• Info Terkini

    Saturday, November 24, 2012

    Kesibukan Kuliah Sempat Membuat Saya Berhenti Menulis

    29 Oktober 2012

    FAM, saya sudah tidak menulis sejak lama.

    Kesibukan di dunia kuliah membuat saya berhenti menulis. Bagi saya ini menyedihkan. Saya kehilangan kemampuan saya menulis. Ketika saya duduk di depan komputer atau laptop, lalu meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, saya menunggu terjadi keajaiban. Ya, keajaiban yang saya rindukan ketika jari-jemari saya tiba-tiba menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada. Sepuluh sampai lima belas menit pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, lalu saat sadar, saya menatap layar dan ‘wow’ melihat rangkaian cerita, artikel, atau sekadar curhatan tentang apapun yang saya alami tadi pagi.

    Keajaiban yang menakjubkan ketika tulisan-tulisan itu selesai, lalu saya bagikan kepada teman-teman. Mereka tersenyum membaca tulisan saya yang lucu, memberikan pujian dan mengatakan mereka ingin melihat tulisan saya yang lain. Sebagian lain berterima kasih karena saya memberikan pencerahan mengenai suatu isu, seperti ketika saya membeberkan fakta tentang sejarah April Mob yang memperbolehkan orang untuk berbohong pada tanggal 1 April. Ketika membaca tulisan saya bahwa orang kafir menjadikan 1 April sebagai hari untuk merayakan keberhasilan tentara salib membohongi muslim Granada untuk keluar dari persembunyian, dan membantai ratusan muslim hingga penjuru kota digenangi darah setinggi betis orang dewasa, mereka datang kepada saya, mengangguk takzim dan mengatakan terima kasih telah berbagi dan menulis. Ustad Uus, guru bahasa Indonesia yang terkenal galak dan sulit memuji datang kepada saya dan mengatakan ‘kamu berbakat Bal, teruslah menulis’.

    Keajaiban itu sudah lama, FAM. Maukah kau mendengarkan cerita saya, FAM?

    Saat ini saya kehilangan kemampuan menulis, dan keajaiban itu tak pernah lagi datang. Ya, saya tidak bisa menulis lagi, FAM. Saya sudah berusaha sebisa saya. Saya mengambil kursi, duduk dengan nyaman, menyalakan komputer, menatap layar dan meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban. Tapi keajaiban itu tidak pernah datang. Kata-kata bermunculan dalam otak saya, dan ketika saya menuliskannya, dua-tiga kata, otak saya yang lain menolaknya dan secara refleks saya menghapus semuanya. Layar kembali kosong dan saya memulai dari awal, dan entah kenapa saya kembali menghapusnya. Begitu berulang-ulang hingga saya putus asa dan melakukan kegiatan lain, entah surfing di internet, baca komik atau menonton film yang beberapa jam kemudian saya sesali karena menyadari betapa bodoh dan tidak produktifnya menit-menit yang telah saya lewati.

    Hal ini berlangsung lama dan saya mulai frustasi. Saya sering menjambak rambut sendiri dan berkata lirih, ‘Ya Allah, datangkanlah keajaiban itu’. Satu menit, satu jam, bahkan berhari-hari berikutnya keajaiban itu tak pernah lagi datang.

    Saya harus akui apa yang saya namakan keajaiban bukanlah anugerah yang datang tiba-tiba. Tahukah kau FAM? Masa-masa itu, ketika saya menulis dengan produktif adalah masa di mana saya membaca belasan buku dalam sebulan. Saya melahap buku apa saja. Saya membaca cerita orang saleh dan kisah para nabi, menikmati kumpulan puisi, mencermati opini-opini di surat kabar, menganalisis buku-buku teori konspirasi, mempelajari ilmu psikologi dan banyak lagi. Saya menelan miliaran huruf dan menempatkannya di sela-sela neuron di otak saya. Huruf-huruf itu kemudian berdentuman, memantul kesana kemari, menyesakkan kepala saya dengan ide-ide liar yang tak terduga dan memaksa saya memuntahkan mereka lewat kata-kata dan tulisan. Terjadilah ide. Terjadilah kreativitas. Terjadilah tulisan. Keajaiban.

    Dan ketika saya menyadari bahwa saya tidak bisa menulis lagi, saya juga menyadari bahwa itu terjadi karena tak pernah ada lagi keajaiban. Dan keajaiban tak lagi datang karena saya tak pernah lagi membaca.

    Akan kucerikatakan padamu, FAM. Dua belas bulan sudah saya seperti cecunguk lugu yang diperbudak sesuka hati. Rutinitas saya dipenuhi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Saya pergi kuliah, mencatat kalau sedang mood, memerhatikan dosen mengoceh sampai ngantuk, dan mengorek-ngorek tas untuk mencari pulpen lalu mengerjakan tugas. Dalam sepekan, otak saya dibebani empat buah praktikum. Siapapun di dunia yang pernah atau sedang kuliah dan punya mata kuliah ‘praktikum’ pasti tahu seberapa mengesalkannya sembilan huruf itu, sedangkan saya memiliki empat praktikum yang berimplikasi saya memiliki sembilan kali empat alias 36 huruf sialan itu dalam sepekan. Implikasi lanjutannya adalah saya tak punya waktu untuk membaca, apalagi menulis.

    Waktu saya tersita untuk membuat laporan yang, ya, sebenarnya bisa Anda masukkan kategori menulis. Satu laporan praktikum harus diketik dengan komputer dan tiga sisanya harus ditulis dengan tangan. Tapi semua proses tulis-menulis itu bagi saya adalah sebuah pengekangan, toh saya harus menulis sesuai kriteria; kalimat yang baku, format yang sesuai, penulisan sumber pustaka, dan tralalala lainnya. Tidak salah juga, toh memang begitu penulisan ilmiah. Tapi bagi saya itu pembunuhan kreativitas menulis. Dengan melakukannya ratusan kali dalam dua semester, pola pikir saya telah berubah dan pikiran saya menjadi sempit. Semua pola pikir saya tentang sesuatu menjadi terpola dan saya sulit mencoba hal baru. Seharusnya memiliki pola pikir yang terpola menjadi sesuatu yang baik bagi saya. Masalahnya adalah kesulitan mencoba hal baru, karena setelah meninggalkannya selama dua semester, menulis menjadi hal baru bagi saya.

    Saat ini saya terduduk diam di depan komputer. Saya jadi teringat celotehan teman saya saat di pesantren. Coba simak ini, FAM. Kata dia, salah seorang penulis favoritnya bilang jangan pernah menulis sebelum membaca 3.000 judul buku.

    Saya mengingat lagi masa-masa ketika saya rajin menulis. Saat itu saat yang menyenangkan. Ini bukan soal popularitas atau apapun. Ini tentang esensi dari menulis itu sendiri, FAM. Ceritakan ini juga pada teman-teman di forum. Menulis adalah manifestasi ide yang dihasilkan dari membaca. Membaca adalah menelan ilmu, dan menelan ilmu adalah suatu kebaikan bukan? Bahkan ayat pertama dalam Alquran adalah perintah membaca. Perintah agar Anda menelan ilmu. Tentang bagaimana kemudian Anda menulis, itu adalah fitrah kebaikan. Ketika Anda melakukan kebaikan dengan membaca dan menelan ilmu, secara alami Anda akan memiliki keinginan untuk berbagi, dan menulis adalah salah satu cara berbagi. Saya senang ketika orang mengetahui ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui karena membaca tulisan saya, bukankah itu suatu kebaikan? Lalu ketika setelah mereka mengetahuinya mereka berbagi ilmu itu lagi kepada orang lain, bukankah kebaikannya akan berlipat ganda?

    Ilmu kawan, bisa bermanfaat karena ada yang menuliskannya. Bagaimana Anda tahu tentang gravitasi jika Newton tak pernah menuliskan principia? Bagaimana manusia bisa mengembangkan algoritma dan matematika aljabar jika Al-Khawarizmi tak pernah menuliskannya? Dan lebih penting dari semua ilmu itu, bagaimana Anda bisa membaca mushaf Alquran jika Zaid bin Harits tak pernah mengukirnya? Bagaimana Anda meresapi pesona hadits Rasulullah SAW jika sahabat tak lagi merangkaikan kata-katanya? Dari mana kita belajar aqidah, tafsir, fiqh, tata cara shalat, berlaku baik kepada orang tua, dan semua kebaikan jika para ulama tidak berbagi ilmunya lewat tulisan?

    Saat ini saya tidak bisa menulis, tapi saya harus bertekad bagaimana pun caranya saya harus bisa menulis lagi. Saya ingin berbagi. Saya ingin ilmu dan pengetahuan yang saya punya bisa berguna. Saya ingin menjadi orang yang berguna, karena Rasul bilang, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dan saya percaya dengan menulis saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Berbagi ilmu. Berbagi kebaikan. Berbagi inspirasi.

    Saya kembali teringat Ustad Uus, guru bahasa Indonesia saya. Saat itu saya menulis esai tentang kecerdasan Rasulullah dalam berpolitik dan mengatur pemerintahan dengan bijaksana. Beliau memuji saya dan berkata, “Kamu berbakat Bal, teruslah menulis’. Lalu saya bertanya, bagaimana jika suatu saat saya stuck dan tidak tahu harus menulis apa, apa yang harus saya lakukan? Beliau cuma berkata, “menulislah, teruslah menulis”. Saat itu saya tidak tahu maksudnya apa, karena keajaiban saya belum pernah berhenti bekerja dan saya tidak tahu rasanya, tidak tahu harus menulis apa. Tapi saya pernah membaca bahwa setiap penulis akan bertemu dengan masa itu, dan di sinilah saya sekarang, FAM.

    Duduk diam di depan komputer, meletakkan jari-jari di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban.

    Tapi tak terjadi apa-apa. Saya menghela napas. Suara Ustad Uus bergema di telinga saya, menulislah, teruslah menulis. Baiklah, kenapa saya tidak mencoba menulis? Dan saya tersadar menatap layar. Mengapa ada banyak huruf di sana? Mengapa huruf-huruf itu terangkai menjadi kata-kata, dan mengapa kata-kata itu terjejer rapi menjadi kalimat yang berjejer panjang seperti paragraf? Mengapa jari-jari saya terasa lincah dan begitu liat bergerak? Bagaimana mungkin saya tidak menyadari bahwa sedari tadi mereka menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada?

    Saya nyaris tidak percaya bahwa sedari tadi pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, kembali ke memori tentang teman-teman di pesantren tercinta, dan sekarang saya kembali ke dunia nyata, menatap layar, menggerakkan kursor, dan melihat lima halaman tulisan yang telah saya buat. Keajaiban!

    Hei, saya sudah bisa menulis lagi!

    Iqbal Hariadi Putra
    Bekasi
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kesibukan Kuliah Sempat Membuat Saya Berhenti Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top