Sabtu, 15 September 2012

Ulasan Artikel “Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta Ala Anak Kos” Karya Abdul Basyir (Jakarta)

Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah artikel menarik berjudul “Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta” karya anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Jakarta.

Penulis menyajikan sebuah tulisan dengan tema yang cukup aktual, yaitu Analisis Hasil pilkada DKI yang baru saja menyelesaikan putaran pertama. Pada Pilkada DKI Putaran Pertama, pasangan Jokowi-Ahok mengungguli perolehan suara calon-calon yang lainnya.

Penulis berusaha menganalisis faktor-faktor yang mendorong terjadinya kemenangan pasangan Jokowi-Ahok. Berbagai faktor dikemukakan, yang diasumsikan sebagai hal-hal yang menyebabkan kemenangan Jokowi-Ahok dibanding pasangan lainnya.

Satu hal mengejutkan pada analisis ini, penulis memposisikan diri pada pasangan pemenang Pilkada, sehingga seorang pembaca yang sengaja diminta pendapatnya langsung berkomentar dengan kata yang sudah diperkirakan sebelumnya; “subjektif.” Akhirnya betapapun bagusnya sebuah analisis, menjadi tidak menarik ketika unsur subjektivitas telah mendominasi analisis tersebut.

Sebaiknya penulis berangkat dari kondisi netral, walaupun penulis seorang pendukung salah satu pasangan sebaiknya analisis disajikan berimbang dan tidak perlu memberitahukan posisi penulis di kubu mana. Dengan pemaparan yang baik, pembaca akan bisa menilai sendiri kelebihan sang pemenang.

Dari segi penulisan, artikel ini masih perlu diperhatikan penulisannya, terutama yang diberi tanda merah (lihat blog FAM di www.famindonesia.blogspot.com). Sebagian harus lebih teliti dalam menulis dan sebagian akibat kesalahan penggunaan EYD. Penulisan kata setelah kata depan “di, ke, dari” sebaiknya dipisahkan (spasi) seperti kata “diatas” seharusnya “di atas” serta kata lainnya yang serupa.

Penggunaan kata “kepedean” lebih baik menggunakan kata “terlalu percaya diri”
Penggunaan kata “dan lalu” “turut ikut” sebaiknya gunakan salah satunya yang lebih tepat.
Penulisan nama hari (rabu) dan nama tempat (depok) sebaiknya diawali huruf kapital.

Selamat berkarya, salam santun.
FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com

[BERIKUT NASKAH ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Oleh Abdul Basyir

IDFAM987U Anggota FAM Jakarta

Hari rabu, 11 Juli yang lalu warga Jakarta ( yang terdaftar serta yang mendapat undangan dari panitia TPS ) merayakan pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.  Ada enam pasang calon yang bisa dan boleh dipilih. Saya pun walau lebih sering menghabiskan waktu di kota depok, sebagai warga Jakarta yang baik ( juga terdaftar serta juga mendapat undangan dari panitia TPS) ingin menggunakan hak pilih saya.  Maka hari rabu itu pun saya pulang ke Mampang, Jakarta Selatan.  Kebetulan juga kampus UI memang diliburkan.

Setelah melewati rintangan banyak nya jalan yang ditutup karena didirikan TPS diatasnya, maklum tinggal di perkampungan, akhirnya saya sampai ke TPS tempat saya terdaftar sebagai pemilih.  Kebetuan bapak saya adalah ketua TPS tersebut.  Entah kenapa bapak senang sekali meihat saya datang. Sepertinya karena kita memang satu suara calon gubernur kali ini.  Belum bisa dibuktikan, sih. Hehe.

Tidak sampai 2 menit saya di dalam bilik suara, karena saya sejak ama memang sudah menentukan pilihan. Saat itu sudah pukul setengah satu siang lewat.  Pukul satu pemungutan suara akan ditutup. Mau tahu siapa ? aduh, nanti dulu dong. Jadi tidak seru nanti.

Ditemani hujan yang tiba-tiba mendera, sekitar pukul setengah dua penghitungan suara pun dimuai.  Mendung ini, angin ini, hujan ini, pertanda apa kah gerangan ?

Perlahan tapi pasti, sejumlah 347 surat suara dihitung oleh panitia TPS.  Dikomandoi bapak saya dengan pengeras suara.  Menyatakan sah tidak sahnya suatu surat suara berdasarkan aturan KPUD Jakarta.  Meihat bapak seperti itu, yang sudah tua, yang saban tahun di TPS berseragam batik, yang ditemani panitia TPS yang itu-itu saja saban tahun, saya bangga sekaligus sedih.  Bangga betapa berpengaruhnya bapak di kampung ini, Rt 6 Rw 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan Mampang Prapatan.  Betapa diandalkannya bapak. Betapa dipercayai nya bapak.  Sedih karena saya menyadari betapa gagalnya bapak atau tokoh lain kampung ini melakukan kaderisasi.  Entah karena bapak tidak percaya orang lain yang lebih muda, atau memang yang lebih muda itu tidak bisa dipercaya.  Atau terbentuk semacam kesepahaman sosial antara panitia TPS saban tahun ini bahwa TPS tidak akan berjalan tanpa diri mereka. Entahlah .

Kembali ke masalah perhitungan surat suara.  Pasangan nomor 1 yang identiik dengan BERKUMIS dan pasangan nomor 3 yang identik dengan KOTAK-KOTAK bersaing dengan ketat.  Atau lebih tepatnya bersaing dengan tepat pada awalnya.  Karena kemudian pasangan KOTAK-KOTAK ini lalu unggul jauh dari pasangan-pasangan lainnya.

Pasangan yang identik dengan imej KOTAK-KOTAK ini tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan Jokowi-Ahok.  Pasangan yang identik dengan BERKUMIS tidak lain adalah Foke-Nara.  Saya sebut kedua pasang seperti itu saja tidak apa-apa kan ya ?

Kemenangan Jokowi di TPS kampung kami cukup mengejutkan juga. Diprediksi pasangan nomor 1 menang mudah, diikuti pasangan nomor 4. Tapi hasil berkata lain.  Lebih mengejutkan lagi kemenangan pasangan nomor 3 itu ternyata juga terjadi di kampung-kampung lain yang saya kunjungi TPS nya. Makin mengejutkan lagi ketika di televisi saya mengetahui bahwa pasangan nomor 3, Jokowi-Ahok ini memimpin perolehan suara sementara pilkada DKI JAKARTA!. Tentu saja masih hasil hitung cepat….

Tapi, kaget juga. Walau saya juga memilih Jokowi-Ahok. Yah akhirnya ketahuan, iya saya memilih Jokowi-Ahok si pasangan kemeja kotak-kotak itu. Hehe. 

Analisis pun dilakukan oleh banyak pihak.  Hasil di DKI mengejutkan sekali karena hasil banyak lembaga survei dua minggu lalu masih menempatkan pasangan nomor satu menjadi pasangan favorit yang akan di pilih sebagian besar warga. Tapi kenyataannya lain. Dibayar ni yaaaa ? ups. Hehe

Nahh. Di edisi tulisan kosan kali ini saya akan melakukan analisis hasil putaran pertama pilkada DKI Jakarta.  Tentu saja ala anak kosan dan ala saya. Hehe. Walau tidak baik untuk dijadikan rujukan untuk alasan apapun, ini adalah analisis dari perspektif yang berbeda dan pasti menarik !!. hehe.

Oke, analisis saya dimulai.

Pertama dari kejadian dipilihnya Jokowi sebagai salah satu bakal calon gubernur.  Beliau merupakan salah satu kader dari PDI Perjuangan, yang sampai saat ini masih menjabat sebagai walikota solo.  Saat itu, ketika gegap gempita Pilkada DKI baru saja akan bermula, Partai sepertinya kelabakan juga untuk menyiapkan calon. Partai lain, kuning dan biru dan hijau sudah menyiapkan calon masing-masing, calon yang cukup kuat dan mentereng figurnya.  Partai merah ini kemudian, dengan mekanisme yang berjalan didalam pimpinan partai, menunjuk Jokowi untuk datang ke Jakarta dan ikut bergabung dalam konstelasi pertarungan…..

Sebenarnya partai putih juga tampaknya agak panik hingga menunjuk figur nasional sekelas Hidayat Nur Wahid, yang juga idola saya untuk mencalonkan diri menggantikan calon muda mereka yang sebelumnya ramai dibicarakan. Tapi kita tidak akan fokus ke partai putih di tulisan ini. Maaf yaaa.

Pak Jokowi pun datang lah ke ibukota, merespon panggilan ibu Megawati Soekarno Putrid an partai yang mengharapkannya.  Untuk dipilihnya Jokowi ini, saya beranggapan bahwa Jokowi ditarik ke Jakarta juga dengan maksud untuk tidak mengganggu kondisi di Jawa Tengah.  Perseteruan (sedikit) nya tentang penggusuran pabrik es bersejarah di kota Solo dengan bapak Bibit Waluyo cukup mengganggu stabilitas partai di kawasan. Karena keduanya dalam satu partai, bu Mega pasti lebih ingin kalau keduanya akur. Jadi karena notabenenya pak Jokowi adalah “bawahan” dari pak Gubernur Jawa Tengah itu, daripada saling ribut sebaiknya pak Jokowi dijauhkan dulu. Begitu… alasan lainnya, ini ada suara dari arus bawah Partai, yang masih kuat ideologi dan gerakannya untuk mengajukan Jokowi, dan tidak calon lain untuk memimpin Jakarta. Maka resmilah Jokowi lalu menjadi bakal calon gubernur.

Kemudian siapa wakilnya ?... partai merah tentu punya stok pemimpin-pemimpin muda atau tua yang berkualitas dan berpengalaman. Tapi yang dipilih mendampingi malah mantan bupati Belitung Timur, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, yang juga mendapat julukan bupati Laskar Pelangi. Kenapa yaa…

Analisis saya seperti ini, pertama dengan rekam jejak pak Jokowi, diperlukan pendamping yang mirip-mirip karakternya sekaligus saling melengkapi.  Tentu bukan kebetulan juga karena Ahok cukup berhasil dan punya nama setelah pernah menjabat sebagai bupati Belitung Timur.  Keduanya punya pola kerja yang mirip, lebih sering turun ke jalan bertemu dan menyapa rakyatnya secara langsung.  Ahok pun dibilang cukup berhasil dengan dijadikannya beliau sebagai salah satu tokoh perubahan di Indonesia oleh suatu kelompok media.  Keduanya juga terkenal bersih dan transparan. Lengkap lah sudah segala alasan untuk menyandingkan Jokowi dengan Ahok.  Belum lagi dengan dukugan dari Partai Gerindra yang kemudian ikut bergabung. Wuih… . miris juga sih, pak Ahok kemudian dipecat dari partai sebelumnya karena mengajukan diri sebagai wakil gubernur.  Yah, biar saja, partai nya itu toh tidak bisa berbuat banyak calon jagoannya babak belur dalam perolehan suara. Padahal partai kuning ini partai yang sudah kuat sistemnya lho.

Selain karena faktor individual kedua figur tersebut, saya juga menganalisis kecerdasan pak Jokowi secara khusus dalam membangun merek mereka ( brand image).

Pak Jokowi tentu terhitung sangat mendadak untuk ikut dalam pertarungan Pilkada DKI ini, tanpa banyak persiapan, beliau harus sudah memikirkan langkah-langkah cepat pemenangan.  Entah dimana, mungkin dalam perjalanan Solo-Jakarta, saya rasa pak Jokowi ini pasti memikirkan sesuatu yang unik yang harus menjadi merek mereka.  Melihat trend yang sedang berkembang mengenai kemeja kotak-kotak, pak Jokowi pun menajadikan kemeja kotak-kotak ini sebagai brand image pasangan Jokowi-Ahok.

Saat itu, Jokowi belum sekalipun bertemu dengan pasangannya, dalam perjalanan, didorong juga mungkin karena tidak membawa baju ganti, Jokowi menyempatkan diri mengunjungi Mal Ambasador di kawasan Rasuna Said, Jakarta Sealtan.  Disana beliau membeli sepasang kemeja kotak-kotak yang khas untuk dirinya dan Ahok, yang kemudian menjadi brand image pasangan Jokowi-Ahok. Keputusan yang terbukti tepat dan mujarab sekali. Tidak hanya menjadi brand image yang kuat untuk pasangan, kemeja kotak-kotak malah mampu menggerakan tim sukses dan masyarakat di arus bawah untuk mempromosikan pasangan ini.  Bahkan, secara sadar mereka membeli kemeja kotak-kotak Jokowi-Ahok yang dijual tim sukses yang keuntungannya digunakan sebagai dana kampanye.  Kreatif sekaligus inovatif bukan ?. di saat calon dari partai lainnya menghabiskan dana jor-joran untuk kampanye, yang entah darimana saja sumebr uang itu, Jokowi-Ahok malah mengajak masyarakat ikut berperan serta secara aktif mendukung kandidat ini.

Analisis keberhasilan selanjutnya adalah dari cara pasangan Jokowi-Ahok berkampanye.  Setahu dan seingat saya, pasangan ini hanya satu kali melakukan pengerahan massa.  Waktu itu di Gelora Bung Karno, itu pun tidak di lapangan sepakbola utamanya, tempat kebanyakan kampanye massa dilakukan.  Alasan pak Jokowi, biar hemat dan tidak merusak rumput.  Tuh kan ? dalam waktu seperti ini saja pak Jokowi masih memikirkan hal lain, hal yang mungkin kecil baginya namun tidak untuk suatu pihak tertentu. PSSI dan timnas Indonesia sebagai ccntoh.  Kalau rumput rusak, pihak yang mengurus perawatan rumput stadion pasti harus segera melakukan perbaikan.  Diinjaki ribuan orang, rumput itu pasti banyak rusaknya kan ? wong kalau pas main bola Cuma diinjak 22 orang saja sering rusak.  Nah, pak Jokowi tidak mau itu terjadi. Akhirnya kampanye diadakan di bagian luar. Sungguh keputusan yang arif.

Dalam kampanye itu, pak Prabowo Subianto juga hadir sebagai orator.  Beliau juga mengenakan kemeja kotak-kotak Jokowi – Ahok.  Kampanye ini memang dihadiri banyak massa, namun hanya sekali ini. Selebihnya Jokowi-Ahok dan tim sukses lebih sering ada di jalan, di kampung-kampung, di rumah-rumah warga, di pertokoan, di tempat-tempat kumuh, membagikan VCD pengenalan dan koran Jakarta Baru.  Mereka berinteraksi dengan warga, bercanda, saling sapa, berkenalan, saling diskusi, makan diwarteg, minum kopi bersama.  Mereka bersama rakyat yang akan dipimpinnya.  Saban hari dalam masa kampanye dan berjanji akan terus melakukan ini saat jadi pemimpin Jakarta.  Adakah alasan calon yang seperti ini kemudian tidak dipilih sebagian besar warga Jakarta ?

Tapi, datang ke warga dalam waktu kampanye yang sempit ini memang perlu strategi khusus, nah… menurut berbagai sumber yang say abaca atau dengar, dalam masa 2 minggu itu Jokowi-Ahok tidak sembarang saja menentukan warga yang akan didatangi.  Mereka mendatangi lokasi dimana banyak kelas menengah, dimana banyak orang jawa, Madura, sunda atau cina, dimana kantong-kantong orang miskin, para seniman, pemain musik berpengaruh, dan dimana tempat-tempat pemilih mengambang.  Kelompok-kelompok inilah yang meroketkan perolehan suara Jokowi-Ahok.

Dari segi sarana publikasi, menurut saya dibandingkan calon dari partai lainnya, Jokowi-Ahok adalah yang paling sedikit memiliki sarana publikasi, baik berupa iklan di televisi, baliho, spanduk, brosur, poster, leaflet, bill board hingga majlis ta’lim.  Bisa dibilang Jokowi-Ahok sangat kurang sekali. Karena masalah dana kah ? padahal kan dari partai juga ya.  Tapi ya itu, merek Jokowi-Ahok yang sudah terbangun kuat dengan prestasi, citra, mesin partai, dan tentu saja kemeja kotak-kotak sangat terekam di benak para calon pemilih.  Sehingga ketika, sebagai contoh sekali saja, dalam waktu yang sangat tepat, iklan Jokowi-Ahok muncul di televisi, image pasangan tersebut seakan menempel terus di segala benak para pemirsah.

Hal-hal yang saya paparkan diatas adalah hasil analisis saya sebagai anak kosan yang ikut mencoblos beliau.  Saya mendapatkannya dari banyak sumber, koran, televisi, dan beragam diskusi.  Itu adalah analisis dari sisi internal pasangan Jokowi-Ahok, bagaimana dari sisi eksternal ?

Menurut saya, pasangan lainnya, terutama yang dari partai tidak berhasil membangun merek yang kuat.  Citra BERKUMIS, yang dibangun oleh pasangan nomor 1 sebenarnya menjadi bahan serangan yang menguntungkan pasangan lainnya, ketika pasangan calon nomor 2 yang Independen; Hendardji Supandji – Riza Patria menjadikan BERKUMIS menjadi kependekan dari “ BERantakan KUmuh dan MISkin “.  Begitu hal ini terlontarkan dalam suatu acara debat di televisi, saya rasa citra BERKUMIS malah menjadi tidak menguntungkan.  Selain itu, pasangan nomor 1 ini tampak nya terlalu percaya diri dengan memasang kepdean “ 1 PUTARAN “ nya di segala bentuk publikasi kampanye.  Saya rasa yang membaca, yang memang bukan fanatik BERKUMIS akan kesal, gemes, marah, atau apapun sehingga malah tidk mau memilih pasangan nomor 1.  Memang sterlalu kepedean bisa menyebalkan. 

Apalagi yaa..

Menurut saya dengan sangat banyak nya publikasi yang dilakukan; spanduk, billboard, koran, hingga iklan di televisi menjadi tidak menguntungkan.  Masyarakat tentu akan jadi punya pemikiran, “ ini duit darimana ya buat bikin iklan ?? “ masyarakat kan sudah cerdas lho. Belum lagi ditambah citra partai biru yang mengusung beliau. Runyam lah sudah kalau tidak bisa ditemukan penawarnya.

Calon yparta yang lain juga tampaknya sama, walau saya cukup kaget juga pak Hidayat Nur Wahid hanya mendapatkan 11 % lebih suara dari pemilihnya yang kemungkinan besar dari PKS.  PKS itu solid. Kemungkinan besar massa PKS juga terbelah ke pasangan nomor 1 dan 3 atas dasar berbagai faktor.

Calon nomor 6 ? duh. Saya tidak mau membahas, mesin partai Golkar dan PPP pasti sedang tidak berjalan lancer. Perolehan suara pasangan mereka bahkan mampu dikalahkan paangan independen nomor 5; Faisal Basri – Biem Benjamin.  Pasangan independen ini termasuk salah satu fenomena dalam pilkada ini.  Bagaimana kemudian akhirnya calon Independen bisa mengalahkan calon dari partai, partai kuning dan hijau pula. Ini adalah bukti Independen punya tempat tersendiri di hati para warga.  Merea sudah bosan juga dengan CALON DARI PARTAI. Makanya mereka memilih CALONNYA WARGA.

Well… begitulah analisis hasil (hitung cepat) Pilkada DKI Jakarta ala saya kali ini. Seperti yang anda ketahui urutan perolehan suara adalah nomor 3 – nomor 1 – nomor 4 – nomor 5 – nomor 6 – nomor 2.  Pilkada pun akan berjalan dua putaran dengan mempertarungkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Romli dengan pasangan Jokowi – Ahok.  Alhamdulillah, puji syukur selama masa pelaksanaan pemilu kemarin berjalan aman damai dan tenteram.  Warga memang sudah cerdas, sehingga tahu mana yang baik mana yang tidak, dan tidak usah bikin ribut.

Sekedar tambahan, saya ingin mengomentari tentang dorongan isu SARA dalam kecenderungan memilih.  Isu SARA juga digunakan untuk mencegah suatu calon dipilih.  Menurut saya ini sudah bukan masanya lagi.  Ketika suatu pasangan mengedepankan isu SARA tertentu untuk dirinya lalu menggunakan isu SARA lain untuk menjatuhkan pasangan lain, hal ini malah akan menghancurkan suara pasanagn calon yang melontarkan.  Belum lagi juga turut ikut mencederai demokrasi.  Masihkah hal ini terjadi ? masih, masih. Saya menyaksiannya sendiri ketika suatu calon terus menggembor-gemborkan isu SARA tertentu untuk kepentingan dirinya dan lalu menyerang pasangan lain.  Perolehan pasangan lain itu malah jadi melebihi pasangan yang menjelek-jelekkan. Karena apa ? karena setiap elemen dalam SARA yang dijadikan senjata untuk menjatuhkan malah bahu-membahu untuk menjatuhkan balik pihak yang bermain kotor itu.

Sudah saatnya isu SARA dikeluarkan dari politik dan demokrasi.  Kita harus memilih pemimpin atau partai yang paling baik buat kita, yang menrut kita bisa memberdayakan dan mensejahterakan kita semua.

Salam demokrasi. Salam anak kos kampus UI.

Keterangan:
Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari Google.com

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KABAR TERBARU

KOMENTAR PEMBACA

BUKU BARU

narrowsidebarads

Masukkan Kode HTML yang ingin kamu optimalisasi: