• Info Terkini

    Friday, September 7, 2012

    Ulasan Cerpen “Kemenangan yang Dinantikan” Karya Zuifa Sanashalaufa (Bandung)

    Sahabat FAM, kali ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah cerpen berjudul “Kemenangan yang Dinantikan”, karya sahabat kita Zuifa Sanashalaufa, anggota FAM Bandung, Jawa Barat.

    Cerpen ini begitu kaya makna. Ada sisi religius, ada pertarungan idealisme, ada pergulatan batin, ada nyanyian jiwa. Memang begitulah kehidupan. Begitu kaya. Begitu bernuansa. Memang ada sisi hitam, ada sisi putih, namun kita perlu waspada bila kita sedang memasuki fase abu-abu.

    Sosok Ayah yang dilukiskan dengan begitu sempurna serta sosok Bunda yang begitu setia dapat dirasakan di dalam cerpen ini. Sempurnanya tokoh Ayah dapat dirasakan melalui kalimat berikut ini:

    … dia memang selalu memanjakan aku, istrinya.

    Betapa sempurnanya sosok Ayah, sehingga Bunda enggan bila harus kehilangan dirinya. Hal ini juga tercermin pada kalimat berikut ini:

    Aku tidak mampu menafsirkan betapa berharganya dia di sisiku, selamanya.

    Namun sayangnya, sosok Bunda belum mampu menempatkan cinta yang seharusnya bertahta di hatinya. Idealnya, cinta yang melekat di hatinya hanyalah cinta Allah semata, namun ternyata cinta suaminya masih juga menguasai hatinya. Ini dapat kita rasakan dari cuplikan kalimat berikut ini:

    Aku tak tahu apakah Engkau ataukah dia yang berada dekat di sisi jiwaku...

    Keindahan cerpen ini tentunya dapat ditingkatkan lagi, mengingat ada kejanggalan bahasa, antara lain pada penggunaan konjungsi “dan” di awal kalimat, seperti yang tertulis pada kalimat berikut ini:

    Dan kakak yakin Lubna bisa melewatinya...
    Dan mengatakan diam-diam, kelak suamiku tidak boleh seperti dia…
    Dan tatapan pacarku Ali yang dua hari kemarin memberikan hadiah sepatu yang saat ini kupakai...
    Dan setidaknya dengan menikah beban Bapak dan Ibu berkurang…

    Kemudian, penggunaan kata “jika”, seharusnya diikuti dengan “maka”, namun penulis belum menggunakan “maka” pada kalimat berikut ini:

    “Jika kamu menikah, dengan siapa aku harus melewati semuanya?”

    Tentang pemenggalan kata, dijumpai kesalahan pada penulisan frase InsyaAllah, yang seharusnya dipisahkan atau diberi spasi sebagai pemisah.

    Berbicara tentang EYD, maka di cerpen ini ditemukan beberapa kesalahan, seperti:

    …membelikannnya, seharusnya “membelikannya”.
    …perguruann, seharusnya “perguruan”.
    “Menginjak sembilan bulan, seharusnya “memasuki usia sembilan bulan”.
    …sang gubernur, seharusnya “sang Gubernur”.
    Mirabilis jalapa, seharusnya dicetak miring.

    Ada hal menarik lainnya di dalam cerpen ini, yaitu saat penulis berupaya memadukan antara puisi dengan cerpen. Ini boleh saja dilakukan, asalkan bersifat saling menguatkan. Namun adakalanya penulis tampaknya belum sepenuh hati dan belum tepat di dalam mengungkapkan suasana secara detail sehingga yang terjadi adalah pemborosan kata/kalimat, seperti terlihat di dalam contoh berikut ini:

    …Aku membalasnya dengan sigap, dan segera kutemui tubuhnya depan ruangan aula. Kemudian, pohon cemara yang terayun saling sigap menyapa burung gereja yang bertengger di dahannya. Kak Ali, entahlah!...

    Di dalam cerpen ini, penulis juga berusaha memadukan gaya bahasa sastrawi, estetika, dipadukan dengan filosofi dan logika, namun sayangnya terkadang terpeleset, dan menghasilkan makna yang ambigu atau minimal sulit dimengerti, misalnya:

    1. Bunga Mirabilis jalapa kering menempel di tepi kertasnya, juga air mataku yang kusembunyikan tetes-menetes di atasnya.

    2. Dan bisa bersaing dalam hal apapun, tentunya prestasi.

    3. Aku sebagian kecil anak remaja yang broken home.

    4. Dengan membawa perasaan hancur lebur mereka pergi bekerja sebagai TKI.

    5. Ibuku yang selalu menjerit dan memukul bapak ketika menyiksa anak-anaknya.

    6. Bagiku, juga Aira yang sering maju tampil ke depan, adalah air mata kesedihan di saat-saat seperti ini.

    7. Dua bulan sudah kulangsungkan pernikahan dengannya, perasaan bahagia nan amat menyenangkan ini adalah laki-laki yang telah dianugrahkan kepadaku.

    8. Suamiku orang yang paling bahagia, setiap hari memanjakan dan menjagaku dengan sosoknya yang lembut.

    9. Kutanyakan apa penyebabnya, dokter itu entah kenapa sampai saat ini tidak memberi penjelasan.

    Tentunya dengan terus berlatih dan banyak membaca, niscaya karya cerpen ini dapat ditingkatkan lagi kualitasnya. Tetaplah semangat.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH CERPEN YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    KEMENANGAN YANG DINANTIKAN
    Oleh Zuifa Sanashalaufa

    IDFAM922U Anggota FAM Bandung

    Suamiku masih bertahan menemaniku hari demi hari. Dia sosok lelaki yang mencintaiku apa adanya. Malam ini petikan gitar terus mengalun lembut, dia memang selalu memanjakan aku, istrinya. Setiap malam sebelum menjelang tidur, dengan suaranya yang teduh dia menyanyikan untukku beberapa lagu. Seperti saat ini, dia menyanyikan lagu ‘Rumahku Surgaku’.

    “Bunda lagi apa? Serius sekali. Dengerin ayah nyanyi, nggak?”

    “Iya dong, yah. Bunda sedang melihat sertifikat prestasi waktu di sekolah.” Aku memperlihatkannya kepada suamiku. Mengingatkan betapa hari-hari itu sungguh menyedihkan.

    “Istri ayah memang pintar. Kalau bunda mau sekolah lagi ayah setuju, kok. Pasti mudah mendapatkan beasiswa seperti Aira. Apalagi bunda selalu juara umum waktu di sekolah,”

    “Ayah, bunda bersyukur sekali qyah menyetujuinya. Tapi, bunda juga sayang ayah. Tidak ingin memberi beban terlalu banyak. InsyaAllah, bunda senang menjadi ibu rumah tangga untuk ayah.” Ucapku menenangkan hatinya, seperti memiliki perasaan bersalah karena menikahiku sesaat setelah kelulusan di SMA.

    “Ayah tidak salah memilih bunda. Ayah bersyukur sekali, Ayah harap bunda mencintai ayah apa adanya. Ayo bunda mau request lagu apa?” suamiku menggoda sambil nyengir.

    “Adalah Engkau, Yah. Enak lagunya.” Suamiku mulai melantunkan lagu nostalgia saat dia menghibur hari-hariku waktu itu. Perlahan kubuka buku ‘Tazkiyatun Nafs’ hadiah darinya berharap ada banyak nama indah untuk calon anakku yang terus menendang rahimku. Di halaman terakhir tertanda suamiku dengan polesan tinta hitam sedikit luntur. Bunga Mirabilis jalapa1 kering menempel di tepi kertasnya, juga air mataku yang kusembunyikan tetes-menetes di atasnya. Aku tidak mampu menafsirkan betapa berharganya dia di sisiku, selamanya.

    Si Bintang Penerang...
    Separuh waktu dari hari dimana aku mengingat-Mu, tak banyak memang..
    Tak seperti waktu dimana aku mengingatmu.
    Aku dan engkau telah begitu dekat,
    bahkan hampir melebihi dekatnya aku dengan-Mu.
    Aku tak tahu apakah Engkau ataukah dia yang berada dekat di sisi jiwaku...
    Tapi, Engkau jauh lebih tahu akan diriku dibanding dia,
    Dan Engkau pun telah berikan segalanya dan apa yang tak mampu dia berikan.
    Tapi, separuh waktu dari hari, ingin juga kucurahkan untuknya,
    untuk dia yang sama juga Engkau dekati.
    Pada-Mu kumohon jangan pisahkan aku dan dia, padamu kumohon...

    ***

    Rumah kontrakan ini tidak terlalu luas. Cukup untuk empat orang. Aku, adikku Ulfa dan Ikal, juga saudara kembarku Aira. Aira satu tahun lebih awal masuk sekolah di SMA-ku. Tepatnya dia kakak kelasku, padahal dulu saat di SMP aku dan dia satu kelas. Dan bisa bersaing dalam hal apapun, tentunya prestasi. Aku sekolah di Sekolah Menengah Pertanian Atas dengan jurusan Penyuluhan, sedangkan Aira memilih jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jadi, cocok sekali dengan lahan yang agak luas di belakang kontrakan, bisa dipergunakan untuk menanam berbagai macam bunga.

    Aku sebagian kecil anak remaja yang broken home. Orangtuaku sudah hampir tiga tahun bercerai. Mereka pergi meninggalkanku, juga kakak dan adikku-adikku. Dengan membawa perasaan hancur lebur mereka pergi bekerja sebagai TKI. Hancur rasanya menerima kenyataan seperti itu. Tetapi, aku selalu berusaha tegar dan kuat ketika ibu yang sejak kecil membimbingku, selalu lirih berkata, ‘Berjuanglah! Allah menciptakan saudara kembar untuk saling menguatkan. Jadikan dia sayap kananmu, yang akan melindungi sayap kirimu ketika terbang tinggi’. Itulah kata-kata penawar lukaku bertahun-tahun mengalami perlakuan tidak adil –menurutku sebagai seorang anak. Melihat di masa lalu yang sungguh membuatku trauma sepanjang waktu. Menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran hari ke hari. Ibuku yang selalu menjerit dan memukul bapak ketika menyiksa anak-anaknya. Ibuku yang selalu menangis memohon untuk menghentikan sundutan rokok panas ke kulit kaki dan tangan anak-anaknya. Ibuku yang terus berteriak minta tolong agar menghentikan perlakuan bapak menyeret adikku saat itu. Ibuku yang tersungkur sambil bersujud untuk menghentikan bapak yang selalu menghabiskan air bak dan mengguyurnya ke adikku. Aku tahu, di sisi lain bapak yang membelikanku baju bagus, bapak membelikanku sepatu baru, bapak membelikanku tas sekolah, bapak memasak untukku dan bapak pulalah yang pernah mencuci bajuku. Tapi, bagiku semua itu pupus sudah. Aku bahkan tak pernah bermimpi memiliki suami seperti bapakku. Dan mengatakan diam-diam, kelak suamiku tidak boleh seperti dia.

    Meskipun begitu, aku tetap ingin menjadi anak berbakti. Itu kubuktikan dengan prestasi di sekolah. Seperti hari ini saat aku berdiri di atas podium untuk menerima hadiah sebagai juara umum tingkat Jawa Barat. Semua mata menujuku saat guru-guruku dan sang gubernur memberi piagam penghargaan untuk kelulusan terbaikku. Dua tatapan mata itu membuatku terharu, tatapan Aira yang selama ini menemani perjalananku. Dan tatapan pacarku Ali yang dua hari kemarin memberikan hadiah sepatu yang saat ini kupakai.

    Ada sedikit kekecewaan. Bertahun-tahun bahkan belum pernah sama sekali orangtuaku hadir menyaksikan perhelatan akbar yang menurutku membanggakan. Bagiku, juga Aira yang sering maju tampil ke depan, adalah air mata kesedihan di saat-saat seperti ini.

    “Selamat Na. Kita harus kuliah!” ucap Aira tiba-tiba menuju ke arahku. “Jangan bilang mau menikah!”

    Sejenak dalam ruangan itu aku termenung setelah mendengar kata-kata Aira. Selain Aira, Kak Mai-kakak pertamaku yang sudah menjadi tulang punggung keluarga terus berusaha membujukku juga agar melanjutkan sekolah. Tapi pacarku, kak Ali? Dua tahun dia dengan sabar dan ikhlas menungguku. Dua tahun adalah waktu yang tidak lama baginya. Aku tidak bisa egois mementingkan kebahagiaanku sendiri.

    ‘Na, kakak tunggu di depan, ya’. Tiba-tiba suara pesan singkat berbunyi. Pesan singkat kubaca di layar handphone hadiah dari kak Ali. Dia sengaja membelikannnya agar mudah berkomunikasi. Aku membalasnya dengan sigap, dan segera kutemui tubuhnya depan ruangan aula. Kemudian, pohon cemara yang terayun saling sigap menyapa burung gereja yang bertengger di dahannya. Kak Ali, entahlah! Bagiku, sosok laki-laki itu itu terlalu setia dan menerimaku apa adanya. Meskipun, kehidupanku yang antah-berantah tidak sebanding dengan keluarganya yang berada. Kak Ali mengucapkan selamat dan menyerahkan bingkisan kepadaku.

    “Lubna rencana setelah ini mau kuliah?” Tiba-tiba Kak Ali menatap wajahku.

    “Aira dan kakak menyuruhku untuk melanjutkan kuliah, kak.”

    “Kalau cita-cita Lubna melanjutkan kuliah, kakak akan selalu mendukung. Asal itu pilihan terbaik. Dan kakak yakin Lubna bisa melewatinya.”

    “Tapi Lubna tidak bisa egois. Seperti tiga bulan lalu, ketika kakak membicarakan pernikahan. Lubna sudah memikirkannya. Menikah saja seperti yang kakak mau.”

    “Lubna tidak boleh begitu, harus mendengarkan kak Mai dan Aira juga. Terlebih kak Mai yang belum menikah.”

    “Tidak apa kak, biar Lubna nanti bicarakan di rumah.” Aku menyerahkan map piagam ke arahnya.“Kita menikah bulan Juli saja, kak!”

    ***

    “Aku sudah bilang dari dulu dan menasehatimu, pacaran di usia muda ujung-ujungnya menikah!” gertaknya ketika kusampaikan keinginanku untuk menikah.

    “Tapi ini pilihanku Aira. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Hubunganku dengannya sudah dua tahun. Dan setidaknya dengan menikah beban Bapak dan Ibu berkurang.”

    “Jika kamu menikah, dengan siapa aku harus melewati semuanya?”

    “Kita punya jalan masing-masing, yakinlah aku akan selalu ada Aira.” Aira berdiri di tiang pintu.

    “Kapan rencana menikah? Aku sudah menyiapkan nomor tes ujian pendaftaran masuk kuliah. Setidaknya kita coba dulu. Lusa kita berangkat ke Bandung.”

    “Tidak bisa Aira. Keinginanku kuat untuk menikah”

    “Sudah dibicarakan dengan kak Mai?”

    “Belum. Nanti bantu Lubna menjelaskan, ya,” Kulihat Aira meneruskan kembali membereskan kumpulan puisi dan cerpen di majalah dindingnya. Satu bulan lagi aku akan meninggalkan rumah kontrakan ini, dan kedua adikku akan lanjut di rumah kakak keduaku. Sedangkan Aira bersikeras akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

    ***

    Dear Diary,

    Dua bulan sudah kulangsungkan pernikahan dengannya, perasaan bahagia nan amat menyenangkan ini adalah laki-laki yang telah dianugrahkan kepadaku. Lelaki yang mencintaiku apa adanya. Lelaki yang mencintaiku dengan wajar dan sangat menyanjungku. Tapi, di sisi lain saudara kembarku menerima pukulan terberatnya. Dia terus mengirimiku pesan singkat. Berharap mengulang waktu dan menyesali kesediaannya menyerahkan lelaki yang merebut sayap kirinya. Dia sangat terpukul sekali karena tidak lolos masuk perguruan tinggi, dan memaksa ibu untuk ikut sebagai TKI. Ketika kutanyakan alasan dan membujuknya untuk tinggal di Indonesia saja, dia mengatakan telah kehilangan semua penyemangatnya, karena ibu yang akan berangkat lagi, dan tentu aku yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

    Namun, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Selang dua minggu dari itu, saudara kembarku mengirimi pesan singkat kalau tes keduanya lolos dan dia masuk perguruann tinggi yang cukup terkenal di Bogor. Kukatakan kepada Aira aku positif hamil. Aira menasehatiku agar berhati-hati dan menjaga kesehatan. Suamiku orang yang paling bahagia, setiap hari memanjakan dan menjagaku dengan sosoknya yang lembut. Tak jarang dia menyuapiku yang saat itu ngidam, mual, dan tidak nafsu makan.

    Menginjak sembilan bulan, tendangan demi tendangan dari janinku semakin keras sekali kurasakan. Aku senang meskipun harus sekali-kali meraung kesakitan. Saat itu, suamiku bekerja keras membuat nama terbaiknya. Tidak hanya suami, aku pun giat membuka buku dan Al-qur’an setiap malam. Waktu itupun tiba, seorang bayi perempuan keluar dari rahimku. Setelah pihak rumah sakit memberikan ijin pulang, aku dan suami menggendongnya perlahan. Kutatap lama bayiku. Kulitnya putih sekali dan cantik rupawan membuatku bersyukur memilikinya. Ibu dan ayah mertuaku saling berebut menggendong cucu pertamanya, juga suamiku yang senyumnya menghiasi sepanjang waktu. Tapi, rasa takutku seakan nyata. Nafasnya terengah-engah, putih kulitnya semakin pucat, menangis terus-menerus sepanjang hari. Suamiku cemas, tentu sama halnya dengan ibu dan ayah mertuaku. Segera suamiku membawa ke rumah sakit. Aku disuruh menyusul, menunggu kabar saja. Perasaan gelisah dan cemas menghantuiku berlarut-larut, kuucapkan istigfar dan takbir berkali-kali. Suamiku dengan suara parau menenangkanku untuk bersabar, di ujung telepon dia berkata lirih agar aku pergi ke rumah sakit. Anakku, tak kupercaya, dia terbaring lemah sambil terengah-engah. Dokter itu mengatakan paru-paru anakku banyak cairan, hemoglobinnya kurang, detak jantungnya berdebar sangat kencang, dan kulit putihnya pucat sekali. Kutanyakan apa penyebabnya, dokter itu entah kenapa sampai saat ini tidak memberi penjelasan.

    Melihatnya di balik kaca ruangan, dia terbaring. Ingin sekali lagi menggendongnya, tapi dokter tak memperbolehkan. Suntikan pertama, kedua, dan ketiga yang membuatku menangis sesenggukan. Kupeluk suamiku, kupegang erat seakan tak percaya. Bayiku yang baru dua hari harus menjalani ujian dan cobaan seperih itu. Dua belas jam dokter baru memperbolehkan aku melihatnya, kupegang dan kutatap matanya yang tertutup. “Bayiku, bertahanlah nak! Engkau calon bidadari syurga. Bertahanlah perempuanku, lihatlah bunda dan ayah. Bertahanlah, sayang.” Suamiku memelukku dan entah sepertinya memang Tuhan berkehendak lain. Anakku sudah tidak bernafas lagi. Segera suamiku mendatangi dokter, aku memeluknya erat dan meneteskan satu persatu air mataku ke wajahnya. Dia pergi. Anak perempuanku. Kulihat suamiku, ayah dan ibu mertuaku duduk lemas dan kemudian menghampiriku. Suamiku mengatakan “Sabar, sayang. bunda kuat dan tegar. InsyaAllah ada pengganti yang lebih baik.”

    Satu tahun berlalu. Tuhan begitu adil, dengan memberi cobaan. Dia pun akan memberikan kebahagiaan. Kabar gembira karena hamil untuk kedua kalinya. Mengingat kehamilan pertama, suamiku begitu berhati-hati menjagaku. Menyuruhku untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat. Dengan segenap usaha, dia memeriksakan ke dokter agar diketahui secara pasti kesehatan janinku. Alhamdulillah, detak jantungnya berjalan normal. Tapi, menginjak empat bulan janin itu tidak terasa seperti biasanya. Aku begitu takut dan segera melapor kepada suamiku. Suamiku segera membawaku ke rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa aku mengalami hamil mola atau hamil anggur, dimana isinya bukan janin, melainkan gelembung-gelembung mola. Kadang-kadang ada juga yang isinya gelembung mola tetapi masih ada janin. Pada keadaan ini, biasanya janin tidak bisa dipertahankan dan mengalami keguguran dan harus segera ditangani dengan melakukan kuretase. Aku tertegun, tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya suami, ibu, dan bapak mertuaku. Tapi, lagi-lagi suamiku menghiburku dengan sabar dan ikhlas. “Jika ada niat besar, pasti ada jalan. Bunda harus sabar, InsyaAllah ada pengganti yang lebih baik.” Aku tersenyum dan meyakinkan diri bahwa Allah menguji kesabaran dan kekuatanku. Satu tahun kemudian aku baru bisa hamil, karena proses kuretase yang membutuhkan waktu lama untuk masa pemulihan rahimku.

    ***

    “Bunda kok menangis, sih?!” suamiku menghentikan petikan gitarnya, lalu menghampiriku, “Baca apa sampai menangis begini?”

    “Ayah, terima kasih untuk semuanya. Bunda cinta ayah.”

    “Iya Bunda. Tapi ayah nggak mengerti, mengapa bunda tiba-tiba menangis,” dia mengambil buku ‘Tazkiyatun Nafs’ dari tanganku. Kemudian membacanya sambil tersenyum. “Sudah jangan menangis. Oh iya, ayah punya nama buat calon anak ketiga kita,”

    “Apa, Yah?”

    “Wangi Latu Mahaena untuk nama anak perempuan.”

    “Wah, cantik. Apa maknanya? Kalau laki-laki Yah?”

    “Wangi itu harum dan Latu Mahaena itu kemenangan yang dinantikan. Diambil dari nama perempuan asal Bugis terkenal karena kegigihannya. Hadiah buat jawaban semua kesabaran dan ketegaran bunda.” Ucapnya sambil menyentuh hidungku, “Kalau laki-laki masih rahasia, bunda.”

    Suara denting jam dinding mengalunkan nada-nada harmonis. Tanpa suara dan semua terasa lengang. Gemericik kolam Cyprinus carpio3 memekik sunyi. Aku membaca kembali puisi itu sesaat setelah dia mencium keningku.

    Malam ini...
    Gugusan hari yang kau bingkai seutas harap.
    Menorehkan seribu warna untuk kita renungi.
    Ada yang kelam bertabur duri,
    yang samar semu tiada arti,
    dan yang sebening embun seputih salju.
    Semua telah hiasi lembar jalan aku dan kau,
    yang hampir buta pada bintang penerang malam...
    Terlelap dibuai mimpi.

    ***

    [1] bunga pukul Sembilan
    [2] pohon coklat
    [3] ikan mas


    BACA JUGA:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Kemenangan yang Dinantikan” Karya Zuifa Sanashalaufa (Bandung) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top