya Allah tidak mengubah arti dan tidak terlalu jauh dari nama asliku.

    Ya, sejak setahun lalu sudah kumantapkan memakai nama Aliya Nurlela. Nama ini sudah kupakai dalam buku kumcer “Fesbuk” yang ditulis bersama Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia. Alhamdulilah, tak ada kendala. Apalagi sekarang pengambilan uang honor atau royalty tidak lagi menggunakan jasa pos dengan memakai lembaran wesel. Pos sudah lebih maju. Termasuk menggunakan jasa bank.

    Nah, itulah sekelumit ceritaku yang pernah memakai nama pena. Ada baiknya, tips dari Mbak Asma Nadia ini kita baca:

    Kamu butuh nama pena kalau:

    1. Namamu terlalu panjang/terlalu pendek/tidak menarik

    Namamu susah dilafalkan. Beberapa nama berbau bahasa arab/asing, tidak hanya susah dilafalkan (memerlukan makhorijul huruf yang buanget), tapi juga susah diingat.

    2. Namamu tidak pas dengan segmentasi tulisan yang kamu buat.

    Misalnya, kamu menulis fiksi untuk remaja. Tapi nama aslimu justru tidak terkesan remaja, ex: Ummu Zainab. Bisa diperkirakan akan timbul di hati pembaca keraguan untuk membeli buku remajamu, sebab nama pengarangnya jauh dari kesan meremaja.

    3. Namamu terlalu berat atau terlalu ringan bagi tulisan yang kamu buat.

    Misal kamu menulis tentang epik Islam, tapi namamu terlalu gaul. Atau kamu menulis (dan akan konsisten di jalur itu) wacana sastra atau artikel yang serius, dengan nama yang terkesan enteng.

    4. Kamu pengen hidden sebagai penulis. Sah saja kan biar nama aslimu tidak diketahui banyak orang.

    Terakhir, kamu bisa memiliki nama pena kalau kamu mau. Mungkin tidak perlu sebab namamu sendiri sudah oke, tapi kamu punya nama lain yang kamu suka.

    Sahabat FAM, ingin memakai nama pena atau nama asli? Itu pilihan.

    Salam santun, salam karya!
    Sekjen FAM Indonesia
    www.famindonesia.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Nama Pena Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top