• Info Terkini

    Sunday, September 30, 2012

    Ulasan Cerpen “Sarapan untuk Za” Karya Siti Khoiruniyah (FAM Kudus)

    Cerpen yang berkisah tentang kehidupan anak manusia yang begitu menyentuh hati. Bagaimana ia menjalani hidupnya di usia yang masih begitu belia, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya. Ibunya yang hanya seorang buruh cuci tega meninggalkannya pagi-pagi, sampai ia belum sempat menikmati lezatnya sarapan. Beruntunglah ada sesosok manusia berhati malaikat yang bersedia membuatkannya sarapan.

    Kisah di dalam cerpen ini mengingatkan kita kebenaran Firman Allah di dalam QS. Albaqarah (2) ayat 83:

    “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

    Ada beberapa koreksi ejaan, semiotika, sintaksis, dan EYD demi sempurnanya cerpen ini, diantaranya:

    1. “Za juga kangen Ibu. Za akan tinggal sama Ibu lagi kan?” tanyanya penuh harap.

    Sebaiknya: “Za juga merindukan Ibu. Za akan tinggal bersama Ibu lagi, kan?” tanyanya penuh harap.

    2. “Kapan-kapan main kesini lagi ya, Bu.”

    Sebaiknya: “Kapan-kapan main ke sini lagi ya, Bu.” (perhatikan pemenggalan “ke sini”, bedakan dengan “kemari”).

    3. “Selagi masih diberi napas, kami tak akan melupakan tempat ini dan juga Bu Asih. InsyaAllah kita akan dipertemukan lagi.”

    Sebaiknya: “Selagi masih diberi napas, kami takkan melupakan tempat ini dan juga Bu Asih. Insya Allah kita akan dipertemukan lagi.”
    4. “Ini ada sedikit rezeki. Buat tambah beli susu anak-anak,” ku angsurkan sebuah amplop ke arahnya.

    Sebaiknya: “Ini ada sedikit rezeki. Sekadar tambahan membeli susu untuk anak-anak,” kuangsurkan sebuah amplop kepadanya.

    5. “InsyaAllah, Bu. Mohon do’anya semoga saya diberi kekuatan dan kesabaran.”

    Sebaiknya: “Insya Allah, Bu. Mohon doa, semoga saya diberi Allah kekuatan dan kesabaran.”

    6. “Sama-sama mendo’akan, Bu.”

    Sebaiknya: “Saling mendoakan, Bu.”

    7. Dan sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri sebuah pelukan.

    Penggunaan konjungsi "Dan" di awal kalimat terasa janggal. Kata "sebuah" terasa kurang indah digunakan. Sebaiknya dihilangkan, menjadi: Sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri pelukan.

    8. Sesampai di mulut gapura bertuliskan “Darul Hadlonah”, mereka melambaikan tangan melepas kepergian kami.

    Sebaiknya: Sesampainya di mulut gapura yang bertuliskan “Darul Hadlonah”, mereka melambaikan tangan melepas kepergian kami.

    9. “Nunggu siapa, Dik?” aku menyapanya.

    Sebaiknya: “Menanti siapa, Dik?” aku menyapanya.

    10. “Belum keluar ya, Dik Fara-nya?”

    Sebaiknya: "Dik Fara belum keluar?"

    11. “Nggak usah,” suara kecil itu mencegah langkahku. “Biar saja, Kak. Nanti juga keluar. Pasti nggak nyaman kalau diburu-buru.”

    Sebaiknya: “Tidak perlu,” suara kecil itu mencegah langkahku. “Biarkanlah, Kak. Sebentar lagi juga keluar. Kurang nyaman kalau diburu-buru.”

    12. Hatiku tersentil dengan ucapannya barusan.

    Sebaiknya: Hatiku tersentil dengan ucapannya.

    13. “Berarti kalau pagi kamu biasa nggak sarapan?”

    Sebaiknya: “Berarti kalau pagi kamu terbiasa tidak sarapan?”

    14. “Za makannya nanti siang kalau pulang sekolah.”

    Sebaiknya: “Za, makannya nanti siang kalau pulang sekolah.” (Perhatikan, ada tanda koma)

    15. “Nggak lemas? Di sekolah kan butuh banyak tenaga buat ngerjain tugas-tugas, buat olahraga, buat ngapain aja. Kalau perut kosong, mana bisa mikir.”

    Sebaiknya: "Tidak lemas? Di sekolah kan perlu banyak tenaga untuk mengerjakan tugas-tugas, untuk berolahraga, untuk apa saja. Kalau perut kosong, apa masih dapat berpikir?”

    16. “Za sudah biasa, jadi nggak terasa.”

    Sebaiknya: “Za sudah terbiasa, jadi tak terasa.”

    17. “Itu nggak baik buat kesehatanmu. Kalau disuruh ibu sarapan, ya sarapan dulu sebelum berangkat.”

    Sebaiknya: “Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kalau disuruh Ibu sarapan, ya sarapan dulu sebelum berangkat.”

    18. “Ibu nggak pernah nyuruh, Kak. Tiap Za bangun ibu sudah pergi.”

    Sebaiknya: Ibu tidak pernah menyuruh, Kak. Setiap kali Za bangun Ibu sudah pergi.”

    19. “Ya sudah, ikut kakak ke dalam. Kita makan sama-sama.”

    Sebaiknya: “Ya sudah.... Yuk, ikut kakak ke dalam. Kita makan bersama-sama.”

    20. Masakanku agak aku lebihkan. Jadi meski Za ikut makan, tak akan mengurangi jatah yang lain.

    Sebaiknya: Masakanku agak kulebihkan. Jadi meski Za ikut makan, takkan mengurangi jatah yang lain.

    21. “Enak, Kak. Za suka mendoannya. Garing,” katanya di sela mulut yang sibuk mengunyah.

    Sebaiknya: Kata garing bercetak miring, atau diganti “renyah”.

    22. “Jangan sambil ngomong. Tersedak nanti.” Dia nyengir, menampakkan rentetan gigi susunya.

    Sebaiknya: “Jangan sambil berbicara. Tersedak nanti!” Dia nyengir, menampakkan deretan gigi susunya. (kata "nyengir" dibuat miring).

    23. Ia colekkan ke sambal tomat yang ku buat agak pedas.

    Sebaiknya: Ia colekkan ke sambal tomat yang kubuat agak pedas.

    24. Usai sarapan, ku antar dia ke sekolah karena Fara ternyata sudah berangkat.

    Sebaiknya: Usai sarapan, kuantar dia ke sekolah karena Fara ternyata sudah berangkat.

    25. Seperti sebelumnya, ia sudah duduk di dipan bambu sewaktu pintu kos ku buka.

    Sebaiknya: Seperti sebelumnya, ia sudah duduk di dipan bambu sewaktu pintu kos kubuka.

    26. “Hari ini bukan piket kakak. Kakak nggak masak.” “Yaah... Nggak ada mendoan dong!” ia kecewa. “Kenapa? Kamu belum sarapan lagi?”

    Sebaiknya: “Hari ini bukan jadwal piket kakak. Kakak tidak masak.” “Yaah... tak ada mendoan lagi, dong!” Ia kecewa. “Ada apa? Kamu belum sarapan lagi?”

    27. Menerlantarkan anak sekecil itu.

    Sebaiknya: Menelantarkan anak sekecil itu.

    28. ...jadi ku ajak Za...

    Sebaiknya: ...jadi kuajak Za...

    29. Ku comot juga beberapa tempe mendoan yang tergelar di atas meja.

    Sebaiknya: Kucomot juga beberapa mendoan yang ada di atas meja. (Perhatikan bahwa frase “tempe mendoan” kurang efektif, karena semua mendoan pasti terbuat dari tempe. Jadi agar efektif, cukup ditulis “mendoan” saja. Kata "mendoan" bercetak miring, karena merupakan istilah atau kata serapan yang berasal dari istilah bahasa Jawa).

    30. “Ibumu kerja apa?”

    Sebaiknya: “Ibumu bekerja sebagai apa?”

    31. “Nggak tahu. Kata ibu pak Bowo itu orang kaya....

    Sebaiknya: “Tidak tahu. Kata ibu, Pak Bowo itu orang kaya....

    32. “Ayahmu kerja apa?”

    Sebaiknya: “Ayahmu bekerja sebagai apa?”

    33. “Ayah nggak ada, Kak. Dulu ibu selalu bilang kalau ayah pergi ngaji. Tapi orang-orang bilang ayah sudah meninggal.”

    Sebaiknya: “Ayah sudah tiada, Kak. Dulu ibu selalu berkata bahwa ayah pergi untuk mengaji. Tapi orang-orang berkata ayah sudah meninggal.”

    34. “Nggak boleh gitu.”

    Sebaiknya: dicetak miring.

    35. “Uh! Rasa mendoannya aneh. Nggak enak.”

    Sebaiknya: “Uhh!!! Rasa mendoannya ANEH! TIDAK ENAK!!!”

    36. Menghargai yang sudah susah payah buat. Kamu sendiri nggak bisa buat mendoan kan?” Dia nyengir saja.

    Sebaiknya: Biasakanlah untuk menghargai orang yang sudah susah-payah membuatnya. Kamu bahkan tidak dapat memasak mendoan, kan?” Kata "nyengir" dicetak miring.

    37. Dan akhirnya, pagi itu pun ku antar lagi dia ke sekolah.

    Sebaiknya: Pagi itu juga, kuantar lagi dia berangkat ke sekolah.

    38. Tapi karena Za makannya kelamaan, dan Fara...

    Sebaiknya: Mengingat Za makan terlalu lama, dan Fara...

    39. …ku ikuti…

    Sebaiknya: …kuikuti…

    40. ….panitia sentral. Sebaiknya: …panitia inti atau panitia utama

    41. Ku tanyakan pada Fara, dia bilang Za sudah seminggu tak masuk sekolah.

    Sebaiknya: Kutanyakan kepada Fara, dia berkata bahwa Za sudah seminggu tak masuk sekolah.

    42. Tak tenang, ku putuskan berkunjung ke rumahnya. Ku ajak Fara sebagai penunjuk jalan.

    Sebaiknya: Tak tenang, kuputuskan berkunjung ke rumahnya. Kuajak Fara sebagai penunjuk jalan.

    43. “Kamu bawa sepeda kakak saja. Bisa kan?”

    Sebaiknya: “Kamu bawa saja sepeda Kakak. Bisa, kan?”

    44. Hatiku tak henti menggerundel sejalan-jalan.

    Sebaiknya: Hatiku tak henti menggerutu di sepanjang jalan.

    45. ...yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya.”

    Sebaiknya: ...yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.”

    46. ...duduk dalam angkot...

    Sebaiknya: ...duduk di dalam angkot...

    47. …Nanti kakak buatkan mendoan sama sambal tomat kesukaanmu.”

    Sebaiknya: …Nanti Kakak akan membuatkan mendoan dan sambal tomat kesukaanmu. (Kata “mendoan” bercetak miring)

    48. “Benar Kak?”

    Sebaiknya: “Benar, Kak?” (Perhatikan tanda koma)

    49. Saat ku bujuk, dia bersikeras...

    Sebaiknya: Saat kubujuk, dia bersikeras...

    50. “Saya ada teman yang punya usaha laundry. Saya akan bantu Ibu agar bisa bekerja di tempat teman saya itu.”

    Sebaiknya: "Temanku punya usaha laundry. Saya akan membantu Ibu agar dapat bekerja di tempatnya.”

    Secara umum tema cerita ini menarik. Sejumlah koreksian hanya sekadar saran dan sedikit perbaikan. Teruslah menulis, terus dan terus.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sarapan untuk Za
    Oleh Siti Khoiruniyah

    IDFAM910U Anggota FAM Kudus

    “Ibu...!!!” seorang gadis kecil menghambur ke pelukan bu Maryam.

    “Maafkan Ibu, Za. Ibu kangen,” bu Maryam tak dapat membendung air matanya.

    “Za juga kangen Ibu. Za akan tinggal sama Ibu lagi kan?” tanyanya penuh harap.

    Bu Maryam mengangguk lembut. Za mempererat pelukan dan bergelayut manja.

    “Barang-barang Faza sudah kamu kemasi, Da?” suara bu Asih menyadarkan ibu dan anak yang tengah larut dalam keharuan.

    “Sudah, Bu.”

    Gadis bernama Ida itu bergegas masuk. Lalu dengan gesit ia kembali ke tengah-tengah kami menenteng sebuah tas besar berwarna hitam.

    “Kami undur diri dulu, Bu. Terima kasih sudah merawat Za,” bu Maryam merengkuh bu Asih.

    “Kapan-kapan main kesini lagi ya, Bu.”

    “Selagi masih diberi napas, kami tak akan melupakan tempat ini dan juga Bu Asih. InsyaAllah kita akan dipertemukan lagi.”

    “Bu Asih,” suaraku melerai pelukan mereka berdua.

    Bu Asih menoleh padaku.

    “Ini ada sedikit rezeki. Buat tambah beli susu anak-anak,” ku angsurkan sebuah amplop ke arahnya.

    Bu Asih menerimanya, lalu menjabat erat tanganku dan memelukku.

    “Terima kasih, Nak. Semoga amal baikmu diterima Allah dan dibalas dengan balasan berlipat ganda.”

    “Amin...”

    “Faza jangan nakal ya.” Bu Asih mengelus-elus rambut Za.

    “Kami pamit sekarang, Bu.”

    “Hati-hati di jalan ya, Bu. Titip Za. Jangan pernah putus asa merawatnya. Dia anak Ibu sendiri. Apalagi dia anak yatim. Di balik semua kerewelan dan kesulitan mengasuhnya, tersembunyi pahala yang luar biasa bila kita bersabar.”

    “InsyaAllah, Bu. Mohon do’anya semoga saya diberi kekuatan dan kesabaran.”

    “Sama-sama mendo’akan, Bu.”

    Dan sekali lagi, dialog dua hati itu diakhiri sebuah pelukan.

    Kami bertiga beriringan menyusuri pelataran bersemen yang dikelilingi pagar bambu. Di belakang kami membuntut bu Asih dan Ida. Sesampai di mulut gapura bertuliskan “Darul Hadlonah”, mereka melambaikan tangan melepas kepergian kami.

    Anganku menerawang ke suatu masa yang menjadi permulaan perkenalanku dengan ibu dan anak ini.

    Pagi itu seperti pagi-pagi biasanya. Aku bangun jam tiga, mandi, sholat malam, lalu berkutat di dapur. Hari itu giliranku memasak untuk seisi kos. Kami memang sepakat untuk tidak makan di luar sebab kami ingin berhemat. Kami juga ingin belajar masak sebagai bekal berkeluarga nanti. Sebab itu kami bentuk piket masak bergantian tiap hari.

    Tepat jam enam aku keluar hendak membeli kerupuk. Sesampai di luar, aku setengah kaget dengan keberadaan seorang anak berseragam putih merah, duduk di dipan bambu di samping pintu.

    “Nunggu siapa, Dik?” aku menyapanya.

    “Nunggu Fara, Kak,” ia malu-malu.

    Fara anak ibu kosku. Rumah ibu kos persis di depan kamar-kamar kos kami.

    Tak ada yang istimewa pada bocah itu yang membuatku memperhatikannya lebih lama. Aku segera berlalu ke tujuan semula.

    Tak sampai sepuluh menit aku sudah kembali. Anak perempuan itu masih duduk terpekur seorang diri.

    “Belum keluar ya, Dik Fara-nya?”

    “Belum, Kak.”

    “Kakak panggilkan ya.”

    “Nggak usah,” suara kecil itu mencegah langkahku. “Biar saja, Kak. Nanti juga keluar. Pasti nggak nyaman kalau diburu-buru.”

    Hatiku tersentil dengan ucapannya barusan. Aku mendekati dipan bambu, duduk di sampingnya. Hening sesaat. Dia membandul kakinya yang bergelantungan.

    “Kamu sudah sarapan?” iseng aku bertanya daripada membisu saja.

    “Belum.”

    “Kok belum?”

    “Biasanya memang begitu.”

    “Oh. Kamu jajan nasi di sekolah?”

    Dia menggeleng.

    Aku mengeryit.

    “Za makannya nanti siang kalau pulang sekolah.”

    “Berarti kalau pagi kamu biasa nggak sarapan?”

    Dia mengangguk.

    “Nggak lemas? Di sekolah kan butuh banyak tenaga buat ngerjain tugas-tugas, buat olahraga, buat ngapain aja. Kalau perut kosong, mana bisa mikir.”

    “Za sudah biasa, jadi nggak terasa.”

    “Itu nggak baik buat kesehatanmu. Kalau disuruh ibu sarapan, ya sarapan dulu sebelum


    berangkat.”

    “Ibu nggak pernah nyuruh, Kak. Tiap Za bangun ibu sudah pergi.”

    “Kemana?”

    “Kerja.”

    “Oh.”

    Sejurus aku terdiam.

    “Ya sudah, ikut kakak ke dalam. Kita makan sama-sama.”

    Masakanku agak aku lebihkan. Jadi meski Za ikut makan, tak akan mengurangi jatah yang lain.

    “Enak, Kak. Za suka mendoannya. Garing,” katanya di sela mulut yang sibuk mengunyah.

    “Jangan sambil ngomong. Tersedak nanti.”

    Dia nyengir, menampakkan rentetan gigi susunya.

    Ia asyik menggado mendoan buatanku. Ia colekkan ke sambal tomat yang ku buat agak pedas.

    Usai sarapan, ku antar dia ke sekolah karena Fara ternyata sudah berangkat. Fara berangkat tanpa tahu bahwa teman yang menunggunya sedang makan bersamaku di dalam.

    Hari berikutnya ia datang lagi. Seperti sebelumnya, ia sudah duduk di dipan bambu sewaktu pintu kos ku buka.

    “Kok pagi sekali? Belum jam enam ini.”

    “Za mau bantuin Kakak masak,” tuturnya lugu.

    “Hari ini bukan piket kakak. Kakak nggak masak.”

    “Yaah... Nggak ada mendoan dong!” ia kecewa.

    “Kenapa? Kamu belum sarapan lagi?”

    Dia mengangguk.

    Aku mendesah kecil. Keterlaluan sekali ibunya, pikirku. Menerlantarkan anak sekecil itu. Pagi-pagi sudah pergi kerja dan tak menyediakan apa-apa untuk sarapan keluarga.

    Karena aku tahu jatah sarapan kami pasti dibuat ngepas dan tak dilebihkan, jadi ku ajak Za ke warung makan dekat kos. Aku pesan sebungkus nasi. Ku comot juga beberapa tempe mendoan yang tergelar di atas meja.

    “Ibumu kerja apa?”

    “Nyuci, Kak.”

    “Nyuci?”

    “Ibu nyuciin baju-bajunya pak Bowo.”

    “Siapa pak Bowo?”

    “Nggak tahu. Kata ibu pak Bowo itu orang kaya. Tapi sudah tua dan sering sakit.”

    Aku manggut-manggut.

    “Ayahmu kerja apa?”

    Dia menatapku sekilas sebelum menjawab.

    “Ayah nggak ada, Kak. Dulu ibu selalu bilang kalau ayah pergi ngaji. Tapi orang-orang bilang ayah sudah meninggal.”

    Di hatiku tiba-tiba terbersit rasa iba. Aku mengelus kepalanya.

    “Uh! Rasa mendoannya aneh. Nggak enak.”

    “Nggak boleh gitu. Itu namanya menghina makanan. Enak nggak enak, asal nggak bikin kita sakit atau mati, habiskan saja. Menghargai yang sudah susah payah buat. Kamu sendiri nggak bisa buat mendoan kan?”

    Dia nyengir saja.

    Dan akhirnya, pagi itu pun ku antar lagi dia ke sekolah. Fara tahu kalau Za menunggunya. Tapi karena Za makannya kelamaan, dan Fara sudah diteriaki mamanya karena tak kunjung berangkat, jadilah Fara berangkat lebih dulu, meninggalkan Za.

    Hal itu berulang lebih dari seminggu. Hingga akhirnya di suatu hari...

    “Ini kan bukan hari Rabu, Za. Jadi bukan kakak yang masak. Nggak ada mendoan,” jawabku agak sengal. Aku duduk di dipan bambu, mengenakan kaus kaki dengan terburu-buru. Sebuah organisasi kampus yang ku ikuti menyelenggarakan acara penting. Dan aku menjadi salah satu panitia sentral sehingga harus datang pagi-pagi sekali.

    “Kakak kasih uang ya. Kamu sarapan saja di warung biasanya.”

    Dia menggeleng.

    “Za maunya sama Kakak,” ia merajuk.

    “Kakak buru-buru, Za. Nggak sempat sarapan.”

    “Kalau Za ditinggal Fara, nanti berangkat sekolahnya gimana?”

    Aku mendengus kesal. Bukankah sebelumnya dia biasa jalan kaki? Protesku dalam hati. Toh sekolahnya tak jauh-jauh amat. Lagi pula hanya untuk hari ini. Besok-besok kalau sudah tak sibuk aku juga mau mengantarnya ke sekolah lagi.

    “Kamu bawa sepeda kakak saja. Bisa kan?”

    Dia menggeleng lagi.

    Aku mulai kehilangan kesabaran.

    “Ya sudah, jalan kaki saja kalau gitu. Kakak berangkat dulu.”

    Aku bergegas pergi dari hadapannya tanpa mengucap salam. Berharap agar dia tak punya kesempatan membela diri dan membingungiku dengan hal-hal sepele itu lagi.

    Hatiku tak henti menggerundel sejalan-jalan. Kejenuhan mengurus Za yang tertimbun berhari-hari, ditambah tenagaku yang nyaris terkuras oleh acara organisasi, tumpah di pagi itu.

    Hari cepat berlalu. Senin kembali ke Senin. Tapi aku tak pernah melihat Za datang lagi. Mungkinkah Za tersinggung dengan sikapku tempo hari? Hatiku menebak-nebak. Ku tanyakan pada Fara, dia bilang Za sudah seminggu tak masuk sekolah. Aku khawatir.

    Tak tenang, ku putuskan berkunjung ke rumahnya. Ku ajak Fara sebagai penunjuk jalan. Kami menemui ibunya. Setelah tahu maksud kedatanganku, bu Maryam menceritakan semuanya.

    Pak Bowo, satu-satunya tumpuan ekonomi bu Maryam, meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sepeninggal pak Bowo, bu Maryam tak menaruh banyak harapan pada keluarga itu. Anak-anak dan ahli waris pak Bowo sibuk dengan harta peninggalan dan mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri. Lagi pula selama ini yang ia cuci hanya pakaian pak Bowo. Karena tentu tak akan ada orang yang mau mencuci pakaian yang dipenuhi kotoran manusia. Anggota keluarga lainnya sudah punya laundry langganan sendiri-sendiri.

    Aku memahami posisi Bu Maryam. Memang sulit bila tiba-tiba kita ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang bisa kita andalkan.

    “Anak yatim kadang lebih menjengkelkan daripada anak-anak lainnya. Tapi memang seperti itulah Allah telah mengaturnya. Itu hanya ujian kesabaran bagi kita yang merawatnya. Tapi pada akhirnya semua itu akan mendapat balasan yang dijanjikan Allah dan Rosul-Nya.” Teringat aku akan perkataan Bu Asih saat melepas kami tadi.

    “Za, mulai besok pagi kamu boleh sarapan sama kakak terus,” aku memecah keheningan. Sudah setengah jam kami duduk dalam angkot yang akan membawa kami pulang. Waktu selama itu kami habiskan dalam kebisuan, tenggelam dalam angan masing-masing. Za yang biasanya suka mengoceh, kini mulutnya pun terkatup dengan mata yang lurus memandang keluar jendela. “Kalau mau berangkat sekolah, kamu ke kos kakak dulu. Nanti kakak buatkan mendoan sama sambal tomat kesukaanmu.”

    “Benar Kak?” seketika dia menoleh ke arahku.

    Aku mengangguk mantap. Matanya berbinar.

    Aku sudah bicara dengan bu Maryam. Saat ku bujuk, dia bersikeras tak mau menjemput Za karena merasa sudah tak mampu merawat dan membiayai sekolahnya.

    “Saya ada teman yang punya usaha laundry. Saya akan bantu Ibu agar bisa bekerja di tempat teman saya itu.”

    “Dan soal Za, saya bersedia membuatkan sarapan untuknya tiap pagi, Bu.”

    Usai bicara seperti itu, bu Maryam seketika memelukku. Lalu ia mengajakku menjemput Za di panti asuhan.

    Yang ada dalam pikiranku kini, aku harus lebih produktif lagi. Agar lebih banyak bukuku yang terjual, sehingga lebih banyak lagi masukan. Untuk kebutuhanku sehari-hari, untuk skripsiku, dan untuk sarapan Za.

    Percakapan Obrolan Berakhir.

    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi, diambil dari google.com

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sarapan untuk Za” Karya Siti Khoiruniyah (FAM Kudus) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top