Skip to main content

Segelas Kopi Hitam di Acara Kopdar Anggota FAM Sumbar

Oleh Muhammad Subhan*)

Silaturahim itu menambah rezeki. Setidaknya demikian nasihat Nabi. Dan, siang tadi, Ahad 2 September 2012, saya mendapat rezeki yang sudah beberapa tahun tidak lagi saya nikmati. Apa gerangan? Tak lain, segelas kopi hitam setengah manis di acara ‘kopi darat’ (Kopdar) anggota FAM Sumatera Barat (Sumbar) yang diadakan di Padang. Sesuai namanya ‘kopi darat’, cocoklah hidangannya kopi pula.

Sejujurnya, saya ‘pengopi’ berat. Tapi itu dulu, ketika saya belum menderita penyakit asam lambung akut yang tidak pernah saya obati. Ketika dua tahun lalu saya tak lagi dapat bernegosiasi dengan penyakit itu, saya disarankan dokter berhenti ‘ngopi’. Awalnya payah juga, sama seperti perokok berat yang hendak berhenti merokok—syukurlah saya tidak merokok—namun karena ditekadkan dengan kuat, secara bertahap kebiasaan ‘ngopi’ itu berhenti sendiri. Saya menggantinya dengan minuman mineral atau sesekali teh hangat dicampur susu, atau teh susu.

Ketika masih candu, sehari saya bisa ‘ngopi’ 3-4 gelas, walau gelas berukuran kecil. Waktunya bisa pagi, siang, sore, dan malam hari. Saya sangat menikmati. ‘Ngopi’, berarti menambah semangat kerja saya di hari itu. Walau konsekuensinya di malam hari saya kesulitan tidur. Dan, ketika siang tadi saya ditawarkan segelas kopi, entah kenapa saya mengangguk saja. Walau sudah lama sekali rasanya saya tidak mencicipinya lagi. Lalu dibuatlah kopi itu, segelas penuh. Saya minum beberapa teguk, subhanallah, nikmat sekali. Bernostalgialah saya dengan kopi, walau tidak saya ceritakan ke teman-teman yang hadir di acara itu bahwa dulunya saya ‘pengopi’.

Pada kesempatan ini saya tidak hendak membahas kopi atau kebiasaan saya minum kopi. Itu sekadar intermezzo saja. Sebagai pembuka cerita. Intinya adalah, ‘kopi darat’ (Kopdar) yang diadakan di Padang oleh sahabat-sahabat saya itu—yang semuanya anggota FAM—membuat saya berkesan. Bukan saja karena dihidangkan segelas kopi, tetapi Kopdar itu adalah acara yang kedua kali saya hadiri dari tiga kali Kopdar yang sudah berlangsung sebelumnya di Padang.

Saya senang sekali. Kawan-kawan saya itu begitu semangat. Sebab semangat itu pula saya ikut semangat dan tak sungkan datang bersepeda motor menempuh perjalanan 2 jam dari Padangpanjang ke Kota Padang, tempat acara itu berlangsung. Sebagai salah seorang pengurus FAM Indonesia, pantaslah saya berterima kasih kepada Adinda Befaldo Angga, anggota FAM Padang yang menyediakan tempat di kantornya, sehingga acara itu sukses hingga selesai. Terima kasih tentu juga sepenuh takzim diberikan kepada sahabat-sahabat yang hadir siang tadi, yaitu Kanda Refdinal Kelana, Denni Meilizon, Desri Erniza, Irwan Hasan, Yosi, dan Zul Hasibuan, yang semuanya anggota FAM yang sangat aktif menulis.

Inilah FAM Indonesia. Bukan semata wadah kepenulisan saja yang gaungnya besar di dunia maya, tetapi FAM mewujudkan eksistensinya di dunia nyata lewat silaturahim. Wejangan Nabi, yang memperbanyak silaturahim—selain menambah rezeki seperti saya mendapat segelas kopi tadi—juga dapat memanjangkan umur. Lihatlah betapa indahnya silaturahim itu, ketika pertama bersua, senyum mengembang memandang wajah-wajah yang gembira. Mata berbinar tanda suka cita. Hilanglah gundah, hilang pula gelisah, masalah-masalah yang ada sesaat terlupa.

Inilah pula FAM Indonesia. Ia hanya bermodal semangat dari pengurus dan seluruh anggotanya. Lewat semangat itu datanglah rezeki. Lewat rezeki itu “dibelilah” semangat baru, lalu semangat itu dibagi-bagikan lagi kepada semua orang. Sungguh indah sekali kebersamaan ini. Semoga terjaga sepanjang masa. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabbana.

Kopdar yang berlangsung siang tadi itu, apa hasilnya? Sekadar bertegur sapa, ‘ngopi-ngopi’ saja lalu pulang kembali ke rumah masing-masing? Sepenuh takzim saya simak hasil pertemuan itu. Saya amati bagaimana sahabat-sahabat saya itu berbicara, cara mereka menyampaikan pendapat lalu mendiskusikannya, hingga memutuskan hasilnya menjadi sesuatu yang bermakna. Disimpulkanlah, hasil dari pertemuan itu, anggota FAM Padang berniat dan bertekad menggerakkan forum ini, menjadi wadah pembinaan menulis untuk generasi muda dan sebagai wadah silaturahim sesama penulis muda di Sumatera Barat. Disepakatilah, pada tanggal 15 Nopember 2012 mendatang, akan digelar Workshop Menulis untuk Pelajar, Mahasiswa dan Umum. Dua bulan sebelum acara itu berlangsung, digelar Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi Tingkat Pelajar dan Mahasiswa se-Sumatera Barat. Para pemenang lomba nantinya akan diundang mengikuti workshop sekaligus pemberian hadiah. Bersamaan itu, direncanakan juga pembentukan kepengurusan FAM Cabang Padang seusai acara Workshop. Peserta workshop akan dikenalkan tentang apa itu FAM Indonesia dan kegiatannya. Nanti dilakukan kaderisasi. Bila ada yang berminat menjadi anggota, segera dibuka pendaftaran yang diteruskan ke FAM Pusat.

Sungguh luar biasa niat dan rencana sahabat-sahabat saya di Padang itu. Yang lebih dahyat, ide dan pemikiran membuat workshop, lomba menulis, dan rencana pembentukan kepengurusan FAM Cabang Padang, sepenuhnya inisiatif mereka. Bergerak dari bawah, tanpa campur tangan pengurus FAM Pusat. Kedatangan saya di acara itu pun, semata untuk memberi semangat saja, agar mereka bertambah semangat pula. Saya hadir pun tanpa beban, karena saya senang bisa punya kawan baru yang seperjuangan, berjuang lewat kata-kata menebarkan dakwah bil qalam. Sebab itulah misi FAM Indonesia.

Alhamdulillah, sesungguhnya semua telah direncanakan oleh Allah SWT. Bertemunya kita di Forum Aktif Menulis ini, juga atas skenario-Nya yang luar biasa. Saya sangat merasakan itu. Semoga kebersamaan ini langgeng, tali ukhuwah itu semakin direkatkan, suka duka ikut kita rasakan bersama. Demikianlah bentuk persaudaraan sesama muslim, bila satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit, demikian sebaliknya.

Tahniah, selamat untuk sahabat-sahabat anggota FAM Sumatera Barat, Kota Padang khususnya. Teruslah aktif berkarya lewat kata-kata. Semoga apa yang kita tuliskan hari ini menjadi amal ibadah dan amal jariah sebagai bekal yang akan kita bawa pulang kelak ketika meninggalkan alam yang fana ini. Amin tsumma amin...

Salam takzim, salam santun, salam karya.

*) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, berdomisili di pinggiran Kota Padangpanjang, Sumatera Barat

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]


Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…