• Info Terkini

    Saturday, October 27, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Ketika Itu Redaktur Koran Bilang Tulisan Saya Tidak Jelas!”

    Medan, 25 Oktober 2012
    To
    My beloved FAM

    Assalamu'alaikum FAM Indonesia.

    Apa kabar FAM sayang? Hmm... semakin hari engkau semakin hebat saja ya? Semoga engkau tak melupakanku, seorang perempuan beranjak tua yang mencintaimu. Perempuan yang menulis di antara panci dan kuali, yang menulis di antara setumpuk laporan dan sisa-sisa menit di sepanjang malam.

    Sementara kini engkau banyak dikelilingi penulis muda dengan segala kelebihannya, kreatifitasnya, tulisannya, ehmmm. Ah! Lupakan sedikit kecemasanku, aku ingin bercerita suka duka awalnya aku menulis ya? Luangkan sedikit waktu untuk membacanya ya? Tidak panjang, kok.

    FAM, masih ingat aku pernah bercerita padamu, bagaimana prosesku menghasilkan suatu tulisan? Aku menulis di atas kertas folio, berlembar-lembar. Kemudian aku mengetiknya dengan mesin tik pinjaman. Sang pemilik mesin tik manyun-manyun aku anggap sebagai angin sepoi, lewat saja. Ketika naskah dimuat dan aku menerima honor, aku membelikannya sebungkus biskuit, dia tersenyum maniiiiis sekali, semanis biskuit yang kemudian dimakannya dengan mata berbinar. Tapi, untuk proses dimuat tulisanku itu tidaklah mudah. Aku menangis dalam hati, dengan berbagai tantangan yang aku hadapi. Tapi aku harus menaklukkannya, aku anak muda yang pantang menyerah. Kesulitan hidup membuatku menjadi pribadi tangguh dan siap tempur kapan saja.

    Setelah tulisan selesai, aku mengantarnya langsung ke redaktur (salah satu koran lokal ternama). Berjalan kaki menantang teriknya matahari, menghirup asap knalpot, menyeberang jalan padat dalam ketakutan. Di gerbang kantor koran, aku dihadapkan pada satpam yang sangar dan bertanya apa keperluanku. Aku katakan aku ingin mengantar naskah, mereka minta aku titip saja. Aku tidak mau, aku ingin bertemu langsung (ada rasa pesimis, nyampe ke redaktur enggak ya?). Akhirnya, satpam melunak, kasihan pada seorang gadis pemilik tinggi 150 cm dan berat cuma 40 kg (waktu itu). Ketika aku sudah bertemu sang redaktur, apa yang dilakukannya? Si gondrong yang mulutnya seperti knalpot karena terus menerus berasap itu melengos saja. Tulisanku diletakkan di atas mejanya yang penuh dengan kertas-kertas entah apa. Setelah itu, tulisanku tak pernah dimuat!

    Menyerah? No way! Aku petarung, bos! Aku siap berperang, aku perempuan yang sudah ditempa pahitnya hidup. Berikutnya, aku antar kembali naskah cerpen kedua, langsung ke depan hidungnya. Tindakannya sama, diletakkan saja di atas meja, aku menarik nafas panjang.

    "Tolong dibaca, Bang," kataku memelas.

    "Enggak sempat, Dek," katanya cuek, dengan mulut berasap dan membuat dadaku sesak. Aku tidak terbiasa dengan asap rokok, karena Bapakku bukanlah perokok.

    "Tolonglah, Bang. Biar tahu salahnya di mana, kekurangannya apa. Yang lalu saya udah kirim juga, tapi enggak dimuat," sekali lagi aku memelas, sedikit memaksa. Giliran dia yang menarik nafas panjang, kesal. Dibukanya naskah cerpenku, apa yang terjadi? Dicampakkannya kembali ke meja sambil bergumam, "Tulisan enggak jelas!" Gubrak!!!

    Akhirnya, kutinggal saja cerpenku di mejanya dengan rasa pesimis sampai di ubun-ubun. Benar saja, cerpenku itu tak pernah dimuat. Usaha terus, bos! Tindakan repitisi aku lakukan, tanpa bosan dan muka tebal (syukur sekarang pakai email, ya? Jadi enggak ketahuan mukanya gimana, hehehe). Entah karena bosan melihatku, atau karena tulisan yang pelan-pelan membaik, akhirnya tulisanku dimuat. Duhaaai... senangnya, dunia serasa tersenyum, mendadak merasa menjadi seleb. Koran ditunjukin ke teman-teman, di kliping, di simpan rapi, ehmm. Setelah itu, Rara (nama penaku waktu itu, singkatan dari Rahimah Ramli) menjadi ratu koran minggu. Hampir setiap minggu cerpenku muncul, bahkan profilku juga muncul. Si redaktur gondrong yang kejam menjadi ramah-tamah, asap dari mulutnya serasa awan cantik di langit yang menggumpal indah, ehh.

    Ah! FAM, sayang. Ceritaku kepanjangan ya? Ma'af… semoga kamu enggak bosan membacanya. Sekadar curhat dikit nih! Wifi di kantor sudah seminggu ini mati. Jadi, hari ini aku nongkrong di warnet (lagi libur Idul Adha), sengaja agar dapat menulis surat untukmu. Dan... hmmm, because I miss you too, hehehe.

    Salam sayang, salam semangat, salam santun.

    Rahimah Ib
    FAM Medan 101U
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Ketika Itu Redaktur Koran Bilang Tulisan Saya Tidak Jelas!” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top