• Info Terkini

    Monday, November 12, 2012

    Ingin Mewariskan Buku Karya Sendiri untuk Anak-Cucu

    Ydh. FAM Indonesia
    di ruang literasi

    Salam,

    Dari mana saya harus memulai menulis surat ini? Benar, saya tidak tahu mesti dimulai dari mana. Kehilangan kata yang sama terasa manakala mesti mengingat kapan dan siapa yang memperkenalkan saya dengan FAM Indonesia. Saya lupa hari dan tanggal bila saya bermula beraktifitas bersama FAM, adakah yang berkenan mengingatkan saya? Bahkan, saya tidak ingat pula siapa yang pertama kali memperkenalkan FAM Indonesia kepada saya, sehingga saya tercebur dan keasyikan berenang di dalamnya sampai saya tidak ingat ujung pangkal, adakah yang berkenan mengingatkan saya?

    Menulis. Itulah kata kunci pertama yang saya peroleh ketika menemukan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelum pertemuan pertama itu, saya sudah bertanya ke sana ke mari tentang hakikat kepenulisan berikut syarat dan rukunnya, namun tak banyak yang bisa memberikan metoda dan rumus yang bisa memuaskan keinginan abadi yang terpendam dalam jiwa ini untuk satu tujuan: menulis. Saya tahu saya memiliki bakat menulis. Imajinasi saya cukup tinggi, dan saya adalah penggemar buku yang gila. Kamar saya penuh dengan buku-buku berbagai bidang disiplin ilmu dan berbagai leterasi lintas agama. Seharusnya saya sudah memiliki bekal untuk bisa menulis secara gampang dan mudah. Namun, celakanya saya tidak bisa menuliskan isi pikiran saya karena satu hal; saya tidak mampu mengukur dan konsisten memulai dari mana. Sebuah pertanyaan klasik ini selalu saya ajukan kepada setiap orang yang saya pikir bisa menjawab, dari mana saya mesti memulai menulis? 30 tahun usia saya kini. Saya suka membaca dan menulis. Namun, saya masih bertanya-tanya dari mana saya memulai untuk menulis. Begitu banyak waktu terbuang sia-sia akibat pencarian itu.

    Lalu pada suatu hari ada orang yang baik hati memperkenalkan saya dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Forum ini rupanya tidak hanya menampung orang-orang hebat saja, tapi juga menampung orang-orang "bingung" seperti saya. Sebuah poin plus menjawab satu keinginan dalam hati. Diam-diam saya ikuti seluruh penjelasan yang diuraikan melalui blog www.famindonesia.blogspot.com. Tiba-tiba saja saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan klasik itu tentang dari mana memulai menulis tadi. Maka, dicatatkanlah dalam sejarah hidup saya, ketika hari itu juga saya langsung bergabung dengan FAM Indonesia. Formulir diisi, uang pendaftaran yang 75 ribu rupiah itu ditransfer. Sebaris SMS dikirim ke nomor HP Aliya Nurlela, yang rupanya adalah Sekjen FAM Indonesia. Lucunya bahkan saya tidak mengetahui bahwa grup “Forum Aishiteru Menulis” ini walau dikatakan sebagai forumnya FAM di Faceebook ternyata ada. Bunda Aliya lah yang memberitahu saya keberadaan grup maya ini. Begitu semua prosedur selesai saya lakukan, hari itu saya berbisik pada diri sendiri bahwa saya akan memulai untuk menulis bersama FAM Indonesia.

    Bertemu dengan FAM mempertemukan saya dengan hal lain selain dari kata menulis, yaitu semangat. Sebuah kata yang sering diucapkan namun sering pula saya abaikan kedalaman maknanya. Saya tidak pernah berpikir bahwa menulis itu membutuhkan semangat. Menulis ya menulis saja, semangat cuma diperlukan bila akan berkompetisi. Salah ternyata. Semangat ternyata kunci mendahsyatkan pikiran dan di situlah letaknya kenapa saya selama ini bingung untuk memulai. Tidak ada yang menyemangati saya. Yang ada adalah menyuruh saya untuk menulis. Semangat yang ditularkan oleh FAM Indonesia dan ribuan anggotanya membantu saya mendefinisikan bakat menulis saya kembali yang hilang dalam 30 tahun masa hidup saya. Fokuskan saja pada puisi, begitu pesan pendek yang dilayangkan Bunda Aliya kepada saya suatu kali. Rupanya beliau sudah pula membaca tulisan contoh yang saya kirimkan di awal pertemuan. Ya, puisi. Itulah diri saya. Saya menyukai puisi, membaca puisi di berbagai forum dan menulis puisi sejak kanak-kanak, kenapa saya tidak pula berpikir fokus menulis puisi saja bukan memaksakan diri menulis yang lain, misalnya cerpen atau novel yang bukan bakat saya?

    Alhamdulillah saya akhirnya tercebur ke dalam wadah bernama FAM Indonesia dan saya menemukan diri saya di sana. Di mana hati dan jiwa berangkulan dengan ribuan penulis muda Indonesia yang saling mengisi, membangun dan menjejakkan kaki menuju cita-cita yang sama dan dalam semangat yang dahsyat. Sebulan setelah saya bergabung dengan FAM, sebuah buku kumpulan puisi karya saya akan diterbitkan oleh FAM Indonesia. Sebuah buku yang merupakan "anak batin" bagi saya di mana dia sudah terpendam cukup lama dalam relung jiwa terdalam. Teruntai dalam setiap doa dan tersimpan dalam pendar-pendar imajinasi.

    Sejak bertemu dengan FAM, saya tak melewatkan waktu sedetik pun untuk tidak menulis. Saya menjanjikan pada diri saya untuk tidak berhenti hanya dengan satu buku, tapi akan menerbitkan karya-karya saya kemudian membagikannya kepada seluruh penikmat dan pencinta tulisan di seantero jagat, sampai akhir hayat. Bahkan saya ingin kelak di mana salah satu warisan saya buat anak-cucuku nanti adalah buku-buku karya saya sendiri.

    Maka inilah saya. Inilah FAM Indonesia. Saya telah larut dan keasyikan berenang di dalamnya sehingga melupakan ujung pangkal. O iya, adakah yang bisa memberitahu saya kapan dan siapakah gerangan orang baik yang telah membuat saya berlaku begini rupa?

    Demikian dan terima kasih. Salam Santun, Salam Karya!

    Lubuk Minturun, Oktober 2012

    DENNI MEILIZON
    FAM 906 U - PADANG

    Artikel Terkait:
     

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ingin Mewariskan Buku Karya Sendiri untuk Anak-Cucu Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top