• Info Terkini

    Wednesday, September 12, 2012

    Nikmatnya Berproses dalam Menulis


    Oleh Syamsuwal Qomar*)

    Saya akan tetap menjadi kecil. Kecuali saya berani berubah, berproses menjadi lebih besar. ~Anonim

    Saya tak menyangka, tulisan-tulisan yang saya share di jejaring dunia maya, ternyata bisa mendapat respon cukup bagus. Bahkan secara mengasyikkan, ada yang mampu memancing diskusi tentang menulis di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Lewatnya pula saya menemui sesuatu yang fenomenal dalam proses menulis. Sesuatu yang saya percaya, pasti pernah menimpa semua penulis—terutama pemula. Momen di mana benak kebanjiran ide, namun bingung bagaimana menuliskannya.

    Saya biasanya menuliskan ide-ide itu dalam bentuk coret-coretan, sampai berwujud kerangka yang utuh. Namun, apakah masalahnya selesai? Tidak juga. Sekarang bagaimana memulainya? Ada kepercayaan, pembuka sebuah tulisan –esai, cerpen, buku, novel, mestinya sesuatu yang menarik. Nah, di sini ide kita sudah diuji lebih dalam. Bagaimana kalau kita tidak juga menemui pembuka yang dirasa menarik?

    Hahaha… Siapa yang menyangka, ternyata menulis bisa menjadi hal yang sangat merepotkan. Alangkah mudahnya, jika ide-ide yang ada di pikiran itu cukup di eksekusi dengan lebih jujur, sederhana, sesuai diri kita yang menuliskan, apa adanya. Tapi bagaimana jika hasilnya tidak menarik? Morat-marit? Tidak sistematis, pula tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan?

    Bila itu yang anda rasakan, hal sama juga sering menimpa saya. Saya sering merasa khawatir akan kemampuan saya menuliskan ide sendiri. Namun mau bagaimana lagi? Hal itu harus di lakukan. Tak peduli seperti apapun hasilnya. Ide-ide itu harus dihargai. Begitu sudah diniati menjadi tulisan, maka itu harus diwujudkan.

    Dan meski akhirnya, terkadang saya merasa kecewa jua dengan hasil tulisan saya. Bahkan tak urung, menghapus separuh isi tulisan –esai, cerpen, buku, dan novel, karena merasa gagal menuangkan ide di dalamnya. Mengulangi tulisan itu lagi. Mengedit bagian-bagian yang tidak memuaskan. Bahkan merombak total menjadi tulisan yang sama sekali baru.

    Saya menyadari bila, inilah “nikmat” berproses menulis lebih baik. Tidak ada cara instan dalam meningkatkan kemampuan menulis. Ini proses yang sama dengan yang dijalani kebanyakan penulis-penulis ternama, melatih menuangkan ide dengan terus menulis. Dan bila saya merasa mulai capek dan bosan, benak saya berbisik, menyayangkan betapa dalamnya sudah saya “terperosok” dalam dunia penulisan. Heleh… hehehe..

    Otak saya otomatis bernostalgia, menegur perjalanan menulis yang sudah saya tapaki. Tentang bagaimana dulu, sewaktu menjadi mahasiswa di FKIP Unlam, saya “dipaksa” tentor menulis saya, menerbitkan buku kumpulan artikel dengan judul “Geliat Pemikiran Kampus”.

    Saya pribadi toh, menilai karya itu terlalu prematur. Karena baik dari gaya penulisan maupun analisis ide-idenya masih sangat mentah. Kata-kata yang digunakan pun terkesan membabi buta mengkritik segala sesuatu. Saya menyadari waktu itu juga, saya gagal menghasilkan buku yang bermutu.

    Di mana kemudiannya, saya belajar jadi lebih baik. Mengawali karya saya dengan lebih teliti. Memulai dengan melakukan perencanaan yang lebih matang. Melakukan riset, yang kemudian menjadi fondasi mau kemana karya itu dibawa. Riset yang juga membantu memetakan karya saya.

    Hingga akhirnya buku kedua saya berbuah. Buku itu, “Oemar Bakri Kenal Internet”, akhirnya berhasil menjadi bagian dari proses kreatif. Waktu itu, di Kota Banjarbaru sedang ramai-ramainya pelatihan IT berupa pengenalan blog kepada guru-guru. Saya menangkap momentum ini untuk menuliskan pengetahuan dan pengalaman saya di dunia IT, yang bisa diintegrasikan dengan dunia pengajaran dan pendidikan.

    Karena sebelumnya memenej blog www.syamqomar.wordpress.com, saya sudah mempunyai pengetahuan dasar tentang tutorial blog ini. Tinggal menambahkan informasi-informasi dasar tentang internet lainnya. Untuk itu saya bermitra erat dengan ‘mbah google’, hehehe... Jalan-jalan ke wikipedia, hingga membaca banyak referensi tentang tema yang ingin diangkat.

    Ternyata setelah sudah mewujud, karya itu tidak serta merta diapresiasi. Saya gagal menawarkannya sebagai buku tutorial. Karena proyek itu mandeg di tengah jalan. Setelah itu, saya mencoba menawarkannya ke beberapa penerbit, sudah dengan desain pagemaker, pdf, dan kovernya. Namun, tidak satu penerbit pun berminat, dengan alasan, pangsa pasar yang terlalu sempit.

    Berbulan-bulan berlalu tanpa hasil, tapi tak disangka, ternyata ada konsultan penerbit yang tertarik mengakuisisi buku ini. Melalui e-mail, ia menawarkan beberapa rupiah untuk membeli hak ciptanya. Dan setelah melewati banyak kontemplasi, heleh, saya pun merelakan karya ini pergi dengan pertimbangan, saya pasti bisa membuat karya yang lebih baik lagi.

    Saya yakin, beberapa rekan menulis pasti memiliki rona perjalanan yang lebih berwarna. Bahkan bisa jadi, melewati  proses yang lebih dahsyat. Satu hikmah yang mungkin bisa disepakati bersama, ialah –jangan sampai, hambatan menuangkan ide membuat kita berhenti menulis.

    Yap. Saat hasil tulisan kita dikritik, adalah pertimbangan kita untuk memperbaikinya. Bila kita merasa itu membawa perkembangan, lakukan, perbaiki, dan jadikan lebih baik lagi. Bila tidak, lupakan. Buatlah karya baru yang lebih baik lagi.

    Saat kita yakin karya kita sudah bagus, namun setelah di antar ke sana-ke mari, tak satu penerbit pun tertarik, maka adalah pilihan kita untuk memperbaikinya. Bila kita yakin kalau karya kita memang bagus. Dan merasa kalau penerbit melakukan kesalahan dengan tidak menerbitkannya, maka Anda bisa menerbitkannya sendiri dengan cara POD (Print on Demand).

    Intinya, tidak pernah ada jalan buntu dalam dunia penulisan. Kebuntuan hanya mungkin terjadi, jika dilakukan oleh sang kreator itu sendiri. Entah kita menjadi lemah karena kritikan-kritikan, terlalu malas, atau merasa tak lagi punya waktu sehingga karya kita mandeg. Tentu saja, semua hal ini pernah menimpa kita semua, saya, anda, siapa saja yang ingin menjadi kreator dari karyanya. Inilah “nikmatnya” berproses. Hihihi

    Maka lewat tulisan ini lagi, saya ingin mengapresiasi semua rekan-rekan online, blogger, facebooker yang masih produktif bertelur karya. Salam Kreatif, teruskan kenikmatan Anda berproses. Heleh. Yang belum, silakan terinspirasi dan berproses menulis secepatnya. Heleh. So’ So’an... Hahaha.

    *) Penulis adalah anggota FAM Indonesia, berdomisli di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Nikmatnya Berproses dalam Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top