• Info Terkini

    Wednesday, September 12, 2012

    Ulasan Puisi “Syair untuk Bulan” Karya Fadilla Amelia (Batusangkar)


    Sahabat FAM, kali ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Syair untuk Bulan” karya Fadilla Amelia, anggota FAM Indonesia asal Kota Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat.

    Suasana keindahan pancaran sinar rembulan di waktu malam, memang selalu menjadi inspirasi yang tak pernah kering digali bagi para pencinta seni. Apakah seorang perupa, pelantun nada, atau penyair yang melukiskan dengan rangkaian kata-kata.

    Aku menatap bulan dalam kesendirian
    Bernyanyi syahdu pada suling 3 oktaf

    Hmm, suasana romantis yang cukup tergambar dalam suasana purnama itu. Ternyata keromantisan tidak selalu dalam suasana bersama kekasih hati atau orang yang kita cintai. Dalam kesendirian ternyata menikmati sebuah keindahan alam jagad raya akan semakin bermakna saat dialog kekaguman itu kita resapi di palung hati nurani.

    Ya, hati kecil seakan bicara, mungkin sebuah kebenaran akan semua kuasa-Nya akan semakin kita dengar di detak-detak hati yang selalu jujur bicara.

    Keindahan suasana ini cukup menarik tergambar dengan membayangkan alunan sebuah seruling yang dimainkan.

    Sebuah alat musik tiup yang punya pesona tersendiri. Sepertinya kita sedikit terganggu melihat kalimat indah ini dengan mencantumkan kata "3", tidak salah memang menuliskan angka dalam sebuah kalimat, namun sepertinya agak memperlemah keindahan kalimat dalam puisi ini. Lebih baik mungkin ditulis "tiga", ada keseragaman dan kemantapan untuk sebuah deretan kata.

    Lalu sebuah renungan sepertinya dimunculkan dalam kalimat-kalimat selanjutnya. Keharuan dengan suasana yang indah, teringat segala kekhilafan yang mungkin pernah ada, larut sejenak dengan duka yang selalu ada dan mewarna.

    Ya, pada alam ternyata kita banyak belajar, pada alam ternyata juga sahabat setia yang selalu mendengar keluh kesah kita, pada alam ternyata luka-luka kita dapat terobati dengan sendirinya.

    Ini suasana yang sepertinya digambarkan penulis untuk sebuah pesan moral yang dirasakan. Begitulah puisi, segala rasa, segala kata, bila kita jujur mengikutinya akan selalu bermuara kepada Sang Maha Pemilik Cinta.

    Untuk sebuah puisi, penulis telah mempunyai cukup modal untuk menyelami sebuah rasa. Perlu semakin lebih sering menangkap semua sinyal-sinyal yang dirasakan itu, meresapinya lebih dalam, mengungkapkannya dengan rangkaian kata yang jujur, dan lebih dalam untuk sebuah penggalian makna.

    Satu lagi yang mungkin dapat disarankan, biasakanlah menulis dengan otak kanan, dengan tidak membatasi pengembaraan imajinasi dalam perjalanannya.

    Yakin penulis mempunyai bakat yang bisa lebih dikembangkan. Banyak berlatih, membaca, dan selalu menulis.

    Salam santun, salam karya.
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Syair untuk Bulan
    Oleh Fadhilla Amelia

    IDFAM870M Anggota FAM Batusangkar

    Aku menatap bulan dalam kesendirian
    Bernyanyi syahdu pada suling 3 oktaf
    Kuredam gemuruh dengan nada diatonis minor
    Biarlah angin kikis noda luka ku
    Belai lembut tiap kontur tubuh ku
    Hingga sepucuk syair terakhir kusudahi

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Syair untuk Bulan” Karya Fadilla Amelia (Batusangkar) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top