• Info Terkini

    Sunday, October 21, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Empat Bulan Mengintip Aktivitas FAM di Dinding Facebook”


    Bandung, 21 Oktober 2012

    Kepada
    Ydh. FAM Indonesia
    di
    tempat

    Dengan hormat,

    FAM Indonesia yang teramat baik, terima kasih atas kesempatan yang FAM berikan padaku untuk menulis surat di dinding grupmu ini. Mungkin FAM merasa asing dengan kehadiran namaku yang secara tiba-tiba muncul bersama dengan surat ini. Di heningnya sudut warnet malam hari ini, ijinkan aku tulis surat luapan hati khusus FAM.

    FAM ku yang sangat teramat baik, ini kali pertamaku memberanikan diri untuk menorehkan kalimat di dindingmu ini. Jauh sebelum aku mengenal FAM, tepatnya tiga tahun yang lalu ketika aku duduk di bangku SMK dulu, aku adalah seorang yang sangat pendiam dan tidak mudah untuk bergaul sekalipun itu terhadap teman sekelas yang setiap hari bertemu, mungkin karena ketidakpercayaan diri yang merajai tubuhku saat itu. Sering aku habiskan waktu istrahatku di sudut kelas mencari kata penghibur jiwa. Bait demi bait terukir menghibur diri dalam kesendirian. Awalnya diri ini saja yang menikmati goresan kalimat yang menurutku memberi motivasi dan pembangun jiwa di kala hati dirundung kegelisahan ataupun kesedihan yang kerap kali hinggap di hati. Hanya dengan menulislah aku bisa ungkapkan perasaanku, dengan menulislah aku dapat menyampaikan pendapat dan pemikiranku. Tanpa disangka seorang teman menyadari kegiatan tersembunyi yang sering aku lakukan. Seorang teman yang telah menjadi sahabatku kini, dia tidak sengaja membaca tulisan-tulisan yang aku miliki walau hanya tertulis dalam buku sederhana, sahabatku sangat menanti setiap baris kata yang sering aku tuangkan dalam untaian kalimat.

    Suatu hari guru Bahasa Indonesiaku mengumumkan bahwa suatu Universitas Negeri ternama di Kota Bandung mengadakan sayembara lomba menulis cerpen antar Sekolah Menengah Atas ataupun Kejuruan. Dan hadiahnya pun sangat menggiurkan, pemenang sayembara lomba cerpen ini akan mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan langsung masuk tanpa seleksi dengan jurusan khusus Sastra dan Bahasa Indonesia. Mungkin ini jalan yang harus aku tempuh untuk impianku, melanjutkan pendidikan karena dengan begitu aku dapat mengembangkan hobiku saat itu. Aku curi-curi info lebih lengkap yang terpampang di Mading (Majalah Dinding) Sekolah. Dengan semangat aku azamkan di hati ini untuk mengikuti sayembara itu. Tiga hari tepat aku selesaikan karyaku yang menurutku terbaik. Tapi lagi-lagi ketidakpercayaan menghantui diri, aku tunda lagi untuk menyerahkan karyaku sekaligus mendaftar untuk melakukan seleksi. Tapi sahabatku meyakinkan bahwa karyaku layak untuk mengikuti seleksi. Ketika waktu pendaftaran akan berakhir 1 hari lagi sekuat tenaga aku yakinkan hati ini untuk mendaftar, tapi tahukah FAM, saat itu aku sudah terlambat. Seseorang yang jauh lebih berprestasi di bidang tulis menulis dan telah memiliki banyak karya telah terpilih mewakili sekolah. Kekecewaan menyelimuti hati ini andai saja aku mengirimkan karyaku lebih awal setidaknya perjuanganku dapat dilihat, dibaca bahkan dinilai tapi ini semua telah terlambat hanya karena ketidakpercayaan dirilah yang telah mengubur impianku.

    FAM ku, situasi itu membuat aku tidak lagi menulis. Aku lebih suka menyendiri dan menyibukkan diri dengan kesibukanku sebagai pegawai laboratorium di salah satu perusahaan swasta. Sampailah waktu mempertemukan FAM Indonesia denganku di sebuah status seorang teman di Facebook. Ketertarikanku terhadap FAM muncul, karena FAM aku teringat impian masa lalu aku yang telah terkubur dalam. Empat bulan lamanya aku mengintip FAM di sela dinding Facebook ini, berharap aku bisa bergabung menjadi bagian dari FAM Indonesia, tapi lagi-lagi ketidakpercayaan diri mulai merajai hati. Aku ikuti setiap kegiatan FAM di Facebook ketika istirahat kerja atau di sela heningnya malam. Info tentang menulis aku dapatkan, semangatku muncul kembali, hari-hariku berwarna kembali dengan goresan karya-karya yang aku baca di setiap sudut dinding grup FAM ini. Sebuah kebenaran aku dapatkan bahwa belajar menulis itu tidak harus dengan belajar formal, belajar di sebuah perguruan tinggi, pegawai pabrik seperti aku pun sepertinya bisa untuk melakukannya.

    FAM Indonesia yang teramat baik. Sebenarnya apa yang terlintas dalam benakku dulu itu adalah sebuah bentuk ketidakjujuran diriku dengan keaadan. "Mengapa ketidakpercayaan diri ini selalu menghantui jiwaku?” Sebab aku merasa tidak ada gunanya untuk berbuat yang terbaik dalam hidupku. Dan hidup ini terlalu jauh untuk aku raih dengan kekurangan yang ada saat itu. Sebuah pembenaran yang telah ada bahwa aku layak untuk tetap menulis menyampaikan luapan perasan dan pemikiran lewat tulisan. Walau menjadi penulis bukanlah impianku saat ini, tapi jika ada kesempatan untuk menulis mengapa harus berhenti menulis. Seorang sahabat FAM pernah berkata kurang lebih seperti ini, “Tulislah walau satu kata, sebuah kalimat itu berawal dari satu kata, teruslah menulis menyampaikan ilmu, pemikiran dan perasaan lewat tulisan”. Kata-kata inilah yang membakar semangat jiwa, membaralah cinta menulisku bangkit kembali. Kini aku sadari sesungguhnya apa yang terbaik bagi kita itu apa yang ada di pikiran dan di hati. Terus berkarya walau penolakan demi penolakan terhadap buah pena sering didapatkan, tapi itu semua bentuk pembelajaran diri untuk lebih baik lagi. Dan ini awal langkaku, aku akan menulis dan terus menulis walau media status Facebook yang akan jadi sasaran.

    FAM ku, mungkin cukup sekian surat luapan hatiku untukmu, walau sedikit terbata mudah-mudahan masih dapat diterima. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan pada FAM Indonesia, tapi waktu di sini telah menujukkan pukul 22.30 WIB. Warnetnya mau ditutup dan aku harus segera meninggalkannya. Sampai jumpa di lain waktu, mudah-mudahan FAM mau menerima dan membaca suratku lagi.

    Salam ukhuwah dan salam cinta menulis.

    Fitri Yanisha
    Bandung, Jawa Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Empat Bulan Mengintip Aktivitas FAM di Dinding Facebook” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top