• Info Terkini

    Saturday, September 29, 2012

    Rumah Puisi Taufiq Ismail, Kantong Sastra Peduli Generasi Muda

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Di era 1960an hingga 1970an, bisa disebut sastrawan-sastrawan asal Minangkabau menempati posisi penting di ranah kesusasteraan Nusantara. Sejumlah karya besar mereka baik dalam bentuk puisi maupun prosa menjadi perbincangan dan rujukan banyak orang. Di sekolah-sekolah tingkat rendah hingga perguruan tinggi, buku-buku sastrawan Minang menjadi bacaan wajib dan masuk dalam kurikulum pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sumatra Barat pun menjadi kiblat sastra Tanah Air.
    Sederetan nama besar sastrawan Minangkabau itu, di antaranya Hamka, Abdul Muis, Asrul Sani, Rivai Apin, Marah Rusli, Nur Sutan Sati, Sutan Takdir Alisyahbana, Selasih, dan beberapa nama lainnya. Campur tangan Penerbit Balai Pustaka yang ternyata juga didominasi oleh orang-orang Minang di dalamnya menjadikan karya-karya sastrawan Minang semakin mendapat tempat dan meluas penyebarannya ke berbagai daerah.

    Namun, seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, setelah kejayaan itu mengekalkan citra Sumatra Barat sebagai gudangnya penulis dan sastrawan, kini semakin meredup kalau tidak dikatakan hilang sama sekali. Bahkan yang lebih ironis sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia, baik SLTP maupun SLTA tidak lagi merujuk bacaan siswa mereka pada karya-karya sastrawan Minang layaknya di masa-masa sebelumnya. Apa gerangan yang terjadi terhadap eksistensi kesusasteraan Minang di masa sekarang?

    Menurut Penyair asal Minang Taufiq Ismail, di era 70an dan tahun-tahun sebelumnya karya sastrawan-sastrawan Minang memang mengambil peran besar terhadap kemajuan kesusasteraan Indonesia bahkan gaungnya menyebar hingga keluar Nusantara. Namun memasuki era 1980an hingga 1990an gaung itu semakin meredup apalagi di era 2000an hingga hari ini.

    “Tapi itu wajar, penduduk Indonesia semakin bertambah. Di samping itu pengajaran bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia sudah semakin meluas diajarkan di sekolah-sekolah,” kata Taufiq Ismail yang membangun Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.

    Dampak meluasnya pengajaran bahasa Melayu itu, paparnya, tidak lepas dari kiprah Kweek School (Sekolah Guru) di Bukittinggi (SMA Negeri 2 Birugo sekarang—pen) dan di Yogyakarta. Kedua sekolah inilah yang melahirkan banyak guru-guru yang mengembangkan bahasa Melayu yang kemudian menumbuhkan minat sastrawan-sastrawan baru di berbagai daerah di tanah air untuk berkarya dan berkompetisi dengan sastrawan-sastrawan di daerah lainnya.

    “Kalau ada sastrawan yang muncul di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, bahkan Irian Jaya, itu  sangat wajar sebab bahasa Indonesia sudah semakin berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk,” kata Taufiq Ismail.

    Memperbandingkan Minang (Sumatera Barat) dengan Jawa dan daerah lainnya, menurut Taufiq Ismail, bukanlah sebuah ukuran yang tepat untuk menilai maju mundurnya sastrawan Minang hari ini. Meski nama-nama besar sebelumnya telah banyak yang meninggal dunia, tentu di Sumatera Barat ada melahirkan sastrawan-sastrawan baru walau karya mereka belum begitu menonjol dibanding sastrawan-sastrawan angkatan sebelumnya.

    “Berapa penduduk Sumatera Barat sekarang? Berapa pula penduduk Jawa? Jawa itu kan luas, dan bahasa Indonesia yang semakin maju di Jawa tak heran kalau di sana lahir pula sastrawan-sastrwan baru yang lebih produktif berkarya di samping jumlahnya yang semakin banyak,” ujarnya.

    Sebenarnya, menurut Taufiq Ismail, bukan faktor turunnya jumlah sastrawan Minang yang mewarnai khazanah kesusasteraan Indonesia modern, namun kepentingan yang lebih besar dari itu adalah turunnya minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda. Tidak hanya di Sumatera Barat, namun meluas di seluruh Tanah Air. Dampak dari turunnya minat membaca dan menulis menyebabkan minusnya karya sastra berbobot yang lahir di Tanah Air.

    Wujud keprihatinan itulah Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail, berinisiatif membangun Rumah Puisi yang dipusatkan di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Rumah Puisi diharapkannya kelak menjadi wadah yang dapat menyebarkan kembali semangat membaca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda.

    “Kenapa Rumah Puisi dibangun di Aie Angek? Pertama, karena Aie Angek dekat dengan Nagari Pandai Sikek, kampung Ibu saya. Kedua, Rumah Puisi diharapkan menjadi salah satu kantong kegiatan sastra di Ranah Minang, dan secara umum untuk Indonesia,” jelas Taufiq Ismail.

    Lebih lanjut dia memaparkan, Rumah Puisi tumbuh dari pengalaman kolektif Taufiq Ismail bersama Tim Redaktur Majalah Sastra Horison dan sastrawan se-Indonesia dalam 10 Program Gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008. Melatih sekitar 2.000 guru dalam program MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) 6 hari di 11 kota; dengan tim 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA membacakan karya sastra dan bertanya jawab dengan siswa dan guru di 164 kota yang terletak di 31 provinsi dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya), menyalurkan tulisan siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit selama 11 tahun dalam majalah sastra Horison, menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen novel dan drama serta esai (tiras total 37.000 eksemplar, tebal 2.280.120 halaman) yang dikirimkan ke 4.500 perpustakaan SMA negeri dan swasta (2000-2004), membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia, adalah antara lain gugusan program tersebut yang sudah dilaksanakan.

    “Tujuan gerakan ini adalah meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa,” kata Taufiq Ismail.

    Nama Rumah Puisi, jelasnya, tidak bermakna bahwa kegiatannya semata-mata berkaitan dengan persajakan saja. Rumah Puisi merangkum seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan literatur dan literasi, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisannya, dengan warna keindahan puitik sebagai intinya. Sesungguhnya seluruh karya sastra, yaitu sajak, cerita pendek, novel, drama, dan esai—semuanya pasti memiliki keindahan puitiknya masing-masing yang khas. Demikianlah istilah puisi menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.

    Sejak tahun 2009, Rumah Puisi telah menggelar kegiatan pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SD, SMP dan SMA se-Indonesia. Saat ini di areal Rumah Puisi telah berdiri gedung pertemuan (Rumah Budaya Fadli Zon) serta penginapan (The Aie Angek Cottage) berjumlah 42 kamar. Penginapan ini dianggap penting mengingat cost yang akan sangat besar jika guru-guru yang dilatih itu nanti harus diinapkan di Kota Padangpanjang maupun di Kota Bukittinggi.

    Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA se Sumatera Barat adalah awal pelatihan yang diprogram Rumah Puisi, mengingat strategisnya peran mereka dalam mendidik generasi muda yang akan beranjak ke jenjang perguruan tinggi. Guru-guru yang dilatih itu nantinya diharapkan dapat memberikan warna baru tentang pengajaran sastra di ruang kelas mereka. Pengajaran sastra yang selama ini mungkin saja dianggap siswa sebagai pelajaran yang membosankan, maka setelah guru mengikuti pelatihan di Rumah Puisi pandangan itu akan dapat diubah. Pengajaran sastra menjadi sesuatu yang asyik, menyenangkan, dan selalu dinanti-nanti para siswa.

    *) Penulis adalah Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan sedang “studi sastra” di Rumah Puisi Taufiq Ismail sejak tahun 2009 hingga sekarang

    Foto: Penyair Taufiq Ismail saat melatih guru-guru bahasa dan sastra Indonesia di Rumah Puisi

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Rumah Puisi Taufiq Ismail, Kantong Sastra Peduli Generasi Muda Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top