• Info Terkini

    Monday, October 22, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Saya Menyadari, Menulis Itu Butuh Proses yang Panjang”

    Sigli, 22 April 2012
    Kepada Ydh. FAM Indonesia
    di-
    Tempat

    Assalammualaikum Wr. Wb.

    Dengan coretan ini, saya mencoba untuk berbagi cerita dengan siapa saja yang mungkin sedang melewati masa-masa sulit untuk menjadi seorang penulis.

    Menulis ibarat membuat jalan raya yang menghubungkan peradaban manusia, dan menulis juga merupakan sebuah lorong waktu yang bisa membawa kita kembali ke masa lalu, ataupun mengantarkan kita ke terminal masa depan. Saya pribadi menganggap bahwa dengan menulis, berarti kita telah menyumbangkan sesuatu bagi dunia.

    Menulis itu sendiri kadang ibarat lampu yang menyala di siang hari. Dan... di siang hari, pastilah si lampu tak terlalu dihiraukan manfaatnya karena jelas bahwa sinar matahari masih berkuasa. Namun tatkala senja mulai naik tahta menuju ke alam gelap gempita, barulah si lampu yang menyala tadi menjadi pahlawan yang paling berjasa. Adapun maksud saya adalah kadang tulisan itu punya nasibnya sendiri, punya rohnya sendiri, meski ia tidak hidup dan mendapatkan apa-apa pada zamannya atau pada masa ia dilahirkan, namun percayalah bahwa ada tempat, ruang, dan waktu yang menunggu kehadirannya.

    Seorang Chairil Anwar tak sempat melihat karya-karyanya diapresiasi oleh banyak orang sesudah zamannya, karena ia mati muda, dan mungkin ia juga tak pernah menyangka bahwa puisi-puisinya yang ia tulis dulu begitu familiar di telinga semua orang Indonesia.
    Dan... setelah sekian puluh tahun Tengku Hasan Tiro menulis buku-bukunya, baru hari inilah karya-karya beliau yang dipuji-puji oleh banyak orang di luar negeri itu, bisa sampai ke tangan orang Aceh. Sebelumnya buku-buku sang deklarator Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF) itu, hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang tertentu saja.

    Nah, dari uraian saya di atas, saya pribadi mencoba berkali-kali menyakinkan diri saya bahwa apa yang sudah saya tulis akan berjalan sendiri menemui nasib mereka masing-masing. Saya pun menyadari bahwa menjadi seorang penulis pastilah akan melewati proses panjang yang penuh dengan tantangan. Belajar teknik-teknik menulis beserta teori-teorinya, merupakan hal yang lumayan sukar bagi saya, akan tetapi menemukan cara agar apa yang telah saya tulis bisa dibaca oleh orang banyak adalah hal yang lebih sukar lagi.

    Saat apa yang sudah susah payah saya tulis, dan saat semua ide serta pemikiran dalam benak saya, saya tuangkan di helaian kertas, namun berkali-kali pula tulisan saya tersebut berakhir di keranjang sampah karena mereka tak kuasa melawan kata “penolakan” dari berbagai media cetak (koran). Dan berkali-kali pula, saya meyakinkan diri untuk tak berhenti menulis, apalagi menyerah pada kenyataan yang belum berpihak pada saya.

    Semua akan indah pada waktunya. Kali ini, saya imajinasikan tulisan-tulisan saya adalah sekumpulan orang yang sedang menempuh perjalan menuju ke sebuah kota, namun di tengah perjalanan, mereka tersesat di hutan yang lebat. Sekian lama mereka terlunta-lunta tanpa mengetahui jalan keluar, hingga akhirnya, secara tidak sengaja, mereka mendapati sebuah jembatan kokoh yang bisa menghubungkan mereka ke kota yang mereka tuju. Dan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia adalah jembatan bagi tulisan-tulisan saya.

    Sekian saja kiranya yang bisa saya goreskan pada sehelai surat ini. Salam santun dan salam karya.

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

    Firdaus
    IDFAM1085M, Pidie-Aceh
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Saya Menyadari, Menulis Itu Butuh Proses yang Panjang” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top