• Info Terkini

    Monday, October 8, 2012

    Menjadi Penulis Buku yang Sukses

    Oleh M. Suyanto*)

    Berdasarkan pengalaman saya sebagai penulis pemula, biasanya ingin menulis buku yang sempurna, isinya lengkap dan baik sekali. Saya telah bertemu banyak orang selalu mengatakan “Setelah naskah saya baca semuanya Pak Yanto, selalu ada yang kurang.”. Hal ini banyak terjadi pada penulis yang mempunyai gelar akademik yang tinggi.

    Mereka selalu menginginkan bukunya sempurna, isinya lengkap, baik sekali bisa menjadi rujukan banyak orang. Kalau itu yang kita inginkan sebagai penulis pemula, maka bukunya biasanya tidak pernah jadi. Saran saya, bila naskah sudah dirasa cukup, segera serahkan pada penerbit. Jangan menunggu sampai sempurna. Untuk menyempurnakan buku kita kelak, penerbit menyediakan bagi penulis adalah edisi revisi. Kita dapat menambah yang kurang dan kita sempurnakan pada edisi revisi.

    Demikian pula ketika saya menulis buku “Desain Grafis”. Kalau judulnya “Desain Grafis” saja, maka pasarnya hanya orang yang bergerak dalam bidang komunikasi. Untuk memperluas pasar dan lebih menarik, maka saya tambah judulnya menjadi “Aplikasi Desain Grafis Untuk Periklanan: Dengan Contoh Iklan Kelas Dunia”.

    Dalam penerbitannya buku ini adalah buku yang berbeda dengan yang lain, karena buku ini sesungguhnya buku yang saya tulis belum selesai. Ketika itu Direktur Penerbitan Andi, Pak Joko mendatangi saya dengan membawa flash disk. “Pak Yanto hari ini saya akan mengambil soft copy naskah buku Pak Yanto “Desain Grafis”. “Belum jadi Pak. Beri saya waktu 1 minggu lagi, agar bukunya lebih baik,” kata saya. “Tidak bisa Pak Yanto. Kalau menunggu 1 minggu lagi. Penerbit lain akan menerbitkan buku yang serupa. Saya ingin mengambil momen, yaitu buku Desain Grafis pertama di Indonesia,” kata Pak Joko.

    “Kalau jelek kan membawa nama saya, Pak. Tolong beri waktu 1 minggu saja.” Saya meminta penundaan kepada Pak Joko. “Tidak bisa, Pak Yanto. “Pokoknya jadi tidak jadi hari ini saya ambil. Untuk perbaikan nanti akan ada edisi revisi,” jawab Pak Joko.

    Akhirnya saya menyerah. Naskah yang belum jadi itu saya serahkan. Kemudian Pak Joko menyalin naskah saya. Setelah selesai menyalin naskah, Pak Joko mohon pamit untuk segera ingin mengedit buku tersebut dan segera menerbitkan agar tidak kedahuluan penerbit yang lain. Benar apa yang dikatakan Pak Joko, setelah diterbitkan, buku tersebut menjadi buku Best Seller, padahal naskah buku tersebut adalah buku yang belum jadi.

    Saya hanya ingin mengatakan bahwa janganlah menerbitkan buku itu menunggu sempurna. Kalau kita ingin menerbitkan menunggu sempurna, maka kita tidak akan jadi menerbitkan buku, karena tidak pernah akan sempurna. Jangan menunggu sempurna, karena sempurna itu tidak ada. Kita masih diberi kesempatan oleh penerbit untuk melakukan edisi revisi. Saat ini buku “Aplikasi Desain Grafis Untuk Periklanan dengan Contoh Iklan Kelas Dunia” itu pada saat tulisan ini dibuat telah mengalami cetakan yang ke sepuluh. “Bagaimana Pak Joko. Bukunya saya revisi ya?” tanya saya. “Besok saja Pak. Bukunya masih laris,” jawab Pak Joko. Hingga saat ini buku tersebut belum saya revisi, padahal buku yang belum jadi.

    *) Prof. Dr. M. Suyanto adalah Ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta

    Dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, terbit di Yogyakarta, Edisi 5 April 2010

    [sumber: http://research.amikom.ac.id/index.php/AKM/article/view/44]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menjadi Penulis Buku yang Sukses Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top