• Info Terkini

    Sunday, September 23, 2012

    Proposal untuk Tuhan

    Oleh Akhris S Syafi

    Buku Sherly masih basah dengan goresan rangkaian kata yang baru saja diukirnya. Tidak seperti biasanya, tulisan itu ia pandanginya lekat-lekat, ia baca ulang dari huruf pertama sampai penutup dengan penuh penghayatan segenap jiwanya. Sebuah rangkaian pengharapan pada “Dream Book” yang ia dapat dari seorang sponsor MLM produk kesehatan bulan lalu. Biasanya setelah menulis artikel atau cerpen pesanan salah satu koran nasional peraih predikat Harian Berbahasa Indonesia Terbaik, tidak pernah ia mengeceknya sedetil itu. Rangkaian kalimat demi kalimat yang ditulisnya kini bagai azimat yang membeberkan seluruh gambaran rencana, master plan, blue print, kehidupannya besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan tahun-tahun setelahnya. Seakan baru saja mendapat wangsit yang ia longok dari jendela lauhul mahfudz, langsung ditulisnya ilham itu lekat-lekat, dengan goresan tinta yang tajam hingga tak satu pun jenis penghapus di toko alat tulis Sumurboto Ngesrep sanggup menghapusnya.

    Itu adalah rencana besar dalam hidupnya. “Hidup harus berubah, sebagaimana teman-teman saya telah berhasil menaklukkan hidup”, gumamnya. Suatu kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan dan kebosanan ritme kehidupan yang ia jalani selama ini.

    “Inilah proposalku untuk Tuhan!” pekiknya.

    “Mengandalkan ijazahku melamar pekerjaan yang sanggup memberi gaji sepadan dengan gaji Deputi Gubernur BI, menikah dengan pangeran putra Bakrie Group yang masih tersisa, menyulap gubugku yang baru saja dilumat puting beliung kemarin petang lebih indah dari Tajmahal, lebih mewah dari Masjid Kubah Emas. Tahun ini hidupku harus begini, harus begitu…” Ia affirmasikan seluruh rencana yang telah ia visualisasikan dengan jelas dan detil tak kurang sedikitpun di alam bawah sadarnya. “Lihat apa yang akan terjadi!” tegasnya sambil menirukan gaya Mario Teguh acara favoritnya setiap Minggu malam.

    “Tuhan… inilah rencanaku, inilah garis hidupku, inilah seharusnya takdirku! Aku harusnya begitu, bukan begini!” gugat Sherly lantang kepada Tuhan.

    “Lihat saudara-saudaraku, teman-temanku, tetanggaku… Mereka tidak lebih hebat dari aku, tidak lebih jenius dibanding aku, tidak lebih berbakat ketimbang aku. Aku seharusnya lebih hebat dari mereka, lebih mulia dari mereka, lebih terhormat daripada mereka. Lihat! Lihat! Lembaran kertas penghargaan yang terukir khusus namaku sudah kususun sebegini tebalnya. Kurang apalagi sehingga Kau terus dan terus saja menahan dan menolak proposal yang kuajukan kepada-Mu setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap hari di setiap bangun tidurku!” Ia menantang sekenanya, entah setan darimana berhasil merasuki alam sadar dan bawah sadarnya.

    Semua jurus dari para pakar motivasi di televisi dan radio sudah Sherly kerahkan. Entah jurus mana yang paling ampuh baginya. Jurus yang mampu merubahnya instant menjadi sosok pribadi ideal seperti yang ada dalam pikirannya. Apa yang Sherly dapat selama ini belum cukup untuk memasukkannya dalam definisi ideal sesuai kamusnya. Kecantikan jasmani yang telah Tuhan titipkan—yang sanggup merobek hati setiap pemuda normal yang melihatnya, kesehatan yang entah berapa triliun rupiah bila ditukarkan nominalnya di bank Century, kesempatan untuk berkeliling mengunjungi seluruh pelosok dunia yang tidak setiap orang sanggup membayar ongkos perjalanannya, mulut yang masih diberi kesempatan merasakan lezatnya setiap masakan-bahkan sebungkus nasi kucing melebihi nikmatnya seporsi bebek Peking HT di Atmodirono. “Itu belum cukup,” tegasnya. Selalu ia perbarui proposal yang ia buat dengan merubah setiap font untuk menarik simpati Tuhan, tapi belum saja merubah segalanya.

    Tiba-tiba mata Sherly tertuju pada selembar kertas yang sudah mulai pudar warna putihnya. Terselip dalam buku harian yang sudah 5 tahun tidak ia sentuh, karena sudah bosan mengadu pada benda mati persegi empat, yang hanya akan mengingatkannya pada Deri, kekasih pertamanya yang ketahuan berbuat tidak senonoh tertangkap petugas Satpol PP sedang berbuat mesum dengan bencong di bawah jembatan kali Banjir Kanal Timur.

    Dibukanya perlahan kertas kusam itu. Di pojok kanan atas tertulis tanggal 03/03/03. Di bawahnya tertulis dengan huruf kapital “PERPUS AN NAHL”, sebuah nama perpustakaan pribadi di wisma salah satu temannya ketika masih kuliah. Sherly hobi mengutip kata-kata indah dari para pujangga atau tokoh-tokoh besar dunia. Ia pernah mengatakan, “Mengutip kata-kata orang besar akan me-recharge jiwa dan pikiran”. Kebiasaan yang masih dilakukannya sampai saat ini. Di tengah kertas tertulis:

    “Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya. Sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan dilakukan Allah kepadanya.” (Ibnu Athaillah)

    Kata-kata yang seolah menambahkan spasi yang hilang dan dilupakan oleh para motivator kondang idolanya. Mereka dengan sengaja atau tidak menghilangkan bagian penting itu. Dengan keberaniannya mereka memberi jaminan keampuhan resep dan konsep yang dijual mahal lewat seminar-seminar di hotel berbintang, tanpa menghiraukan peran Tuhan. Tanpa berpikir apa yang dilakukan Tuhan padanya hari ini, kemarin dan hari kemudian.

    Ya, Sherly telah menyusun proposalnya begitu rapi, sangat rapi. Mulai dari program harian, bulanan, bahkan peta hidupnya untuk beberapa tahun—kalau Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bernafas—sudah ia rancang demikian detilnya. Sungguh suatu rencana matang yang akan berdampak luar biasa pada kehidupannya bila berhasil. Hanya satu yang ia lupakan. Sekarang ia merasa perlu meminta kekuatan dari Tuhan agar setiap pagi ia dianugerahi hari yang terbaik. Ia hanya bisa menyusun, merencanakan dan merancang, namun pada akhirnya Tuhanlah yang memutuskan hasilnya. Kemampuan yang dulu ia banggakan lewat sederet foto, berlembar-lembar kertas bertuliskan penghargaan dan peta kehidupan yang telah ia buat sedemikian jelasnya dan diafirmasikan sedemikian seringnya tak berkutik dihadapan besarnya kemurahan dan kasih sayang Tuhan yang terlupakan.

    Sherly tetap melangkah menjalani hari dengan mengisi kembali spasi yang hilang. Ia perlu untuk merayu Tuhan sekali lagi dengan sepenuh hati mengiba tanpa memaksa. Bersimpuh tanpa mengeluh dan mengaduh. Berbaik sangka apapun jalannya. Tetap memberi senyuman pada mentari yang bersinar pagi ini, walau akan membakarnya tengah hari nanti. Karena sinar keemasannya akan memberi kedamaian ketika senja tiba. Semakin mantap Sherly melangkahkan kaki tanpa harus menghapus proposalnya… “Proposal untuk Tuhan”.

    [sumber: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/05/29/proposal-untuk-tuhan/]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Proposal untuk Tuhan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top