• Info Terkini

    Wednesday, September 19, 2012

    Ulasan Puisi “Kekaguman” Karya Ahmad Saadilah (FAM Pekanbaru)

    Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Kekaguman” karya Ahmad Saadilah, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Pekanbaru, Provinsi Riau.
     
    Membaca sebuah karya puisi juga membaca alam ciptaan Sang Khalik. Matahari, bulan, udara dan kisah suka dukanya seperti yang ditulis pada puisi ‘Kekaguman’ ini melukiskan apa adanya yang patut disyukuri ciptaan Sang Maha Pencipta.

    Sebagai pembuka puisi ‘Kekaguman’ mari kita simak makna kata-katanya yang benar-benar mengagumkan:

    Terbitnya mentari menghadirkan warna
    Selembut embun pagi dengan sejuknya
    Merangkai kata seindah mutiara
    Yang tersimpan dalam telaga

    Dari baris kata-kata yang dipilihnya memberi makna yang dalam. Baris ‘yang tersimpan dalam telaga’ memiliki konotasi arti dalam tentang telaga, menyimpan mutiara sebuah benda yang dikagumi kaum hawa. Penafsiran baris ‘yang tersimpan dalam telaga’ akan punya makna yang lain, bila dihubungkan dengan kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur, ada sebuah telaga lumpur yang sangat menghebohkan masyarakat di sekitarnya.

    Mari kita masuk dalam baris-baris puisi ‘Kekaguman’ yang ditulis penyairnya dengan untaian kata sbb:

    Ketika hirupan udara masuk kedalam dada
    Ketika ingatan mengali memori
    Ketika hati terjatuh olehnya
    Ketika rindu menyesak didada

    Dan sebagai penutup puisi ‘Kekaguman’ ternyata hanya bayangan belaka, bukan realita yang terjadi hanya sebuah pemikiran sang penyair:

    Alangkah indah membayangkannya
    Seakan langit tak beratap

    Mencairkan hati yang terluka
    Merebahkan dalam sandaran ketika menatapnya

    Tipografi dan pemilihan huruf kecil yang dibuat penulis dalam menulis puisi punya makna arti, perlu dipahami. Meski secara keseluruhan membaca puisi ‘Kekaguman’ punya makna yang luas adanya. Proses kreatif yang terus dijaga dalam menulis puisi.

    Koreksi penulisan:
    “Terbit nya”, seharusnya “Terbitnya”
    “kedalam”, seharusnya “ke dalam”
    “didada”, seharusnya “di dada”
    “membayangkan nya”, seharusnya “membayangkannya”
    “menatap nya”, seharusnya “menatapnya”

    Teruslah berproses. Sebab proseslah yang akan menentukan hasil.

    Salam santun, salam karya.
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Kekaguman
    Oleh Ahmad Saadilah

    IDFAM974M, Anggota FAM Pekanbaru

    Terbit nya mentari menghadirkan warna
    Selembut embun pagi dengan sejuknya
    Merangkai kata seindah mutiara
    Yang tersimpan dalam telaga

    Ketika hirupan udara masuk kedalam dada
    Ketika ingatan mengali memori
    Ketika hati terjatuh olehnya
    Ketika rindu menyesak didada

    Alangkah indah membayangkan nya
    Seakan langit tak beratap
    Mencairkan hati yang terluka
    Merebahkan dalam sandaran ketika menatap nya

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Kekaguman” Karya Ahmad Saadilah (FAM Pekanbaru) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top