• Info Terkini

    Friday, October 26, 2012

    Menulis yang Terlupakan

    Oleh Pit Sandra Sari*)

    Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadilah pergeseran budaya pada berbagai aspek kehidupan bangsa ini. Dengan ditemukannya sesuatu yang baru, otomatis  kebiasaan atau budaya lama berangsur ditinggalkan, karena dipandang usang, kurang up to date dan tidak efektif. Kecendrungan ini salah satunya menimpa tradisi menulis sebagai media untuk menyampaikan pesan, ide, dan pikiran kepada orang lain.

    Orang mulai jarang menulis surat, mengisi buku harian (diary), membuat rangkuman dan catatan, menulis untuk majalah dinding, bersahabat pena, membuat karya ilmiah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis. Mereka lebih senang menggunakan media yang lebih canggih dan cepat untuk menggantikan peran menulis dalam berkomunikasi dan berbagi informasi.  sebagai contoh televisi, Video CD, internet, Hand Phone (HP) dan media mutakhir lainnya yang semakin diminati dibanding menulis dan membaca. Hampir semua orang dari berbagai kalangan usia mengkonsumsi layanan yang disuguhkan media tersebut bahkan tanpa batas.

    Di samping tersedianya kemudahan akses yang ditawarkan oleh media-media di atas, masyarakat zaman sekarang terbiasa dengan budaya instant, ingin cepat, murah, mudah dan hasilnya wah. Hal ini menyebabkan masyarakat kita kurang kreatif dan produktif. Sifat ini tanpa disadari mampu mematikan potensi yang ada pada diri yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan. Ketarampilan menulis adalah salah satunya.

    Kita kadang terlupa, padahal dengan kecanggihan media informasi dan komunikasi saat ini, justru semakin memudahkan orang untuk banyak menulis. Referensi untuk menulis tersedia secara tanpa batas pula. Menulis sebenarnya bukanlah hal yang patut dilupakan, Suroso, dkk (1995) mengatakan “moral, ilmu pengetahuan dan teknologi sampai ke tingkat perkembangannya yang sekarang ini merupakan salah satu akibat dari kemampuan menulis yang dimiliki manusia. Dengan kemampuan yang dimilikinya, mereka dapat menciptakan buku buku besar yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta tekhnologi”.

    Artinya, menulis adalah awal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Namun fenomena yang berkembang saat ini, para pelajar, guru, dan sejumlah besar masyarakat kita masih jauh dari tradisi menulis. Guru dan pelajar misalnya, yang selalu berkecimpung dalam dunia pendidikan yang begitu dekat dengan literatur, buku dan bahan bacaan, ternyata jarang meluangkan waktunya untuk menulis. Buktinya, keberadaan majalah dinding dan majalah sekolah kadang hanya diisi oleh segelintir pelajar saja. Sementara yang lainnyapun tidak punya kemauan untuk membacanya.

    Begitupun halnya dengan guru kita saat ini, tak banyak yang melahirkan karya tulis ilmiah, padahal keterampilan menulis mampu mendukung perjalanan profesionalisme seorang pendidik. Kadang terdengar lucu ketika seorang guru menyuruh anak didiknya mengarang dan menulis, sedangkan dirinya sendiri tidak mampu melakukannya. Sebahagian orang menganggap bahwa para penulis adalah orang-orang yang berbakat di bidang itu, sedangkan keterampilan menulis itu sendiri sebenarnya sesuatu hal yang dapat dipelajari.

    Menurut  Roni Tabroni (2007), “aktivitas menulis tidak ada hubungannya dengan bakat, yang ada adalah potensi. Jika kita mengasah potensi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan kita untuk menjadi penulis”. Bila orang yang tidak berbakat menulis saja bisa menulis, apalagi bagi kita yang sudah memiliki bakat dibidang tersebut. Intinya hanya kemauan untuk belajar dan mencoba, akhirnya bisa jadi terbiasa.

    Sebenarnya menulis mempunyai berbagai manfaat. Hal yang tampak jelas adalah, seorang yang gemar menulis tentu saja juga gemar membaca. Artinya, mereka memiliki wawasan yang lebih luas, ide yang variatif dan mempunyai solusi yang lebih banyak dalam hidupnya. Hebatnya, menulis ternyata mampu menggugah dan memengaruhi orang lain. Menulis juga berguna untuk menyampaikan saran dan unek-unek kepada siapa saja. Bahkan dengan menulis bisa mendatangkan rezeki bagi si penulis.

    Apa saja yang bisa dijadikan gagasan dalam menulis? “Secara teoritis, topik atau gagasan tulisan itu dapat digali dari empat sumber, yaitu: Pengalaman, pengamatan, khayalan (imajinasi) dan pendapat serta keyakinan” (M. Atar Semi (1996). Pengalaman adalah fakta, suatu kenyataan yang dapat menjadi bahan renungan, perbandingan bahkan pengetahuan yang apabila dituliskan dapat bermanfaat bagi orang lain yang tentunya memiliki pengalaman hidup yang berbeda.

    Pengalaman hidup seorang guru yang mengajar di daerah terpencil yang berjalan kaki sekian kilometer untuk sampai di sekolah yang diajarnya. Melewati jalan-jalan setapak dan jembatan tua di atas aliran sungai. Memandang para pelajar yang datang tanpa sepatu, tanpa seragam sekolah dan tampil apa adanya, dengan fasilitas belajar kurang memadai. Bergaul dengan masyarakat pedesaan yang minim pendidikan adalah hal yang menarik jika dituliskan. Tulisannya bisa menjadi perbandingan bagi guru-guru yang mengajar di daerah perkotaan dengan fasilitas lengkap dan hebat.

    Demikian halnya hasil pengamatan juga dapat dijadikan ide untuk menulis. Meskipun kita tidak mengalami secara langsung, hasil pengamatan tetap bisa ditulis dengan menarik. Misalnya ketika berjalan di salah satu sudut Kota Bukittinggi, kita melihat trotoar yang seharusnya digunakan oleh pejalan kaki, telah menjelma menjadi arena strategis untuk berjualan bagi pedagang kaki lima. Dari fenomena itu kita dapat mengembangkan tulisan untuk menyampaikan unek-unek untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah kota tentang hal tersebut.

    Sementara itu, khayalan atau imajinasi meski tidak dapat dituliskan ke dalam bentuk ilmiah dan artikel, ternyata bisa dituliskan ke dalam tulisan fiksi, seperti cerita pendek, cerita bersambung atau novel. Demikian halnya pendapat dan keyakinan pun dapat dituliskan menjadi sebuah tulisan yang bagus. Seperti pentingnya pesantren kilat, jalan kaki 10.000 langkah sehari dapat menyehatkan jantung dan sebagainya.

    Begitu banyak hal yang dapat ditulis. Mengapa kita para pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat modern yang memiliki banyak referensi tidak memulainya dari sekarang, karena kemampuan menulis juga merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa yang sangat penting dalam kehidupan.

    *) Penulis adalah Guru SD Negeri 03 Pakan Kurai Bukittinggi, Sumatera Barat

    Sumber: KORAN-CYBER.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menulis yang Terlupakan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top