• Info Terkini

    Thursday, September 6, 2012

    Ulasan Cerpen “Dede Hidayahku” Karya Elis Nuryani (Tasikmalaya)

    Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas cerpen berjudul “Dede Hidayahku” karya Elis Nuryani, anggota FAM Tasikmalaya.

    Dari sisi isi (content), cerpen ini menarik sebab ada hikmah yang didapatkan, yaitu: saat tokoh “aku” tersadar dan mau berpuasa kembali setelah kematian adiknya. Namun bila membaca secara teliti dan detail, maka tampak ada sedikit kejanggalan atau ada kejutan yang sedikit dipaksakan. Coba kita pahami dari penggalan kalimat berikut ini:

    “Sekarang buka aja ya?” tanyaku. Tapi dia tidak menjawab. Lalu perlahan kulepaskan pelukanku, tetapi adikku terkulai lemas. “Dede, bangun!” aku teriak histeris. Aku mengguncangkan tubuhnya, tapi dia terdiam tidak bereaksi. Ia sudah pergi untuk selamanya.

    Tampak bahwa tidak diungkapkan apa yang menjadi penyebab kematian Dede. Kalaulah memang karena Leukemia, pasti tidak akan meninggal dunia hanya karena puasa dan dipeluk. Logika sederhana yang terlalu dipaksakan justru menjadikan cerpen ini kualitasnya berkurang.

    Dari sisi bahasa, cerpen ini menggunakan diksi yang sederhana dan mudah dipahami. Banyak sekali bahasa prokem yang muncul di cerpen ini, seperti: lagi dapat, yu, uda mau imsak, wangi banget, dede ga mau kak, masih kuat kok, dsb.

    Bila dikaji dari sisi EYD, terlihat masih banyak sekali penulisan kata, frase, kalimat, yang belum sesuai dengan kaidah EYD, seperti:

    bertannya (yang benar: bertanya)
    baik laki-laki “atau pun” perempuan (yang benar: baik… “maupun”…)
    Lagi dapat (yang benar: sedang haid)
    “Kak Ana, kata ibu sahur dulu. Uda mau Imsak!” (yang benar: “Kak Ana, ibu menasihati agar Kakak bersahur terlebih dahulu, karena waktu imsak hampir tiba.”)
    dipagi (yang benar: “di pagi”)
    Mendengar jawaban polos dari anak sekecil itu hatiku terenyuh. (yang benar diberi tambahan koma: Mendengar jawaban polos dari anak sekecil itu, hatiku terenyuh).

    Dengan alur cerita yang begitu sederhana, cerpen ini menarik dibaca sebab mudah dipahami. Alangkah baik bila lebih dikembangkan lagi dengan ditambahkan alur, plot, setting, dan lain sebagainya sehingga lebih kaya makna dan lebih bernuansa.

    Salam santun, salam berkarya!
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH ASLI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Dede Hidayahku
    Oleh Elis Nuryani

    IDFAM932U Anggota FAM Tasikmalaya

    Hari ini matahari bersinar sangat terik serasa tepat berada di atas kepalaku. Badanku terasa panas, keringat membasahi tubuhku, tenggorokanku kering kerontang karena sejak pagi belum ada setetes air pun yang melewatinya. Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke kantin kampus untuk membeli sesuatu yang menyegarkan.

    “Kamu tidak puasa?” tanya Ira padaku sambil meminum jusnya. Terus kamu?” aku balik bertannya sambil merebut jus yang ia minum. “Lagi dapat” jawabnya sambil tersenyum. “Dapat malas ya?” aku melanjutkan perkataanya, Dan kamipun tertawa ringan tanpa beban. Bukan hanya kami yang mengaku muslim tapi tidak berpuasa. Buktinya teman-temanku baik laki-laki atau pun perempuan muslim sedang makan siang di kantin ini. Padahal bulan ini adalah bulan Ramadhan. Karena itu kami selama ini tanpa beban makan siang di sini.

    “Kak Ana, kata ibu sahur dulu. Uda mau Imsak!”. Teriak adikku sambil mengetuk pintu kamarku. “Kakak lagi dapat De” jawabku tanpa membuka mata, padahal saat itu aku sedang tidak menstruasi, tetapi hanya malas untuk melakukan itu semua. Terasa berat bagiku untuk bangun dipagi buta juga berpuasa di tengah aktivitasku yang padat. Pagi-pagi aku kerja part time di sebuah restoran depan kampus dan sorenya kuliah, atau sebaliknya.

    Hari sabtu ini aku libur kerja dan mata kuliah pun tak ada. Jadi aku hanya bermalas-malasan nonton tv di rumah. Jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Perutku mulai bernyanyi, protes untuk minta diisi. Tercium bau sedap sop ayam yang Ibu masak di dapur. “Wangi banget”. Gumamku dan terdengar oleh Ibu. “Kamu masih dapet?” tanya Ibuku. Aku mengangguk. Untuk kesekian kalinya aku berbohong. “Yasudah makan dan bujuk adikmu untuk buka sekarang!”.

     Adikku Dede baru kelas 3 SD dan ia divonis mengidap leukemia stadium awal. “De, buka sekarang yu!” pintaku pada adikku. Aku juga khawatir dengan kondisi adikku. “Dede ga mau kak, masih kuat kok.” Dia berkata sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu jangan sok kuat. Kalau kamu kambuh, kita juga yang repot!” sahutku dengan agak ketus. “Dede takut Kak.Tahun depan belum tentu Dede dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.Dede takut tidak sempat mengumpulkan amal dan pahala. Takut masuk neraka!” adikku menjawab sambil terisak. Mendengar jawaban polos dari anak sekecil itu hatiku terenyuh. Lalu aku memeluknya sambil berbisik “Kamu pasti bisa bertemu lagi De, jangan sedih begitu ya. Sekarang buka aja ya?” tanyaku. Tapi dia tidak menjawab. Lalu perlahan kulepaskan pelukanku, tetapi adikku terkulai lemas. “Dede, bangun!” aku teriak histeris. Aku mengguncangkan tubuhnya, tapi dia terdiam tidak bereaksi. Ia sudah pergi untuk selamanya.

    Sejak kejadian itu aku tidak pernah meninggalkan kewajibanku untuk berpuasa. Umur tidak ada yang tahu. Dan aku tidak mau menyesal di akhir waktuku.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

    ARTIKEL TERKAIT:

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Dede Hidayahku” Karya Elis Nuryani (Tasikmalaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top