• Info Terkini

    Thursday, September 27, 2012

    Ulasan Cerpen “Dimadu” Karya Siti Nurhayati Musyarofah (FAM Klaten)

    Bu Alya adalah seorang istri yang gemar sekali pergi ke dukun untuk meminta ‘pelaris’ dan kesuksesan. Mbah Karmo adalah dukun langganannya. Pak Hanan, suaminya sudah berkali-kali mengingatkan istrinya agar jangan menyekutukan Allah, tapi Bu Alya tetap pada prinsipnya dan berkata, “Bukankah dengan saya ke Mbah Karmo dagangan kita semakin laris? Bapak juga rezekinya semakin lancer? Ingat.... ingat Pak!” kata Bu Alya.

    Pak Hanan gagal mengingatkan istrinya dan berkonsultasi pada teman karibnya, Pak Ilyas. Oleh Pak Ilyas, Pak Hanan dianjurkan untuk menikah sirri dan Pak Hanan setuju. Maka diam-diam Pak Hanan menikah dengan Fitria, teman Pak Ilyas. Walau hubungan itu disembunyikan, akhirnya Bu Alya tahu juga. Bu Alya marah besar dan minta berpisah, walaupun sebenarnya Pak Hanan tidak ingin menceraikan istrinya.

    Cerpen yang benar-benar pendek ini ditutup dengan kalimat: Sekarang bu Alya bisa merasakan bagaimana rasanya hidu (maksudnya hidup, ada kesalahan pengetikan)  dimadu, sama dengan Alloh, Alloh akan cemburu, murka jika dipersekutukan dengan yang lain, apalagi sekelas dengan mbah Karmo.

    Cerpen yang diberi judul “Dimadu” ini adalah cerpen pembelajaran dan memiliki nilai pembelajaran yang besar bagi pembaca dan membuat kita tersentak. Fokus cerpen ini sebenarnya bukan dimadu biasa, tetapi memberikan informasi bagaimana rasanya bila seorang wanita dimadu. Muncul perasaan cemburu, benci, kesal, dan sebagainya. Jika disandarkan kepada perilaku manusia yang mensyarikatkan Allah, itu adalah perumpamaan, walau tentu saja Allah tidak sama dengan manusia atau makhluk yang diciptakan-Nya.

    Sementara kekurangan pada cerpen ini adalah pada penulisan opening, padahal pembukaan tulisan itu sangat menentukan keingintahuan pembaca kelanjutan dari sebuah cerita. Pembukaan di sini terkesan kacau, didapati juga penggunaan tanda kutip, padahal itu sebenarnya bukanlah dialog.

    Selain itu, penulis kurang hati-hati menggunakan spasi, huruf kapital dan tanda baca. Untuk penulisan “Alloh”, sebaiknya ditulis “Allah” dan “besuk” adalah “besok”. Seperti kutipan berikut:

    “ Insya Alloh besuk saya kenalkan dengan teman saya pak!”kata pak Ilyas. (Perhatikan penulisannya—FAM)

    Yang paling penting dari itu semua adalah, gunakan EYD pada setiap penulisan. Ide cerita yang baik tentu juga harus didukung oleh penulisan yang baik pula.

    Oke, penulis cerpen “Dimadu”, teruslah berkarya, gali terus ide-ide cerita menarik di sekitar kita.

    Salam karya, salam santun, tetap semangat!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    DIMADU

    Hari kamis adalah hari yang dipuja-puja bu Alya sebagai hari yang sakral dimana bu Alya selalu datang ke tempat mbah Karmo untuk meminta kembang setaman sebagai aji-aji penglarisan.

    “Angin menyapu ombak, awan pun terlihat gelap, mewarnai malam hari kamis.

    “Bu alya menatap ombak di tepi pantai.”sesekali tangannya mengusap pipinya yang terkena airmata.

    “Benar kata suamiku begini rasanya dimadu.”kata bu Alya dalam hati.

    “ Sakit rasanya hati ini.”tambahnya dalam hati.

    Teringat bu Alya akan kata-kata suaminya di masa yang silam.

    “Bu sebaiknya kamu ini berhenti dari mempersekutukan Alloh.” Kata pak Hanan suaminya.

    “Bapak ini bicara apa?”kata bu Alya.

    “Semua yang Aku lakukan ini kan demi masa depan kita?”kata bu Alya.

    “Iya tapi semua itu kan membuat Alloh murka?Alloh tidak suka dengan hal seperti itu.kata pak Hanan

    “Masya Alloh, ampunilah perbuatan istriku.desah pak Hanan sambil mengangkat kedua tangannya.

    “Bukankah dengan saya ke mbah Karmo dagangan kita semakin laris?bapak juga rejekinya semakin lancar?ingat..ingat pak!”sentak bu Alya.

    “Tapi perbuatanmu itu dilarang Alloh! Kata pak Hanan.

    “Ah tidak peduli itu semua,yang penting kita hidup bahagia dengan rejeki melimpah.” Kata bu Alya.

    “Yach terserah Ibu saja kalo memang Ibu bersikeras seperti itu saya tidak bias berbuat apa-apa.”kata pak Hanan.

    Seminggu kemudian bu Alya pergi ke rumah mbah Karmo untuk minta kembang setaman.

    “Kulo nuwun mbah,..!”seru bu Alya

    “Monggo…silakan masuk nduk!!!”saut mbah Karmo.

    “Begini mbah…saya mau minta kembang setaman untuk aji-aji penglarisan.”tambah bu Alya.

    “Ya nduk…tunggu sebentar saya buatkan.”seru mbah Karmo

    Kemudian mbah karmo mengambil kembang setaman untuk diberi aji-aji penglarisan.

    Mbah Karmo dengan duduk bersila komat-kamit merapalkan mantra sambil sesekali matanya melirik ke arah bu Alya. Akhirnya selesailah dia merapalkan mantra-mantra. Kemudian mbah Karmo mendekati bu Alya sambil berkata,

    “Nduk ini kembang setamannya mudah-mudahan ya nduk hidupmu lebih bahagia, daganganmu lebih laris,dan suamimu lebih mencintaimu.mbah Karmo memberi semangat.

    “Ya mbah,”bu Alya tampak semangat

    Dengan membawa kembang setaman bu Alya pulang dengan wajah-wajah berseri-seri.

    Sementara di lain tempat pak Hanan bertandang ke rumah pak Ilyas teman karibnya tentang kondisi rumah tangganya saat ini. Kemudian pak Ilyas memberi solusi agar pak Hanan menikah sirri. Akhirnya pak Hanan menyetujui usul pak Ilyas.

    “Yah saya bersedia untuk menikah lagi tapi saya pengin ta’aruf dulu dengan calon saya.”kata pak Hanan

    “Insya Alloh besuk saya kenalkan dengan teman saya pak!”kata pak Ilyas.

    Sebulan kemudian pak Hanan akan menikah sirri dengan Fitria teman sekantor pak Ilyas tanpa sepengetahuan bu Alya.

    Lama-kelamaan bu Alya mengetahui hubungan  pak Hanan dengan Fitria.

    “Dasar laki-laki hidung belang tidak setia. Ngakunya alim tapi ternyata…kalo begitu mulai saat ini kita berpisah saja.

    “Saya hanya pengin poligami,tidak akan menceraikan kamu bu…

    “Tidak..pokoknya tidak…”kata bu Alya geram

    Keadaan semakin runcing,akhirnya pak Hanan melepas bu Alya .

    “Baik saya akan menceraikan Ibu karena Ibu sudah tidak bisa diajak ke jalan yang benar.na’uzubillah.”bentak pak Hanan.

    Sekarang bu Alya bisa merasakan bagaimana rasanya hidu dimadu, sama dengan Alloh, Alloh  akan cemburu,murka jika dipersekutukan dengan yang lain, apalagi sekelas dengan mbah Karmo.


    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi, diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Dimadu” Karya Siti Nurhayati Musyarofah (FAM Klaten) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top