• Info Terkini

    Friday, September 28, 2012

    Ulasan Cerpen “Kata Orang” Karya Izza Fikri Yuslikhah (FAM Malang)

    Cerpen ini berupa cerita yang menggambarkan perjalanan spiritual tokoh aku dalam menjalani kehidupan yang lebih baik setelah sebelumnya berada di dunia kelam kejahatan. Banyaknya kejahatan yang dia lakukan membuat orang meragukan pertaubatan yang dilakukan tokoh aku.

    Tetapi tokoh aku terus berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Upaya tokoh aku berhasil menemukan guru mengaji seorang janda yang rela membimbingnya. Tokoh aku terpaut 35 tahun lebih muda dari usia janda itu. Berbagai perintah sang guru dipatuhinya walaupun pada awalnya terasa berat.
    Tokoh aku terus mengabdi kepada guru itu, hingga muridnya berkembang dari lima orang saja menjadi lima ratus. Sampai guru mengaji itu meninggal dunia dan meninggalkan lima ratus muridnya, maka tokoh akulah yang kemudian mengurusi 500 muridnya itu.

    Di akhir cerita, penulis menggambarkan bahwa janda tua guru mengaji itu ternyata ibu dari tokoh aku. Walaupun tokoh aku terlambat mengetahuinya, tetapi dia bahagia karena sudah mengabdi kepadanya dan akan terus melanjutkan pengabdiannya karena Allah, tidak peduli pandangan miring orang-orang tentang masa lalunya.

    Penulis menggambarkan begitu beratnya perjalanan menuju kebaikan yang dialami oleh seorang mantan penjahat ulung. Sulit orang menerima dan mempercayai pertaubatan, sampai akhirnya tokoh aku menanamkan sikap positif, tidak peduli pandangan negatif orang-orang tetapi ikhlas karena Allah menjalankan yang diyakininya benar.

    Daris segi penulisan, Penulis menyajikan tulisan cukup rapi dan teliti. Hal ini ditandai dengan minimnya kesalahan penulisan.

    Kesalahan EYD terdapat pada penulisan kata setelah kata depan “di” dan “ke” seperti pada contoh: “dimana-mana” seharusnya “di mana-mana” atau pada kata “kedalam” seharusnya “ke dalam.” 

    Secara umum cerpen ini sudah cukup baik, dan teruslah berkarya. Salam santun.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Kata Orang
    Oleh Izza Fikri Yuslikhah

    IDFAM937M Anggota FAM Malang

    Bergeming dalam lantunan ayat bertautan seraya menggenggam hati dan nurani lebih erat. Menapaki firman demi firman yang sarat akan pedoman yang sudah mulai kulupa. Menjadi bagian dari kehidupan seperti menjadi bagian dari setiap cerita yang tergambar oleh setiap hukum yang berlaku dalam kitab suci. Hening, namun mengisi diam-diam. Menyelami kesunyian dan kealpaan sebagai makhluk yang gampang dosa. Mungkin saja terlalu naif jika berkata kita hamba-Nya, sementara masih ada penghianatan dimana-mana. Masih ada dendam merajalela. Masih ada keangkuhan dan amarah kita. Mungkin saja cukup lah kita disebut sebagai makhluk yang memang gampang lupa. Makhluk yang memang gampang berkelakar dengan nista. Setelahnya bisakah sang nista kembali mereguk kedamaian dengan satu kata? Taubat.

    Kata orang, bertaubat adalah suatu kesaksian. Jika terbukti dengan bertaubat kita merubah segalanya, sirna sudah prasangka. Kata orang, bertaubat adalah suatu syarat. Syarat orang buruk bisa dianggap sedikit baik atau bahkan jadi jauh lebih baik. Syarat orang payah bisa dianggap sedikit sejahtera. Syarat – syarat yang sengaja dibuat orang-orang. Padahal, bukan orang-orang yang menilai pahala untuk pahala dan dosa untuk dosa. Tetap saja, orang seburuk aku...kata orang-orang akan percuma untuk bertaubat.

    Aku pernah akan membunuh. Akan membunuh seorang gadis kecil yang terang-terangan berteriak saat melihat mayat ibunya yang sebelumnya juga berteriak karena hartanya kurampas secara paksa. Aku hanya membunuh ibunya. Sehingga belum sempat aku bunuh anak gadisnya. Sekali lagi, aku hanya akan membunuhnya. Aku belum membunuhnya. Kata orang, tetap saja aku ini pembunuh. Hanya karena sebelumnya aku pernah membunuh satu keluarga yang melawan saat hartanya juga akan kurampas. Sudah dikatakan pembunuh, hanya karena sebelumnya lagi aku telah membunuh hati banyak orang. Menyakiti jiwa banyak orang, hingga mereka semua memutuskan memang akulah pembunuhnya. Maka dari itu, kata orang – orang percuma saja aku bertaubat.

    Padahal sebenarnya, aku pernah lebih dari membunuh. Kuambil bagian yang bukan bagianku. Kurusak segala ciptaan yang kusukai. Kuhancurkan, kuporak-porandakan tinggal  hanya berpuing dan setelah itu aku tak pernah akan bertanggung jawab. Sungguh, aku ini seorang pendosa ulung. Jika saja ku mohonkan langit dan bumi untuk memaafkan mungkinpun mereka enggan sekedar menoleh padaku.

    Kata orang-orang. Pak ustadz bahkan Kyai dan ulama’ besar akan bergeleng mendengar penjelasanku. Penjelasan jiwa nista. Jiwa dengan dosa. Jiwa dengan noda dimana-mana. Jiwa dengan lubang yang terlanjur lebar tak berujung.

    Kata orang-orang. Malaikatpun akan berdebat panjang akan pertaubatanku. Kata mereka bertaubat yang sebenarnya tidak kulakukan sekarang. Saat aku sudah mulai lelah berjejal dengan kehidupan dunia. Saat tubuhku yang dulu angkuh dengan sergap menikam setiap orang yang kubenci dengan mudah, kini ringkis oleh dendamku sendiri.

    Kata orang-orang.  Memang. Tapi aku tak ingin dengar kata mereka lagi. Kata mereka hanya akan membuat semangatku luntur. Kata mereka hanya akan membuat jiwaku hancur. Jadi mulai sekarang aku hanya ingin dengar firman Tuhan dan orang-orang yang hanya berjuang ikhlas karena Tuhan. Tak ada satupun yang berhak bilang Iya atau Tidak mengenai urusan pahala dan dosa selain ‘Tuhan’.

    Aku pernah dengar kata seseorang berbincang dengan murid kecilnya yang hanya berjumlah lima orang. “Allah akan mengampuni dosa seseorang jika dia bersungguh-sungguh bertaubat meskipun dosanya layaknya bilangan debu pasir yang jumlahnya tidak terhitung oleh kita”. Seorang janda yang 35 tahun lebih tua dariku itu kata-katanya lebih meneguhkanku daripada kata orang-orang.

    Asal orang-orang tau saja. Wanita itu juga mengajarkan pada murid-muridnya untuk tidak suka terlalu mendengar kata orang-orang, jangan suka ghibah katanya. Jadi aku ingin belajar padanya bertaubat. Tetapi katanya, hanya aku yang bisa menentukan keberhasilan taubatku. Asal aku tidak mengulangi lagi dan menjadi pribadi jauh lebih baik, dia membantuku dengan ikhlas.

    Maka kali ini akan kudengarkan kata-kata seseorang yang ikhlas karena Tuhan ini. Aku jelaskan semua yang kulakukan. Ada kerut wajah takut sekilas melintas di kelopak matanya. Mungkin seperti yang lainnya, diapun akan berputus asa. Sejenak setelahnya, dia tersenyum. Lalu menyuruhku berkata, “astaghfirullahaladzim” sebanyak tiga kali. Tanpa berkata-kata dia tetap tersenyum. Lalu dia mengisyaratkan agar aku tetap membaca bacaan tadi sebanyak-banyaknya. Sembari tetap tersenyum dia masuk kedalam rumah kecilnya dan tidak muncul selama lebih dari 12 jam. Setelahnya dia pun tersenyum sambil mengisyaratkan agar aku tetap membaca bacaan itu lagi. Aku mengulanginya, sampai berbusa sampai aku menangis dibuatnya, sampai kurasa ada sesuatu hal yang menyesak dijiwaku karena mengingat betapa tega aku menyiksa orang lain. Seperti yang saat ini orang yang baru saja kukenal ini menyuruhku dan membiarkanku dengan tega. Padahal dia tidak membunuhku. Padahal dia hanya menyuruhku membaca, berkata-kata. Aku melanjutkan membaca sampai aku tertidur dan esoknya sudah menjadi terlampau siang untuk sebuah pagi.

    “Apakah kau akan mengeluh anak muda? Bukankah perbuatanmu jauh lebih kejam dari sekedar membaca istigfar? Bangunlah! Bagaimanapun Allah akan mengampunimu. Ambillah air wudlu semoga kau masih ingat caranya bersembahyang , nanti akan kuajarkan sholat taubat”. Kemudian dia baru berkata-kata setelah aku kelelahan karena sehari semalam hanya beristighfar tanpa makan, tanpa meminum kopi dan menghisap rokok.

    Aku mengiyakan. Aku tidak berani berkata kalau aku binggung antara tidak tau atau lupa bagaimana cara wudhu. Maka kubasuh saja semua, hingga basah kuyup seluruh badan. Setelahnya kembali, dia kemudian kembali tersenyum. “alhamdulillah kalau kamu mandi janabat juga”. Padahal aku tak tau maksudnya. Maka sambil mengusap wajah dengan handuk pemberiannya aku memasuki musholla pertama kali setelah bertahun-tahun hanya lewat untuk sekedar meludahinya.

    “Kau sudah siap?” aku menjawabnya dengan anggukan dengan keyakinan.

    Lalu dia mengajarkanku cara berniat sholat. Gerakan-gerakan sholat yang baru aku ingat kalau namanya takbir, rukuk, sujud, i’tidal, dan lain-lain. Segera setelahnya, aku disuruh berdo’a. Berdo’a dengan bahasa yang sesuai keinginan hatiku saja. Meminta kepada Allah saja. Menurutnya, dia hanya membantuku bukan dia yang mengabulkan permohonanku. Maka dengan memelas dan menangis pada Allah aku memohon diampuni dan diterima taubatku. Berkali-kali aku meminta dan tidak dijawab oleh Allah. Hingga tak kusadari bahwa janda wanita yang kuketahui namanya Aisyah ini sudah lenyap dari sampingku. Entah berapa lama aku berdo’a. Aku lupa mengingatnya. Hingga saat aku hendak bertanya apakah do’aku sudah terjawab atau tidak kulihat keadaan sekitar sudah petang.

    Tidak ada jam dinding di musholla kecil itu. Aku harus berkeliling untuk melihat waktu. Pos ronda terdekat punya jam dinding dan saat akan bertanya orang-orang malah mengacungkan pentung pemukul ke arahku. Aku berlari sampai kuketahui hari sudah pagi kembali. Aku kelelahan di depan rumah janda wanita itu dan bertanya jam berapa saat itu. Dia hanya tersenyum. “Apakah kau sekarang akan mengeluh anak muda? Hingga kau bertanya berapa lama waktumu memohon ampun pada Allah. Padahal kau tidak pernah mengingat-Nya selama bertahun-tahun. Apakah kau ingin segera diampuni hingga kau akan bertanya seberapa jauh Allah menjawab do’amu. Ikutlah denganku”. Aku terdiam saja. Aku mengikutinya sekarang.

    Di sebuah kebun kecil di belakang rumah janda wanita ini terdapat tumbuhan singkong dan ketela ungu. Kelihatannya sudah saatnya dipanen. Saat itu pula dia berkata, “Panenlah, nanti kuberitahu apa yang akan kau lakukan lagi”. Aku segera memanennya dan berharap mungkin saja dia tau aku sedang kelaparan karena belum makan hampir dua hari. Segera setelah semua telah usai kupanen. Aku menyetorkan padanya. Kembali dia tersenyum. Lalu berkata, “Ambillah dua biji sebagai ganti dua hari kamu tidak makan. Sedang lainnya berikan kepada orang-orang yang telah kamu aniaya dan keluarganya meminta-maaflah kepada mereka sebagaimana kamu meminta-maaf kepada yang menciptakanmu”. Lalu aku kali ini akan menolak. Aku berkata padanya, “Bagaimana mungkin? Mereka adalah orang-orang yang selalu berkata bahwa taubatku tidak akan dterima. Mereka pasti akan memutuskan harapanku saat aku sudah berusaha”. Namun, dia kembali tersenyum dan berkata, “Katakanlah ini kepada mereka jika kamu orang yang percaya pada Allah : Allah akan mengabulkan do’a orang yang teraniaya dan menerima taubatnya orang yang bersungguh-sungguh meskipun telah membunuh 99 orang dan akan membunuh ke 100 kalinya. Jika Allah menghendakinya Allah akan sediakan pahala yang maha luas bagi mereka yang mau bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik”. Maka akan senyuman dan perkataanya yang menentramkan hatiku aku berangkat membawanya kepada orang-orang yang pernah berkata-kata kepadaku. Dari pagi hingga petang hingga kembali pagi lagi dan kukatakan kepada masing-masingnya tentang perkataan olehnya wanita janda itu.

    Lalu setelahnya, aku kembali untuk menanyakan apalagi yang harus kulakukan. Tetapi wanita janda itu tersenyum dan berkata, “Bertashbihlah dan pujilah nama Allah, karena Allah menerima taubat atas kebaikan dan keikhlasanmu asalkan kau terus berusaha menjadi orang yang baik, setelahnya kau boleh belajar bersama lima muridku lainnya disini. Hingga kau bisa memperolah ilmu agama secara baik dan benar.”

    Aku mengabdi kepadanya sampai suatu saat ajal datang kepada sang wanita janda itu. Aku ikut bersedih karenanya. Tapi dia tersenyum dan mengajarkanku untuk ikhlas akan apapun yang terjadi. Saat ini. Aku sudah mendalami ilmu agama yang disampaikannya. Lima muridnya bertambah menjadi lima ratus muridnya. Untuk membantunya aku menyiapkan segala keperluan. Padepokan ini sudah menjadi pesantren lengkap dengan segala keperluannya. Sebelum meninggalkan kami beliau memintaku untuk mengajar ke-lima ratus muridnya. Atas kepercayaan beliau aku ikhlas menjalaninya. Setelahnya, orang-orang yang berkata-kata tak pernah lagi menyuarakan kata-katanya. Mereka hanya percaya bahwa anak mereka akan terdidik  dalam pengawasan dan pendidikan secara ikhlas dari kami.

    Kelak kuketahui bahwa wanita janda itu adalah ibuku sendiri yang sudah lama diceraikan ayahku yang mantan mafia dan pejudi yang menularkan bakatnya pada anak satu-satunya ini. Kelak aku tidak menyesal karena aku sempat mengabdi untuk beliau meski terlalu telat aku mengetahuinya. Kelak akan kuteruskan pengabdianku untuk menjadikan setiap santri yang ada disini menjadi santri yang ikhlas menjalankan kehidupannya disini karena Allah saja bukan karena, kata orang-orang.


    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi, bersumber dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Kata Orang” Karya Izza Fikri Yuslikhah (FAM Malang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top