• Info Terkini

    Saturday, December 1, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Miskin Harta Bukan Berarti Tak Punya Cita-cita”

    Kepada
    Ydh FAM Indonesia
    di tempat.

    Dengan hormat,

    FAM Indonesia yang baik, terima kasih telah mengizinkan saya menulis surat di sini. Kutulis surat ini untuk FAM, sekalian untuk almarhumah ibuku, juga untuk dibagikan ke pembaca agar mereka tahu isi suratku adalah nyata isi hatiku. Seiring bunga flamboyan berjatuhan di halaman belakang rumahku, seketika itu juga kutulis kisah "Suka Duka Menjadi Penulis" yang pernah membungkus airmataku di perjalanan panjang kisahku, dan puncaknya ingin kubagi melalui surat ini.

    FAM yang baik, aku pernah berpikir dalam hatiku sampai kapan pun aku tak akan pernah menjadi penulis. Dulu sekali, ketika ibuku masih ada di dunia, beliau pernah mengatakan padaku untuk selalu mendoakanku. Dan beliau pernah bertanya di usia umurku yang berjanjak sepuluh tahun, apa cita-citaku di masa depan? Aku hanya menjawab, aku adalah anak yang tak punya cita-cita dan aku hanya ingin melihat orangtuaku bahagia. Ibuku lalu berkata, miskin harta bukan berarti tidak punya cita-cita. Seketika itu juga airmataku mengalir, kuutarakan perasaanku sebenarnya kepadanya bahwa aku ingin menjadi penulis. Tapi mungkikah itu kesampaian? Betapa mustahilnya cita-citaku dengan kodratku yang terlahir dari keluarga yang pas-pasan.

    Setahun berlalu, setelah itu ibuku meninggal dunia. Masih teringat jelas pesan terakhirnya di telingaku bahwa aku tak boleh berkecil hati dengan mimpiku karena keterbatasanku. Di mana pun nantinya orangtuaku berada, ayah dan ibu akan senantiasa mendoakanku. Sepahit apapun hidup ini, aku akan meneguk madu yang manis setelahnya. Takdir berjalan di tangan Tuhan, yang bercita-cita mulia dan tak berputus asa akan meraih mimpinya suatu saat. Benarkah itu? Aku berpikir itu hanya lelocun seorang ibu untuk menyemangati anaknya yang akhirnya ibu tinggalkan aku dalam nyata. Pengap hati, kelam pikiran dan suramnya harapan terus menghujaniku. Cita-citaku semakin tenggelam karena aku menyadari keterbatasanku, keinginan menjadi seorang penulis mungkin hanyalah mimpi yang hanya akan membelengguku. Beberapa kali aku pernah terhempas dan terjatuh, beberapa kali juga aku berdiri dan berlari mengejar mimpiku. Tapi apa yang kudapat, semua hanyalah semu bak harapan yang tak bertuan. Deburan kepiluan, kepahitan dan kehampaan di antara kisah perjalanan mimpi yang ditentang oleh orang-orang terkasih pernah membuatku terpuruk. Bayangkan saja, saat menjadi anak yang bukan dari kalangan berada, mahalnya ekonomi untuk bersekolah sastra adalah kendala yang pertama. Setelah menikah, modal ada tetapi restu tiada. Tak juga kudapatkan izin dari suami untuk meneruskan cita-cita yang pernah tertunda.

    Namun, akhirnya semua gundah gulanaku sirna. Terima kasih FAM Indonesia, akhirnya kau hadir dalam hidupku dan menghapus semua egoku. Lalu kau kuatkan aku layaknya batu karang yang harus kuat diterpa sang ombak. Belajar menulis online ala FAM adalah pilihan yang tepat untuk orang-orang yang kesusahan mencari wadah menyalurkan hobi yang bercita-cita menjadi penulis. Dengan senyum bangga suami pun turut mendukung langkahku. Katanya, "Apalagi yang harus kau tunggu, biaya murah dan sangat terjangkau. Tempat seperti inilah yang kuharapkan untukmu, agar aku bisa selalu bersamamu. Tanpa khawatir kau berada di luar sana, cukup di rumah pun kau pasti bisa menjadi penulis." Akhirnya kuputuskan bergabung bersama FAM Indonesia adalah keputusan yang kami pilih bersama. Dengan restu suami dan kepercayaanku yang kuat di antara tangan-tangan yang mendorong langkahku, Mas Muhammad Subhan dan Mbak Aliya Nurlela beserta teman-teman anggota FAM Indonesia turut berperan menyemangatiku.

    Ternyata benar, orang yang ingin bertemu dengan pelanginya ia pun harus bersabar lebih dulu menanti hujan reda. Karena di balik mentari setelah hujan, pasti ada pelangi indah yang dijanjikan Tuhan. Bahkan aku percaya, doa ibu serta restu dari orang-orang terkasih adalah pembungkus senjata keindahan yang akan menemui jalan terang di akhir cerita.

    FAM... kini berkatmu aku bisa menjadi penulis, bahkan karyaku telah dibukukan dalam bentuk novel "Sabda Cinta di Atas Nama Tuhan" yang diterbitkan FAM Publishing. Ibuku, novel pertama ini kupersembahkan untukmu. Semoga kau di alam sana tersenyum bangga melihatku dan terus mendoakanku meski kita kini ada di dunia yang berbeda. Doamu nyata, dan kasihmu selalu hidup dalam keajaiban mimpiku.

    Salam santun,
    Lina Saputri
    FAM Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

    [Sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Miskin Harta Bukan Berarti Tak Punya Cita-cita” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top