• Info Terkini

    Wednesday, October 3, 2012

    “Kidung Pengelana Hujan”, Puisi-Puisi yang Bebas dari Belenggu

    "Puisi-puisi Denni cukup beragam. Denni menulis semua hal tentang hidup dan apa yang ada di hadapannya. Tidak mau terbelenggu pada satu keharusan topik tertentu. Maka kita bisa menikmati arti sebuah kerinduan akan kampung halaman, arti sebuah cinta dan juga dibawa ke ranah religius. Sebuah perpaduan yang sangat romantis. Secara pribadi, puisi-puisi Denni membawa saya bernostalgia akan segala hal". ~ Denny S. Batubara

    Denni Meilizon lahir 6 Mei 1983 di sebuah desa di kaki gunung Malintang yang bernama Silaping, sebuah desa yang eksotis berada tepat di sepanjang aliran sungai besar, Batang Batahan Kabupaten Pasaman Barat Sumatera Barat. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Silaping, dan sewaktu melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah, dia merantau meninggalkan kampung halaman, bersekolah di SMU 1 Kubung Kabupaten Solok sebagai kawah candradimukanya hidup jauh dari orangtua.

    Pernah kuliah di Jurusan Komunikasi Fisipol USU Medan namun tidak selesai. Selama berdomisili di Medan, dia banyak belajar dan memerhatikan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat yang heterogen, sehingga membentuk pola pikir tersendiri baginya. Dari Tano Batak, Ia kemudian hijrah ke Ranah Minang dan bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sejak tahun 2004. Mulai tahun 2010 dia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipi (PNS)  dan ditempatkan di Bidang Anggaran Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Sumatera Barat. Saat ini dia sedang menyelesaikan studinya di STIE “KBP” Padang.

    DENI MEILIZON
    Bakat dan hobi menulisnya sudah kelihatan sejak SD. Ia banyak mendapat apresiasi dari guru-gurunya khususnya ketika pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah. Kecintaannya pada buku juga sudah dipupuk sedari umur tujuh tahun, ketika sang papa menghadiahinya buku-buku sebagai hadiah prestasinya yang gemilang dari kelas satu sampai dengan kelas enam SD. Ia bahkan sering menghabiskan uang jajannya hanya untuk membeli buku di Pasar Nagari Silaping. Kecintaan membaca itu pun berlanjut terus sampai sekarang, Toko Buku Gramedia, Sari Anggrek Permindo Padang atau Pasar Loak Pasar Raya Padang adalah tempat favoritnya berburu buku.

    Denni gemar membuat puisi-puisi sejak kecil, namun tidak dipublikasikan. Saat SMA pernah mementaskan Dramatisasi Puisi dan langsung menyutradarainya sendiri. Atas inisiatif sang istri (Jurnaini Lubis) pernah puisinya dimuat di Harian Singgalang dan sebuah tabloid Kota Padang. Namun, karena kehilangan motivasi dan kesibukan pekerjaan sebagai PNS, aktivitas mengirim puisi ke media massa terhenti.

    Pemilik moto hidup “Berjalanlah, nanti engkau akan mendapatkan jalan di tengah perjalanan itu” sekarang berniat memompa semangat menulisnya melalui binaan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Cita-citanya adalah menulis novel. Denni juga tetap aktif menulis puisi di dunia maya. Sebuah puisinya yang dikirim dalam Lomba Cipta Cerpen dan Puisi Tingkat Nasional FAM Indonesia, berhasil lolos seleksi dan dinobatkan sebagai puisi terbaik kedua. Puisi tersebut akan dibukukan dalam buku antologi cerpen dan puisi para pemenang lomba di FAM Indonesia. Buku Kumpulan Puisi “Kidung Pengelana Hujan” ini karya pertamanya yang diterbitkan FAM Publishing. Sebuah bukunya yang merupakan antologi bersama bertajuk “Pijar Heroik” (Penerbit Harfeey, Yogyakarta) akan segera diterbitkan pula menyusul buku ini. Di samping itu karya-karyanya akan diterbitkan juga bekerjasama dengan anggota FAM Indonesia yang lain dalam bentuk antologi-antologi puisi bersama. Proyek antologi tersebut saat ini sedang dalam tahap penulisan.

    Ia bisa dihubungi melalui email dennimailizon@ymail.com, Facebook Denni Meilizon dan Twitter dennimeilizon. Saat ini berdomisili di Perumahan Safa Marwa I Sungai Lareh Lubuk Minturun Kota Padang Sumatera Barat.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: “Kidung Pengelana Hujan”, Puisi-Puisi yang Bebas dari Belenggu Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top