• Info Terkini

    Tuesday, November 13, 2012

    Mama Selalu Bilang, ‘Tanpa Bikin Puisi Kamu Masih Bisa Hidup ‘Kan?'

    Lampung, 23 Oktober 2012

    Kepada Sahabaku, FAM Indonesia
    di
    Jalan terindah di atas ridha Ilahi

    Assalamualaikum wa rohmatullahi wa barakatuh.

    Tak ada salam yang patut terucapkan selain salam seindah salam pada para penghuni surga. Terburailah tasbih dan tahmid pada Ilahi Rabbi yang telah mengutus seorang sahabat yang secara tulus ikhlas mendedikasikan waktunya untuk membaca segala suka dan dukaku melata pada jalan berliku menuju sebuah impian.

    FAM yang baik. Aku sangat berterima kasih atas segala dedikasimu selama ini untuk turut membangun bangsa dengan mengadakan berbagai lomba yang memotivasi para perangkai kata sepertiku. Aku senang sekali dapat menulis surat di grup ini. Aku senang bisa berbagi pengalaman di awal sepak terjangku di dunia kepenulisan. Berawal dari sekadar hobi hingga tertambat pada sebuah impian yang menggebu.

    Aku bahagia mempunyai sahabat setulus dirimu. Aku ingin berbagi kisah piluku di grup ini. Bukan hanya padamu, FAM. Tapi juga pada sahabat seperjuanganku dalam merajut asa lewat kata-kata indah yang mereka punya. Aku memang tidak pernah bertatap wajah dengan mereka. Tapi, kata-kata yang teruntai dalam benak mereka, menjadi bagian dalam sejarah hidupku. Kau dan merekalah motivatorku. Terikat dalam jalinan kasih bersirat makna yang terjuntai melambai beriringan dengan perjalanan hidupku.

    Percaya atau tidak? Ya, aku pun tidak percaya bahwa aku berhasil melakukan ini. Sekalipun aku tidak bisa membuat karya sehebat mereka-sahabatku di FAM Indonesia—setidaknya aku bisa menunjukkan pada diriku sendiri bahwa aku berani untuk menunjukkan jati diri. Semangat itu seperti iman bukan? Kadang naik dan kadang turun.

    Kelas 4 SD aku sudah mulai menulis. Diawali dengan gengsi untuk mengakui bahwa aku memiliki bakat menulis. Karena papa ingin aku menjadi pramugari, maka aku mengabaikan bakatku yang sesungguhnya. Hingga pada akhirnya, 2 tahun kemudian, seorang Guru Bahasa Indonesia yang memberikan bimbingan belajar pada kami-siswa kelas 6 SD-menyadarkanku. Di situlah aku menerima segala kritik dan saran. Kami memanggilnya Ibu Ning. Aku dan beliau mempunyai hobi yang sama, menulis. Aku kerap mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Menulis, menulis, dan menulis. Apapun bentuknya, intinya kami menulis. Kegiatan yang sangat kusukai. Kami bebas membiarkan imajinasi kami berkeliaran. Bahkan ia memutar musik saat kami memulai untuk menulis. Katanya, agar kami lebih rileks dan bebas. Kami diperbolehkan memilih tempat yang kami inginkan. Setidaknya, itulah masa di mana pertama kali aku menemukan diriku yang sebenarnya.

    Tapi, masa itu pula aku mendapat pukulan keras dalam hatiku. Itu terjadi pagi hari, seorang kawan mencibirku. “Puisi itu, bukan punyamu kan?” Aku kaget dibuatnya. “Masa’ bisa bagus banget, aku nggak percaya.” Sekali lagi ia memukul hatiku dengan pukulan mematikan. Apa karena aku bukan siapa-siapa sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa? Mereka berkata seolah mereka tahu segalanya. Tidak bisakah mereka menghargaiku, tidak! Tidak merendahkanku saja sudah cukup bagiku. Apa karena aku orang biasa sehingga aku tidak bisa berbuat yang luar biasa? Lalu, siapa tokoh-tokoh dunia sebelumnya? Bukankah sebelum mereka meraih segala kesuksesannya, mereka juga orang biasa?

    Aristoteles, Albert Einstein, J.K Rowling, Adam Smith, Ir. Soekarno, B.J Habibie, Dahlan Iskan, Charil Anwar, Chairul Saleh, Adolf Hitler, dsb. Bukankah sebelumnya mereka orang biasa? Lalu dengan seberkas semangat, mereka memulai permainan hidupnya? Mereka jatuh, lalu bangkit, mereka jatuh, lagi dan lagi, sampai pada akhirnya mereka tidak terjatuh lagi?

    Saat ini aku tahu siapa kalian, tapi kelak, kalian tahu siapa aku. Hidup penuh derita dan tanda tanya mengajari aku bagaimana mengajari hidup ini. Seorang yang biasa bahkan terlampau biasa sekalipun, tidak menutup kemungkinan bahwa ia bisa membuat perubahan yang luar biasa. Belajar hargai diri sendiri, hargai orang lain, karena sepatah kata yang terucap menggores luka di hati orang lain, maka sulit untuk menghapusnya. Karena hati adalah bagian yang paling halus dan sensitive, sehingga jangan bermain hati, kalau tidak bisa menjaganya. Benar bukan, FAM?

    Itu hanyalah segelintir kisah pilu di awal perjuanganku. Selepas SD, tak lagi kutemui guru setulus Ibu Ning. Dua tahun lamanya aku terlelap dalam fatamorgana kehidupan. Impian, saat itu aku hanya mempunyai impian. Tanpa keberanian untuk menunjukkan diriku. Tanpa usaha untuk mewujudkan itu. Tanpa seorang pun penyemangat yang benar-benar memberikan solusi. Anak berusia 13 tahun yang hanya menonton drama Korea ditemani imajinasi dan angan-angan yang menggelayut manja di ubun-ubun kepala. Ya, hanya itu. Tanpa memikirkan bagaimana aku mencapai kemenangan yang kudamba.

    Tak pernah kutahu, kapan aku bisa memulai segala keajaiban ini. Allah azza wa jalla melimpahkan selaksa rahmatnya padaku disaat aku tidak mengerti apa-apa. Yang kutahu saat itu adalah, ‘aku ingin menjadi penulis!’ Tanpa memikirkan jalan apa yang harus kupijaki. Jalan mana yang harus kupilih. Dengan segala kebodohan yang kumiliki. Allah menurunkan keajaiban itu. FAM, kau tahu apa keajaiban itu? Kau, semangat ini, gairah untuk menggempur segala ketakutan ini, dan segala keyakinan yang kumiliki saat ini.

    Guru serupa dengan Ibu Ning muncul di awal pelajaran kelas tiga SMP. Bu Siti, awal pertemuan kami dibubuhi dengan kebencian. Fenomena benci jadi cinta terjalin antara kami berdua. Seiring dengan berputarnya waktu, aku mulai menyukainya. Saat itulah, aku bulatkan tekad untuk memulai segalanya dari awal. Menyeka ketidaktahuanku dan mencuci wajahku sehingga aku benar-benar bangun dari lelapku selama ini.

    Tahukah kamu FAM, dengan air mata yang masih berkelana di pipiku, kucoba membuka lembaran-lembaran kisah di dalam pikiranku. Kucoba merenungkan apa yang sedang terjadi di awal perjalanan baruku. Semangat ini sudah terpatri kokoh di dalam celah hati terdalam. Tapi masalah seperti tak pernah menemui titik ujung. Mama melarangku untuk berteman denganmu, untuk bergabung dalam rumpun orang-orang yang menyumbangkan kata-kata indahnya untuk membangun bangsa ini. Jelas hatiku berontak. Sebagai seorang remaja, aku tentu mempunyai pendapat tersendiri tentang apa yang harus kutuju. Tentu sebagai seorang anak aku harus menyelami pikiran mama. Aku percaya, mama melakukan itu karena beliau menyayangiku. Beliau ingin aku memfokuskan diri pada sekolahku. Tapi apakah aku salah jika aku memikirkan masa depan? Masa depan tidak hanya ditentukan dari nilai akademik sekolah saja, bukan?

    Aku bukan orang sepintar Ghani, temanku yang selalu meraih juara umum di sekolah kami. Aku bukan orang yang taqwa seperti Gholib, temanku yang rajin shalat, mengaji, dan segalanya yang berhubungan dengan agama. Aku pun bukan orang sejenius Suci, temanku yang memegang keyakinan kuat dalam hatinya, yang mempunyai lidah yang tajam untuk menyanggah perkataan orang lain, yang jago debat. Sekalipun ia salah pada saat itu, tapi jika kesalahan itu terucap dari bibirnya, maka kesalahan itu tak menjadi salah lagi bagi orang yang mendengarnya. Ia memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Tapi aku bukan dia. Aku hanyalah seorang gadis yang menggantungkan secuil mimpi di setiap malam. Akulah dengan segala kehinaan diriku.

    Kehadiranku di dunia ini sudah terlalu banyak membawa masalah bagi orang-orang di sekitarku. Setidaknya, aku hidup dengan predikat manusia. Aku ingin ketika aku mati, maka Allah mengizinkan aku mati dengan bahagia. Sekalipun aku tidak berguna bagi orang lain, setidaknya aku bisa berguna bagi diriku sendiri. Aku ingin mendedikasikan diri ini untuk orang-orang di sekitarku yang lebih beruntung daripada aku. Adakah tempat untuk orang sehina diriku?

    Lambaian tangan terakhir. Itulah puisi yang menggugah hatiku. Puisi yang mengingatkan pada sosok adikku satu-satunya. Dari dia, aku hanya berharap kami berdua bisa berkumpul bersama-sama tanpa adanya batasan papa atau mama.

    Puisi ini terinspirasi dari coretan pewarna pada dinding rumahku. Di mana sampai saat ini kuingat sekali, aku dan adikku tercinta yang melakukan itu. Saksi di mana kami tertawa, menangis di saat kami bertengkar, dan saling menangis saat ada salah satu dari kami yang terkena marah mama. Selagi aku masih diberi kesempatan untuk memiliki adikku tercinta ini, aku ingin memberikan yang terbaik yang kubisa Sekalipun sekarang ada dinding pembatas antara aku dan dia. Tapi, Allah memberikanku secuil pemahaman agar aku bisa terus berkomunikasi dengan adikku. Aku harus pintar mencuri-curi waktu untuk menemui adikku. Mama akan naik pitam jika mengetahui aku bertemu dengan adikku. Ia memang selalu membuatku jera. Ia selalu membuatku geram, tapi kapan lagi kita bisa bersamanya, ketika usia masih menjadi teka-teki yang tak terpecahkan. Maka apa yang akan kita perbuat saat akhir itu datang?

    “Bunga rumah di masa lalu”. FAM, itulah judul puisi yang paling kuingat dalam hati ini. kalimat itu mengakar dalam abad hatiku. Kalimat itu bersemayam dan kekal dalam sayu mata ini memandang hidup yang sarat makna.

    Aku lupa kapan aku menulis puisi ini. Puisi ini kubuat saat aku menerima kabar bahwa papa mengutus seorang temannya untuk mempublikasikan puisi ini di sebuah harian di Lampung. Kuingat satu hal yang menginspirasiku. Bunga rumah! Aku masih ingat secarik kertas kusam yang masih menempel di sisi kamar mama. Karena kusamnya, mungkin mama urung untuk menghiraukannya. Atau bahkan, karena mama tidak melihatnya, sehingga mama tidak membuangnya. Entahlah. Yang pasti kertas itu menjadi saksi di mana dulu keluarga kecilku hidup bahagia. Tapi, aku sudah tulus menyerahkan semuanya pada Allah. Toh, pada akhirnya semua akan kembali pada Allah SWT. Sekarang Allah sudah menggantinya dengan keluarga yang baru. Hidup baru, dan pengalaman baru.

    Kebanyakan orang meremehkanku, tak terkecuali papa dan mamaku. Papa orang yang sangat baik. Papa selalu memberikan apapun yang aku dan adikku inginkan. Aku tak pernah ingat kapan papa memarahiku. Kurasa tak pernah. Tapi karena sikap papa itu, aku menyadari bahwa kami tak menghargainya. Mama seorang yang sangat selektif dan relevan. Mama selalu memilah-milah pilihan menjadi begitu rumit. Beliau akan memilih sesuatu yang menguntungkan. Tapi karena sikap mama yang seperti itu pula, beliau malah memberikan lampu merah terhadap apa yang kami perbuat.

    Saat kutunjukkan puisiku pada papa, papa berkata, “Bagus sekali, apa bukan punya orang?” Saat itu aku terdiam, sehina itukah aku? Sehina itukah sehingga aku berani berbuat demikian? Apa anak baru gede sepertiku tidak berhak mempunyai suatu potensi yang bisa membanggakan? Apa kebanggaan hanya bisa diperoleh oleh anak yang mempunyai nilai akademik tinggi? Setidaknya aku punya mimpi, kan? Aku yakin ini mimpi bukan ambisi, kalau ambisi itu melakukan apa saja demi suatu tujuan. Sedangkan mimpi, memberikan usaha terbaik untuk sebuah tujuan.

    Bahkan mama selalu bilang, “Tanpa bikin puisi, kamu masih hidup kan?”

    Ini bukan masalah hidup dan mati kan? Ini masalah mimpi, bagaimana aku mengubah hidupku jadi bermakna, apa aku tidak boleh bermimpi? Di film dream high, tanpa bakat, seseorang bisa memiliki impian, aku malu pada salah satu tokoh dalam film tersebut. Ia tidak punya bakat tapi leluasa untuk mengembangkan imajinasi dan mimpi. Tapi aku? Yang tentunya bisa melakukan sesuatu terhadap mimpiku.

    Saat itu, aku berniat untuk meminta izin dari mama untuk menjadi anggota darimu. Tapi mama malah mengatakan sesuatu kalimat yang membuat alisku bertaut, “Ikuti yang pasti-pasti aja. Ikut forum seperti itu belum tentu sukses. Gak ada jaminannya, kan? Jangan banyak mengkhayal!”

    Aku merasakan ketidakadilan di sini. Menurut Michael E Angier, keberanian sejati adalah keberanian melangkah maju ketika hasilnya masih belum pasti. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku pantas disebut manusia. Manusia yang menggunakan hidupnya untuk berjuang di jalan Allah azza wa jalla. Mendedikasikan kehidupan gemerlap remajanya untuk masa depan yang lebih baik. Tidak hanya menonton televisi, mendengarkan music, bermain-main, dan melakukan hal yang seolah merasa tidak berdosa akan apa yang kulakukan. Tak memikirkan dari mana orangtuaku mendapatkan uang untuk membayar listrik, untuk membeli peralatan remaja, dsb.

    Kuingat kata-kata Aristoteles yang intinya, “Saat kamu berhasil, teman-temanmu tahu siapa kamu, dan saat kamu terpuruk, kamu tahu siapa temanmu.”

    Mungkin, temanku yang lain belum memikirkan hal ini, semacam mimpi ataupun jati diri. Sebagian dari mereka mungkin hanya memikirkan bagaimana mereka mengatasi hidup, tapi aku, aku selalu memikirkan bagaimana aku melakukan yang terbaik terhadap hidupku. Bukan hidup yang memainkanku, tapi aku yang memainkan hidup, di situ aku kalah, dan di situlah aku menang.

    Keluargaku hancur ketika aku belum mengerti apapun. Anak berusia 9 tahun yang harus menerima kenyataan bahwa papanya tak lagi bersamanya, itu pukulan pertamaku. Hidup dengan segala tirai yang membatasi pertemuanku dengan adik tercinta, Muhammad Yasrul Kurniawan. Itulah aku. Hingga pada akhirnya aku mendapatkan seorang ayah yang memiliki empat orang anak yang sudi mengurusku dan mamaku. Tapi bayang-bayang kegagalan dengan suami kedua mama sudah terpapar di temaram mata ini. Mama menikah dan akhirnya harus menerima predikat ‘istri muda’. Itulah hidupku. Sulit.

    Tapi aku yakin. Kelak, saat aku sudah menapak kesuksesanku, kenangan inilah yang paling kuingat. Aku yakin, setiap manusia memiliki cobaan hidup. Saat mama menangis karena masalah biaya penghidupan. Aku berjanji, aku akan cepat besar, mendapatkan uang, dan akan menghilangkan kekhawatiran mama selama ini, dan membuat hidup mama menjadi tak bergantung pada sosok suami lagi.

    Pemikiran Al-Ghazali, bahwa ‘pena seorang cendekia lebih berharga dari tetesan darah seorang syuhada’, meningkatkan animoku untuk terus berkarya. Bukan hanya memberikan binar pencerahan pada umat pembaca, aku juga ingin menjadi pencerah bagi para pencerah seperti dirimu, FAM. Tapi lain halnya jika aku melihat karya penulis terkenal. Hatiku miris dan nyaliku menciut. Bisakah aku seperti mereka? Jawabanku saat itu adalah ‘TIDAK!’ Aku menjadi kecil hati dan tidak percaya diri. Aku jadi urung untuk menunjukkan kebolehanku yang tidak kuketahui saat itu. Tapi, bukankah mereka bisa karena mereka memulainya? Deddy Corbuzier berkata, “Sukses itu bukan keharusan, tapi berusaha untuk mencapai sukses itulah keharusannya.” Benar, kan?

    Tumbuh di tengah-tengah kekacauan keluarga. Di mana istilah broken home berada. Tapi itu tidak membuatku menjadi anak-anak yang dopping, drugs, dsb. Itu malah membuatku menjadi anak yang lebih dewasa. Aku memang bukan anak yang bergelimang harta, aku bukan anak yang pintar seperti teman-temanku, aku bukan anak yang terkenal dan memiliki banyak kawan maupun lawan, aku bukan anak yang selalu menonjol, aku hanyalah anak yang hina di hadapan manusia. Hidup ini akan berubah. Allah sayang padaku, bukan? Aku bisa bukan? Aku hanyalah seorang gadis 15 tahun dari Dusun Daton 9, Desa Serdang 2a, Lampung Selatan. Aku hanyalah gadis yang mengharapkan uluran tangan Allah azza wa jalla untuk melindungi keluargaku. Aku hanyalah gadis yang menyendiri di sudut kamar. Dengan sebait rasa yang hinggap membakar hati. Beriringan dengan sorot mata ini menatap pendar rembulan yang menabrak kaca jendela. Menatap bintang yang menggayut manja pada petala langit malam. Memandangi malam yang memeluk ubin cakrawala, mengingatkanku akan hangatnya pelukan mama yang melindungiku dari hujan saat kami berjalan mengais rezeki. Menyimak perjalanan panjang, menuju kemenangan abadi. Aku yakin, Allah memuliakanku di sisi-Nya. Aku yakin dengan keyakinanku. Bukan begitu FAM?

    Tinta pelipur lara. Terpatri dalam jiwa. Mengabad dalam relung hati. Singgah di tempat asing di permukaan ubin kamar. Dengan luapan jiwa yang menyeruak dan menyeruduk bahtera cakrawala. Mengetuk pintu surga. Hingga menjadi pelipur lara pula bagi yang lainnya…

    Wassalamualaikum wa rohmatullahi wa barakatuh

    Salam Aishiteru!

    Arinny Fharahma
    Lampung

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mama Selalu Bilang, ‘Tanpa Bikin Puisi Kamu Masih Bisa Hidup ‘Kan?' Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top