• Info Terkini

    Monday, October 1, 2012

    Cinta Buku Membawa Aini Menjadi Penulis Belia yang Produktif

    Adalah Qurrota Aini. Biasa dipanggil dengan Aini. Bagi anak-anak pencinta buku, terutama mereka yang menggemari serial KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) boleh jadi namanya cukup dikenal. Ia seorang gadis beranjak remaja. Lahir di Malang, 14 tahun yang lalu. Saat ini ia tercatat sebagai murid Diniyah Putri Padang Panjang, Sumatera Barat. Kebetulan, ia teman sekelas TK dan SD anak sulungku. Karena lamanya Aini berteman dan satu kelas dengan anak saya, membuat saya cukup mengenal orangtuanya, terutama ibundanya. Masih saya ingat, ketika suatu saat Ummi Aini bercerita pada saya bahwa Aini sudah menyukai buku bahkan sejak usianya belum genap setahun. Meski saat itu Aini kecil belum mengerti tapi ia sudah terlihat begitu tertarik memperhatikan gambar-gambar yang ada dalam buku. Baru di usia 4 tahun Aini mulai mencorat coret, membaca juga menulis.

    Di Taman Kanak-kanak, sosok Aini belum menonjol. Baru ketika duduk di kelas 1 Sekolah Dasar, prestasinya perlahan mulai nampak, terutama di dunia tulis menulis. Saat itu, untuk pertama kali Aini mengirim karya perdananya ke sebuah harian ternama, hingga akhirnya dimuat di koran cilik harian itu. Ini membuatnya makin semangat menulis. Pada tahun 2004 lahirlah buku pertamanya berjudul Nasi Untuk Kakek. Dan yang menakjubkan, karya pertamanya langsung berhasil menjadi best seller. Selain itu juga meraih penghargaan Adikarya IKAPI pada tahun 2005. Saat itu usia Aini 7 tahun. Karya perdana ini pula yang juga membawanya sukses dinobatkan sebagai penulis antalogi cerpen termuda oleh Musium Rekor Indonesia (MURI).

    Tak hanya di bidang menulis. Aini juga mahir menggambar. Hingga beberapa kali berhasil meraih prestasi di beberapa kompetisi menggambar yang difasilitasi sekolah. Kebetulan sekolah tempat Aini menimba ilmu, yaitu SDIT Insan Mandiri, sangat concern menggali potensi dari semua anak didiknya. Hingga SDIT ini sangat rajin mengikuti berbagai even kompetisi dan banyak dari siswanya yang berhasil sukses meraih prestasi dari mulai tingkat nasional bahkan sampai international.

    Namun nampaknya dunia Aini adalah menulis. Hingga akhirnya ia lebih memfokuskan perhatiannya pada dunia yang dicintainya itu. Sejak buku pertamanya menjadi best seller, Aini bergabung sebagai penulis KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya). KKPK mewadahi berkumpulnya penulis-penulis cilik berkisar usia 7-14 tahun. Sudah tak terhitung kumpulan serialnya.

    Sejak itu berturut-turut lahirlah karya-karya Aini yang lain. Di antara judulnya, Chocolate Milk, Asyiknya Outbond, My Wonderful Holiday, Tangan-Tangan Melukis Langit, Magic Crystal dan hingga kini  sudah terbit 10 judul buku. Beberapa diantaranya hasil kolaborasi dengan sesama penulis KKPK.

    Setelah lulus dari Sekolah Dasar hampir 2 tahun yang lalu, membuat saya kehilangan kontak dengan Ummi Aini. Meski anak saya masih berteman dengannya di media sosial Facebook. Terakhir yang saya tahu Aini bersekolah di Pesantren Darun Najah Ulujami. Beberapa hari lalu, iseng saya searching nama Aini di google, sekadar ingin tahu perkembangan prestasinya kini. Saat itu saya menemukan berita tentangnya di situs Padang Media.com. Di sana diberitakan tahun 2010, Aini mendapat penghargaan. Apresiasi ini diberikan atas karyanya sebagai penulis dalam rangka launching program Tabunganku di Bank Indonesia. Untuk itu Bank Nagari menghadiahinya sebuah laptop yang akan menemani hari-harinya dalam berkarya.

    Masih di tahun yang sama, Aini menjadi narasumber dalam Jumpa Sastrawan Nasional yang digelar dalam rangka milad Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang Sumatera Barat, tempat di mana Aini bersekolah. Ia bersanding menjadi pembicara bersama Ahmad Fuady penulis novel best seller “Negeri 5 Menara”. Acara ini mempunyai misi membangkitkan minat anak untuk berkarya lewat tulisan.

    Ada sosok orangtua hebat dibalik kesuksesan seorang Aini. Mereka adalah pasangan Adiyati Fathu Roshonah dan Tjahyo Suprayogo. Kedua orangtua hebat inilah yang selalu mensupport semua karya dan minat sang anak. Bahkan Aini dan orangtuanya sudah sejak dulu sangat peduli menggaungkan program cinta buku dan semangat menulis. Hingga mereka sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar yang bermisi agar anak-anak bisa mencintai buku dan mau belajar menulis sejak dini. Aini menjadi ikonnya.

    Saya kagum mengikuti napak tilasnya. Lama tak jumpa sosoknya, ternyata ia semakin berkibar dengan prestasinya. Tak surut dimakan waktu. Bila terus diasah, bukan tak mungkin gaya menulisnya akan semakin matang. Rasanya tak butuh waktu lama untuk melihatnya menjadi seorang penulis hebat.

    Kini, Aini sudah bisa menikmati royalti dari penjualan buku hasil karyanya. Benar-benar sosok produktif di usia belia. Tentu hal ini makin meletup semangat penulis cilik ini untuk maju. Sebagaimana cita-cita yang diimpikannya. Menjadi seorang penulis hebat seperti sosok Asma Nadia, penulis yang dikaguminya. Dan semua cerita indah ini berawal dari buku. Demikian the power of book. Kekuatannya bukan mustahil mampu mewujudkan mimpi seorang anak kecil sekalipun.

    Semoga kisah ini bisa menginspirasi orang tua lainnya untuk memacu anak cinta buku sekaligus juga cinta menulis sejak dini.

    AULIA GURDI


    Keteran gambar: Qurrota Aini (kiri) bersama Fauziah Fauzan, SE, Akt, M.Si (kanan), Pimpinan Diniyyah Putri Padang Panjang. (foto: http://nisaulhilwa.blogspot.com)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Cinta Buku Membawa Aini Menjadi Penulis Belia yang Produktif Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top