• Info Terkini

    Friday, September 21, 2012

    Ulasan Puisi “Sunyimu Tawar Sepiku” Karya Lin Hana (FAM Jember)

    Setidaknya dalam menulis puisi, kita harus paham bagaimana majas, rima, kata, frase atau hubungan kalimat dalam menulis. Tentu saja harus membaca, mengerti dan paham akan sebuah puisi, dari mana ia dimulai dan diakhiri. Sebuah puisi membutuhkan imajinasi dan idiom yang akan dipungut dalam realitas keseharian dan akan menimbulkan makna yang mendalam. Keseluruhannya adalah pengalaman yang mengkristal dimediasi oleh realitas.

    “Sunyimu Tawar Sepiku” puisi yang dibuka dengan bait yang menerbangkan pikiran kita dalam tarian kata-kata yang sangat mengejutkan, sekaligus menerbangkan misteri penafsiran dengan simbol-simbol yang sangat menarik.

    Kita simak bait berikut ini:

    Dalam sepiku tawar sunyimu menyergapku
    Mengajak berdansa dengan dance rindu yang memabukkan
    Sakau tubuhku
    Tubuhmu sempoyongan

    “Sunyimu Tawar Sepiku” imajinasi dan idiom yang dibangun rindu memabukkan memiliki makna yang mendalam tentang kerinduan pada seseorang, dalam kesendirian dan telah lama tak jumpa hingga membuatnya rindu berat alias ‘galau’. Berdansa adalah menggerakkan tubuh untuk menghilangkan kepenatan atau menghibur diri dengan pasangan atau sahabatnya. Kemungkinan masih selisih paham dengan bahasa  tubuh sempoyongan. Berbagai makna, berbagai tafsiran melayang-layang dalam puisi ini.

    Akhirnya dengan pertemuannya yang saling dirindukan menyatukan aroma nafas mereka:

    Kakiku bergerak pelan; tanganmu bergerak lancing
    Menaiki paraf-paraf urat yang mengejang
    Aku terkekeh
    Kau terbahak lantang
    Napasku telentang
    Napasmu telanjang

    “Sunyimu Tawar Sepiku”, sebuah peradaban hidup di kota-kota yang ‘menggeliat’ 24 jam, pasti memberikan dampak positif dan negatif, dibangunnya hotel-hotel, tempat hiburan malam, maka wajah kota akan bergerak jadi apa saja, di punggung kota wisata akan jadi hiburan di samping juga akan menjadikan mata pencaharian bagi para pedagang.

    Bahasa iklan sebagai devisa Negara maka kota-kota dibangun sebagai kota hiburan yang sejuk bagi keluarga. Dalam bait puisi “Sunyimu Tawar Sepiku” ditutup dengan kata-kata yang sangat menarik gaya bahasanya:

    Di punggung kotaku
    Kata-katamu berlarian
    Deras seperti lebat hujan
    Menurun; menjalari betisku yang jenjang
    Meleburkan desah
    Sepanjang senyap kamar-kamar

    Ah, sudahlah sekian dulu, Tim FAM ikut larut dalam belaian “Sunyimu Tawar Sepiku” puisi yang komunikatif, inovatif, dan kreatif. Ditunggu proses berikutnya.

    Salam karya, salam santun.
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sunyi Tawar Sepiku
    Oleh Lin Hana

    IDFAM879M Anggota FAM Jember

    Dalam sepiku tawar sunyimu menyergapku
    Mengajak berdansa dengan dance rindu yang memabukkan
    Sakau tubuhku
    Tubuhmu sempoyongan

    Kakiku bergerak pelan; tanganmu bergerak lancang
    Menaiki paraf-paraf urat yang mengejang
    Aku terkekeh
    Kau terbahak lantang
    Napasku telentang
    Napasmu telanjang

    Di punggung kotaku
    Kata-katamu berlarian
    Deras seperti lebat hujan
    Menurun; menjalari betisku yang jenjang
    Meleburkan desah
    Sepanjang senyap kamar-kamar

    Pebruari 2012, Madura Annuqayah


    Ket: Gambar sekadar ilustrasi diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Sunyimu Tawar Sepiku” Karya Lin Hana (FAM Jember) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top