• Info Terkini

    Monday, September 10, 2012

    Tips Menulis Ala FAM Indonesia (4)


    TIPS MENULIS #46

    Membaca adalah proses menggali ilmu, namun menulis adalah proses mengembangkan dan menyebarkan ilmu. Maka, membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang logam, saling menyatu. Penulis-penulis hebat tentulah mereka seorang pembaca buku yang hebat. Penulis yang tidak suka membaca, tulisannya tak berisi alias khayalan semu.

    TIPS MENULIS #47

    Banyak orang yang tiba-tiba terkenal karena tulisannya. Habiburrahman El-Shirazy misalnya, ‘ngetop’ lewat novelnya “Ayat-Ayat Cinta”. Begitupun Andrea Hirata populer lewat novel “Laskar Pelangi”. Ahmad Fuadi sukses lewat novel “Negeri 5 Menara”. Banyak lagi yang lain bahkan karya mereka sampai ke layar lebar. Tapi jangan sekali-sekali meniatkan menulis karena untuk mengejar popularitas. Tulisan tanpa disertai kualitas, maka popularitas tidak akan ada artinya. Lakukanlah perenungan sebelum menulis, tanyakan pada diri apa manfaat tulisan itu bagi pembaca setelah ia terbit. Tunjukkan kepada teman, guru, atau penulis-penulis senior, apakah isinya sudah cukup dimengerti atau diperlukan perbaikan lagi. Jangan cepat berpuas diri. Bila kelak Anda benar-benar menjadi penulis yang sukses, popularitas yang Anda dapatkan hanyalah bonus, bukan tujuan. Manfaat tulisan Anda jauh lebih bermakna dari sekadar popularitas.

    TIPS MENULIS #48

    Menulis, terbitkan, lalu promosikanlah buku Anda. Penulis-penulis sukses mereka tidak semata mengandalkan penerbit dan toko buku untuk menjual dan mempromosikan buku mereka. Tetapi mereka sendiri ikut ‘berpeluh-peluh’ menyebarkan sebanyak mungkin informasi terkait buku mereka di berbagai media, terutama di jejaring sosial (facebook, twitter, mailinglist, dll), terutama kepada keluarga, sanak family, sahabat karib, guru, dosen, dan kawan-kawan sepermainan. Penulis-penulis yang gencar mempromosikan buku karya mereka, dalam waktu singkat buku itu habis terjual, posisi ‘seller book’ pun didapat, royalti mengalir ke saku penulis. Teknik ini telah sukses dilakukan oleh penulis sekaliber Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Pipiet Senja, Gol A Gong, dan banyak nama lainnya.

    TIPS MENULIS #49

    Menulis untuk mencari uang. Ya, siapa yang tak ingin mendapatkan banyak uang lewat menulis? Tak dipungkiri, aktivitas menulis bisa mendatangkan keuntungan finansial yang luar biasa. Penulis-penulis best seller mereka mendapat miliaran rupiah dari royalti buku mereka, belum lagi dari berbagai undangan mengisi pelatihan atau seminar kepenulisan yang “amplopnya” tentu lumayan. Andrea Hirata penulis novel Laskar Pelangi konon diundang ke NTT untuk berbicara beberapa jam dalam pelatihan menulis, diberi honor Rp63 juta. Menggiurkan sekali. JK Rowling penulis buku Harry Potter menempati posisi perempuan terkaya di dunia lewat bukunya itu. Juga sejumlah nama penulis lainnya yang tentu akan sangat panjang bila dideretkan satu persatu. Namun demikian, uang bukan tujuan. Langkah pertama bagi penulis pemula, teruslah berlatih menulis sebaik mungkin sehingga Anda benar-benar menemukan gaya Anda sendiri kelak. Ikuti berbagai kompetisi kepenulisan, baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Kirim naskah Anda ke berbagai media massa, baik cetak maupun online yang berpeluang menerbitkan karya Anda. Tawarkan juga naskah buku Anda ke penerbit dan jangan pernah mengeluh apalagi menyerah bila ditolak. “Cinta” sejati adalah cinta yang telah melewati sekian banyak penolakan. Begitupun sukses, ditolak adalah langkah awal untuk diterima. Maka jangan pernah berhenti berkarya.

    TIPS MENULIS #50

    Lengkapi dan rapikan naskah Anda. FAM banyak sekali menerima naskah tulisan yang tidak rapi, khususnya dari penulis pemula. Apa yang harus dilengkapi dan dirapikan itu? Pertama, tulislah nama terang Anda di bawah judul tulisan. Sering sekali penulis pemula tidak menulis nama mereka di bawah judul, melainkan di akhir judul, bahkan ada yang tidak menuliskanya sama sekali. Kedua, bubuhkan nomor halaman. Apa guna nomor halaman? Bila naskah Anda dalam bentuk cetak lalu jatuh berserak, maka akan mudah menyusunnya kembali berdasarkan nomor halaman. Bayangkan bila tidak ada nomor halaman, membutuhkan banyak waktu untuk menyusunnya kembali. Ketiga, atur kertas yang Anda gunakan, yaitu memakai ukuran A4, ini ukuran standar yang sering digunakan. Keempat, buat margin (sisi kosong kiri-kanan, atas-bawah lembaran kertas), sisi kiri 4 cm, atas 3 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm. Kelima, gunakan font (jenis huruf) Times New Roman ukuran 12. Ukuran font jangan lebih dari 12 atau kurang dari 12. Kelima, atur spasi tulisan Anda, standar yang sering digunakan 1 ½ spasi. Terakhir, tambahkan identitas Anda di akhir tulisan. Misalnya, “Penulis adalah cerpenis dan peminat seni, berdomisili di Jakarta”. Identitas itu penting untuk memperkuat kredibelitas Anda sebagai penulis naskah. Bila naskah Anda telah lengkap dan rapi, silakan kirim ke media tujuan Anda dan berdoalah semoga naskah itu mendapat tempat terbaik.

    TIPS MENULIS #51

    Mengirim naskah ke media atau penerbit, buatlah surat pengantar. Apa itu surat pengantar? Semacam “sapaan salam” pengirim email kepada pemilik email yang dituju. Banyak naskah tulisan, termasuk ke email FAM, dikirim tanpa surat pengantar di badan email. Naskah langsung dilampirkan saja di attach file (lampiran). Tanpa “ba-bi-bu” untuk apa naskah itu. Sama artinya, masuk ke rumah orang tanpa mengucapkan salam, lalu duduk begitu saja di ruang tamu meletakkan sesuatu. Jadi, biasakanlah membuat surat pengantar tersebut. Misal bunyinya, “Kepada yth. panitia lomba cipta cerpen FAM Indonesia. Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen berjudul ...... dengan harapan dapat diikutsertakan dalam lomba dimaksud. Naskah ini asli dan belum pernah diterbitkan di media lainnya. Hormat saya, Abdullah”. Begitu saja, tak usah panjang-panjang. Intinya, surat tersebut sebagai tanda etika dan bentuk kesantunan seorang penulis.

    TIPS MENULIS #52

    Mimpi itu sumber inspirasi. Adakah yang tidak pernah bermimpi ketika tidur pada siang atau malam hari? Ada yang bermimpi dikejar-kejar harimau, ada yang bermimpi bertemu seorang gadis cantik sahabat masa kecilnya lalu di alam nyata akhirnya mereka menikah, ada yang bermimpi menjadi miliuner punya banyak perusahaan di berbagai negara, bermimpi berada di sebuah pulau dengan penghuninya kera-kera yang bisa bicara, dan bermacam kisah mimpi lainnya. Ada mimpi yang horor misal dikejar-kejar hantu tanpa kepala, ada yang menyedihkan hingga berurai air mata. Ada mimpi gembira yang mengulum senyum disaat terbangun. Jadikan kisah-kisah di alam mimpimu itu sebagai sumber inspirasi tulisan yang akan kamu buat, bisa berwujud puisi, cerpen, atau novel. Dramatisir sedemikian rupa konflik-konfliknya sehingga ceritanya semakin menarik dan seru. Jadi, tidak ada lagi keluhan soal sulitnya mencari ide. (Hmm, nanti malam tema mimpi tidur admin apa ya? ^_*)

    TIPS MENULIS #53

    Waspadai penyakit “pikun”. Kepikunan salah satu sebabnya adalah otak “berkarat” karena tidak digunakan berpikir maksimal. Para pensiunan berpeluang cepat pikun bila berprinsip masa tua untuk bersantai-santai bersama anak-cucu. Sebaliknya, bila ingin berusia panjang dan tetap sehat walafiat, di masa tua itulah produktivitas berkarya semakin meningkat, menuju puncak kematangan. Penulis dan wartawan senior Rosihan Anwar sebelum meninggal dunia usianya mencapai 89 tahun. Penyair Taufiq Ismail saat ini berusia 78 tahun, alhamdulillah masih sehat walafiat. Para penulis yang terus berpikir menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan akan terhindar dari kepikunan dan hari-harinya terasa menyenangkan karena ia selalu “berdakwah” menebarkan kebaikan lewat karya tulis.

    TIPS MENULIS #54

    Buatlah blog pribadi lalu isilah dengan tulisanmu. Banyak blogger (penulis blog) yang sukses menerbitkan buku lantaran dilirik penerbit setelah melihat isi blog-nya. Seorang guru di SMA Negeri 3 Batusangkar bernama Marjohan Usman memposting secara rutin artikel-artikel seputar pendidikan dari perspektif dirinya yang seorang pendidik. Siapa sangka tulisan-tulisannya itu dibaca oleh redaktur penerbit di Jogja lalu sang redaktur langsung meneleponnya dan meminta tulisannya untuk dibukukan. Tentu saja gayung bersambut. Kontrak penerbitan pun ditandatangani, kemudian terbitlah buku “School Healing (Menyembuhkan Problem Sekolah)” karya pertamanya yang beredaran di pasaran terutama di Toko Buku Gramedia. Bisa jadi itu adalah keberuntungan, sebab masing-masing orang punya garis nasibnya sendiri. Tetapi hal itu mustahil terjadi bila Pak Guru kita ini tidak pernah menulis dan tidak pernah mendokumentasikan tulisannya di blog. Nah, bagaimana dengan Anda?

    TIPS MENULIS #55

    Latihlah kepekaan perasaan Anda. Apa yang Anda rasakan ketika melihat bayi mungil terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan tumor ganas di kepalanya? Apa yang Anda rasakan ketika melihat seorang kakek tersungkur jatuh dari sepeda motor yang disenggol mobil? Bagaimana juga perasaan Anda ketika melihat seorang ibu peminta-minta berdiri di depan pintu rumah Anda lalu mengatakan, “Nak, Ibu lapar...”. Banyak sekali peristiwa yang terjadi setiap hari yang menggugah perasaan. Bagi seorang penulis, kepekaan perasaan ini sangat penting untuk melatih kehalusan bahasa tulisannya. Tulisan-tulisan yang dibuat dengan sepenuh perasaan, tulisan itu akan memiliki “ruh” yang menciptakan kesan mendalam bagi semua orang ketika membacanya. Pembaca bisa tersenyum, tertawa hingga menangis berlinang air mata.

    TIPS MENULIS #56

    Kirim, kirim, kirim. Ya, kirim tulisanmu ke media/penerbit bila sudah selesai ditulis. Sayang kan bila karya itu—yang mungkin manfaatnya dapat dirasakan banyak orang—tetapi yang membacanya cuma ‘kutu buku’ (benar-benar kutu, lho) di rak buku atau di dalam laci meja kerja/belajar Anda. Atau naskah Anda baru diterbitkan anak-cucu Anda ketika Anda telah tiada karena mereka menemukan kumpulan tulisan Anda yang bagus. Bila itu yang terjadi, tentu sayang sekali, karena Anda tidak bisa menikmati, melihat, dan merasakan bagaimana reaksi orang yang membaca buku Anda. Bagi calon penulis, niatkan dalam diri Anda, sebelum meninggal dunia minimal menerbitkan satu judul buku. Bila lebih jumlahnya, tentu luar biasa!

    TIPS MENULIS #57

    Setiap buku punya nasibnya sendiri. Jangan pernah ragu untuk menerbitkan naskah buku Anda. Bagus tidaknya naskah, biarlah pembaca yang menjadi hakim. Tugas penulis adalah berkarya. Terus dan terus, tanpa kenal lelah apalagi berhenti. Berhenti menulis artinya mati. Nah, carilah penerbit yang gampang ditemukan alamatnya lewat internet. Dianjurkan terlebih dahulu naskah buku Anda dikirim ke penerbit-penerbit besar ternama. Tentu tidak mudah menembusnya. Sebab Anda akan bersaing dengan ratusan naskah penulis lainnya dan harus bersabar 3-6 bulan atau bahkan lebih 1 tahun hanya untuk menanti pasti-tidaknya naskah Anda terbit. Namun demikian tak perlu rusuh hati, sebab alternatif penerbitan sangat banyak hari ini. Bila ditolak penerbit konvensional, bisa menerbitkan dengan cara Self Publishing. Memang harus sedikit mengeluarkan biaya. Tetapi cukup terjangkau dan kualitas buku tak kalah dari buku-buku terbitan penerbit konvensional. Media massa pun hari ini semakin banyak, terutama jejaring sosial, sehingga tak perlu takut buku Anda tidak terjual. Jadi, bila sudah punya naskah layak terbit, saatnya mempersiapkan naskah sebaik mungkin untuk berkompetisi di pasar perbukuan Tanah Air, bahkan mancanegara.

    TIPS MENULIS #58

    Setiap penulis punya misi di dalam tulisannya. Apa misi Anda sebagai seorang penulis? Penulis-penulis yang peraliran komunisme, marxisme, leninisme, materialisme, dan isme-isme lainnya, mereka membawa paham yang mereka anut di dalam tulisan-tulisan mereka. Ada ajakan-ajakan tertentu yang tanpa sengaja membuat pembacanya larut dan mengikuti aliran mereka. Sebagai penulis yang bermisi dakwah, selayaknya Anda membumbui tulisan Anda dengan nilai-nilai Ilahiah agar ia menjadi media dakwah. Silakan menulis apa saja, sebebas-bebasnya tetapi tetap dalam koridor etika dan norma sebagai seorang penulis Islami. Ajaklah pembaca tulisan Anda untuk berbuat kebaikan, menjauhi larangan Tuhan, dan ikut berdakwah bersama Anda lewat untaian kata-kata. Maka, semuanya akan menjadi indah.

    TIPS MENULIS #59

    Menulislah untuk orang lain. Dalam tahap belajar, boleh saja menulis untuk diri sendiri. Tetapi, menulis untuk diri sendiri, tentu saja berbeda dengan menulis untuk dibaca orang lain, dalam artian khalayak banyak. Artinya, tulisan Anda itu harus mengandung pesan yang bermanfaat bagi pembaca. Sebab, ketika membaca sebuah buku, setiap orang ingin mengetahui apa kelebihan buku itu dan pesan apa yang disampaikan penulisnya. Nah, untuk itu Anda harus memerhatikan kaidah-kaidah yang harus dipatuhi dalam membuat tulisan. Ada aturan penggunaan EYD yang tidak boleh dilanggar. Biasakanlah selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian Anda telah ikut menyelamatkan keutuhan bahasa negeri ini.

    TIPS MENULIS #60

    Bertekun-tekunlah menulis. Menulis butuh proses belajar. Jangan malas-malasan apalagi asal-asalan. Penulis-penulis hebat dulunya mengawali karir menulis mereka dari nol. Tidak ada yang tiba-tiba besar menjadi penulis hebat ternama. Semuanya bersakit-sakit dahulu. Bila hari ini mereka hidup senang, itu adalah buah dari kerja keras, konsistensi, semangat, dan tekad yang bulat sejak awal mereka menjadi penulis. Dalam tahap belajar, jangan pernah sungkan memperlihatkan tulisan Anda—sejelek apapun tulisan itu—kepada orang lain terutama penulis senior untuk dibaca dan diberikan penilaian. Usahakan sebanyak mungkin orang membaca tulisan Anda itu, dan mintalah masukan berupa kritik dan saran. Segala macam masukan itu jadikan referensi untuk pebaikan tulisan Anda sebelum diterbitkan.

    [www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tips Menulis Ala FAM Indonesia (4) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top