• Info Terkini

    Friday, November 23, 2012

    Tidak Menyerah Terus Menulis Walau Sering ‘Diejek’ Keluarga di Rumah

    Surat terbuka untuk FAM Indonesia
    Perjalanan menuju FAM Indonesia

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Kepada FAM Indonesia yang aku cintai, tidak ada kata-kata yang mampu kulukiskan jika harus menceritakan suasana hati betapa senangnya bergabung dengan FAM. Saya akan menceritakan sebuah perjalanan saat awal mulai menulis hingga saya bisa bergabung menjadi anggota resmi FAM Indonesia.

    Pada saat SMA tidak ada wahana elektronik yang aku punya, hanya sebuah pensil dan buku tulis. Itulah yang menjadi teman di sepanjang hari untuk kutuliskan segala sesuatu, kata-kata indah, puisi, dan segala isi hati mirip seperti diary tetapi buku itu tidak menceritakan hari-hariku. Kusalin ke draf handphone beberapa kata-kata indah menurutku, entah menurut orang lain buruk tidak tahu aku dan kusebarkan ke teman teman-teman.

    Beberapa teman ada yang memuji, ada pula yang menyangka hanya copy paste dari internet, dan ada pula yang ingin aku membuatkan sebuah kata-kata untuknya. Semua pendapat aku respon. Memang yang aku kirim kadang copy paste dari internet.

    Mengenai tulisan di buku tak banyak yang tidak sesuai EYD. Karena aku belum mengenal apa EYD itu, nama makanan atau nama seseorang yang disingkat. Uang sakuku sering kuhabiskan berhari-hari di internet tidak lain hanya bermain game bukan berkarya. Dan dari internet pula aku belajar EYD.

    Setelah lulus aku tinggalkan dunia game online yang tak berguna. Mulai kucari info lomba menulis puisi. Akhirnya aku menemukannya tetapi bukan FAM. Alangkah senangnya dua puisiku berhasil dibukukan meski tidak jadi pemenang. Sementara dalam pencarian lomba lainnya aku menemukan lomba yang diadakan FAM Indonesia dengan hadiah wow sangat besar. Mungkin jika dibelikan es cendol akan banjir rumahku. Hanya syaratnya yang tak bisa kupenuhi yaitu harus registrasi sebelum ikut lomba.

    Meski biaya registrasi tak mahal, tetapi aku tidak mampu karena posisiku belum bekerja, meminta orangtua tak mungkin karena sulit keuangan. Akhirnya aku merayu Bunda Aliya Nurlela (Sekjen FAM Indonesi) agar membantuku bergabung di FAM tanpa regristrasi. Ternyata Bunda Aliyah sangat baik lewat event milad karena sebagai pengirim tulisan terbanyak maka aku bisa bergabung di FAM tanpa regristasi. Langsung saja aku mengirim puisi untuk lomba cipta puisi dan cerpen yang diadakan FAM. Meski tak menjadi juara yang penting sudah mencoba.

    Sungguh hal yang menyenangkan bisa menjadi keluarga besar FAM. Tetapi hingga sampai saat ini aku hanya bisa menengok beberapa kali di Group bukan tak cinta lagi tetapi dengan keterbatasan ekonomi aku berusaha menghemat uang untuk tidak sering-sering pergi ke warnet.

    Ibu dan kakak sering mengejekku saat aku menulis di buku menghabiskan waktu berjam-jam, mereka bilang hal yang sia-sia. Sementara Ayah bilang bahwa aku tidak ada bakat menulis, tetapi niatku sangat kuat untuk mewujudkannya.

    Semoga aku bisa mewujudkan mimpiku lewat FAM, dan inilah coretan tanganku yang mungkin tidak sesuai EYD mohon dimaklumi. Sejak mengamati ulasan-ulasan dari FAM aku banyak belajar lebih baik agar sesuai EYD.

    Wassalam.

    Muhammad Syams
    FAM820U, Anggota FAM Gresik
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tidak Menyerah Terus Menulis Walau Sering ‘Diejek’ Keluarga di Rumah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top