• Info Terkini

    Tuesday, September 4, 2012

    Ulasan Artikel “Penjajahan di Era Globalisasi” Karya Riska Ayu Pratiwi (Lampung Timur)

    Tulisan berjudul “Penjajahan di Era Globalisasi” berhasil menjadi tulisan yang menarik, karena akan banyak sekali argumen penentang yang menentang opini yang dibangun oleh penulis bahkan terhadap judul itu sendiri. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah penulis mampu mempertahankan argumennya menghadapi argumen penentang tersebut karena beberapa bagian dari tulisan ini justru bisa menjadi argumen yang kuat bagi penentang opini yang dibangun penulis?

    Pengambilan judul Penjajahan di Era Globalisasi, adalah hal pertama yang akan mendapat tentangan. Penjajahan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti proses, cara, perbuatan menjajah. Sedangkan isi tulisan tersebut sama sekali tidak menyinggung adanya penjajahan yang dilakukan bangsa asing atau pihak manapun baik penjajahan fisik maupun penjajahan karakter. Justru yang diangkat oleh penulis adalah kondisi yang menunjukkan keadaan bangsa kita yang memposisikan terjajah, terbelenggu, terkungkung atau penghambaan bangsa kita oleh, atau terhadap bahasa dan budaya asing.
    Kontra Opini:

    Hal lain yang perlu diperhatikan penulis adalah adanya beberapa fakta yang diungkap penulis malah akan mementahkan opini yang dibangunnya sendiri sejak awal. Kita bisa perhatikan pada kalimat berikut:

    “Saat negeri kita kedatangan selebritis dari luar negeri, masyarakat begitu antusias menyambutnya. Hal itu terlihat dari banyaknya tiket yang terjual.” Kalimat ini mendukung opini penulis, tetapi pada kalimat berikutnya:

    “Kedatangan selebritis dunia ke Indonesia tak sedikit yang menuai protes dari berbagai kalangan. Penampilan dan aksi panggung yang dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan dapat memberikan pengaruh buruk bagi budaya bangsa.”  Kalimat ini malah mementahkan opini penulis sendiri. Fakta ini sebenarnya yang akan dijadikan argumen oleh penentang terhadap opini penulis, tetapi malah diangkat oleh penulis sendiri.

    Satu hal lagi yang melemahkan opini sendiri terdapat pada kalimat: “Keadaan seperti ini menunjukan bahwa penggunaan bahasa internasional lebih penting dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia.Kalimat tersebut akan menimbulkan opini penentang dengan argumen bahwa mempelajari bahasa asing bukan berarti bahasa asing lebih penting, tetapi kita memerlukan bahasa asing untuk berbagai kepentingan di era globalisasi, salah satu alasannya justru terdapat pada paragraf akhir yang diungkap penulis: “Jika kita mampu melestarikan budaya-budaya di Indonesia, menciptakan suatu karya, dan mempromosikan tempat-tempat bersejarah, hal itu akan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Indonesia dan akan menjadi sumber penghidupan bagi kita juga menambah devisa Negara.” Kalau kita tidak bisa bahasa internasional, bagaimana bisa mempromosikan dan bagaimana bisa melayani turis mancanegara yang datang? Kalau demikian di mana letak penjajahannya?

    Terlepas dari beberapa catatan di atas, penulis sudah menunjukkan keberanian mengemukakan sebuah opini yang bertentangan dengan opini publik, sehingga tulisan ini jadi menarik untuk disimak dan ditanggapi.

    Kebahasaan:

    Berkaitan dengan penggunaan EYD

    Beberapa kata dalam tulisan ini masih perlu diperhatikan penulis, diantaranya:

    Penulisan awalan “di” masih ditulis terpisah dengan kata kerja, Contoh:

    “di dominasi” seharusnya “didominasi”
    “di bandingkan” seharusnya “dibandingkan”
    “di akui” seharusnya “diakui”  dan penulisan kata lainnya yang serupa (bertanda merah, lihat blog www.famindonesia.blogspot.com)

    Berbeda dengan penulisan “di” sebagai kata depan yang menunjukkan tempat, contoh: “di rumah, di kebun, di sekolah” (harus dipisah)

    Penulisan kata setelah koma (,) harus diberi jarak (spasi), contoh pada penulisan:  “…peminatnya,namun…” seharusnya “…peminatnya, namun….”

    Penulisan huruf A dalam kata “bahasa Asing…” tidak perlu menggunakan huruf kapital, karena belum menunjukkan pada nama suatu bangsa atau bahasa (masih umum).

    Penulisan huruf “I” pada kata “indonesia” seharusnya menggunakan huruf kapital, karena menunjukkan nama negara atau nama bangsa.

    Berkaitan dengan penggunaan kata atau susunan kalimat:

    Penggunaan kata pada kalimat sebaiknya lebih efisien, seperti pada contoh kalimat: “Para orang tua pun juga merasa begitu bangga…” dan penggunaan dua kata “pun juga” pada kalimat lainnya, sebaiknya gunakan salah satunya saja, bisa “para orang tua pun atau para orang tua juga.” Bila digunakan kedua-duanya akan mubazir.

    Kalimat akhir masih satu kesatuan dengan kalimat sebelumnya, oleh sebab itu lebih baik diberi tanda koma (,) bukan tanda titik (.), dan kata “akan” lebih baik diganti dengan kata “bisa” sehingga lebih jelas maknanya.

    Terakhir, yang harus menjadi perhatian penulis adalah ketelitian dalam penulisan, karena masih banyak penulisan kata yang salah akibat kurang teliti (bisa dilihat kata-kata yang bertanda merah, lihat blog www.famindonesia.blogspot.com).

    Mari terus berkarya, ditunggu tulisan berikutnya.

    Salam santun, salam karya.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Penjajahan di Era Globalisasi
    Oleh Riska Ayu Pratiwi

    IDFAM842M  Anggota FAM Lampung Timur

    “Apakah menurut anda Indonesia benar-benar sudah merdeka?”

    ”Jawabannya belum”

    Mungkin ada sebagian dari anda yang tidak setuju dengan jawaban saya. Kita sebagai warga Negara Indonesia pasti tau bahwa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Penjajahan yang saya maksud bukan penjajahan dalam segi pemerintahan,namun penjajahan dari segi karekter.

    Seperti kita tahu sejumlah sekolah di Indonesia lebih di dominasi oleh bahasa asing. Pihak sekolah mewajibkan warga sekolah untuk menggunakan bahasa internasional dalam proses belajar-mengajar dan berinteraksi di sekolah. pihak sekolah jug memberikan jadwal tambahan belajar bahasa asing untuk siswa dan menyediakan fasilitas bimbingan belajar bahasa asing untuk menunjang kemampuan guru dalam dalam mengajar dan berinteraksi di sekolah.

    Keadaan seperti ini menunjukan bahwa penggunaan bahasa internasional lebih penting di bandingkan menggunakan bahasa Indonesia. Banyak sekali lembaga privat bahasa asing dan banyak pula peminatnya,namun jarang di temukan lembaga privat bahasa Indonesia. Bahkan ketika proses belajar berlangsung,banyak siswa yang meremehkan dan tidak memperhatikan materi yang di berikan guru bahasa Indonesia. Tetapi di saat pelajaran bahasa asing berlangsung, siswa begitu antusias mengikuti pelajaran. Yang lebih memprihatinkan, dari hasil Ujian Nasional nilai mata pelajaran bahasa inggris mayoritas lebih tinggi di bandingkan dengan nilai bahasa Indonesia. Anak-anak Indonesia merasa lebih bangga jika menggunakan bahasa asing dalam pergaulannya. Para orang tua pun juga merasa begitu bangga jika anaknya dapat menguasai bahasa Asing di banding Bahasa Indonesia. Sehingga para orang tua berlomba-lomba untuk mencari lembaga privat untuk anaknya.

    Warga Indonesia banyak sekali yang belum mengenal bahasa baku yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia, terutama masyarakat awam. Di toko-toko buku kamus bahasa asing laris terjual di bandingkan kamus bahasa Indonesia. Budaya dan gaya hidup Negara lain juga banyak di anut oleh sebagian warga indonesia. Saat negeri kita kedatangan selebritis dari luar negeri, masyarakat begitu antusias menyambutnya. Hal itu terliahat dari banyaknya tiket yang terjual. Kedatangan selebritis duni ke Indonesia tak sedikit yang menuai protes dari berbagai kalangan. Penampilan dan aksi panggung yang di nilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan dapat, memberikan pengaruh buruk bagi buday bangsa. sebagian masyarakat rela berdemo hanya untuk menuntut izin agar selebritis idolanya di perbolehkan tampil. Dewasa ini banyak di jumpai restoran-restoran yang menyediakan makanan yang berasal khas Negara lain. Peminatnya pun juga sangat banyak, terutama dari kalangan menegah atas.

    Di saat kita sibuk untuk meniru gaya hidup dan kebudayaan negara lain, justru mereka tertarik dengan kebudayaan di negeri kita dan berusaha untuk mengakuinya sebagai kebudayaan mereka. Hal itu tak hanya sekali terjadi di negri ini. Di saat saya melihat tayangan di televisi, di Australia banyak sekali yang tertarik dengan kesenian musik daerah jawa dan mereka mengikuti bimbingan belajar musik khas jawa. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti proses pembelajaran. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan generasi muda Indonesia yang lebih menyukai kebudayaan asing. Generasi muda kurang tertarik untuk mempelajari budaya dan kesenian yang bersifat kedaerahan.

    Dari fakta tersbut dapat kita bayangkan bagaimana masa depan bangsa kita beberapa tahun mendatang? Jika keadaan ini di biarkan berlarut-larut, lambat laun identitas bangsa Indonesia luntur. Sebagai generasi muda kita harus ikut berperan dalam upaya melestarikan budaya indonesia. Peran serta pemerintah sangat diperlukan dalam upaya tersebut. Kita harus menanamkan kepribadian bangsa dan rasa nasionalisme kepada warga inonesia. Jangan biarkan budaya Indonesia yang begitu kaya di akui oleh Negara lain.

    Jika kita mampu melestarikan budaya-budaya di Indonesia, menciptakan suatu karya, dan mempromosikan tempat-tempat bersejarah, hal itu akan menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Indonesia dan akan menjadi sumber penghidupan bagi kita juga menambah devisa Negara. Saya berharap upaya melestarikan budaya Indonesia bukan hanya di jadikan ajang untuk mencari keuntungan materi, tapi harus di dasari oleh rasa nasionalisme. Supaya kita akan terus melestarikan budaya walau suatu kerajinan, budaya, tempat bersejarah sudah tidak memiliki daya tarik dan harga jual tinggi bagi wisatawan.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Penjajahan di Era Globalisasi” Karya Riska Ayu Pratiwi (Lampung Timur) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top