• Info Terkini

    Saturday, September 8, 2012

    Ulasan Puisi “Indah Senyum Terakhirmu” Karya Putri Anggraeni” (Gresik)


    Sahabat FAM, hari ini kita mengulas sebuah puisi berjudul “Indah Senyum Terakhirmu” karya Putri Anggraeini (Gresik).

    Husnul khatimah, satu kesimpulan yang tertangkap dari puisi yang singkat namun cukup padat ini. Banyak kita beranggapan saat sakratul maut datang menjemput seseorang akan tergambar bagaimana sakitnya ketika nyawa melepas dari raga. Entah rasa sakit bagaimana yang bisa melukiskan karena hanya seorang yang telah wafat yang tahu persis bagaimana sang malaikat maut datang menjemput.

    Di sini sebagai orang yang ditinggalkan, kadang kita memberi sedikit kesimpulan proses sakratul maut itu apakah sesuatu yang perih luar biasa atau hanya sesuatu yang berjalan biasa saja. Ini biasanya kita simpulkan dari ekspresi wajah dari almarhum/ah saat terakhir melepas nyawa.

    Apakah sebuah senyum kebahagiaan atau kepedihan menahan sakit yang tak terhingga? Wallahu a’lam.

    Puisi ini sangat sederhana saat satu rasa yang dalam begitu bergayut dalam sebuah suasana duka yang masih terasa. Keikhlasan atas sebuah kepergian dari orang yang dicintai sepertinya sesuatu yang dicoba gambarkan. Begitulah seharusnya sikap seorang muslim yang taat dan percaya dengan semua qada dan qadar yang tertemui dalam sebuah perjalanan kehidupan. Kematian bukan sesuatu yang selalu kita pandang sebagai suasana untuk larut dalam duka yang menganga, menyesali, apalagi meratapi sebuah kepergian yang tak akan pernah kembali.

    Secara moral puisi ini telah cukup berisikan pesan yang  memadai. Suasana yang digambarkan cukup sederhana namun begitu dalam makna.

    Dari sebuah senyuman yang terlukis di wajah almarhum/ah penulis mengungkapkan kesan itu sebagai perumpamaan yang begitu indah yang pernah dia lihat. Di sini penulis menggambarkan keindahan senyum itu dengan kalimat:

    Lebih lebut dari segundukan kapas
    Lebih indah dari panorama terbitnya matahari di atas Bromo
    Lebih becahaya dari kilauan bintang di angkasa|

    Begitu luar biasanya sebuah senyum yang dia saksikan pada suasana itu. Dengan mengambil perumpamaan selembut kapas, seindah panorama di puncak Bromo, dan sekilau bintang di angkasa.

    Gaya bahasa ini cukup memadai untuk mengungkapkan sebuah rasa. Memang dalam menulis sebuah puisi kita memerlukan pemakaian majas-majas atau gaya bahasa untuk memperkuat dan memperindah tiap diksi-diksi dalam puisi. Banyak gaya bahasa yang dapat kita pelajari, seperti personifikasi, simile, metafora, hiperbola, asonansi, aliterasi, dan lainnya. Ke semua gaya-gaya bahasa itu dapat dipelajari dari berbagai sumber yang mudah kita temukan.

    Dalam dua kalimat terakhir semakin memperjelas apa yang dimaksud dalam puisi ini.
    Penulis sengaja menjelaskan di akhir kalimat terhadap apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Ya, sebuah senyum terakhir saat menutup mata, untuk selamanya.

    Apakah seorang penulis puisi perlu mempertegas maksud kandungan puisi yang sebenarnya kepada pembaca? Tidak ada salahnya, dan tidak selalu ini ditemukan dari penulis-penulis puisi lainnya. Bahkan ada penulis yang sengaja menyamarkan maksud pesan dalam puisinya, biarlah pembaca yang menilai, biarlah puisi itu berjalan dengan sendirinya, dan biarlah setiap orang yang membaca menafsirkannya. Maka bisa saja sebuah puisi punya penafsiran berbeda dari tiap orang yang membacanya.

    Sah-sah saja. Begitulah mungkin sebuah nilai seni permainan kata.

    Beberapa koreksi EYD mungkin kita perlukan sebagai perbaikan. Seperti pada judul, akan lebih bermakna bila cukup ditulis; "Indah Senyum Terakhirmu”

    Kata "diwajahmu" seharusnya ditulis "di wajahmu”
    "lebut" seharusnya "lembut"
    "becahaya" seharusnya "bercahaya"

    Sebenarnya kesalahan dalam penulisan ini diketahui oleh penulis, hanya karena tergesa dan lupa untuk merevisi kembali sesuatu yang baru saja ditulis, maka jadilah ini sesuatu yang tak kita harapkan. Ya, proses menenangkan sebuah karya, melihat kembali, memperbaiki bila diperlukan, adalah sesuatu yang sangat baik dilakukan untuk sebuah karya yang baik.

    Selamat menulis, terus dan teruslah berkarya.

    Salam santun.
    TIM FAM INDONESIA

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Indah Senyumu Terakhirmu
    Oleh Putri Anggraeni

    IDFAM838M Anggota FAM Gresik

    Tergurat senyuman indah diwajahmu
    Senyuman itu…
    Lebih lebut dari segundukan kapas
    Lebih indah dari panorama terbitnya matahari di atas Bromo
    Lebih becahaya dari kilauan bintang di angkasa
    Senyuman itu…
    Senyuman terakhir sebelum kau menutup mata
    untuk selamanya

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Indah Senyum Terakhirmu” Karya Putri Anggraeni” (Gresik) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top