• Info Terkini

    Monday, September 24, 2012

    Ulasan Puisi “Samitra Sadajiwa” Karya Melati Pertiwi Putri (FAM Bekasi)

    Menarik dan unik memang, ketika seorang penulis mampu menghadirkan kata-kata yang telah dianggap kuno, terpendam, dan banyak orang tidak tahu dengan arti yang dimiliki. Negeri kita sebenarnya cukup kaya untuk menggali unsur-unsur kebahasaan yang hampir dilupakan dan punah, berganti dengan istilah peradaban modern yang banyak mengacu dengan unsur-unsur luar.

    Bila seorang penulis mampu memunculkaan kata-kata yang dianggap usang, justru akan membuat tulisan itu menjadi unik, menarik, dan punya daya tarik tersendiri. Makanya cukup banyak penulis-penulis terkenal mencoba menggali khasanah budaya bangsa kita itu, dengan merujuk berbagi sumber seperti ensiklopedia atau KBBI.

    Samitra Sadajiwa, selintas seperti bahasa Sangskerta atau bahasa Jawa kuna. Di mana dalam keterangan di bawahnya penulis menjelaskan arti sebenarnya: persahabatan yang hidup selamanya.

    Kita simak bait puisi berikut ini:

    Ketika rona merah payungi bumi
    Seberkas ultraviolet terbias di langit
    Mengalir bisikan rumput pada bebatuan
    Tentang kisah penghuni bumu

    Dulu, seorang anak manusia
    Tak kenal apa dan siapa
    Bertumpu pada pijakan baru

    Sebagai pemerhati perjalanan sebuah cerita asmara, penulis cukup mampu memulai mengenalkan seting cerita dengan latar nuansa alam yang tak pernah habis kita ungkap keindahannya.
    Perkenalan dengan seorang tambatan hati memang tak akan pernah kita tahu kapan, siapa, di mana. Pada bait-bait pertama ini selintas digambarkan awal mulai sebuah pertemuan yang pada lanjutannya menjadi sebuah untaian-untaian indah asmara jiwa.

    Kita simak lagi bait yang ini:

    Satu demi satu ia sambut
    Salam-salam hangat,
    Malu, agak ragu,
    Tapi bermakna sesuatu

    Waktu mengalir cepat
    Dinding putih tak lagi jadi sekat

    Tiga tahun merajut
    Cinta kasih, canda tawa
    Isak tangis, suka duka
    Emosi, saling bertaut

    Ada semacam cerita asmara yang dikemas sedemikian rupa, dengan ramuan seperti cerita-cerita cinta zaman dulu, rasa malu dan rindu yang menggebu, menjadi debaran-debaran hati yang tak terlukis namun selalu indah kala mengenang dalam jarak yang terbentang dan sendiri.

    Di sini, sebuah rasa yang tersebut di atas mengalir dalam benak pembaca saat menyelam rangkaian kata yang disusun dan dipadatkan begitu rupa. Ya, bila nilai dan estetika itu mampu muncul, sesungguhnya penulis dianggap cukup mampu memainkan emosi dalam tulisan yang dibaca .Dengan memadatkan makna yang luas dalam beberapa kata yang dipilih, sesungguhnya penulis telah menawarkan sebuah genangan yang cukup dalam.

    Misteri cinta sepertinya tak pernah habis dan akan selalu ada. Tak selamanya apa yang telah dirintis sekian lama berakhir dengan cerita indah dalam sebuah mahligai kebersamaan. Cinta tak selalu harus bersama, cinta tak selalu berujung dengan saling memiliki.

    Akhir cerita ini tersimpulkan bila kita simak di akhir bait puisi ini:

    Ikatan terjalin bagai proton elektron
    Saling menguatkan
    Mata rantai persahabatan
    Mereka kukuhkan
    Di ujung perpisahan

    Dua kata,
    SAMITRA SADAJIWA

    Cukup menyedihkan, namun akhir sebuah catatan perjalan cinta harus ditempuh dengan lain cerita. Persahabatan, ya persahabatan adalah sebuah hubungan yang bisa langgeng dipertahankan bila cinta tak mampu menautkannya.

    Sebuah tema yang sangat menarik  untuk diangkat dalam sebuah puisi naratif. Dengan kemasan gaya bahasa yang sederhana penulis telah mampu memaparkan sebuah cerita dalam rangkaian kata-kata yang padat namun dalam makna.

    Keindahan puisi ini cukup banyak kita temui, mulai dari kronologi kejadian, permainan rima, atau gaya-gaya bahasa yang dipakai.

    Dengan semakin sering berlatih, membaca, dan mempelajari seni perangkaian kata maka imajinasi penulis yang muncul akan terkemas dalam puisi-puisi yang mantap dan mengena.
    Perhatikanlah kembali konsep yang telah dibuat sebelum diposting dan dibaca khalayak ramai. Mungkin ada kesalahan pengetikan atau pemakaian tanda baca.

    Selamat menulis. Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SAMITRA SADAJIWA

    Oleh Melati Pertiwi Putri

    IDFAM939M Anggota FAM Bekasi

    Ketika rona merah payungi bumi
    Seberkas ultraviolet terbias di langit
    Mengalir bisikan rumput pada bebatuan
    Tentang kisah penghuni bumu

    Dulu, seorang anak manusia
    Tak kenal apa dan siapa
    Bertumpu pada pijakan baru

    Satu demi satu ia sambut
    Salam-salam hangat,
    Malu, agak ragu,
    Tapi bermakna sesuatu

    Waktu mengalir cepat
    Dinding putih tak lagi jadi sekat

    Tiga tahun merajut
    Cinta kasih, canda tawa
    Isak tangis, suka duka
    Emosi, saling bertaut

    Ikatan terjalin bagai proton elektron
    Saling menguatkan
    Mata rantai persahabatan
    Mereka kukuhkan
    Di ujung perpisahan

    Dua kata,
    SAMITRA SADAJIWA*

    *Samitra Sadajiwa : Persahabatan yang hidup selamanya.


    Ket: Gambar hanya sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Samitra Sadajiwa” Karya Melati Pertiwi Putri (FAM Bekasi) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top