• Info Terkini

    Sunday, September 9, 2012

    Surat dari Nadia Regina Martanti, Anggota FAM Sukoharjo

    NADIA REGINA MARTANTI
    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Di hari yang cerah ini izinkan saya menghaturkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Mbak Aliya Nurlela atas apresiasi yang tinggi terhadap karya saya dengan memberikan piagam sebagai pemenang lomba surat terbuka ide kreatif untuk FAM pada saya. Juga kepada Mas Muhammad Subhan yang telah menghadiahkan novel “Rinai Kabut Singgalang”nya. Tak lupa untuk segenap Admin yang bersusah payah memfosir tenaga dan waktu demi mengapresiasi karya seluruh anggota FAM, dan teman-teman FAM yang selalu menjadi cambuk penyemangat untuk saya.

    Izinkan saya berbagi cerita dan pendapat saya setelah mendapat apresiasi yang bermanfaat ini, sebuah novel “Rinai Kabut Singgalang” yang telah saya baca hingga tuntas seminggu yang lalu.

    Membaca novel ini benar-benar membuka pengetahuan saya tentang Aceh, Padang, juga Minangkabau. Padahal saya belum pernah ke tempat itu semua, saya juga tidak punya pengetahuan apa-apa tentang tempat-tempat tersebut. Tapi begitu membaca novel ini, seakan saya sedang menyaksikan perahu-perahu nelayan di pantai Aceh, kapal-kapal besar di Teluk Bayur dan gung Singgalang seakan berdiri gagah di hadapan saya.

    Lewat novel ini juga saya bisa membayangkan bagaimana budaya serta tutur bahasa yang sungguh beradat pada diri seorang Padang asli. Buku ini memang luasnya tak ada setengah meter persegi, tapi berada di atasnya saya bak menjelajahi Aceh, Padang, Minangkabau, juga Jakarta.

    Saya tak tahu pasti apakah kisah menyedihkan dalam novel karangan Mas Subhan ini merupakan kisah yang pernah nyata terjadi atau hanya rekaan semata. Tapi yang pasti menurut pendapat saya ada dua hal yang sangat menonjol di dalam novel ini yang bisa jadi merupakan kristalisasi dari pribadi nyata penulisnya.

    Pertama, terlihat benar bahwa Mas Subhan sangat gemar dan menyukai surat-menyurat. Mungkin menurutnya dengan sepucuk surat mampu merangkum cerita yang jika harus diperankan akan memakan banyak waktu, melalui surat bisa diringkas menjadi tulisan penjalin silaturahmi yang sarat makna. Banyak sekali Mas Subhan membubuhkan surat-menyurat di antara tokoh-tokoh dalam cerita.

    Kedua, sangat kuat tergambar kekaguman Mas Subhan terhadap sosok penulis besar yang juga seorang ulama dari Minangkabau “Buya Hamka”. Saking takzim dan kagumnya, penulis terus berusaha memasukkan Buya Hamka ke dalam penggalan kisah dalam novelnya, mencoba menghubung-hubungkan agar kearifan, kenangan, juga nasehat-nasehat Buya Hamka tersurat dalam novelnya.

    Mungkin cukup sekian dulu saya berbagi, jika ada salah penyampaian mohon dimaafkan terutama untuk Mas Subhan (He-he).

    Salam Aishiteru!

    Nadia Regina Martanti,
    FAM695M. Anggota FAM Sukoharjo
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Surat dari Nadia Regina Martanti, Anggota FAM Sukoharjo Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top