• Info Terkini

    Friday, November 23, 2012

    Menentang Keras Orang yang Meremehkan Dunia Tulis-Menulis

    Salam hangat untuk sahabat penaku, FAM.

    Perkenalkan sebelumnya, nama saya Gita Leviana Putri, biasa dipanggil “Gita”, diberbagai media sosial di mana saya menitipkan tulisan, biasanya saya menggunakan nama Gitaleviana, sebab nama Gita terlalu banyak di dunia maya. Jadi ya, saya berinisiatif untuk menuliskan nama tengah saya juga, agar orang lain mengetahui, ini loh tulisannya Gitaleviana, dan bukan Gita yang lain.

    Berbicara soal tulisan, dan dunia menulis, mungkin sejak SMP saya sudah mulai menulis, menulis di belakang buku catatan mata pelajaran, atau menulis di meja tempat saya duduk. Disaat saya terlalu pusing mendengarkan semua pelajaran yang harus saya ikuti paling sedikit 11 mata pelajaran dalam satu semester, sungguh membuat terkadang saya merasa muak. Memulai dari tulisan iseng, dan puisi belaga seperti seorang sastrawan dan berbekal sedikit keberanian, saya mulai memamerkan kepada teman-teman. Sebagai manusia, tidak dapat dipungkiri kalau kita butuh identitas. Nah, salah satu bentuk agar identitas itu dapat ada yaitu pengakuan.

    Saya masih sangat ingat, pertama kali saya memamerkan puisi saya di media sosial, itu saat mulai masuk SMA, saat itu facebook mulai merambah dan sedang trend. Sebenarnya sebelumnya saya sudah mulai memasukkan tulisan saya di media sosial yaitu friendster tetapi pada saat friendster ada, internet tidak semudah sekarang, jadi hanya orang tertentu saja mungkin yang bisa melihat, terkadang itu tulisan sudah berminggu-minggu baru ada 1 atau 2 komentar.

    Jujur jika orang tidak mengenal saya, maka mereka akan meragukan kemampuan saya untuk membuat puisi, sebab memang di lingkungan sekolah dulu, saya dikenal sebagai seorang yang cukup serius, sehingga langkah pertama saya untuk menggunakan facebook sebagai media memperlihatkan kemampuan membuat puisi saya itu, banyak mendulang komentar. Kebanyakan dari para komentator kaget dengan apa yang saya tulis. Tapi saya senang, karena artinya mereka sudah mengapresisasi karya saya. Akibat uji coba itu, membuat saya semakin gigih untuk bisa menjadi seorang penulis, tapi hingga saat itu, saya masih bingung, saya ini penulis bidang apa. Tidak semua hal bisa saya kuasai dengan baik. Meskipun begitu, obsesi saya untuk memperoleh pengakuan terus saya gulirkan, seperti memainkan bola salju.

    Kemudian, saya membuat berbagai akun diberbagai media sosial, dan memasukan tulisan-tulisan saya di sana. Hal tersebut saya lakukan agar karya saya bisa memperoleh tempat. Jujur, saya sangat senang, apabila tulisan saya dikomentari oleh orang lain. Tapi hidup di dunia menulis itu tidak selamanya juga menyenangkan, terkadang banyak juga yang mencemooh bahkan tidak menghargai karya saya. Seperti contohnya saja saat ini, saya berada di dunia jurnalistik, banyak yang bilang “Git, lo itu mau jadi ekonom atau wartawan gak jelas? Atau jurnalis yang hari ini bisa makan, besok mintak sama orangtua?” Banyak juga yang bilang apa sih untungnya jadi jurnalis, ditambah lagi saat ini citra wartawan khususnya itu buruk. Bahkan jujur, ibunda saya sendiri, tidak setuju jika saya di dunia jurnalistik, dia lebih setuju saya menulis dalam ranah ilmiah dan penelitian yang saya tekuni dulu. Tapi sampai saat ini saya masih bertahan di dunia jurnalistik, meskipun banyak orang yang kontra dengan dunia ini, yang dianggap tidak menjanjikan.

    Tapi jujur bagi saya menulis itu bukan sebatas pekerjaan, tapi agak berlebihan juga jika saya menyebutnya panggilan jiwa, tapi saya merasakan hal yang berbeda ketika saya menulis dan tulisan saya itu di apresiasi. Jujur, terkadang ada titik jenuh dalam menulis, ada saat-saat di mana saya tidak sedang butuh buku, pena, notebook dan modem, tapi saya butuh yang lain. Ya, saya rasa semua kegiatan juga pasti ada yang namanya bosan, apalagi menulis. Menulis itu kegiatan di mana antara hati, jiwa, dan pikiran kita harus menyatu, agak susah juga memang terkadang untuk menyatukannya.

    Sejujurnya menulis ini merupakan sebuah hobby tapi saya menentang keras dengan orang-orang yang meremehkan dunia menulis. Buat saya, mau sepintar apapun orang, kalau tidak bisa menulis ya maka dia akan hilang dari sejarah. Mungkin karena dasar itu, saya sangat senang memasukkan tulisan saya, agar tulisan saya dapat dibaca orang lain. Terkadang saya memaksa kawan saya untuk membuka blog pribadi saya, saya bawa notebook bersama dengan modem, lalu saya buka blog saya, dan saya minta dia membaca dan mengomentarinya, ya kalau sudah begitu sih sangat kecil kemungkinan buat dia tidak mau menuruti permintaan saya.

    Ada lagi hal yang biasa saya lakukan setelah menulis di blog, yaitu mengirimkan pesan singkat kepada teman-teman bahwa saya punya tulisan baru, dan bilang kepada mereka semua, kalau saya sangat butuh komentarnya, agar mereka mau membaca. Setelah itu biasanya saya mengirimkan URL blog saya di facebook, twitter, di BBM juga terkadang saya broadcash atau bahkan saya tulis di PM (personal Massage). Semua itu saya lakukan untuk memperoleh masukan, sekaligus apresiasi dari mereka mengenai karya yang saya buat. Bahkan kalau sekarang, untuk benar-benar menunjukkan eksistensi saya di dunia penulisan, saya tidak segan berdisuksi dengan para jurnalis hebat melalu email, lalu saya capture (foto) emailnya itu, supaya orang-orang tahu, saya serius ingin jadi jurnalis.

    Saya merasakan bahwa dengan menulis saya bisa mengaktualisasikan diri saya. Meskipun jujur saja, jika waktu menulis saya ini, saya gunakan untuk meraih keuntungan melalui berdagang, sebenarnya berdagang itu lebih menjanjikan. Tapi itulah hidup, hidup adalah pilihan, dan aku memilih untuk menjadi penulis sekaligus ekonom suatu saat nanti.

    Gita Leviana Putri
    Lampung
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menentang Keras Orang yang Meremehkan Dunia Tulis-Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top