• Info Terkini

    Sunday, December 9, 2012

    Naskah Ditolak, Siapa Takut?

    Sahabat FAM, beberapa hari lalu FAM Indonesia mengajukan sebuah pertanyaan kepada sahabat FAM. Isi pertanyaannya begini:

    “Kamu memiliki karya tulis yang menurut kamu bagus dan laik diterbitkan. Kamu mengirimkan naskah itu ke salah satu media massa di kotamu. Beberapa bulan lamanya kamu menunggu tanpa kepastian. Lalu tiba-tiba kamu mendapat kabar bahwa naskahmu ditolak redaktur. Kamu bersedih hati, dan patah semangat untuk kembali menulis. Apa yang kamu lakukan kemudian?

    Nah, apa jawaban sahabat FAM Indonesia? Ini dia:

    Kalau naskah saya ditolak terus, saya berhenti menulis sejenak, lalu belajar lagi dari awal. ~Rahmat SahRie Ramadanie, FAM 325U Bontang

    Oalaaah.... itu saya banget! Dan tak jarang bikin frustasi. Namun, harus disadari, ya mungkin naskahnya masih banyak yang harus dikoreksi. hehehe... :) ~Eva Nur Aprillail

    Saya udah sering ditolak awalnya, tapi terus aja nulis dan dikirim terus sampai akhirnya dimuat juga. ~ Ridha Wahyuni

    Baru 1 kali ditolak, menyebalkan juga… ~ Simon Simangunsong

    Belum pernah coba dan akan mencoba. ~ Zul Hasibuan, FAM 1017U, Padang

    Alhamdulillah, awal mengirim langsung dimuat, tapi bulan-bulan ini gak dimuat, rada sedih, tapi tetap semangat buat nulis. ~Farah Oktathachaluuby, Kebumen

    Gagal, bukan akhir dari segalanya. Naskah-naskah "gagal", tadi tetap saya simpan. Hm, justru dari seringnya ditolak, saya banyak belajar bagaimana cara agar tidak ditolak, terutama... ~Ken Hanggara, Surabaya

    Mau ngirim eh dapet koreksian pedas dari guru. Dengan terpaksa naskah itu saya simpan lagi. Belum berani. ~Tinta Biru, Cilegon

    Saya hanya ikut serta dalam lomba-lomba. Tapi selalu saja tidak menang. Saya koreksi lagi naskahnya, lalu kirim ke penerbit indie. ~Yeonyi Jaejoong

    Saya ngirim sering tapi, gak tahu dipublikasi atau enggak. Intinya tetap menulis. ~Maulidin Akbar, FAM1028M, Sigli, Aceh

    Saya menganut paham: tulis, save, kirim, dan lupakan. Kalau dimuat alhamdulillah, kalau tidak segera cari file di laptop, edit sedikit, kirimkan ke media lain. Ditolak bukan selamanya karena naskah kita jelek kok. Bisa saja naskahnya kurang ssuai dengan visi misi penerbit. ~Mita, Yogya

    Pernah kirim satu kali dan langsung dimuat. Sebuah puisi yang iseng ditulis dan iseng juga dikirim tak sangka, kalau dimuat di kolom utama. Tapi sayang... karena iseng, sampai tidak punya arsipnya, hehe. ~ Achie Prasasti Zhieem Achie, FAM1050U, Hongkong

    Yang saya dengar naskah yang ditolak, semata-mata bukan karena naskahnya tidak bagus. Salah satunya mungkin tidak sesuai dengan kriteria penerbit, Ejaan yang kurang dipahami. ~ Ayunda Prameiswari, FAM Arab Saudi

    Dulu targetku memang media cetak. Dan alhamdulillah, sering dimuat dan bahkan malah ditawari jadi kontributor di sebuah majalah remaja muslim yang cetak nasional (sekarang majalahnya sudah alm alias gak terbit lagi). Menjadi kontributor itu gara-gara sebuah cerpenku yang juga dimuat di majalah tsb. Sempat vakum beberapa tahun. Ketika coba lagi menulis untuk media cetak, hiks, sampai sekarang gak ada kabar beritanya. Kalau ditolak sih masih mending, nah, kalau digantung tak tahu nasibnya gimana tuh? ~Alin, Karawang

    Aku sering ditolak, dan semua karya yang ditolak aku kumpulkan dan aku antologikan, aku terbitkan indie, aku bedah bersama. Dan faktanya ketika kita berani berkarya, masyarakat respect kok. Karya itu untuk pembaca bukan untuk editor, dan editor bukan dewa yang bisa mewakili selera pembaca. ~Doi Nuri

    Udah sering juga.. tapi alhamdulillah… ada yang diabaikan, ada yang diterima tapi tetap diabaikan… dan akhirnya malah yang ngadain perlombaan itu sendiri yang hilang dan gak ada kabarnya. ~Puji Kazunari Nino

    Allah menciptakan seseorang begitu indah, dan cara berpikir mereka begitu unik. Sebuah naskah yang kita kirim mendapatkan respon penolakan itu adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Namun tak seharusnya kita berhenti menulis sampai pada penolakan tersebut. Bukankah telah dikatakan bahwa setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, hal ini tak kecuali pada para redaksi. Penolakan di beberapa media belum tentu media yang lain juga akan menolak. Ini hanya sebuah keberutungan buat kita shabat. Jika hari ini keberuntungan berpihak pada kita, insya Allah kita akan dipertemukan kepada para redaksi yang menginginkan naskah kita. Ambillah sebuah pelajaran dari segala apa yang terjadi walaupun itu sebuah kesedihan, namun kesediahan itulah yang akan melahirkan kebahagian. Terus berusaha! ~Nurida Sari, FAM Bukittinggi

    Sahabat FAM, banyak orang yang tidak pernah ditolak naskahnya. Mau tahu? Kenapa? Karena memang tidak pernah mengirimkan ke media. Artinya, naskah itu hanya dibaca sendiri saja. Jika niat kita menulis untuk menyebar kebaikan maka penerimaan dan penolakan itu adalah hal yang biasa. Tak ada kata lelah dalam menyebar kebaikan. Kecewa itu manusiawi, tapi putus asa bukan solusi untuk para penyebar kebaikan. Yuk menulis lagi dengan cinta dan semangat! ~ Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia

    Kalau saya gak pernah (belum) kirim naskah. Entah karena tidak percaya diri atau karena saya memang lebih suka menulisnya tanpa dipublikasikan secara massal, hehehe. Tapi akhir-akhir ini saya sering bikin tulisan di dinding facebook. Kan lumayan, gak bakal ditolak sama siapa-siapa. ~Tha Yr

    Kalau menurutku kirim lagi ke media massa yang lain. Sebelum dikirim lagi, sebaiknya di cek kembali karya yang hendak dikirim. Mana tau media massa lain menerima. ~Ahmad Saadillah, FAM Pekanbaru, IDFAM 974M

    Nah, sahabat FAM. Silakan diambil hikmah dari berbagai pengalaman teman-teman yang naskahnya pernah ditolak redaksi. Intinya, jangan pernah berhenti menulis walau ditolak berkali-kali. JK Rowling, penulis novel Harry Potter, naskah bukunya pernah ditolak 14 kali oleh penerbit. Andai dia berhenti mengirim naskah, mengeluh karena sering ditolak, maka mungkin saja dia tidak pernah mencatat sejarah sebagai perempuan penulis terkaya di dunia hari ini.

    Ayo, sahabat FAM. Tetap semangat berkarya. Terus dan terus. Sebab berhenti, berarti “mati!”

    Salam santun, salam karya!
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi yang diambil dari Google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Naskah Ditolak, Siapa Takut? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top