• Info Terkini

    Thursday, September 27, 2012

    Ulasan Puisi “Aku” Karya Husnul Mawaddah (FAM Banda Aceh)

    Hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan, sering disebut hubungan horizontal dan vertikal, dan setiap manusia pasti punya masalah sesuai dengan kemampuannya masing-masing seperti dalam sajak ‘Aku’ yang diulas Tim FAM Indonesia kali ini.

    Pada baris pembuka penulis puisi ini menulis kalimat yang sangat berlawanan:

    Selama aku tidak menganggap masalah, masalah pun tak menganggap aku ada

    Jadi, artinya masalah di sini hanya sebuah proses yang abstrak, sebuah simbol. Mari kita simak baris di bawah ini:

    Biarkan aku terlihat mengeluh, karna hanya Tuhan yang tahu.
    Sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur

    Pada baris ini puisi ‘Aku’ mempertegas masalah, sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur. Biarkan aku terlihat mengeluh, mengeluh sebenarnya punya arti kekalahan, kesedihan, tapi justru di puisi ‘Aku’ dipertegas lagi, karena hanya Tuhan yang tahu. Dan jelas sekali Tuhan (dengan huruf T besar), artinya serius dan sungguh-sungguh dengan ucapannya.

    Pengulangan dalam puisi ‘Aku’ sebagai tanda penegasan nampak jelas dan tegas. Seperti terlihat di bawah ini:

    Biarkan aku terlihat pendiam dan menunduk, karna hanya Tuhan yang tahu.
    Sesungguhnya aku sedang menghadapkan hatiku pada-Nya.

    Menghadapkan hati pada-Nya dengan khusuk, dan diterima Tuhan yang tahu, sebuah kesungguhan dipertegas lagi.

    Aku….
    Bukan selamanya ternilai dari yang terlihat,
    Tapi tak selamanya pula terdefinisi dari apa yang terbaca dan tertulis.
    Aku….
    Yaa hanya aku yang tahu dan mengerti.

    Sebuah puisi relegius yang diberi judul ‘Aku’ memang benar-benar menunjukkan ke “Aku”annya yang tertutup dan rahasia penuh misteri, “ya hanya aku yang tahu dan mengerti”.

    Sebuah doa dan sebuah kesakralan yang terjadi pada diri individual. Dan tepatnya puisi ‘Aku’ memang enak di baca untuk diri sendiri, artinya kalau dibacakan puisi ‘Aku’ di panggung kurang ada semangat. Kecuali puisi ‘Aku’ karya penyair angkatan 1945 Chairil Anwar yang penuh semangat dan bernyawa berkobar-kobar, hingga kini.

    Koreksian EYD diantaranya:

    Kata ‘karna” seharusnya “karena” (terdapat dua kali ‘karna’), dan kata “Yaa” sebaiknya “Ya”.

    Teruslah menulis. Nikmati prosesnya dan lahirkan karya-karya yang semakin berkualitas.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Aku

    Oleh Husnul Mawaddah

    IDFAM840M Anggota FAM Banda Aceh

    Selama aku tidak menganggap masalah, masalah pun tak menganggap aku ada
    Biarkan aku terlihat mengeluh, karna hanya Tuhan yang tahu.
    Sesungguhnya aku sedang bertasbih rasa syukur,
    Biarkan aku terlihat pendiam dan menunduk, karna hanya Tuhan yang tahu.
    Sesungguhnya aku sedang menghadapkan hatiku pada-Nya.
    Aku….
    Bukan selamanya ternilai dari yang terlihat,
    Tapi tak selamanya pula terdefinisi dari apa yang terbaca dan tertulis.
    Aku….
    Yaa hanya aku yang tahu dan mengerti.


    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Aku” Karya Husnul Mawaddah (FAM Banda Aceh) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top