• Info Terkini

    Saturday, September 22, 2012

    Ulasan Cerpen “Sepotong Cinta Nyamuk Bertina” Karya Elvi Murdanis (FAM Deli Serdang)

    Cerpen yang disajikan penulis berupa imajinasi yang menggambarkan penerapan sebuah kode etik perbuatan yang digambarkan pada sekawanan nyamuk. Penokohan yang bisa jadi terlalu kontradiktif dengan kondisi sebenarnya, tetapi nampaknya penulis ingin menyampaikan pesan dari sesuatu yang mustahil.

    Cerita berawal ketika seekor nyamuk yang terluka dan tengah merasakan kesakitan di rumah kelapanya. Dia dikagetkan oleh seorang ibu yang membuang bayinya di dekat rumah kelapanya. Dia merasa iba dan merasa aneh dengan sikap si ibu, katanya bilang sayang kepada anaknya tetapi dibuang?

    Kemudian datang segerombolan nyamuk lain yang mengantar seekor nyamuk yang terluka. Terjadilah pembicaraan antara sesama nyamuk yang terluka itu, dan ketika terdengar suara petir tanda hujan akan segera tiba, kedua nyamuk itu berusaha sekuat tenaga memindahkan sang bayi tapi sia-sia. Sampai akhirnya bayi itu ditemukan seorang tua yang membawanya ke rumah sakit. Nyamuk yang menjadi tokoh cerita itu rupanya terhimpit di antara lipatan kain dan terbawa ke rumah sakit.

    Sesampai di rumah sakit, sekelompok nyamuk menuding tokoh nyamuk sebagai penyebab sakitnya sang bayi. Ironisnya yang menuding itu justru nyamuk terluka yang membantu si tokoh memindahkan si bayi. Berbagai kata pedas terlontarkan terhadap tokoh yang dianggap melanggar kode etik. Salah satu kode etiknya adalah boleh menghisap darah tapi tidak boleh meracuninya. Akhirnya tokoh nyamuk itu dibawa dua ekor nyamuk kekar untuk diadili.

    Sebuah cerpen yang cukup menggelitik. Nyamuk yang notabene penghisap darah manusia mempunyai rasa kepedulian terhadap seorang bayi, bukannya menghisap darahnya tapi malah berupaya menolongnya. Hal lain adalah nyamuk yang ukurannya sangat kecil dan lemah berupaya memindahkan seorang bayi yang jauh lebih besar dari berat badannya.

    Nilai yang terkandung dari cerpen ini adalah betapapun kita menginginkan sesuatu yang menjadi kegemaran bahkan hal pokok penunjang kehidupan, tetap harus memperhatikan aturan yang berlaku.

    Dari segi penulisan, cerpen ini masih perlu ketelitian, karena ada beberapa kata yang salah akibat kurang teliti dalam penulisannya. Selain itu ada kesalahan umum dalam EYD, yaitu penulisan kata setelah kata depan “di” dan “ke” yang disambungkan seperti contoh: “didalam”  “kedepan” seharusnya ditulis terpisah menjadi: “di dalam” “ke depan”. Begitu pun kesalahan ketik seperti pada judul “bertina”, seharusnya “betina”.

    Terus semangat berkarya. Salam santun.

    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SEPOTONG CINTA NYAMUK BERTINA
    Oleh Elvi Murdanis
    IDFAM1007U Anggota FAM Deli serdang

    Aku bukan batu, yang tak sakit jika kau cubit.
    Aku bukan mata pena, yang harus ikut kemana tanganmu bercerita.

    Kukepak-kepakkan sayapku.  Sssstttt…aku meringis kesakitan. Sayap dan kakiku belum sembuh benar.  Kucoba terbang beberapa meter, namun  aku terjatuh. Kucoba berjalan pelan, namun ngilu menggerogoti kakiku.

    “Sudahlah…jangan telalu banyak bergerak! Jangan menyiksa diri sendiri. Kakimu tidak akan cepat sembuh kalau kau terus memperlakukannya seperti itu!”

    Aku diam seribu bahasa. Celotehan itu membiusku dalam keheningan. Kupandangi salah satu kaiku yang patah. Memoar kejadian beberapa hari yang lalu kembali mencuat dalam pikiranku. Padahal hatiku sudah melarang agar jangan menghisap orang itu, namun aku nekat juga menyengatnya dan hampir saja aku jadi peyek nyamuk di tangannya.

    Woi! Melamun lagi?” ujar temanku mengagetkanku.

    “Apa?....Eh, enggak! Enggak!” jawabku terbata.

    “Hehh….kumat lagi.” Ia menarik nafas panjang sambil menggeleng.

    “Ya sudahlah.  Sekarang kamu istirahat saja. Aku mau gabung dengan yang lain, mau cari makanan.”

    Aku mengernyitkan kening. Kedua alisku merapat. Seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiranku, ia menyeletuk, “ Aku tidak mungkin ikut teori gilamu. Karena memang sudah seperti ini kita diciptakan. Menghisap darah manusia. Jangan kau lawan takdirmu.”

    Aku terhenyak sejenak. Kuusap-usap perutku pelan. Di dalamnya ada banyak calon-calon nyamuk yang kelak akan tumbuh menjadi nyamuk-nyamuk dewasa yang gagah-gagah dan cantik-cantik. Untuk itu aku menghisap protein darah manusia guna perkembangan telur-telurku.

    Ia terbang meninggalkanku, bergabung bersama nyamuk-nyamuk betina yang lain. Sesekali ia menoleh kebelakang, seperti hendak mengatakan “Ikutlah denganku! Ayo, kita cari makan bersama-sama!”

    “Ah….Apa-apaan aku ini!” aku menggeleng beberapa kali untuk menepis perasaanku tadi.

    Waktu terus bertasbih. Matahari terasa mulai menelanjangi bumi dengan sinarnya yang terik. Namun sesekali terlihat ia memeluk bumi dengan awan-awan yang bersiliweran  agar sinarnya tak langsung mengenai wajah bumi.

    Aku mulai bosan.  Kucoba mengkatupkan mata. Karena aku tak dapat kemana-mana. Sejenak aku tertidur. Krek…Krek…krek…. Telingaku seperti mendengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari kejauhan. Semakin dekat, semakin pelan dan semakin hati-hati kudengar derap langkahnya dan semakin terburu pula. Kubuka mata penuh penasaran.

    “Ups….” Kulihat seorang wanita sedang berjalan berjingkat memegang sesuatu dalam gendongannya. Aku segera beringsut dari rumah kelapaku. Aku takut kalau-kalau rumahku terpijak oleh wanita itu. Semakin mendekat kearahku, ia berjalan berjingkat. Tapi aku yakin, bukan karena takut ketahuan olehku, melainkan takut ketahuan jika ada orang lain yang melihatnya.

    “Mudah-mudahan kau akan mendapatkan orang yang lebih pantas mengurusmu dari pada ibu, anakku sayang… Mmuahh!” suaranya parau. Ia mengecup sesuatu didalam gendongan itu dan meletakkannya di samping rumah kelapaku. Aku bergidik. Syerr….darahku berdesir. Seorang bayi yang masih merah rupanya di dalam gendongan itu.

    “Oek……oek…..oek…” bayi itu terus menjerit. Kedua kaki kecilnya meronta-ronta dalan kain gendongan. Sepertinya ia pun tidak ingin ditinggalkan sendirian di sini.

    “Hei….hei…tunggu! tunggu! Nyonya! Nyonya! Bayimu…..!” aku terus berteriak sekuat tenaga. Tapi wanita itu tidak menghiraukannya. Ia terus saja berlari. Beberapa kali kudapati, ia menoleh ke belakang melihat bayi itu, sambil menghapus air matanya. Tapi ia tetap saja berlari hingga hilang dari pandanganku.

    Huh….letih aku memanggil. Ntah karena ia tak mendengarku teriakanku  atau memang ia tak menginginkan bayi ini lagi, aku pun tak mengerti. Tapi…sepertinya tadi aku mendengar ia memanggil anakku sayang. Kalau sayang kenapa ditinggal di tempat tak layak seperti ini. Hhhhh….sungguh, aku tak mengerti jalan pikiran manusia.

    Lamat-lamat kupandangi wajah bayi itu. Wajahnya begitu indah dan berseri. Kulitnya juga masih begitu merah. Seperti baru saja dilahirkan ke dunia ini. Kuelus dia dengan begitu hati-hati agar tidak sampai  terkena antenaku yang tajam. Kuelus-elus  bayi itu penuh kasih sayang. Kuharap tangisannya akan berubah dengan tawa kecil yang menggemaskan. Tapi harapku pupus, tangisannya semakin lama semakin kencang. Semakin lirih kedengarannya.

    “Minggir!Minggir! Ambilkan obat!cepat!cepat!”

    Tiba-tiba kulihat rombongan teman-temanku sudah mendarat disekitar rumahku. Mereka kelihatan panik. Sepertinya ada seekor nyamuk terluka. Temanku yang lain tergesa-gesa mengambil obat. Obat yang dimaksud  adalah dedaunan yang kami dapat dari hutan, dihaluskan lalu diperaskan diatas luka. Semuanya mengelilinginya, kecuali aku. Aku ingin sekali mendekat, tapi aku terlalu jauh dari kerumunan itu. Melangkah dan berjalan saja aku sulit, apalagi terbang kesana.

    Tapi aku tak habis akal. Kucoba mendorong tubuhku dengan empat kakiku yang masih dapat digerakkan. Pelan dan perlahan-lahan posisiku mulai maju kedepan. Aku pun mulai bergerak sedikit demi sedikt menuju ke arah mereka. Aku ingin sekali melihat siapa yang terluka.

    Belum ada satu meter aku beranjak, kerumunan itu mulai pecah. Satu persatu nyamuk berhamburan terbang menuju udara dan akhirnya hilang dari pandangan. Sedangkan tiga ekor nyamuk  terbangke arahku. Kulihat mereka memapah seekor nyamuk. Semakin dekat semakin jelas siapa yang sipapah ditengah. Ternyata yang terluka adalah temanku tadi. Mereka mendarat dirumah temanku itu, yang kebetulan tidak berjauhan dengan rumah kelapaku.

    “Kami tidak bisa lama-lama! Jaga dirimu!” mereka pun mulai mengepakkan sayap, bersiap-siap untuk terbang.

    “Apa yang terjadi?” serobotku langsung sebelum mereka hendak terbang. Tapi mereka tak menggubris. Mereka langsung terbang  tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Sikap mereka tampak begitu dingin terhadapku. Aku hanya tertegun melihat mereka pergi.

    “Dihajar dengan reket nyamuk!” jawab temanku tenang.     

    Serrrrr…..aku bergidik ngeri. Hampir saja temanku jadi nyamuk panggang. Kulihat salah satu ujung kakinya gosong terbakar.

    “Tidak usah khawatir. Beberapa hari lagi aku pasti akan sembuh!” ujarnya menenangkanku.

    Ia merebahkan tubuhnya di rumah kalengnya.

    “Hey….apa itu yang dibungkus-bungkus di samping rumahmu?” tanynya penuh sedilik menunjuk ke arah rumahku.

    “Ya ampun! Anak bayi!” aku menempelkan telapak tanganku didahi. Aku langsung beringsut menuju kerumahku.

    “Anak bayi kenapa tidak menangis?” tanyanya semakin heran.

    Aku terkejut bukan main. Mataku terbelalak. Bayi itu tak bersuara lagi. Bibirnya biru. Tubuhnya kaku. Ia sudah diam  sediamnya. Matanya terpejam. Ia sedikit pun tak melakukan gerakan.

    “Goyang-goyang tubuhnya! Siapa tau masih bisa bergerak!” perintah temanku. Aku terkejut. Temanku itu tiba-tiba sudah ada disampigku.

    Duarrrr…..! Suara petir  memekik menggelegar. Diikuti kilatan cahaya yang menyayat pandangan. Aku jadi semakin panik. Cuaca tak berubah, matahari masih megirim cahaya panasnya ke bumi namun rintik-rintik hujan mulai tumpah ke bumi. Sebentar saja hujan turun begitu lebat ditengah terik matahari.

    “Cepat, dorong ke depan! Aku tarik dari sini! kita pindakhan ke tempat yang aman! Jangan sampai dia basah!”

    “Hah…apa?Hah….Ia…ia…ia” aku kelimpungan. Segera kudorong bayi itu dari belakang dan temanku menarik  dari depan . Tapi tidak berpindah sedikit pun. Berat kain dan bayi itu tak sebanding dengan kekuatan kami berdua. Aku semakin gagap. Bayi itu sudah basah kuyup. Wajah mungilya tertubi-tubi dihantam rintik hujan yang mengamuk.

    “Doronggg…….dorong sekuat tenaga! Kita pasti bisa!” serunya membakar.

    “Iya…..” kukerahkan semuan kekuatanku. Kudorong dengan sepenuh tenaga. Nyeri dikakiku tak terasa lagi, hilang ditimpa semangat untuk menyelamatkan bayi mungil itu. Tapi hanya sedikit saja bayi itu bergeser dari tempatnya semula. Hujan semakin menggila. Matahari juga semakin redup. Mulai berubah mendung.

    “Oww!” Temanku terjatuh. Ia tersungkur ke tanah.

    “Kakiku tak dapat digerakkan, bagaimana ini?” ujarnya khawatir. Aku semakin tak bisa menguasai diri. Kepanikanku memuncak. Kupanjat kain gendongan itu. Aku berharap ada yang bisa kulakukan ditengah kondisi genting ini. Ntah apalah itu aku pun tak tahu. Yang penting aku terus berusaha. Tuhan, kumohon selamatkan bayi ini, gumamku tanpa sadar. Kesengat ia pelan, berharap ia bereaksi menandakan ia masih hidup. Atau setidaknya ia masih mampu bertahan.

    “Hey….anak siapa ini?” ujar sebuah suara mengagetkanku. Ia mengangkat anak itu ke dalam dekapannya. Perlakuannya itu membuat aku terjatuh dari pipi anak itu menuju selipan-selipan kain. Aku terhimpit tak bisa bergerak. Kutengadahkan kepalaku keluar. Rupanya seorang wanita berusia lanjut sedang menggendong bayi itu dalam dekapannya.

    “Bayi ini sudah pucat! Ayo, segera kita membawa bayi ini ke rumah sakit! Ayo! Ayo!” seru wanita yang disampingnya panik. Mereka tergesa-gesa masuk ke mobil dan menuju rumah sakit. Aku mencoba keluar dari selipan kain itu namun tak bisa. Aku juga ikut dibawa mereka.

    Dalam beberapa menit kami sudah sampai. Para suster segera membawa bayi itu ke suatu ruangan. Kedua wanita itu tak diperbolehkan dokter ikut masuk. Sempat kulihat keduanya melakukan percakapan kecil dengan sang dokter sebelum aku dan bayi itu diboyong masuk ruangan oleh para suster.

    Kain gendongan itu pun dibuka dan diletakkan di meja.

    “Hahhhh…..lega rasanya!” aku menyembul dari lipatan-lipatan kain. Bahagia rasanya aku tak terkurung lagi dalam kepengapan seperti tadi.

    Kekhawatiran kembali menyergap pikiranku. Kulihat dada bayi itu disentuh da ditekan dengan suatu alat yang tak kukenal namanya. Berkali-kali pula kusaksikan bayi itu jegang-jegang karena sentuhan alat itu. Para suster dan dokter terlihat begitu panik. Aroma ketegangan begitu jelas diruangan ini. Tapi ada kulihat seorang suster yang paling terlihat panik diantara semua yang menjaga dan melihat alat dengan tombol yang bisa diputar-putar. Dilayarnya kulihat ada garis-garis gerigi seperti mata gergaji. Ntah alat apa itu, aku pun tak tahu namanya. Saat garis itu naik turun wajah sang suster begitu sumringah, namun saat garis itu sedikit geriginya atau bahkan hampir garis datar saja, sang suter sangat panik. Dan saat itu juga ia berteriak pada dokter “kondisi pasian melemah, dok!” semuanya pun semakin panik dan berusaha keras menyelamatkan bayi yanga a dihadapan mereka.

    Ah….aku tak tahan melihatnya. Tak sanggup aku melihat bayi mungil tak berdosa itu kejang-kejang seperti yang kesaksikan sekarang ini. Perlahan-lahan kukepakkan sayap dan terbang meraih pintu. Aku keluar dari bawah pintu.

    Kedua wanita yang sedari tadi menunggu diluar tampak sangat gusar. Mereka mondar-mandir secara bergantian. Kuperhatikan merekan hanyut dalam pikirannya masing-masing. Lama mereka tenggelam dalam keheningan.

    Dokter baru keluar setelah beberapa jam kemudian. Keduanya segera menghampiri dokter. Aku mulai mendekat ke arah mereka.

    “Itu dia! Tangkap!Tangkap!jangan sampai lari!” teriak sebuah suara. Tubuhku langsung disergap oleh dua ekor nyamuk bertubuh tegap dari belakang. Dibelakangnya lagi ada beberapa ekor nyamuk yang berseru-seru agar aku ditangkap.

    “Gara-gara dia anak kecil itu sekarat! Dia yang menggigitnya! Tadi aku lihat!” celetuk sebuah suara. Aku terbelalak heran, apa hubungannya denganku.

    “Iya, nyamuk gila dan sok idealis ini yang melakukannya!”

    “Cuihh! Katanya tidak mau mnghisap darah manusia lagi, tapi darah anak bayi diembat juga. Nyamuk tak tahu malu!” umpat yang lain.

    “Tangkap saja dia! Kita adili dan kasih hukuman seberat-beratnya. Di sudah melanggar kode etik nyamuk. Menghisap darah boleh, tapi jangan sampai meracuni darahnya!

    “Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan. Ini semua fitnah! Ini bohong! Ini rekayasa! Apa kalian punya saksi?” teriakku membela diri.

    “Ada!!!” sahut sebuah suara dari belakang.

    “Aku saksinya. Aku melihat semua perbuatan jahatnya.”

    Brakkkk……duniaku seakan mau runtuh. Jantungku hampir saja melompat keluar. Bibirku gemetar menahan emosi. Yang mengaku saksi itu adalah ternyata temanku yang terluka tadi. Yang membantuku menyelamatkan bayi itu. Yang membakar semangatku sampai aku kehilangan rasa sakitku. Yang selama ini ada disampingku. Ternyata dia yang menuduhku.

    “Tangkap saja pak Nyamuk! Kita bawa dia ke pengadilan. Biar Hakim Nyamuk memutuskan hukuman apa yang pantas diterimanya. Kalau terus dibiarkan dia bisa membahayakan nyamuk-nyamuk yang lainnya.” Tambahnya menyulut emosi.

    “Tangkap saja! Iya, tangkap saja dia!” yang lain juga terbawa hasutan.

    “Aku tidak bersalah. Bukan aku pelakunya. Dia memang sudah kaku tadi. Bukan aku pelakunya…” aku terus meronta. Membela diri. Mencoba melepaska dekapan dua ekor nyamuk tegap tadi. Sempat juga kulihat temanku tadi tersenyum di sudut bibirnya.

    Begitu perih kurasa senyuman itu saat membentuk kedua bola mataku. Kuharap kedua mataku dan matanya beradu pandang agar dapat keselami apa yang ada dalam pikirannya sekarang hingga ia tega menenggelamkan aku dalam kesalahan yang tak pernah aku buat. Tapi tak kudapati kesempata itu. Aku sudah dibawa terbang menuju pengadilan.

    Langit sedikit mencibir. Awan-awan bergantian mengikutiku dari belakang. Entah mengejek atau mamberi dukungan, aku tak tahu. Suasana bumi sudah mulai teduh. Hujan sudah reda. Tak ada lagi riuh rintik-rintik hujan yang nenusuk-nusuk bumi. Pelangi pun mulai mengintip dari balik gumpalan-gumpalan awan. Panorama yang begitu menyejukkan dan begitu meneduhkan. Namun tak seteduh hatiku yang sedang gundah.


    Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari situs google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sepotong Cinta Nyamuk Bertina” Karya Elvi Murdanis (FAM Deli Serdang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top