Skip to main content

Menulislah Dengan Jiwa

Masing-masing penulis punya selera dan daya hayal yang berbeda-beda? Benarkah itu?

Tidak ada orang yang langsung bisa dan hebat menulis. Setiap orang beranjak dari titik yang sama. Yaitu menulis tulisan ringan dan kadang tidak bermakna. Untuk bisa menulis blog pun harus mau mengikuti proses dan membiarkan setiap tulisan kita mengalir begitu saja. Kata pepatah “Practice Make Perfect”.

Sebagai penulis pemula saya beranggapan begini:

"Menulislah sesuai jati diri kita". Sumpah, saya pernah mencoba berkali-kali untuk mencoba menulis kisah horor atau komedi, namun selalu gagal berakhir sia-sia di beberapa paragraf. Hasilnya tak memuaskan. Berbeda saat saya menulis kisah cinta yang bernuansa romance. Hmm… langsung deh komentar manis dan jempol terus berdatangan. Jika diri sendiri saja tidak tertarik membacanya, apalagi orang lain.

Setelah saya cermati dari setiap karya penulis baik itu puisi, cerpen, novel, fiksi atau nonfiksi, dari karya-karya penulis berbakat yang karyanya mendunia ternyata di balik semua itu mereka menulis sesuai jiwa mereka.

1. Khalil Girbran. Beliau menulis cerita selalu bertema Romance dengan struktur gaya bahasa mendalam yang menyentuh hati. Gibran, dengan gaya penulisan khasnya yang penuh metafora puitis. Hampir semua karya-karya Gibran memenuhi lemari koleksi buku saya, hehehe.

2. Ws Rendra. Dalam analisis "Sajak Burung-Burung Kondor" karya WS Rendra ini penulis menggunakan analisis struktural. Analisis struktural dalam gaya kepuitisan yang meliputi pemilihan kata atau diksi, bahasa kiasan, citraan, dan sarana retorika.

3. Habiburrahman El Shirazy. Beliau novelis nomer 1 di Indonesia, novelnya selalu bertema tentang kisah cinta pembangun jiwa sekaligus berdakwah seperti "Cinta Suci Zahrana dan Bumi Cinta" yang baru saya beli minggu kemarin. Kereeeennn...

4. Raditya Dika. Nah, dia novelis muda Indonesia yang novelnya selalu bertema humoris alias komedian seperti novelnya yang berjudul "Kambing Jantan dan Marmut Merah Jambu". Membaca novelnya membuat saya tertawa ngakak habis-habisan. Alhasil, novelnya selalu terjual laris manis.

5. Abdullah Harahap. Dapat dibilang merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia yang terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut.

Itu beberapa contoh kepenulisan yang ingin saya bagikan kepada pembaca dan untuk penulis pemula (terutama saya sendiri). Coba kita bayangkan jika mereka tidak menulis sesuai jiwa mereka. Bisakah kita bayangkan seandainya Khalil Gibran yang biasa menulis syair-syair cinta dengan kata pujangganya tiba-tiba menulis cerita komedi? Mungkin akan terasa sangat ganjil. Atau juga sebaliknya jika Raditya Dika tiba-tiba menulis novel bertema dakwah seperti novelnya Habiburrahman? Tentunya akan sangat tidak familiar bukan?

Itulah sebabnya saya mengimbau, sebaiknya kita menulis sesuai jiwa kita masing-masing. Karena memperdalam dan mengembangkan ilmu menulis sesuai gaya penulisan masing-masing lebih cermat dari pada memilih menulis lompat-lompat, yang membuat kepala bingung sendiri dan bertanya apa yang ingin saya tulis?

Dari itu, menulislah sesuai dengan jiwa kita. Karena membudidayakan jiwa seniman dalam diri sendiri tentunya mempunyai kaedah ilmu yang tersendiri pula, dan orang yang membacanya tulisan kita pun bisa tahu karekter diri kita dari tulisan yang mencerminkan jiwa kita sebagai penulis apa. Walau tidak menutup kemungkinan orang yang memiliki bakat multitalenta bisa saja menghasilkan tulisan berbagai jenis. Alangkah baiknya sebagai penulis pemula, dari pada bingung apa yang harus ditulis baiknya menulislah sesuai jiwa Anda. Selamat mencoba ya. Good luck!!!

Salam santun.

LINA SAPUTRI (Anggota FAM Banjarmasin)

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…