• Info Terkini

    Saturday, September 22, 2012

    Ulasan Artikel “Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan” Karya Aulia Wahyu Maulidya (FAM Surabaya)

    Sahabat FAM, satu lagi artikel yang diulas Tim FAM Indonesia, yaitu berjudul “Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan” karya Aulia Wahyu Maulidya, anggota FAM Surabaya.
    Penulis menyajikan sebuah tulisan dengan mengambil pembahasan berupa permasalahan bangsa Indonesia, dengan menitikberatkan pada kemiskinan, bencana alam, dan kemerosotan akhlak. Tetapi dari ketiga permasalahan bangsa itu, kemerosotan akhlak menjadi sorotan utama penulis. Kemerosotan akhlak disebut-sebut menjadi salah satu penyebab terjadinya berbagai bencana alam di negeri ini.
    Pertumbuhan ekonomi yang dianggap membaik, pada kenyataannya malah menambah jurang pemisah antara orang kaya dengan kalangan miskin (grass root). Dampak dari kemiskinan itu banyaknya orang terlantar, anak jalanan atau wanita yang menjalani kehidupan kelam.

    Penulis lantas menyoroti kemerosotan akhlak yang menjadi penyebab berbagai bencana di negeri ini, berangkat dari kutipan seorang penyair Mesir Syauki Bik: “Suatu bangsa sangat ditentukan kualitas akhlaknya . Jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.” Dan menguatkannya dengan firman Allah QS. Ar-Ruum ayat 41: ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar kembali (ke jalan yang benar)’.” 

    Pelaku kerusakan-kerusakan itu adalah muslim yang membawa nama Islam, maka penulis menyajikan suatu solusi yaitu peran muda-mudi muslim untuk mengatasi kemerosotan akhlak bangsa ini. Salah satu caranya adalah menjadikan diri sebagai orang yang paling bermanfaat bagi orang lain pada bidang-bidang yang menjadi dunianya masing-masing.

    Penulis telah menyajikan artikel ini dengan baik dan penulisan cukup teliti serta penggunaan EYD yang minim kesalahan. Beberapa kesalahan penulisan yang perlu diperhatikan penulis, diberi tanda merah (lihat blog FAM www.famindonesia.blogspot.com).

    Penulisan yang penting diperhatikan:

    “rasulullah” sebaiknya diawali huruf kapital, karena gelar/sebutan pengganti Nabi Muhammad SAW., penulisan kata “tuk” lebih baik ditulis “untuk” kecuali dalam karya fiksi.

    Kalimat yang rancu dan perlu diperbaiki: “Tapi itu masih satu dari sekian banyak nestapa…” bisa diganti menjadi “tetapi itu baru satu dari…” atau “tetapi itu hanya salah satu dari…”

    Mengingat penulis masih berstatus pelajar, maka tulisan tersebut sudah cukup baik dan luar biasa untuk ukuran pelajar seusianya. Semoga penulis akan terus aktif menyajikan tulisan-tulisan yang berkualitas.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan
    Oleh Aulia Wahyu Maulidya

    IDFAM1001S Anggota FAM Surabaya

    Bangsa Indonesia tengah dirundung oleh berbagai macam problematika kehidupan yang sangat kompleks. Sebut saja: Kemiskinan, bencana alam dan yang paling parah adalah kemerosotan akhlak yang kini mewarnai negeri merah-putih ini.

    Angka kemiskinan di Indonesia berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduknya. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 12,36 % dari total 220 juta lebih penduduk Indonesia adalah masyarakat menengah ke bawah atau dapat dikategorikan dalam kelas miskin. Pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah Indonesia pun tak banyak berpengaruh. Karena pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi tersebut justru semakin merenggangkan jarak antara kaum menengah ke bawah dengan kaum menengah ke atas. Yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin? Semakin miskin pula lah mereka.

    Di balik megahnya deretan perumahan elite yang semakin menjamur, ternyata rumah-rumah kecil dari kardus pun tak kalah bertebaran di tepi-tepi sungai, di bawah jembatan, atau bahkan di tepi rel kereta api. Bukankah ini menjadi sebuah realita yang sangat bertolak belakang?

    Pernahkah kita berpikir tentang kehidupan mereka? Dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, dorongan untuk melakukan tindak kriminalitas dan pelanggaran terhadap norma-norma justru semakin menguat. Selama itu bisa memenuhi kebutuhannya, apapun akan ia lakukan.

    Di tengah kemakmuran yang digembor-gemborkan pemerintah, nyatanya kemiskinan telah mengantarkan bocah-bocah yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah harus turun ke jalanan tuk berebut dompet yang bukan miliknya. Kemiskinan telah mengantarkan perempuan-perempuan agar rela mengobral harga diri dan martabat mereka yang seharusnya dijunjung mulia. Kemiskinan telah mengantarkan tangan-tangan mereka yang sudah putus asa sehingga tega merenggut nyawa orang lain hanya demi sebuah kehidupan yang lebih layak. Hingga akhirnya, kemiskinan mengantarkan mereka pada keluhan-keluhan atas ketidak adilan Tuhan, dan menuntut mereka semakin menjauhiNya.

    Kemiskinan seakan tak pernah berhenti menghantui kehidupan bangsa Indonesia yang belum satu abad merdeka ini. Tapi itu masih satu dari sekian banyak nestapa yang mengganggu ibu pertiwi kita. Belum lagi masalah kemiskinan selesai, kita sudah dihadapkan pada realita-realita pelik lainnya.

    Tak hanya kaum menengah ke bawah yang berulah, namun ternyata manusia-manusia yang sudah beruntung atas harta dan pendidikannya justru berebut peran dibalik hancurnya moralitas negeri ini.

    Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim di dalamnya, tentu menjadi aib tersendiri ketika keutamaan akhlak mulia yang diangkat dan dibawa oleh Islam mulai merosot dan semakin jeblok, berbanding terbalik dengan harga bahan-bahan pokok yang kini sedang melonjak. Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualitas akhlak-nya . Jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

    Akhlak yang sudah tak lagi terupgrade, mendorong Indonesia tuk semakin jatuh ke dalam jurang kemunduran. Lihat saja, maling-maling berjas sudah tak bisa dihitung dengan jari, pembunuhan tragis tanpa pri kemanusiaan hampir setiap hari menjadi hot topic dalam berbagai media, atau kasus traficking dan pergaulan bebas yang semakin lekat dengan pejuang putih abu-abu. Mereka hanyalah secuil dari beribu potret buram kemerosotan akhlak bangsa Indonesia. Terlebih, pelaku-pelaku kerusakan ini mayoritasnya adalah muslimin yang membawa nama Islam.

    Apa yang harus kita katakan kepada Rasulullah dan para sahabat yang keimananannya sudah tak diragukan lagi atas keadaan kaum muslimin di Indonesia ini?

    Nampaknya ibu pertiwi harus lebih banyak bersabar lagi, karena selain berbagai masalah di atas, Indonesia harus dihadapkan pada bencana-bencana alam yang bergantian datang menerpa. Banjir, longsor dan gempa bumi pelan-pelan meluluh lantahkan berbagai daerah di Indonesia. Ada baiknya kita kembali mengkaji surah Ar Rum ayat 41 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar kembali (ke jalan yang benar).”

    Berbekal ayat tersebut, bencana alam yang tak kunjung henti menimpa masyarakat Indonesia disebabkan oleh manusia itu sendiri. Hal ini tentu berhubungan dengan turunnya kualitas akhlak masyarakat Indonesia.

    Lantas, apakah Indonesia harus selamanya terpuruk dengan kemelut-kemelut tak berujung ini? Jika pemeran utama kerusakan ini sudah terlanjur terlena dengan dunia mereka yang gelap, siapa lagi yang bisa mengentaskan mereka dan membawa bangsa ini menuju arti kemerdekaan yang sejati?

    Di sinilah peran kita sebagai generasi muda-mudi muslim sangat dibutuhkan. Sebagai muslim sejati, tak sepatutnya kita hanya diam dan berpangku tangan melihat saudara-saudara kita yang masih terpuruk dalam kerusakan yang tak pernah diajarkan oleh agama yang hanif ini. Justru kita lah tombak masa depan yang menjadi solusi di tengah kemelut yang dihadapi ibu pertiwi. Karena Islam sebagai rahmatan lil alamin tentunya bermakna mendalam dan melingkupi berbagai macam aspek kehidupan. Ajaran Islam tidak mengajarkan  umatnya untuk menjadi sebab terjadinya konflik dan kerusakan. Sebaliknya, ajaran Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjadi solusi di tengah-tengah kerusakan umat yang sedang terjadi.

    Sebab yang paling mendasar dari jatuhnya akhlak muslimin Indonesia adalah jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan As-sunah. Berbeda dengan kaum muslimin pada jaman rasulullah, mereka mereka menguatkan barisn dengan menjalin persahabatan yang sangat baik dengan Al-Qur’an dan As Shunnah. Dengan berbekal keduanya, para generasi terbaik dahulu, Rasulullah, para sahabat, dan para tabiin mampu menancapkan panji – panji kebesaran Islam di puncak kejayaannya, di puncak kebesarannya. Seorang Utsman Bin Affan, dengan insvestasinya mampu memakmurkan Madinah. Pun demikian dengan saudagar Abdurrahman Bin Auf, yang mampu menjaga stabilitas pasar, seorang petani yang ulet semacam Abu Thalhah, yang mampu menjamin ketahanan pangan Madinah,  kemahiran dokter As Syifa binti Abdillah, yang menjamin kesehatan warga Madinah, kejelian akuntan Abu Ubaidah Bin Jarrah yang telah memeratakan ekonomi yang berkeadilan di masayarakat Madinah, atau juga kelihaian strategi  perang Khalid Bin Walid, yang membuka ruang – ruang wilayah baru untuk berdakwah. Mereka mampu menjadikan negeri Arab yang semula tak dikenal menjadi sebuah pusat peradaban dunia.

    Semangat mereka hendaknya menular pada darah Islam kita, sehingga kita bisa turut mengikuti jejak mereka menjadi muslim yang hanif, solutif dan produktif di tengah kerusakan untuk membangun agama dan bangsa.

    “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain” Begitulah bunyi hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Yang tentunya semakin memotivasi kita tuk menjadi solusi dan menghasilkan sebuah atau bahkan beribu manfaat di tengah kerusakan masyarakat.

    Tetapi, sebelum menjadi manfaat untuk orang lain tentunya kita harus mempunyai suatu kualitas diri yang mampu dipertanggungjawabkan. Memulai dari diri sendiri adalah sebuah pijakan awal yang kokoh tuk menopang langkah-langkah kita selanjutnya. Dengan kepribadian yang sudah tak diragukan lagi, tentunya semakin memudahkan kita untuk merubah dan membangun masyarakat.

    Hal selanjutnya adalah memadukan proses berpikir dan berdzikir, dengan adanya keselarasan dan sinergi dalam berdzikir dan berpikir, akan melahirkan banyak konsep dan ilmu yang bermanfaat dan menjadi solusi yang sudah dinanti-nantikan. Tentunya dengan spesifikasi kemampuan masing-masing dari kita.

    Misalnya, yang memiliki jiwa bisnis dapat mengaplikasikannya sebagai wirausahawan muda yang dapat menghasilkan penghasilan sendiri, dan membuka lapangan kerja bagi kaum menengah ke bawah, juga memberikan produk atau jasa yang bermanfaat kepada konsumennya. Atau dengan suka rela berbagi ilmu dengan adik-adik kita di luar sana yang justru menghabiskan masa kecilnya di jalanan, yang tidak sempat merasakan indahnya mengenyam pendidikan. Bahkan dari seorang penulis, yang hanya bermodalkan kata-kata kita dapat memberi kontribusi lebih. Terkadang, kata-kata pun bisa lebih tajam dari pedang bukan? Mungkin dari apa yang kita tulis, bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, menjadi perantara aspirasi dari seorang rakyat kepada penguasanya, atau bahkan menjadi media tersambungnya pintu hidayah. Betapa sangat tinggi manfaat tersebut.

    Dapat kita ambil contoh dari sebuah karya yang baru-baru ini dipersembahkan beberapa mahasiswa ITS, Mochammad Rashid Ridho, Ahmad Taufiqul Hafizh, Rachmadian M Pratiwi, Faishal Mufied Al-Anshary, dan Adhika Ilham Dhata Pratomo yang menciptakan sebuah aplikasi kreatif untuk membantu menentukan jurusan perkuliahan calon mahasiswa. Hasil karya keempat mahasiswa Sistem Informasi (SI) ITS tersebut dinamakan Brighter Future Start Here alias Buster. Juga maraknya acara-acara Islami yang diprakarsai oleh murid-murid SMA dalam berfastabiqul khairat. Keduanya ini sudah terealisasi dan terbukti memberi sentuhan baru sebagai sebuah manfaat dan solusi di tengah rusaknya kondisi bangsa.

    Tapi tentunya, diperlukan lebih dari satu orang pribadi solutif yang produktif dalam kehanifan guna memecahkan persoalan-persoalan pelik yang menghantam bangsa. Dan mereka adalah kita, muda-mudi bangsa yang berani dan optimis, yang saling berhimpun dan bekerja sama tuk kembali menguatkan barisan terdepan dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sudah mencakup seluruh pedoman kehidupan. Bukankah kaum muslimin terdahulu begitu kental persahabatannya dengan dua nafas Islam ini? Sehingga mereka bisa menjadi sebuah generasi emas yang mengentaskan bangsanya dari kejahiliyahan menuju cahaya terang, membawa bendera agama dan negaranya menuju puncak kejayaan.


    Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Menjadi Solusi dan Manfaat dalam Kehanifan” Karya Aulia Wahyu Maulidya (FAM Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top