• Info Terkini

    Saturday, October 20, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Dua Tahun Menulis Diam-diam Tanpa Sepengetahuan Orangtua”

    20 Oktober 2012
    Teruntuk FAM Indonesia
    di
    Tempat

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Salam kenal dan salam persahabatan saya haturkan kepada FAM Indonesia dari tanah Sakera yang penuh cinta bernama Madura. Doa pun saya kirimkan semoga FAM Indonesia semakin menjadi media yang mampu melahirkan penulis-penulis handal yang senantiasa menebar cinta dan damai, pada tiap dansa pena yang tercipta.

    FAM Indonesia yang baik, lewat surat ini saya ingin bercerita tentang hari-hari yang penuh perjuangan dalam menulis.

    Dunia tulis menulis sangat mengasyikkan dan memikat hati saya semenjak kecil. Kesenangan saya pada dunia tulis menulis mulai terasah semenjak saya nyantri di pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.

    Di pesantren ini, saya bertemu dengan beragam guru yang mencintai dunia kepenulisan, pesantren ini memiliki sanggar bernama Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), Jamal D Rahman, orang penting di Majalah Horison juga lahir dari sanggar ini.

    Ayah saya berharap, agar saya menekuni kitab kuning, sebagai mutiara salafi yang harus terjaga sepanjang masa, saya lebih cenderung pada dunia tulis menulis, walau hanya menulis tanpa memperdalam teori kepenulisan.

    FAM Indonesia yang semakin memikat hati.

    Ternyata kecendrungan saya menyukai tulis menulis, saya dilarang mendalami dunia kepenulisan dan harus mendalami kitab kuning, dan tahukah FAM Indonesia yang baik, demi menjaga perasaan orangtua, saya dalami kitab kuning seraya belajar dunia tulis menulis secara diam-diam selama 2 tahun (2003-2005).

    FAM Indonesia yang dirahmati Allah.

    Dua tahun menulis diam-diam, akhirnya saya berani menyatakan pada orangtua bahwa saya mencintai dunia kepenulisan, setelah puisi saya terbit di Radar Madura dan akhirnya orangtua mengizinkan saya menulis.

    20 Mei 2005 adalah hari yang paling bersejarah bagi saya dan teman-teman saya di SSA, kami dilantik menjadi pengurus sanggar oleh Jamal D Rahman. Di tahun yang sama, kami dapat sertifikat dari Unesco karena ikut meramaikan hari puisi se dunia.

    FAM Indonesia yang baik.

    Saya menyadari jika ada kemauan Allah akan membukakan jalan, dari sekian pengurus sanggar hanya saya yang paling lambat dalam berprestasi maka saya pun memilih media internet untuk menyalurkan hobi menulis.

    FAM Indonesia yang semakin dekat di hati.

    Saya berkenalan dengam beragam penulis dan membaca karya-karyanya sehingga saya pun dikirim buku dari Malaysia, Singapura dan Hongkong, semua saya sadari adalah berkah Allah dari menulis.

    Di Facebook, saya banyak bergabung dengan group kepenulisan, mendirikan group Dengan Puisi Kutebar Cinta dan saya juga bergabung dengan group FAM yang banyak melahirkan penulis, yang bisa menerbitkan buku, semoga FAM Indonesia semakin istiqamah memasyaratkan dunia kepenulisan.

    Wa'alaikum salam Wr. Wb.

    Salam santun,
    Moh. Ghufron Cholid
    Madura Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Dua Tahun Menulis Diam-diam Tanpa Sepengetahuan Orangtua” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top