• Info Terkini

    Wednesday, October 3, 2012

    Digital Book, Masa Itu Sudah Datang

    Dulu, buku adalah barang langka yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Kemudian, saat Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak, buku segera menjadi barang yang diproduksi secara massal dan kini siapa saja dapat dengan mudah mendapatkannya.

    Zaman pun terus melaju, buku dengan media kertas sudah beralih ke media lain. Dari media kertas ke nonkertas (paperless). Pemicunya beragam, dari isu kepedulian terhadap lingkungan hingga perkembangan teknologi yang sangat pesat. Sehingga saat ini kita pun mulai akrab dengan ebook atau buku yang berformat digital.

    Sayangnya, di Indonesia buku digital belum menemukan momentumnya. Masyarakat masih menggandrungi buku cetak biasa. Akan tetapi, Pangestu Ningsih, CEO Mizan Digital Publishing, optimis bahwa momentum buku digital akan segera tiba, bahkan perlahan-lahan sedang berlangsung seiring dengan kecenderungan masyarakat yang gandrung dengan gadget.

    Perempuan kelahiran 27 Juli yang tulisannya sudah dimuat berbagai media lokal dan nasional ini bercerita tentang prospek buku dijital dan pentingnya penulis mengetahuinya.

    Apa kelebihan dan kekurangan buku digital dibandingkan dengan buku cetak biasa?

    Yang pasti, buku digital lebih hemat ruang. Bayangkan bahwa dalam satu tablet, Anda dapat menyimpan ribuan bahkan ratusan ribu buku. Buku digital juga lebih prolingkungan karena tidak memerlukan kertas, yang berarti tak perlu menebang pohon. Buku digital juga lebih efisien karena tidak dicetak, sehingga harga buku lebih murah. Kekurangannya—kalau bisa disebut kekurangan—saat ini orang-orang masih menggandrungi buku konvensional. Masyarakat kita masih menyukai “romantika buku kertas” yang bisa terlihat saat ditenteng, dipegang bentuk fisiknya, atau dibaui aroma kertasnya. Tetapi siapa tahu, dengan kemajuan teknologi, di masa depan kita bisa menciptakan piranti lunak yang bisa menguarkan bau kertas dari buku digital.

    Secara singkat, bagaimana proses produksi buku digital ini?

    Sebagian hampir sama mekanismenya dengan buku cetak biasa seperti proses pengiriman dan penerimaan naskah, proses edit, disain dan tata letak. Hanya saja, di akhir proses alih-alih pencetakan buku, kita melakukan konversi file naskah ke dalam format ebook yang kita kehendaki, misalnya format pdf atau epub. Untuk penjualan, buku digital ditawarkan melalui aplikasi-aplikasi ebook yang ada di appstore (iOS) maupun di google play (android), seperti Wayang Force, Scoop, dan lain-lain.

    Menurut Anda, apakah penulis-penulis di Indonesia, khususnya penulis muda, sudah melek dengan fenomena ini?

    Secara umum, para penulis sudah menyadari perkembangan ini, meski ada beberapa yang masih ragu karena alasan keamanan dan juga minat, pengetahuan, serta daya terima masyarakat yang masih rendah terhadap buku digital. Kalau untuk prosentase royalti sama saja dengan buku cetak biasa. Namun pada saatnya nanti ada potensi volume penjualan buku digital jauh lebih besar sehingga secara absolut, nilai nominal yang diterima penulis pun akan lebih besar.

    Sejak kapan Mizan menerjuni buku digital? Bukankah di Indonesia buku digital belum menemukan momentumnya?

    Mizan mulai membuat ebook pertama kali pada 2001 dengan buku berjudul “Wasiat Sufi” yang kemudian dibagi secara gratis lewat situs www.mizan.com. Tentu ini masih dengan metode sederhana, buku diunduh melalui PC. Peminat ternyata cukup besar waktu itu, sampai server mizan crash. Saat ini, apalagi waktu itu, ebook memang belum booming, namun Mizan selalu berusaha mengeksplor hal-hal baru, termasuk dalam teknologi buku digital ini. Saya rasa momentum itu tidak akan lama lagi. Dulu, saat merilis ebook “Wasiat Sufi”, kami masih bicara “10 tahun lagi momentumnya”. Lalu sekitar dua tahun lalu saat dibentuk unit Mizan Digital Publishing, kami sebut “lima tahun lagi”. Tetapi sekarang, mungkin masa itu sudah datang. Kalaupun harus memberi waktu, rasanya tidak akan lebih dari satu tahun. Kita tahu, makin ke sini kita menemukan makin banyak generasi yang digital native (melek gadget sejak lahir). Remaja sekarang sangat banyak yang menikmati buku atau komik yang mereka unduh dari internet. Komik misalnya, jumlah yang diunduh dari internet bisa ratusan bahkan ribuan judul, dengan setiap judulnya terdiri atas puluhan episode.

    Bagaimana Mizan mengedukasi masyarakat tentang buku digital ini?

    Edukasi dilakukan antara lain melalui iklan, pameran, media sosial, juga pembagian ebook gratis di situs mizan.com. Di Mizan sudah banyak karya yang terbit dalam bentuk digital, seperti Arvan Pradiansyah, Hernowo, Haidar Bagir, dan hampir semua penulis lokal yang karyanya terbit di Mizan. Termasuk juga karya-karya penulis cilik Kecil-kecil Punya Karya.

    Apa yang harus dipersiapkan para penulis dengan fenomena ini?

    Penulis tentu dapat memandang fenomena buku digital sebagai tambahan media penyampaian ide-ide mereka. Teruslah berkarya. Kalaupun ada perubahan, barangkali kita harus pikirkan karakter media digital yang semestinya lebih dinamis, sehingga buku digital pun dapat kita kembangkan dengan fitur-fitur tambahan (audio/video), interaktif, dan lain-lain.

    (Pikiran Rakyat, 2012)

    [sumber: http://ranting-basah.blogspot.com/2012/09/digital-book-masa-itu-sudah-datang.html]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Digital Book, Masa Itu Sudah Datang Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top