• Info Terkini

    Friday, November 9, 2012

    Bang Awkar di Mata Saya: “Seorang Guru yang Bijak, Kawan yang Setia”

    (Pengantar Buku “Simeulue Dalam Goresan Pena” karya Awaluddin Kahar. Akan terbit di FAM Publishing, Divisi Penerbitan FAM Indonesia)

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Merantau ke Kota Padang, Sumatera Barat, adalah keputusan akhir ketika ayah saya meninggal dunia pada Maret tahun 2000 di Kruenggeukueh, Aceh Utara. Ketika itu beberapa bulan lagi saya akan menamatkan SMA. Entah mengapa pilihan hati saya berat hendak pergi ke Padang, padahal tidak pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di kota itu sebelumnya.

    Tapi inilah agaknya yang dinamakan takdir. Setamat SMA, pada Juni 2000, saya boyong ibu yang telah menjanda dan tiga orang adik yang masih kecil-kecil, merantau ke Kota Padang. Modal merantau cuma sedikit uang hasil penjualan perabotan di rumah peninggalan almarhum ayah yang nilainya tidak seberapa. Saya sudah membulatkan tekad keluar dari Aceh karena ketika itu konflik bersenjata di Tanah Rencong sedang membara.

    Di usia yang masih sangat muda, 19 tahun, saya sudah memikul beban tanggung jawab merawat ibu yang sakit-sakitan dan menyekolahkan tiga orang adik di kota yang tidak saya kenal. Tak ada seorang pun sanak keluarga di Padang. Tak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah. Semuanya saya jalani dengan sabar dan lapang dada. Saya yakin janji Allah, di mana ada kesulitan di sana ada kemudahan.

    Maka, sebagai seorang remaja yang baru tamat SMA, saya coba melamar pekerjaan ke sana ke mari. Mengetuk satu pintu ke pintu lainnya perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Padang. Saya ajukan permohonan mengharapkan ada pekerjaan yang bisa memberi saya sedikit uang untuk menafkahi ibu dan adik-adik. Tapi nasib baik belum berpihak kepada saya, sebanyak lamaran yang saya antarkan sebanyak itu pula yang dikembalikan. Ya, lamaran saya ditolak mentah-mentah, tak ada pekerjaan bagi remaja yang belum berpengalaman seperti saya.

    Dalam mencari pekerjaan ini, suatu hari saya pernah ditipu dengan sangat ‘telak’—bersama puluhan pelamar lainnya—ketika sebuah iklan lowongan kerja yang saya baca di sebuah koran harian lokal mengumumkan ada perusahaan perbankan membutuhkan karyawan minimal berijazah SMA. Merasa memenuhi persyaratan, saya pun ikut mengirim lamaran. Seminggu kemudian datanglah surat balasan melalui pos yang isinya menyebutkan bahwa saya telah diterima, namun persyaratannya harus mengirimkan uang administrasi sebesar Rp95 ribu, dan pada hari Minggu semua pelamar diminta datang ke sebuah hotel berbintang di Padang dengan mengenakan baju putih dan celana hitam. Menerima surat itu, tentu senangnya bukan main hati saya. Usai transfer uang yang diminta—uang itu saya pinjam dari adik saya yang belum bekerja—pada hari yang disebutkan berkumpullah saya dan kawan-kawan senasib di hotel tersebut. Tapi apa lacur, melalui seorang satpam hotel, disebutkan tidak ada perusahaan perbankan yang membuat acara rekrutmen karyawan di hotel. Semua kami terpekik. Ada yang histeris terutama perempuan. Duh, pengalaman kena tipu yang paling memalukan.

    Usai luntang-lantung tak tentu arah, akhirnya saya memilih tinggal di sebuah musala di kawasan Air Tawar Barat, Padang. Saya menjadi gharin (pembantu musala) di sana. Alhamdulillah, meski bukan sebuah pekerjaan layaknya di perusahaan, sedikit banyak rezeki mengalir. Ada-ada saja jemaah yang memberi uang meski jumlahnya tidak seberapa, membawakan lauk-pauk, dan juga ‘menyedekahkan’ beras. Sesekali saya juga diundang ke rumah jemaah, disuruh memimpin doa keselamatan bila ada yang syukuran—walau sebenarnya doa yang saya hapal secukupnya saja. Semuanya saya syukuri dan sangat membekas di kenangan.

    Ketika mengurus musala ini, saya menyewa sebuah rumah kecil jauh dari kelayakan untuk ibu dan adik-adik yang beberapa meter saja jaraknya dari musala yang saya tempati. Ketika ada jemaah yang memberikan kemurahan hatinya, rezeki itu saya bawa pulang, kami nikmati bersama-sama. Walau sedikit, tetapi terasa nikmat.

    Di musala ini pula jiwa kepenulisan saya terbentuk dan semakin terasah. Di sisa-sisa waktu luang, saya menyempatkan menulis dan mengirimkannya ke beberapa surat kabar di Padang. Alhamdulillah, satu dua tulisan saya dimuat. Tulisan yang terbit tentu saja mendapat honor walau tidak besar, tapi cukuplah untuk membeli pena dan pengganti kertas. Setiap minggu saya nantikan tulisan-tulisan saya yang terbit di koran-koran itu.

    Di awal tahun 2001 seorang kawan mengajak saya bekerja di sebuah koran mingguan. Tanpa meninggalkan rutinitas di musala tawaran itu saya terima. Mulanya saya mengira menjadi wartawan itu bergaji besar, ternyata tidak sama sekali. Beberapa tahun menjadi wartawan di beberapa koran mingguan bisa dikatakan saya tidak bergaji! Sangat memiriskan sekali. Karena tidak bergaji itu pula, saya lebih banyak bekerja di bagian redaksi, mengetik ulang naskah, mensortir surat yang masuk, memerhatikan cara melayout koran, bahkan membantu mencari iklan. Walau demikian semua itu menjadi ilmu dan pengalaman sangat berharga buat saya, dan manfaatnya baru saya rasakan sekarang.

    Di masa-masa sulit itulah, pada suatu hari, di pertengahan tahun 2001, pintu kamar saya di musala diketuk orang. Saya buka pintu dan memerhatikan seorang lelaki bertubuh tambun tersenyum kemudian menyalami saya dengan penuh persahabatan. “Subhan ya, orang Aceh kan?” sapanya ramah. Saya balas salam dan senyum lelaki itu dan mempersilakannya masuk ke dalam kamar saya yang sempit. “Maaf, Bapak ini siapa ya?” Saya masih heran dari mana ia tahu nama dan asal saya.

    “Jangan panggil sebutan Bapak, panggil abang saja. Saya Awaluddin Kahar. Bang Awkar,” Ia memperkenalkan diri. Itulah perkenalan pertama saya dengan Bang Awkar, yang akhirnya saya ketahui ia berasal dari Pulau Simeulue, Aceh, yang bekerja sebagai wartawan di beberapa koran di Padang. Ia mengetahui diri saya setelah mendapat informasi dari seorang kawan wartawan lainnya bahwa ada orang Aceh yang juga jadi wartawan di Padang.

    Setelah merasa sama-sama senasib sepenanggungan, hari-hari berikutnya kami selalu bertemu, berdiskusi, bahkan meliput berita bersama. Tak jarang kami berboncengan sepeda motor miliknya. Jika lelah di lapangan kami cari kedai kopi atau rumah makan sembari merenung-renungkan nasib kapan hidup akan berubah. “Kita harus bekerja lebih keras, Dik. Jangan sampai rambutmu ikut habis seperti Abang,” ujarnya bercanda sembari memegang kepalanya yang setengah botak dengan kedua tangan. Kami pun tertawa bersama.

    Itulah keakraban saya dan Bang Awkar sehari-hari. Karena di masa itu kami belum punya alat komunikasi handphone, setiap kali bertemu kami harus buat janji dulu, dan esoknya ia menjemput saya di lokasi mana yang disepakati. Setiap kali berpisah ia pun tak sungkan memberikan saya sedikit uang yang tentu saja sangat berharga sekali buat saya ketika itu.

    Bisa dikatakan, proses pembentukan diri saya menjadi wartawan tak lepas dari campur tangan Bang Awkar. Dialah yang memperkenalkan saya kepada sejumlah anggota DPRD Sumatera Barat, mengajarkan cara melakukan wawancara yang baik dan benar, berpakaian sopan dan rapi, bahkan di tahun 2004 mempromosikan saya bekerja di Harian Mimbar Minang yang sedikit banyak mengubah jalan hidup saya dikemudian hari.

    Setelah benar-benar serius menekuni dunia kewartawanan, saya pun mohon izin kepada pengurus musala untuk sepenuhnya bekerja di surat kabar. Pengurus mengizinkan dan sebagai penggantinya saya titipkan adik laki-laki saya di sana. Sejak pertengahan 2004 itulah, setelah empat tahun luntang-lantung di belantara Kota Padang yang ‘garang’, saya memutuskan sepenuhnya bekerja di dunia media. Dan ternyata, walau bergaji pas-pasan, saya menikmati pekerjaan itu. Bakat menulis saya semakin berkembang, kawan-kawan baru mulai saya kenal, berbagai liputan penting saya tangani, bahkan beberapa kali mendapat tugas keluar provinsi.

    Setelah Harian Mimbar Minang bangkrut lalu berubah menjadi surat kabar mingguan, saya dan Bang Awkar kemudian memutuskan hijrah ke media lain. Di tahun 2005, beberapa bulan usai tsunami Aceh, seorang kawan mengajak saya mendirikan surat kabar yang kemudian diberi nama Harian Serambi Minang. Koran ini terinspirasi dari Harian Serambi Indonesia Aceh. Namun sayang koran itu cuma bertahan tiga bulan karena minimnya tenaga profesional di dalamnya.

    Setelah saya keluar dari Serambi Minang, Bang Awkar direkrut dan dipercaya untuk menjadi Pemimpin Redaksi koran itu. Beberapa bulan kemudian koran itu berjalan dengan edisi mingguan. Walau sudah keluar dari struktur redaksi namun saya tetap menjadi kontributornya, di samping saya bekerja di Harian Haluan hingga memutuskan berhenti pada tahun 2010. Pendek kata, meski berpisah media, namun hati kami tetap satu, saling membutuhkan dan saling berbagi suka duka.

    Di awal-awal menjadi wartawan bisa dikatakan saya sering menumpang tidur di rumah Bang Awkar yang sederhana di Kompleks Perumahan Belimbing, Padang. Istrinya, Uni Emi, yang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) sangat ramah menyambut saya. Di rumah tangga keluarga itu, saya perhatikan bagaimana anak-anak Bang Awkar diajarkan bersopan santun dan keramahtamahan. Jarang saya mendengar keributan. Zarra dan Ulfa, dua putri Bang Awkar, juga anak-anak cerdas yang selalu berprestasi di sekolah dan sangat hormat kepada kedua orangtuanya. Tentu saja, sebagai remaja yang masih bujangan ketika itu, apa yang saya lihat menjadi ilmu dan pengalaman berharga bagi saya ketika telah berumah tangga.

    Mingguan Serambi Minang tak bertahan lama. Beberapa bulan terbit Bang Awkar memilih hijrah lagi. Suatu hari pernah saya katakan kepadanya, “Bang, sudah cukup abang jadi wartawan. Sekarang abang yang harus memimpin wartawan. Abang harus menjadi pimpinan apalagi usia abang sudah di atas 40 tahun. Seharusnya sudah sangat matang karir abang.” Ia mengangguk-anggukkan kepala sembari ‘mengunyah-ngunyah’ kalimat saya itu.

    Memang akhirnya Bang Awkar memutuskan untuk membangun media sendiri. Berbekal kepercayaan beberapa orang relasinya, ia mendirikan Surat Kabar Serumpun, sebuah koran mingguan dengan misi penulisan berita yang santun dan Islami. Di dekat Kedai Mie Aceh “Bang Lah” di kawasan Tunggul Hitam Padang, ia mengontrak sebuah rumah sebagai kantor koran itu. Sekali-kali saya ikut diundang menulis di surat kabarnya itu.

    Karena kendala modal pula, akhirnya Surat Kabar Minggu Serumpun juga tidak dapat bertahan lama. Sekian bulan vakum. Bang Awkar dengan kesetiaannya tetap memberikan semangat kepada kru Serumpun untuk bersabar semoga media itu bisa terbit kembali.

    Tapi yang membuat saya terharu, suatu hari Bang Awkar menelepon saya tentang rencananya pulang ke kampung halamannya, Simeulue, sebuah pulau di lautan Aceh yang menjadi pusat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Dia menyebut akan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Simeulue untuk menerbitkan surat kabar guna mempromosikan potensi Simeulue yang jauh dari daratan ke dunia luar. Beberapa bulan kemudian saya mendapat kabar bahwa Bang Awkar telah menerbitkan Surat Kabar Simeulue (SKS). Pemkab Simeulue bersedia menjalin kerjasama. Luar biasa! Saya benar-benar salut kepadanya.

    SKS yang dipimpin Bang Awkar sekitar dua tahun bertahan. Meski relatif masih sangat muda namun berbagai gebrakan telah dilakukan media ini. Dari minggu ke minggu SKS bergerak manis meski diakui Bang Awkar banyak kendala yang harus ia hadapi, mulai masalah pembinaan SDM wartawan, pemasukan iklan, hingga distribusi koran agar menyentuh ke seluruh sektor kehidupan masyarakat di Pulau itu. Walau demikian semua kendala itu tentu saja menambah pengalaman bagi Bang Awkar untuk lebih profesional dalam memimpin surat kabar yang dicita-citakannya sejak lama.

    Ketika saya dimintanya menulis sedikit pengantar dari seorang sahabat untuk buku perdananya ini—Simeulue Dalam Goresan Pena (Catatan Kritis Seorang Wartawan)—lagi-lagi saya terharu dengan semangat kerja kerasnya untuk maju dan mengubah jalan hidupnya. Saya resapi kalimat-kalimat dalam tulisan sederhananya yang kritis menyikapi berbagai persoalan, khususnya tentang kepeduliaannya terhadap bahasa Ulau yang kian terkikis di Simeulue. Banyak anak-anak Simeulue sekarang yang malu menggunakan bahasa ibunya itu. Padahal bak kata pepatah, bahasa menunjukkan bangsa. Maka, melalui surat kabar yang ia kemudikan biduknya, Bang Awkar ingin memperjuangkan bahasa Ulau sehingga menjadi bahasa “wajib” di tengah masyarakat Simeulue. Salah satu cara ia meminta Pemerintah Kabupaten Simeulue melalui Dinas Pendidikan setempat agar memasukkan bahasa Ulau ke dalam kurikulum sekolah dasar hingga sekolah menengah. Sayang, SKS penerbitannya terhenti hingga kini, dan dia berharap dapat melanjutkan kembali memimpin media itu di kemudian hari nanti.

    Bang Awkar, di mata saya adalah seorang guru yang arif, juga bijaksana. Banyak yang ia ajarkan kepada saya soal pelajaran hidup, khususnya tentang semangat kerja keras dan pantang menyerah. Dan, sebagai seorang sahabat dia adalah kawan setia yang tidak melupakan sahabatnya meski kehidupannya sudah hampir mencapai puncak kesuksesan. Saya tetap dirangkulnya. Sumbang saran dan pemikiran saya tetap diharapkannya, walau usia saya jauh lebih muda darinya.

    Tak ada rangkaian kata yang indah saya kira selain ucapan selamat atas semua pencapaian karir Bang Awkar hari ini. Sebagai seorang adik, sahabat, dan saudara se kampung halaman (Aceh), saya menyatakan salut dan bangga kepadanya.

    Padangpanjang, 23 Oktober 2012

    *) Jurnalis dan penulis, Ketum FAM Indonesia

    Foto: Awaluddin Kahar dan Muhammad Subhan usai mendarat di Bandara Lasikin, Kota Sinabang, Pulau Simeulue, Aceh dalam suatu kegiatan jurnalistik.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bang Awkar di Mata Saya: “Seorang Guru yang Bijak, Kawan yang Setia” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top