• Info Terkini

    Saturday, October 20, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Nenek Menyimpan Puisi Pertama yang Saya Tulis”

    Kepada:
    Yth. FAM Indonesia
    di tempat

    FAM yang baik, saya senang sekali dapat menuliskan cerita di grup ini. Saya teringat saat duduk di bangku SMP kelas 1 di mana kakek saya telah dipanggil Sang Khalik. Kepergian kakek membuat saya sedih dan kehilangan. Tentu saja. Saya sangat dekat dengan kakek dan nenek karena saya adalah cucu pertama bagi mereka. Bahkan saya menuliskan puisi untuk kakek tak lama setelah kepergiannya. Sahabat FAM mau tahu?

    Kakek Nenekku
    Oh, betapa sedih hatiku
    Kehilangan kakekku yang kucintai
    Aku selalu teringat kepadanya
    Dengan menangis tersedu-sedu
    Kini hanya nenekku satu-satunya
    Hanya dia kini yang sangat mencintaiku
    Betapa pedihnya cinta itu
    Kini aku hanya mendapat cinta dari nenekku

    Itu adalah penggalan puisi yang saya tulis sebagai curahan hati. Saya tidak tahu puisi itu bagus atau tidak, karena saya membuatnya bukan untuk dinilai atau dilombakan. Saya hanya menyimpannya di lemari tanpa memberikannya pada nenek. Suatu hari, tanpa sengaja nenek menemukan kertas itu. Nenek menangis dan memeluk saya. Kejadian itu sangat membekas di hati saya.

    Saya tak pernah menduga nenek masih menyimpan puisi saya sampai ajal menjemputnya enam tahun yang lalu. Saya menemukannya saat membereskan lemari pakaian nenek sebulan kemudian. Saya terpaku. Terkejut. Kertas itu telah berubah warna menjadi kuning. Namun nenek telah melipatnya dengan rapi. Bagi saya, itu adalah penghargaan yang luar biasa dari nenek. Bertahun-tahun nenek telah menyimpannya.

    Menjadi seorang penulis bukanlah cita-cita saya. Maklum saja, dulu tidak ada kecanggihan teknologi seperti sekarang. Jangankan facebook, internet saja sangat langka. Apalagi untuk mempelajari tentang cara menulis yang baik. Waktu itu, saya lebih tertarik untuk membaca buku karena melihat tumpukan buku di almari bapak. Rasa penasaran dengan isi buku selalu ada dalam hati saya. Hal ini berlangsung sampai saya masuk perguruan tinggi. Saya sangat suka membaca novel dari Agatha Christie, novelis favorit saya. Saat itu saya sempat berpikir ingin mempunyai sebuah buku sepertinya. Saya ingin mempunyai pembaca setia yang selalu menunggu tulisan buku saya.

    Tapi setelah saya di wisuda, bahkan bekerja, menikah dan mempunyai dua orang anak, saya belum terpikirkan untuk menulis. Kesibukan di kantor dan waktu yang sedikit untuk buah hati saya, membuat saya memilih untuk keluar dari pekerjaan setelah sebelas tahun mengabdikan diri di perusahaan swasta. Setelah keluar dari pekerjaan inilah, saya mulai membuka dan mencari di internet kegiatan yang berhubungan dengan menulis. Rasa ingin menulis mulai tumbuh. Akhirnya saya bisa menemukan FAM dan langsung mengikuti lomba cerpen meskipun tidak menjadi pemenang. Saya baru belajar menulis setelah mengenal FAM. Hanya dengan duduk di dalam kamar, saya bisa memperoleh informasi dan kegiatan menulis dengan mudah. Banyak sahabat dan penulis muda selalu bersemangat menulis. Kagum, itulah kata yang bisa saya ucapkan. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, itu yang saya lakukan sejak empat bulan yang lalu. Saya juga mengikuti proyek antologi yang diadakan oleh FAM. Alhasil, buku Pesona Odapus telah terbit. Saya cukup bangga nama saya tertera di buku itu.

    Tulisan saya tidak berhenti sampai di situ. Saya juga menulis cerpen di sela waktu saya sebagai ibu rumah tangga. Cerpen itulah yang akhirnya dibukukan oleh FAM Publishing dengan judul Pigura Retak. Tidak. Saya bukanlah penulis hebat. Saya hanya menuangkan ide yang keluar dari hati saya.

    Dua puluh tiga tahun telah berlalu setelah kakek tiada, kini kertas yang berisi puisi tersimpan rapi di lemari saya. Saya akan menyimpannya sebagai kenangan kepada kakek dan nenek. Itulah tulisan pertama saya dalam membuat puisi. Saya tak akan pernah melupakannya. Suatu hari nanti, saya akan memperlihatkannya pada buah hati saya. Saya bangga pada nenek yang telah menganggap tulisan saya berarti untuknya. Terlebih lagi saat suami saya juga melihat dan membaca puisi itu. Tahukah sahabat, apa komentarnya? Dilaminating agar tidak rusak, itu kata suami saya. Saya tersentuh dan terharu mendengarnya. Rasanya bahagia, tulisan saya sangat dihargai meskipun itu adalah coretan di masa kecil. Semoga tulisan saya yang telah dibukukan oleh FAM, bisa tersimpan di hati pembaca dan sahabat FAM.

    Salam santun,
    Laura
    FAM890U-Tegal

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Nenek Menyimpan Puisi Pertama yang Saya Tulis” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top