• Info Terkini

    Monday, September 24, 2012

    Ulasan Cerpen “Barapen” Karya Zakiyah Sabdosih (FAM Malang)

    Cerpen “Barapen” ini begitu kaya diksi, begitu kaya majas. Kaya makna, kaya bahasa. Pembaca diajak berkelana ke “dunia lain”, dunia yang jauh dari peradaban umat manusia. Dunia yang dilukiskan penulis cerpen ini begitu kontradiksi namun memang benar-benar terjadi dan memang alami tanpa ada pamrih pribadi. Masyarakatnya menjunjung tinggi tradisi. Ada keunikan tersendiri. Ada kisah di mana “harga diri manusia” ditentukan oleh kepemilikannya terhadap hewan babi. Ada pula adegan wanita menyusui babi! Pembaca diajak berpetualang menemukan sesuatu yang benar-benar menggetarkan hati.
    Ada majas prosopopoeia yang bergabung dengan majas hiperbola di dalam kalimat:

    Lelaki itu yakin, babi-babi yang tak bisa diam itu sedang berusaha meneriakkan seribu umpatan.

    Ada majas oksimoron yang seolah bergabung dengan majas metafora, tampak di dalam kalimat:

    Lelaki itu seperti melihat seseorang yang terlalu mencintai, sampai tak tahu lagi seperti apa sebaik-baiknya cara mencintai.

    Ada majas perifrasis yang terlihat dari kalimat berikut ini:

    Bukannya tak peduli, ia hanya tak yakin, Pak Menteri dapat menggali lubang untuk bakar batu bila mengangkat cangkul dengan perut sebesar itu saja nafasnya sudah satu-satu.

    Ada majas personifikasi yang terlihat dari kalimat berikut ini:

    1. Asap mengepul, pertanda batu-batu panas mulai menyemedikan daging babi di dalamnya.

    2. Puisi orang pedalaman. Menyairkan sebuah peradaban.

    Ada majas antitesis yang terlihat dari kalimat berikut ini:

    ....agaknya semakin sebuah zaman maju, sebenarnya ia hanya sedang kembali ke zaman batu.

    Irama dari tarian majas simploke dan mesodiplosis dapat dirasakan dari lambaian kalimat berikut ini:

    Yang sejak awal ada akan selamanya ada. Yang tak pernah ada selamanya tak akan pernah ada.

    Hanya ada beberapa koreksi EYD dan sintaksis:

    1. Dengan cara yang leluhur mereka telah ajarkan… Akan lebih memikat hati bila diganti dengan kalimat: Dengan cara yang telah diajarkan oleh leluhur mereka.

    2. Saat barapen seperti ini memang saat yang Insoraki dan keluarganya nanti-nantikan... Juga akan lebih memikat hati bila diganti dengan kalimat: Saat barapen seperti ini memang saat yang dinantikan oleh Insoraki dan keluarganya.

    3. Pak Menteri, sebaiknya “pak menteri”

    4. didalamnya, seharusnya “di dalamnya”

    5. sang tamu istimewa, sebaiknya “sang Tamu istimewa”

    6. Diatasnya, seharusnya “Di atasnya”

    7. ...sebelum Kepala Suku sendiri, sebaiknya “...sebelum kepala suku sendiri”.

    8. di masak, seharusnya “dimasak”

    9. "Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis anaknya berhenti sendiri." Sebaiknya: "Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis anaknya berhenti sendiri." (kata "sih" bercetak miring).

    Demikian ulasan cerpen ini. Semoga bermanfaat. Salam Aishiteru!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Barapen
    Oleh Zakiyah Sabdosih

    IDFAM980M Anggota FAM Malang

    Bila surga memang benar-benar ada di langit, dengan mengacungkan tangannya saat ini niscaya ia bisa menukil kembang gula kapas dari atas kepala. Sehasta jarak saja dari surga. Dari gula kapas raksasa yang menaungi sepanjang Jaya Wijaya. Di sinilah lelaki itu kini berada. Di antara hingar-bingar barapen di tinggi Lembah Baliem.

    Seorang lelaki berkoteka memegang kepala babi, seorang lagi memegang bagian dua kaki belakang, bersama-sama mereka mengangkatnya setinggi kepala. Dalam jarak yang sangat amat dekat dari sana, busur panah siap meminjamkan kematian. Cuma-cuma, tanpa perlu dikembalikan. Dan, hingga busur panah itu dilesatkan, si babi masih meronta-ronta. Berusaha melepaskan diri sekuat tenaga. Menguik-uik seperti kerasukan. Perang Badar antara ia dan Tuhan.

    Setelahnya, babi-babi lain menunggu giliran. Lelaki itu yakin, babi-babi yang tak bisa diam itu sedang berusaha meneriakkan seribu umpatan. Hanya saja, orang-orang ini tak dapat memahami bahasa binatang. Apalagi suara babi itu yang paling tidak merdu di antara para hewan. Tapi, orang-orang ini tak akan terlalu memperdulikannya. Yang terpenting bagi mereka saat ini adalah apakah babi-babi itu bisa langsung mati dalam satu lesatan panah. Bila babi itu langsung mati seketika itu juga, mereka percaya itu sebagai pertanda. Bahwa acara ini akan berjalan lancar sesuai rencana. Namun, bila babi-babi itu tak jua langsung mati seketika, diyakini pula acara ini tak dapat berjalan lancar sesuai rencana mereka. Ada nafas lega setelah para lelaki memastikan babi-babi itu langsung mati saat itu juga.

    Sejenak ia teringat akan pemandangan pertama yang ia lihat kemarin begitu sampai di sini. Seorang wanita sedang menyusui anaknya di dada sebelah kiri, dan sekaligus pada saat yang sama menyusui anak babi di dadanya yang lain. Wanita menyusui babi! Membaginya susu murni seperti anaknya sendiri. Lelaki itu seperti melihat seseorang yang terlalu mencintai, sampai tak tahu lagi seperti apa sebaik-baiknya cara mencintai.

    Di tanah ini, babi memang sebuah harga diri. Kekayaan orang tergantung dari jumlah babi yang dimiliki. Hanya ditempat inilah seekor babi mendapatkan penghormatan tertinggi. Tinggal serumah dengan babi atau bahkan melihat pemilik rumah rela tidur di luar sementara babinya tidur di dalam rumah merupakan hal yang tak jarang terjadi di sini.

    Untuk itulah sebenarnya lelaki itu datang kemari. Untuk melihat zaman batu dengan mata kepalanya sendiri. Zaman batu di abad dua satu. Bukan untuk meliput kedatangan Pak Menteri yang sejatinya menjadi tugasnya seperti wartawan-wartawan lain yang jauh-jauh datang ke sini.

    Hari ini memang Pak Menteri mau kemari. Menengok rakyatnya di pedalaman negeri. Begitu judul yang digaung-gaungkan di sini. Maka, sedari tadi hingar bingar di tempat ini sedianya diadakan untuk menyambut kedatangan tamu penting itu. Barapen, memasak rupa-rupa makanan dengan metode bakar batu. Ritual tradisional Papua yang dilakukan saat ada pernikahan, upacara kematian, bukti perdamaian antar suku, atau juga penyambutan tamu.

    Semasa yang sama, saat para lelaki dengan segera memotong-motong babi sebelum darahnya jadi dingin dan membeku, para wanita sibuk mempersiapkan bahan makanan lain yang akan dimasak. Kayu bakar sudah dikumpulkan, sebentar lagi siap digunakan untuk memanaskan batu, dengan cara menumpukkannya sedemikian rupa agar dapat membakar batu didalamnya hingga kayu habis dan batu menjadi panas. Batu yang sudah panas membara itulah yang nantinya akan digunakan memasak bahan-bahan makanan. Dengan cara yang leluhur mereka telah ajarkan.

     “Pak Menteri datang!” Salah seorang wartawan berteriak.

    Seketika, semua bidikan kamera mengarah pada sang tamu istimewa. Pak Menteri datang sebelum barapen dimulai. Sengaja, supaya ia bisa ikut bakar batu secara langsung. Mendekatkan diri dengan masyarakat di sini, begitu ujarnya pada ajudannya tadi.

    Setelah sibuk menyalami para warga yang berebut tangannya, kini ia berniat membantu para lelaki. Oraborus sedang sibuk menyiapkan lubang bakar batu dalam tanah ketika Pak Menteri tiba-tiba menghampirinya dan memberi tawaran untuk membantu membuat lubang. Oraborus acuh saja. Bukannya tak peduli, ia hanya tak yakin, Pak Menteri dapat menggali lubang untuk bakar batu bila mengangkat cangkul dengan perut sebesar itu saja  nafasnya sudah satu-satu.

    Lama kelamaan, Pak Menteri akhirnya menyerah. Lakon utama barapen adalah mereka sendiri. Tak perlu cameo lagi. Ujung-ujungnya, ia memilih duduk bersama seorang lelaki tua yang sedang melinting tembakau sambil melihat para lelaki lain menjapit batu yang sudah panas dengan apando lalu menaruhnya di dalam lubang yang sudah dilapisi daun pisang dan alang-alang. Batu-batu disusun mengikuti bentuk lubang yang seperti keranjang. Kemudian, daun pisang dan alang-alang ditaruh kembali di atasnya. Barulah, di atas batu panas yang sudah dilapisi ilalang, daging babi yang sudah dipotong-potong diletakkan. Diatasnya, kembali ditutup dengan ilalang dan dedaunan. Lapisan selanjutnya, batu yang membara ditumpuk lagi seperti sebelumnya, dengan dilapisi ilalang dan dedaunan yang tebal pula di atasnya. Asap mengepul, pertanda batu-batu panas mulai menyemedikan daging babi di dalamnya.

    Kemudian, hipere disusun di atas ilalang sebelumnya. Sekali lagi ditimbun dengan alang-alang dan batu membara di atasnya. Pandanglah Oraborus, tangan kekar dibalut hitam legam kulitnya dengan gesit memindah batu panas ke dalam lubang pembakaran. Hitam legam namun semurni-murninya pola pakaian kehidupan. Sementara Insoraki, salah satu wanita tanpa bra, tampak sibuk dengan sayur dan umbi-umbian. Dalam hatinya, lelaki itu membandingkan busana Insoraki dengan wanita-wanita yang biasa ia lihat di kota maju, agaknya semakin sebuah zaman maju, sebenarnya ia hanya sedang kembali ke zaman batu. Ah, tidakkah negeri ini begitu besar cintanya pada warisan leluhur?

    Kini Insoraki meletakkan tirubug, nahampun, dan towabug, di lapisan selanjutnya, lalu menutupnya lagi dengan alang-alang agar uap panasnya tak keluar. Yang terakhir, ia memasukkan buah merah, menimbunnya dengan alang-alang, dan batu panas lalu menutupnya kembali dengan rerumputan. Selesai sudah. Tinggal menunggu panas batu mematangkan semua bahan.

    Lelaki itu mendekati kerumunan yang mengerubungi Pak Menteri, semua sibuk mengambil gambar sambil bertanya ini itu sedang ia malah sibuk memotret Insoraki sedari tadi. Saat barapen seperti ini memang saat yang Insoraki dan keluarganya nanti-nantikan. Bakar batu sejatinya selalu membawa ketakziman. Puisi orang pedalaman. Menyairkan sebuah peradaban.

    Lelaki itu akhirnya memilih memotret Insoraki lagi. Hingga ia menyadari, leluhur Insoraki barangkali telah meramalkan masa depan tanah ini dengan baik. Dengan mengajari anak cucu mereka bakar batu, mereka telah mendioramakan hidup mereka sendiri. Hidup yang tak tersentuh dunia. Yang sejak awal ada akan selamanya ada. Yang tak pernah ada selamanya tak akan pernah ada. Bandul waktu yang porosnya berhenti, tak memantul lagi, akhirnya mengajari mereka satu hal: setia.

    Segera setelah panas batu mematangkan semua makanan dalam satu jam, tumpukan alang-alang dibuka. Semua makanan dikeluarkan lalu dihamparkan di atas daun pisang. Oraborus mengeluarkan pisau dari tulang kasuari, dengan cekatan ia memotong-motong daging babi lagi agar bisa segera dibagikan setelah ini. Asap mengepul lebih banyak lagi dari tumpukan batu yang dibuka. Menggiring roh-roh pencipta selera makan ramai-ramai berdatangan.

    Insoraki dan para wanita lain mengambil buah merah yang sudah matang. Diremas-remasnya buah merah itu sampai pastanya keluar, lalu setelahnya saus kental itu dituang di atas daging babi dan sayur-sayuran. Kemudian lelaki itu melihat wanita lain menaburkan garam di atasnya. Dan satu lagi, ia melihat wanita itu menaburkan bubuk penyedap rasa sebagai sentuhan terakhirnya. Di tanah yang tersembunyi dari bumi seperti ini, kau bisa menemukan penyedap rasa. Di tanah yang bahkan sabun mandi saja tak ada!

    Hamparan makanan itu disajikan di hadapan Pak Menteri, sementara semua penduduk mengelilinginya di kanan kiri. Pak Menteri mendapat penghormatan menerima jatah makanan sebelum Kepala Suku sendiri. Insoraki mengambil hipere yang paling besar, seperti tahu porsi yang tepat dari besar perut seseorang lalu menyerahkannya pada Pak Menteri.

    Baru setelahnya, Insoraki memberikan hipere dan daging babi pada yang lain. Pada semua yang siap mati kekenyangan. Pada lelaki itu juga. Hanya saja tanpa daging babi. Insoraki sudah tahu, kebanyakan orang luar yang datang kemari adalah muslim. Yang katanya tak makan daging babi. Entah kenapa. Tak pusing-pusing lah ia mencari tahunya.

    “Mari, duduk di sebelah sini …” Pak Menteri menepuk tempat kosong di sebelahnya pada lelaki itu.

    Yang diberi tawaran langsung duduk. Menaruh kameranya lalu tanpa ba-bi-bu segera membelah hipere pemberian Insoraki. Uap panas yang mengepul dari serat-serat lembut di dalam hipere langsung masuk dalam mulutnya bersamaan dengan jejalan pertama yang dikunyahnya. Sejenak ia diam menghayati lidahnya bekerja. Rasanya, itu ubi paling manis yang pernah ia rasa. Mantra selera tiada duanya.

    “Enak?” tanya Insoraki begitu melihat lelaki itu memakan hipere hasil masakannya seperti manusia yang tak pernah melihat ubi sebelumnya.

    “Ha?” Lelaki itu masih hanyut dalam hening cipta hipere pertamanya.

    Insoraki mengangkat ibu jarinya, “Enak ka?”

    “Oooh, enak Mama ...” Lelaki itu ikut mengangkat ibu jarinya begitu terbangun dari buaian hipere di lidahnya.

    Tiba-tiba, ada yang tersedak. Terbatuk-batuk sebelum hipere yang ada di mulut sempat ditelan, “Minum, minta air minum!” Tangan Pak Menteri menggapai-gapai udara. Memanggil siapa saja yang bisa membawakan air untuknya.

    Ajudannya dengan segera mengambilkan air mineral yang telah dibawa sebelumnya.

    “Ah, saya terlalu lahap sampai tersedak.” Pak Menteri menutup botol air mineral. Separuh isi botol telah berpindah dalam perutnya.

    “Saya sendiri juga baru tahu, Pak, ubi biasa kalau di masak pakai bakar batu bisa enak begini.”

    “Sungguh beragam budaya negeri kita ini, bukan? Di mana lagi kita temukan budaya bakar batu yang unik seperti ini?”

    Lelaki itu mengunyah potongan hipere terakhir, “Di kham-phung ha-lha-manh sha-yha a-dha, Phak.” Mulutnya penuh, mengunyah sekaligus menelan, “Ibu-ibu yang anaknya menangis, biasanya memasak batu dalam kuali. Setahu saya sih bisa semalaman sampai tangis anaknya berhenti sendiri.”

    Pak Menteri masih sibuk menghabiskan hipere-nya.

    Lelaki itu melanjutkan, “Seingat saya, di sana malah hampir setiap hari. Unik-unik ya, Pak, tradisi bangsa kita ini?”

    Ia dan Pak Menteri tertawa bersama. Seolah sahabat lama yang tak bersua. Insoraki memberikannya hipere lagi untuk dihabiskan. Sedang Pak Menteri rupanya lebih menyukai barugum daripada makanan lain yang disediakan. Sampai saat ia tertawa, warna merah barugum tertinggal di gigi putihnya.

    Insoraki menatap labu dan barugum yang masih berasap di tangan Pak Menteri, “Enak ka?”

    Batu, April - Mei 2012
    *Cerpen ini pernah diikutkan dalam Lomba Cerpen Apresiasi Sastra 2012, dan penulis mendapat penghargaan berupa Penulis Cerita Pendek Terfavorit Kategori B Apresiasi Sastra FIB Universitas Gajah Mada 2012
    Catatan:
    Cameo: Bintang tamu
    Apando: Alat untuk menjapit batu panas, dibuat dari kayu.
    Hipere: Ubi jalar
    Tirubug: Daun singkong
    Nahampun: Labu parang
    Towabug: Jagung
    Barugum: Buah merah
    Enak ka?: Enakkah?/ Enak tidak?


    Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Barapen” Karya Zakiyah Sabdosih (FAM Malang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top