• Info Terkini

    Friday, October 12, 2012

    Investasi Perasaan

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Banyak celah bagi orang lain untuk mengejek, mencemooh, menyepelekan, merendahkan, termasuk memfitnah Anda. Pasti sakit rasanya, ketika wajah kita yang bersih nan mulus tiba-tiba harus berubah warna, menjadi merah, kuning, hijau hingga kelabu. Kenapa? Satu keranjang ejekan mendarat mulus tepat di muka kita. Glekkk! Sakit rasanya.

    Lebih hebat lagi, ketika yang mengejek adalah orang-orang terdekat kita. Orang-orang yang selama ini beraktivitas bersama kita. Orang-orang yang secara lahir kelihatan mendukung  dengan sederet kata-kata manisnya. Oh, di manakah janji mereka yang katanya akan seiya sekata dan saling mendukung? Pasti perih rasanya.

    Kala kita berkata, bahwa memiliki impian menjadi seorang penulis, lalu karya kita diperlihatkan untuk dibacanya. Hanya mendapat sebuah lirikan tak berselera. Tulisan kita seolah sampah yang tak layak dipandang dengan mata sehat dan berbinar. Apalagi ketika diajak bergabung dalam sebuah wadah kepenulisan yang baru saja berdiri, dianggap menjual mimpi, terlalu muluk-muluk. Kita pun tak berdaya melakukan pembelaan. Memang hari ini tak ada bukti apapun yang bisa memperkuat tekad, tapi nasib seseorang ke depan siapa yang tahu. Perlakuan itu membuat hati tersayat, perih, penuh luka.

    Menahan perasaan, sama saja dengan investasi perasaan. Inilah investasi yang paling berat, melebihi investasi lainnya. Investasi uang, masih banyak orang yang sanggup. Investasi waktu, sebagian orang masih bersedia. Tetapi investasi perasaan, masih sedikit orang yang bersedia. Sebagian besar orang, tak tahan mendapat ejekan, cemooh, dan fitnah. Akan berontak, lalu membalas dengan perlakuan yang sama. Atau meninggalkan aktifitas yang dicintainya, karena merasa telah direndahkan orang lain. Semangatnya pudar bahkan menguap, lalu berganti malas berkreasi. Takut kejadian yang sama terulang lagi.

    Menahan perasaan memang berat dan melelahkan, tapi ingatlah itu bagian dari ajaran untuk bersikap sabar. Kuatkan tekad, fokus dan bersungguh-sungguhlah. Tunjukkan bahwa impianmu tidak muluk-muluk dan beraroma bualan, namun benar-benar disertai tindakan nyata yang positif sebagai jalan untuk meraihnya. Dibalik beratnya menahan perasaan saat ini, akan tersibak jalan kemudahan membentang di depan matamu. Di sanalah, akan kau petik buah ranum nan legit berupa hikmah dan balasan tak terduga. Kata pepatah, “Kesabaran itu pahit, tapi berbuah manis.” Benar adanya. Semua rasa sakit itu akan terobati pada waktunya. Kala kita telah memetik buahnya, semua rasa pedih itu seolah tak pernah ada. Semua indah.

    Nikmati saja perjalanan dalam hidup. Ejekan, cemoohan dan fitnahan anggap sebagai cemeti untuk memecut agar berlari lebih cepat. Kadangkala cemeti itu diperlukan. Tanpa cemeti, mungkin saja kita nyaman bersantai-santai dan ogah-ogahan untuk berkarya. FAM Indonesia, aktif hingga hari ini dan selalu memberikan informasi serta gebrakan baru, salah satunya karena faktor cemeti dan tekad untuk menginvestasikan perasaan. Salam santun, salam karya!

    [www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Investasi Perasaan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top