• Info Terkini

    Tuesday, September 18, 2012

    Ulasan Cerpen “Sesejuk Hati Arini” Karya Noorhani Dyani Laksmi” (FAM Bogor)

    Tragedi anak manusia yang menyentuh hati. Banyak hikmah yang dapat diambil. Banyak teladan yang dapat dipetik. Kata demi kata yang dirangkai akan lebih indah bila tepat penggunaan EYD, tanda baca, diksi, dan konsistensi.

    Prinsip efektif dan efisien juga perlu ditingkatkan. Alur yang dipakai penulis di dalam cerpen ini sepertinya campuran, kadang maju, kadang mundur. Masih ada flight of ideas. Penggunaan kalimat majemuk sebaiknya disederhanakan menjadi beberapa kalimat tunggal. Keahlian dan teknik editing perlu terus dilatih sampai benar-benar menjadi ahli.

    Gejala bahasa “redundan” atau “tautologi” dijumpai pada kalimat berikut ini:

    1.    Sebuah kehidupan keras yang Arini harus tempuh dalam kehidupan Metropolitan yang tidak mengenal siang dan malam.

    2.    Arini sudah berjanji akan selalu membahagiakan dan menemani mama di sisa usia mama yang menjelang senja.

    Ada beberapa contoh kalimat (juga frase, kata, diksi, dsb) yang perlu direvisi total (disederhanakan, direstrukturisasi, dan diubah), agar renyah dikunyah oleh hati dan mudah dicerna pikiran, misalnya:

    1.    Senin yang crowded, hari ini Arini sudah berniat untuk mengajukan sisa cuti yang ada. Direvisi menjadi: Di hari Senin yang padat ini, Arini telah berniat untuk mengajukan sisa cuti.

    2. Semua berlalu tanpa terasa kehidupan Metropolitan yang tidak kenal waktu telah menggilas umur secara perlahan tapi pasti. Direvisi menjadi: Semua berlalu. Tak kenal waktu. Perlahan tapi pasti, kehidupan metropolitan menggilas umur manusia.

    3. Pagi yang semilir, Purwokerto yang terkenal dengan kota SATRIA menyambut Arini dengan ramah, papa yang sangat dirindukan memeluknya dengan erat, betapa Arini sangat merindukan orang tua yang sebenarnya sangat dikasihi. Direvisi menjadi: Semilir pagi. Purwokerto, yang terkenal dengan kota SATRIA,  menyambut Arini dengan ramah. Papa yang sangat dirindukan memeluknya erat. Betapa Arini amat merindukan orang tua yang dikasihinya.

    4. Papa Awang memeluk anak tunggalnya, rasanya baru saja dia bisa melepas rindu anak gadis yang bertahun-tahun tidak pernah ketemu, setelah perceraian dengan Ajeng mamanya, dan tiba-tiba kabar yang disampaikan Arini bagai petir di siang hari. (Cobalah untuk merasakan ada kejanggalan dan ketidakharmonisan di dalam kalimat ini…. Temukan, lalu rasakan….)

    5. Tergurat kesedihan di wajah papa Awang, semilir angin pagi mengibaskan rambut papa Awang yang penuh dengan uban. Arini tahu papa pasti mengingat kembali putaran waktu 17 tahun lalu saat berat saat perceraian dengan mama, tapi pasti terlebih papa sedih dengan kedatangannya yang hanya menuntut suatu permintaan terakhir dan mau tidak mau papa Awang harus menepati. (Ada lompatan ide dan ketergesa-gesaan yang menimbulkan ketidakharmonisan di dalam penyusunan kata, tanda baca, dan kalimat)

    6. Ada ketidak-konsistenan penulis di dalam menyebutkan nama. “Arini” terkadang disebut sebagai “Arin”.

    Beberapa koreksi baik secara gramatika, diksi, maupun EYD:

    1.Menutut hasil laboratorium siang tadi... seharusnya “Menurut hasil laboratorium siang tadi”

    2. Limfoma Agresif, seharusnya “Limfoma agresif”

    3. … dalam 6 bulan… seharusnya “dalam enam bulan”

    4. Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam dan  keringat malam. à Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam, dan keringat malam. (Antara kata “demam” dan “dan” diberi tanda koma. Spasi antara kata “dan” dan kata “keringat” dirapatkan).

    5. “Arin Dokter boleh mendiagnosa, tetapi Allah yang berkendak.” Seharusnya, “Arin, dokter boleh mendiagnosis, tetapi Allah yang berkehendak.”

    6. sholat, seharusnya “salat”

    7. ...membutuhkan untuk istirahat, sebaiknya “perlu beristirahat”

    8. ...omprengan, seharusnya ditulis miring

    9. Profesi sebagai Sales Support menuntut dia untuk selalu..., sebaiknya “Profesi sebagai sales support menuntutnya untuk selalu...”

    10. membiayayai, seharusnya “membiayai”

    11. Hingga Arini bisa merampungkan S1... Sebaiknya, “Hingga Arini dapat menyelesaikan S1....”

    13.  ...dan sudah stadium 3. Sebaiknya, “...dan sudah stadium tiga”

    14. sang papa, seharusnya “sang Papa”

    15. …Arini menjelang 30 tahun, papa masih usia 51 tahun. Sebaiknya, “…Arini menjelang tiga puluh tahun, papa masih berusia 51 tahun”

    16. Hanya saja sekali ini Papa mau menempati permintaan... Sebaiknya, “Hanya sekali ini saja Papa mau menepati permintaan...”

    17. “ Pa, Arin sakit kangker kelenjar getah bening dan angka… Sebaiknya, “Pa, Arin sakit kanker kelenjar getah bening dengan angka…”

    18. ...kembali putaran waktu 17 tahun lalu saat... Sebaiknya, “...kembali putaran waktu tujuh belas tahun lalu saat...”

    19. Sedangkana, seharusnya “Sedangkan”

    20. melantarkanmu, seharusnya “menelantarkanmu”

    21. elukan, seharusnya “pelukan”

    22. ...untuk menyatukan 2 hati. Seharusnya, “...untuk menyatukan dua hati”

    23. ...kesejukan bathin. Seharusnya, “...kesejukan batin”

    24. Penulisan frase "takdir Sang Rabb", sebaiknya "takdir Sang Rabb." atau "takdir Ilahi."

    Selamat berlatih menulis. Semoga menjadi lebih baik dan akhirnya menjadi yang terbaik!

    Salam santun. Salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA] 

    Sesejuk Hati Arini
    Oleh Noorhani Dyani Laksmi

    IDFAM992U Anggota FAM Bogor

    Menutut hasil laboratorium siang tadi :

    Limfoma Agresif (intermediate/derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh dan bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam 6 bulan. Angka harapan hidup rata-rata berkisar 1 - 2 tahun dengan sekitar 30-40% sembuh.

    Terjawab sudah setelah akhir-akhir ini pembengkakan pangkal paha yang Arini alami adalah pembesaran kelenjar getah bening . Pembesaran kelenjar inilah yang menyebabkan berat badan turun, demam dan  keringat malam.

    “Arin Dokter boleh mendiagnosa, tetapi Allah yang berkendak.” Masih terngiang selepas sholat Isya bersama mamanya. Arini bisa melihat kepedihan hati seorang mama yang mengetahui umur putri tunggalnya divonis berumur tidak lama lagi.

    “Sudah aku pasrahkan semua hidupku pada Mu ya Rabb.” Arini berdoa menjelang tidurnya. Tetapi semakin mencoba memejamkan mata ternyata semakin banyak bayangan berputar-putar dalam pikirannya, sementara sisi lain fisiknya membutuhkan untuk istirahat karena besok adalah hari Senin, Arini harus berangkat lebih pagi dengan mengejar mobil omprengan yang kerap berebut dengan para karyawan lain.

    Sebuah kehidupan keras yang Arini harus tempuh dalam kehidupan Metropolitan yang tidak mengenal siang dan malam. Arini sudah bekerja hampir tujuh tahun dalam perusahaan multinasional, setiap hari bahkan kadang hari Sabtu harus dihabiskan di depan komputer. Profesi sebagai Sales Support menuntut dia untuk selalu up date dengan segala urusan penjualan sales yang Arini support. Arini bersyukur gaji yang diperoleh cukup untuk menghidupi dirinya dan mamanya. Arini sudah berjanji akan selalu membahagiakan dan menemani mama di sisa usia mama yang menjelang senja.

    Sejak mama bercerai dengan papa, waktu Arini duduk di kelas 1 SMP mama bekerja keras untuk menyekolahkan Arini, dari menerima jahitan, pesanan makanan, kadang merias pengantin mama Ajeng terima demi membiayayai sekolah Arini. Hingga Arini bisa merampungkan S1 Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, dan sekarang Arini menjelang usia 30 tahun, hasrat untuk berumah tangga belum juga terpikir, dirinya terlalu fokus pada pekerjaan.

    Semua berlalu tanpa terasa kehidupan Metropolitan yang tidak kenal waktu telah menggilas umur secara perlahan tapi pasti. Hingga Arini tersadar, sakit yang kerap mendera menyebabkan beberapa kali pingsan akhir-akhir ini ternyata kanker pembesaran kelenjar getah bening dan sudah stadium 3.

    Yang menjadi pikiran Arini adalah kehidupan mamanya tanpa dirinya apabila waktunya telah habis, sementara saudara tidak ada. Kakak Mama sudah meninggal semua, keponakan mama semua juga punya beban hidup masing-masing. Terbesit untuk menghubungi papa yang sempat Arini dengar kabarnya dari seorang teman yang rumahnya dekat dengan papa, kalau papanya masih sendiri.

    Senin yang crowded, hari ini Arini sudah berniat untuk mengajukan sisa cuti yang ada. Hatinya sudah bulat untuk pergi ke Purwokerto tempat papanya tinggal. Semua Arini atur sedemikian rupa agar mama tidak curiga dengan kepergiannya kali ini.

    Arini sangat menyadari akan luka hati mamanya yang bercerai dengan papa karena adanya gosip orang ketiga, segala kepedihan dan ketakutan sebagai anak broken home kerap membayangi setiap perjalanan hidupnya. Kondisi ini jugalah yang menyebabkan Arini susah untuk dekat dengan kaum lelaki, beberapa kali Arini putus karena keluarga pria tidak mau anaknya berhubungan dengan anak yang berasal dari keluarga broken home.

    Selama berpisah dari papanya sempat papa Arini sharing dengannya alasan-alasan papa dan mama berpisah, yang akhirnya tanpa Arini sadari sebenarnya mereka masih saling menyayangi hanya karena egois dan kabar yang terlalu dibesar-besarkan dari orang yang tidak menyakai keharmonisan keluarganya. Arini bertekad di sisa waktunya ingin menyatukan papa dan mamanya untuk menghabiskan masa tua mereka.

    Pagi yang semilir, Purwokerto yang terkenal dengan kota SATRIA menyambut Arini dengan ramah, papa yang sangat dirindukan memeluknya dengan erat, betapa Arini sangat merindukan orang tua yang sebenarnya sangat dikasihi.

    Duduk mencakung di beranda depan, Arini mengamati wajah sang papa yang tetap kelihatan awet muda, menikah muda memang membawa keuntungan tersendiri buat papanya. Anak telah dewasa tetapi papa masih muda dan kuat. Saat usia Arini menjelang 30 tahun, papa masih usia 51 tahun karena dulu lulus SMA papa langsung menikahi mama yang hanya selisih 1 tahun.

    “Mamamu tidak tahu Arin ke Purwokerto? Kenapa sayang?”

    Arin terdiam sesat, tapi Arin memantapkan hati untuk mengutarakan keinginan hatinya, sudah tidak ada waktu lagi semua harus Arini sampaikan, apa yang menjadi keinginan hatinya dan permintaan terakhir.

    “Pa, Arin selama ini tidak pernah meminta apapun dari Papa. Hanya saja sekali ini Papa mau menempati permintaan terakhir Arin ya ?”

    “Terakhir, memang Arin mau pergi kemana?”

    Sesaat Arin terdiam,“ Pa, Arin sakit kangker kelenjar getah bening dan angka harapan hidup rata-rata berkisar 1 - 2 tahun atau bahkan bisa kurang dari ini.”

    “Arini sayang..” Papa Awang memeluk anak tunggalnya, rasanya baru saja dia bisa melepas rindu anak gadis yang bertahun-tahun tidak pernah ketemu, setelah perceraian dengan Ajeng mamanya, dan tiba-tiba kabar yang disampaikan Arini bagai petir di siang hari. Papa Awang terduduk lemas dan tanpa terasa air matanya menetes. Rangkaian kata yang tadinya akan disampaikan menjadi beku, papa Awang ingin menanyakan kapan puterinya berumah tangga. Semua sirna.

    “Pa, selama ini Mama masih sangat mencintai Papa. Walau Mama selalu mengatakan tidak tetapi Arini tahu dari setiap perilaku Mama yang kerap malam-malam mencium baju Papa yang Mama selalu rapikan, juga foto-foto kenangan kita Mama simpan rapi di lemari yang Mama kunci karena takut aku akan membuka-buka, tapi suatu hari saat Mama pergi, Mama lupa meninggalkan kunci itu tergantung dan Arini bisa melihat semua pernak-pernik, foto Papa masih sangat Mama rawat. Tidak sekalipun Mama berpaling pada pria lain.”

    Tergurat kesedihan di wajah papa Awang, semilir angin pagi mengibaskan rambut papa Awang yang penuh dengan uban. Arini tahu papa pasti mengingat kembali putaran waktu 17 tahun lalu saat berat saat perceraian dengan mama, tapi pasti terlebih papa sedih dengan kedatangannya yang hanya menuntut suatu permintaan terakhir dan mau tidak mau papa Awang harus menepati.

    “Pa, Arini tahu mungkin ini berat buat Papa juga Mama, tapi demi Arini. Arini tidak bisa menjaga Mama lebih lama lagi, inilah yang menjadi pikiran Arini saat ini. Sedangkana saudara Mama tidak ada, siapa yang akan merawat Mama?”

    “Arini, maafkan Papa selama ini melantarkanmu sayang.” Papa Awang memeluk lebih kencang dan Arini merasakan hangatnya elukan seorang papa.

    “Papa, sudahlah Arini sudah memaafkan semuanya. Arini sadar ini semua takdir dan Allah jugalah yang berkehendak.”

    “Papa, Arini ingin saat-saat terakhir Arini bisa melihat Papa dan Mama kembali bersatu. Arini yakin Mama masih mencintai Papa, apalagi terbukti Papa sampai 17 tahun ini tetap sendiri.”

    “Demi Arini, apapun akan Papa lakukan. Papa janji akan merawat Mama…,tapi apakah Mama masih mau menerima Papa Arin, setelah sekian tahun?”

    “Arini yakin Pa, Mama akan mau menerima Papa. Karena di hati Mama cinta sejatinya tetap Papa.” Arin meyakinkan Papa yang penuh keraguan.

    Setelah banyak bertukar cerita, melepas kerinduan seharian. Semburat senja Jakarta menyambut Arini dan Papa Awang yang telah memasuki stasiun Gambir dalam sebuah kereta.

    Arini memegang erat Papanya, pasti Mama akan kaget dengan surprise yang Arin bawa. Yang terjadi terjadilah, kali ini Arin mantap untuk menyatukan 2 hati yang tengah meniti waktu senja untuk saling melepas egonya dan bersatu atas nama cinta yang sempat terkoyak. Semilir senja membawa kesejukan bathin Arini, hingga menyambut saatnya ajal yang telah menjadi takdir Sang Rabb.

    BEJ, 30 Juni 2011 “masih disela-sela kerjaan”


    Keterangan:
    Gabar sekadar ilustrasi. Sumber omaigat.wordpress.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sesejuk Hati Arini” Karya Noorhani Dyani Laksmi” (FAM Bogor) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top