• Info Terkini

    Thursday, October 18, 2012

    Menulislah Dengan Jiwa

    Masing-masing penulis punya selera dan daya hayal yang berbeda-beda? Benarkah itu?

    Tidak ada orang yang langsung bisa dan hebat menulis. Setiap orang beranjak dari titik yang sama. Yaitu menulis tulisan ringan dan kadang tidak bermakna. Untuk bisa menulis blog pun harus mau mengikuti proses dan membiarkan setiap tulisan kita mengalir begitu saja. Kata pepatah “Practice Make Perfect”.

    Sebagai penulis pemula saya beranggapan begini:

    "Menulislah sesuai jati diri kita". Sumpah, saya pernah mencoba berkali-kali untuk mencoba menulis kisah horor atau komedi, namun selalu gagal berakhir sia-sia di beberapa paragraf. Hasilnya tak memuaskan. Berbeda saat saya menulis kisah cinta yang bernuansa romance. Hmm… langsung deh komentar manis dan jempol terus berdatangan. Jika diri sendiri saja tidak tertarik membacanya, apalagi orang lain.

    Setelah saya cermati dari setiap karya penulis baik itu puisi, cerpen, novel, fiksi atau nonfiksi, dari karya-karya penulis berbakat yang karyanya mendunia ternyata di balik semua itu mereka menulis sesuai jiwa mereka.

    1. Khalil Girbran. Beliau menulis cerita selalu bertema Romance dengan struktur gaya bahasa mendalam yang menyentuh hati. Gibran, dengan gaya penulisan khasnya yang penuh metafora puitis. Hampir semua karya-karya Gibran memenuhi lemari koleksi buku saya, hehehe.

    2. Ws Rendra. Dalam analisis "Sajak Burung-Burung Kondor" karya WS Rendra ini penulis menggunakan analisis struktural. Analisis struktural dalam gaya kepuitisan yang meliputi pemilihan kata atau diksi, bahasa kiasan, citraan, dan sarana retorika.

    3. Habiburrahman El Shirazy. Beliau novelis nomer 1 di Indonesia, novelnya selalu bertema tentang kisah cinta pembangun jiwa sekaligus berdakwah seperti "Cinta Suci Zahrana dan Bumi Cinta" yang baru saya beli minggu kemarin. Kereeeennn...

    4. Raditya Dika. Nah, dia novelis muda Indonesia yang novelnya selalu bertema humoris alias komedian seperti novelnya yang berjudul "Kambing Jantan dan Marmut Merah Jambu". Membaca novelnya membuat saya tertawa ngakak habis-habisan. Alhasil, novelnya selalu terjual laris manis.

    5. Abdullah Harahap. Dapat dibilang merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia yang terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut.

    Itu beberapa contoh kepenulisan yang ingin saya bagikan kepada pembaca dan untuk penulis pemula (terutama saya sendiri). Coba kita bayangkan jika mereka tidak menulis sesuai jiwa mereka. Bisakah kita bayangkan seandainya Khalil Gibran yang biasa menulis syair-syair cinta dengan kata pujangganya tiba-tiba menulis cerita komedi? Mungkin akan terasa sangat ganjil. Atau juga sebaliknya jika Raditya Dika tiba-tiba menulis novel bertema dakwah seperti novelnya Habiburrahman? Tentunya akan sangat tidak familiar bukan?

    Itulah sebabnya saya mengimbau, sebaiknya kita menulis sesuai jiwa kita masing-masing. Karena memperdalam dan mengembangkan ilmu menulis sesuai gaya penulisan masing-masing lebih cermat dari pada memilih menulis lompat-lompat, yang membuat kepala bingung sendiri dan bertanya apa yang ingin saya tulis?

    Dari itu, menulislah sesuai dengan jiwa kita. Karena membudidayakan jiwa seniman dalam diri sendiri tentunya mempunyai kaedah ilmu yang tersendiri pula, dan orang yang membacanya tulisan kita pun bisa tahu karekter diri kita dari tulisan yang mencerminkan jiwa kita sebagai penulis apa. Walau tidak menutup kemungkinan orang yang memiliki bakat multitalenta bisa saja menghasilkan tulisan berbagai jenis. Alangkah baiknya sebagai penulis pemula, dari pada bingung apa yang harus ditulis baiknya menulislah sesuai jiwa Anda. Selamat mencoba ya. Good luck!!!

    Salam santun.

    LINA SAPUTRI (Anggota FAM Banjarmasin)

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menulislah Dengan Jiwa Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top