• Info Terkini

    Saturday, October 20, 2012

    Lomba Menulis Surat: “Setia Membaca Buku di Perpustakaan Sekolah”

    Solok, 20 Oktober 2012

    Kepada
    FAM Indonesia yang saya sayangi.

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Apa kabar FAM ku tercinta? Semoga tak lelah berkarya, menciptakan literasi-literasi dan mengayomi para bakal calon penulis yang akan menggegerkan bumi pertiwi dengan sumbangsih karya-karyanya.

    Salam hangat, dari Ayu yang sekarang berdomisili di Sumani, sebuah Nagari yang berada di wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Tidak jauh dari danau elok Singkarak, yang berdekatan langsung dengan sekolah SMAN 1 Singkarak di mana tempat saya belajar sekarang ini, mencari dan mengekplorasi ilmu.

    FAM ku sayang…

    Lewat secarik surat ini, saya ingin cerita perihal historis, sejarah awal dimulainya dunia baru, yakni tulis menulis untuk melahirkan sebuah karya yang eksotis.

    Long… long… time ago...

    Semenjak Sekolah Dasar (SD) saya suka menulis cerita-cerita pendek. Paling gemar menulis cerita tentang dunia binatang (Fabel), tapi tak banyak. Hanya selembar-dua lembar kertas. Dahulu, di sekolah punya mading (majalah dinding –sekarang masih ada) untuk menampilkan karya-karya murid mulai dari puisi, cerpen, karikatur, dan sebagainya. Sekali dua kali saya sering menempelkan hasil karya saya di sana. Di sekolah juga terdapat perpustakaan, paling banyak terdapat cerita-cerita anak dan fabel. Saya sering meminjamnya untuk dibawa pulang, menemani waktu santai di rumah.

    Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya paling suka bertandang ke perpustakaannya yang lebih luas dari pada di SD dahulu, di sini sudah banyak berbagi bacaan. Fiksi dan Non Fiksi. Setiap bel istirahat berbunyi, biasanya masyarakat penghuni sekolah akan berbondong-bondong menghabiskan jajanan yang ada di kantin. Mereka paling ramai di café Uda Debi. Makan nasi goreng telur ceplok ditaburi bawang goreng renyah dan sedikit sambal. Nyammy…

    Saat masyarakat itu memenuhi café. Nah, saya paling suka ke perpustakaan membawa sebotol aqua gelas dari pada kena percikan sambal balado di kantin atau café.

    Ibu Nir, penjaga perputakaan telah mempercayai saya sebagai tangan kedua. Misalnya Ibu Nir tidak ada, izin sebentar, saya akan membantu teman-teman yang meminjam buku melalui buku catatan yang tersedia.

    Karena paling suka nginap di perputakaan dari pada di dalam kelas, saya jadi suka belajar di sana. Sering membaca, melahirkan kosa kata baru dalam pikiran saya. Terutama, untuk bahan tulisan saya. Saya juga mengikuti ekskul ‘Mading’ di sekolah. Dibina oleh guru bahasa Indonesia dan kakak kelas senior, maka setiap sabtu seusai jam pelajaran kita akan mengupas bersama tentang topik-topik mengenai dunia tulis menulis. Dari sanalah ketertarikan itu lahir dan beranak pinak sampai masuk ke jenjang SMA sekarang ini dan akan berlanjut. Insya Allah...

    Saya juga sering membaca koran, di sana banyak tulisan-tulisan yang patut diacungi jempol. Cerpen-cerpen yang manarik. Maka, tergoda saya untuk mengirimkan beberapa karya tulis ke media. Namun sayang, beberapa minggu ditunggu, tak ada verifikasi atau notif dari pihak media tersebut. Otomatis, saya berpendapat karya tersebut tak layak muat dan harus dioperasi, di rombak kembali.

    FAM ku sayang…

    Karna saya juga sering berselancar di dunia maya (social media) saya sering ber-curhat-curhat dengan teman senasib seperjuangan. Saya membaca blog-blog orang. Membaca artikel-artikel orang. Menarik untuk dipelajari tingkat lanjut. Hingga pada akhirnya saya dipertemukan dengan FAM, si cantik jelita nan rupawan. (a.k.a si ganteng biar adil). Saya menemui teman-teman yang lihai dalam meracik kata-kata. Pemilihan diksi yang pas. Sehingga enak untuk dibaca.

    Kelemahan saya dalam dunia tulis menulis adalah: Stttt! Ini rahasia! Jangan bilang siapa-siapa… Adalah puisi. Menurut saya, saya masih belum bisa masuk ke dalam jiwa saya yang paling dalam itu. Makanya, saya selalu menunggu-nunggu puisi terbaru dari sobat FAM untuk dibaca dan dipelajari.

    Selama di FAM, syukur karena Allah... impian saya untuk punya buku terkabulkan, setidaknya sudah punya satu buku antologi bersama, ‘Pesona Odapus’, bersama 25 penulis lainnya. Alhamdulillah ya Rabb…

    Sekarang, saya sedang nekat-nekatnya siang dan malam untuk menghadirkan sebuah novel ciptaan saya sendiri yang sekarang masih berumur 8 bulan, belum cukup satu tahun (12 bulan). Belum bisa berdiri dan bercuap-cuap.

    FAM yang kucinta, kusayang… Itulah cerita singkat saya, melaui tahapan proses dunia tulis menulis.

    Assalammualaikum, Wr. Wb.

    Salam hangat dari Ranah Minang,

    Sepri Ayu
    FAM 275S, Solok, Sumatera Barat

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Lomba Menulis Surat: “Setia Membaca Buku di Perpustakaan Sekolah” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top